Doel hanya bisa terdiam dan menunduk, setelah beberapa kali memberikan pengertian bahwa Psikotes yang akan dijalaninya besok hanyalah formalitas dari perusahaan. Dengan keras babe tetap pada pendiriannya, jika Psikotes hanya untuk menguji kejujuran si Doel maka tidak usah datang ke perusahaan itu. Karena babe selalu menanamkan kejujuran pada anak-anaknya, "jujur, jujur, jujur, biar hidup kite kagak hancur". Begitu kira-kira jawaban babe Sabeni dengan logat kental betawi.
Seketika, aku yang sedang menonton pun emosi melihat si Doel terlihat menyerah. Seolah si Doel yang di juluki si tukang insinyur itu kehilangan ilmunya. Kalah dengan babenya yang sama sekali tidak mengerti apa-apa, bahkan tulis baca saja tidak bisa. Bukankah seharusnya si Doel yang keras menjelaskan bahwa ini penting untuk diikuti agar bisa diterima menjadi pegawai di Perusahaan tersebut.
Ada lagi adegan yang lebih membuat penonton darah tinggi. Ketika Doel membawa pulang selembar surat dengan wajah sumringah, seisi rumah terasa meriah ketika Doel mengabarkan Doel diterima kerja di perusahaan dan ditempatkan dibagian mesin, setelah berbulan-bulan melayangkan surat lamaran diberbagai perusahaan. Namun Babe kembali menentang dengan keras karena jauh ditengah laut, di Kepulauan Natuna. Alasan Babe sangat sederhana, si Doel anak laki-laki satu-satunya. Jika Babe, Nyak atau Atun adik si Doel sakit siapa yang akan mengabari? Jaraknya terlalu jauh dari Jakarta. Si Doel kembali diam dan menunduk, sepeti biasa. Namun kali ini sedikit kecewa.
Aku yang menonton geram, ingin rasanya ku bantu Doel menjelaskan. Mungkin perasaan ku tak jauh beda dengan penonton lainnya. Aku merasa Doel terlalu "lunak". Bukankah selama ini Babe ingin betul Doel diterima bekerja di perusahaan besar, kemudian ditempatkan dibagian mesin. Tapi setelah ada kesempatan dan panggilan kerja malah Babe sendiri yang banyak persyaratan.
Itu pemikiranku ketika menonton episode Si Doel Anak Sekolah pertama kali, ketika aku masih duduk di bangku SMP. Sinetron yang di sutradarai Rano Karno itu masih jadi favorit ku sampai kini. Aku dan anak-anak ku masih sering menontonnya lewat kanal Youtube ataupun Tiktok.
Aku kemudian paham bahwa Doel hanya mempertahankan satu hal. Doel bisa saja menjelaskan panjang lebar apa arti formalitas dalam Psikotes yang akan dia jalani. Bahkan mungkin saja bisa di tes ke bang Mandra dihadapan Babe, karena Doel pun cukup ilmu untuk itu. Doel juga mampu mengambarkan sejauh apa Pulau Natua, dan bisa sebutkan besaran gajinya supaya Babe luluh. Tapi Doel lebih memilih dianggap "bodoh" oleh penonton dari pada meninggikan suara dihadapan orang tuanya. Babe dan Nyak si Doel memang tak pandai tulis baca, mereka pun tak pernah bepergian ke luar Jakarta, apalagi ke Natuna. Namun satu hal yang Doel percaya bahwa orang tuanya berhak atas adab yang baik darinya. Itu saja!
Sejenak aku ingat Kafka dan boneka, aku seperti sedang bercermin saja. Sudut pandangku berubah seiring waktu dan usia. Seperti bentuk boneka yang diberikan Kafka, perjalanan dan cerita dalam surat-suratnya pun merubah bentuknya.
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.
Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Sumber: https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/9-hadits-tentang-keutamaan-berbakti-pada-orang-tua-KrRhi
