BATOMBE (Bapantun) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 10 Juni 2024

BATOMBE (Bapantun)

Asal Usul Batombe
Batombe lahir dan berkembang dalam masyarakat Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat tradisi batombe muncul pada saat masyarakat bergotong royong membangun rumah atau masjid.
Konon, saat masyarakat mengambil kayu di hutan untuk membuat tiang, ada kayu yang dapat ditebang namun tidak bisa diangkat bahkan digeser.
Dalam kondisi putus asa, tiba-tiba para perempuan yanng bertugas menyiapkan bekal mencari cara untuk memberi semangat kaum pria yang tengah kesulitan menggeser kayu.
Secara spontan, mereka mulai berpantun dan dibalas oleh para pekerja pria. Dalam sahut-sahutan pantun tersebut, tanpa disadari kayu yang tadinya tidak dapat digeser sedikit demi sedikit mulai bergeser dan dapat dipindahkan ke lokasi pembangunan rumah. Dalam perkembangannya, berbalas pantun menjadi kegiatan bersama dan menjadi tradisi di sejumlah perhelatan.

Batombe berasal dari kata ba dan tombe. Dalam bahasa Minangkabau ba merupakann awalan kata, sedangkan tombe berarti pantun. Sehingga, batombe juga berarti berpantun
Sesuai dengan namanya, kesenian batombe dilakukan dengan berbalas pantu sen antara individu dan kelompok. Dalam bahasa abai, tombe memiliki tiga makna, yaitu tiang atau tegak,musyawarah atau mufakat, dan bersatu. Tombe menjadikan masyarakat bersatu, bekerjasama manjapuik baban nan jauah, pambao baban nan barek (menjemput beban yang jauh, pembawa beban yang berat).

Tata cara batombe
Kesenian batombe adalah seni berbalas pantun yang dimainkan oleh dua orang laki-laki dan perempuan, atau berkelompok. Para pemain disebut pendendang dan biasanya pendendang merangkap sebagai pengiring. Dendang pantun dalam kesenian batombe biasanya merupakan ungkapan perasaan dan cerita perjalanan hidup. Dalam pelaksanaannya, dendang pantun tersebut akan mengalir dengan sendirinya tanpa panduan khusus. Menariknya, lantunan pantun seringkali menggambarkan keadaan faktual, sehingga penikmat senang berlama-lama menyaksikannya. Bahkan kesenian ini juga sering melibatkan penonton.

Untuk menjadi pendendang tidak ada batasan usia, mulai remaja hingga orang tua. Tidak ada pendidikan khusus juga untuk menjadi pendendang.


https://regional.kompas.com/read/2023/01/26/182033578/mengenal-batombe-tradisi-berbalas-pantun-dari-minangkabau-dari-asal-usul?page=all

Program