Itam dan U - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 10 Juni 2024

Itam dan U



BAB 1

Gelombang Besar

 

Itam dan Micel sedang asyik bermain gasing ketika terdengar nyanyian yang sudah sangat mereka kenal. “Lagu itu lagi. Lagu itu lagi. Apa Cik Lam tidak bosan, ya?” kata Itam. “Eh, ini penting …,” sergah Cik Lam. Belum selesai kalimat Cik Lam, mendadak bumi berguncang hebat! Itam dan Micel berlari ketakutan. Tidak lama kemudian, guncangan itu reda. Itam dan Micel kembali ke pantai untuk bermain gasing. Namun, air laut telah surut jauh sekali, meninggalkan banyak ikan bergelimpangan. Penduduk desa beramai-ramai mengumpulkan ikan-ikan itu. “Kita makan besar hari ini!” sorak mereka kegirangan. “Itu smong! SMOOOONG! Lari!” Cik Lam berteriak, mengajak orang-orang menjauhi pantai. Namun, mereka hanya tertawa dan mengabaikan Cik Lam. Cik Lam menyambar tangan Itam dan Micel. “Cepat, lari!” Di belakang mereka, seseorang menjerit, “AIR LAUT NAIK!” Gelombang raksasa menghantam. Air laut menyeret Itam, memisahkannya dari Cik Lam, lalu mengempaskannya ke sebatang pohon kelapa. Itam memeluk erat pohon kelapa itu agar tak kembali terseret air. Itam berhasil memanjat pohon kelapa sampai ke puncak. Dari atas yang terlihat hanya air dan air. Tidak ada Micel, tidak ada siapa pun. Kini hanya ada dia dan U, pohon kelapa itu

 

Bab 2

Di Mana Semua Orang?

 

Hari ketiga, Itam mendengar seruan-seruan. Beberapa orang terlihat mencari-cari di antara puing dan reruntuhan. Cik Lam ada di antara mereka. Itam berteriak dan menggoyang-goyangkan pelepah U. Tim penyelamat pun membantu Itam turun. “Jangan khawatir Itam.” Cik Lam memeluk Itam. “Semuanya baik-baik saja.” Tidak, Itam tidak merasa baik-baik saja. Dia mengelak dari pelukan Cik Lam. Itam segera berlari ke arah rumahnya, mencari Ayah dan Ibu. Namun, semuanya porak-poranda. Tidak ada yang tersisa kecuali sebatang pohon nangka. Itam berlari ke rumah Micel. Yang ditemuinya hanya reruntuhan. Sebuah tangan menepuk pundaknya. Cik Lam. “Orang tua dan temanmu sudah tiada,” ujar Cik Lam dengan sedih. “Cik Lam dan tim penyelamat sudah mencari mereka ke mana-mana. Tidak ada.” Tidak!” Itam berteriak marah. “Mereka pasti masih hidup. Aku akan mencari mereka!” Seharian Itam mengelilingi gampong, tetapi dia tidak menemukan Ayah dan Ibu. Tidak juga Micel. Ketika malam datang, Cik Lam mengajak Itam ke rumahnya. Itam terpaksa ikut, tetapi dia tidak mau menyentuh makanan yang disuguhkan Cik Lam. Kelelahan, Itam pun tertidur. Itam mencari ke posko penyelamatan. Itam mencari ke tenda darurat. Itam berjalan berjam-jam lamanya, bahkan ke gampong-gampong sebelah. Setiap hari, selama berminggu[1]minggu, Itam mencari. Akan tetapi, Itam tidak menemukan Ayah dan Ibunya.

Ayo pulang, Itam. Hari sudah hampir malam,” Cik Lam berusaha membujuk Itam. “Tidak! Aku tidak mau pulang kalau tidak ada Ayah dan Ibu!” teriak Itam. Dan dengan sengit dia berkata, “Kenapa Cik Lam tidak membantuku?” “Sudah 30 hari s ejak tsunami b erlalu,” jawab Cik Lam. “Sudah waktunya kita berhenti mencari.” “Tidak! Aku tak mau menyerah! Aku tak mau pulang bersama Cik Lam.” Itam berteriak dan berlari menjauh. Dia berlari menuju pantai. Di sana dia melihat bayangan tinggi hitam dengan daun-daunnya yang melambai. “U!” Itam menyandarkan tubuhnya ke pohon yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Telinganya dia tempelkan ke batang U. “Apakah kamu melihat Ayah dan Ibu? Apakah kamu melihat Micel? Beri tahu aku, U.” Namun, pohon kelapa itu hanya diam.

 

BAB 3

Jala Cik Lam dan Smong

“Hei, Itam, di situ kamu rupanya.” Suara Cik Lam memanggil Itam. “Bagaimana kalau kamu membantu Cik Lam memperbaiki Jala ?” Itam langsung  merengut. Dia tidak ingin mendekati jala Cik Lam. Jala mengingatkannya kepada Ayah. Dulu Itam sering membantu Ayah memperbaiki jala. Dan Cik Lam bukan ayahnya ! Cik Lam mulai bekerja sendiri. Seperti biasa, dia mendendangkan lagu kesukaannya. “… Ede Smong kahanee …” Syairnya terdengar ganjil, dan iramanya amat mendayu. Itam terhanyut menyimak lantunan lagu itu.

 

Enggel mon sao curito

Inang maso semonan

Manoknop sao fano

Uwi lah da sesewan

Unen ne alek linon

Fesang bakat ne mali

Manoknop sao hampong

Tibo-tibo mawi ….

Anga linon ne mali

Uwek suruik sahuli

Maheya mihawali

Fano me singa tenggi

Ede smong kahanne

Turiang da nenekta

Miredem teher ere Pesan dan navi da

Dengarlah sebuah cerita

Suatu hari dahulu kala

Tenggelamlah sebuah desa

Demikianlah dituturkan kisah

Awalnya terjadi gempa

Lalu ombak besar luar biasa

Seluruh kampung pun sirna

Tiba-tiba saja ….

Maka, jika gempa besar melanda

Lalu air laut surut jauh ke tengah

Segeralah cari

Tempat yang lebih tinggi

Itulah smong namanya

Sejarah nenek moyang kita

Ingatlah ini semua Pesan dan nasihatny

 

 

Itam sejenak terdiam. “Ba-bagaimana keluarga Cik Lam?” tanya Itam, “apakah mereka selamat?” “Ayahku selamat, tetapi kakekku tidak. Begitu pula paman, bibi, dan beberapa sepupuku yang masih kecil. Mereka hilang tersapu ombak. Kami tidak pernah melihat mereka lagi.”

Cik Lam tampak berusaha tetap tersenyum. Itam mengamati Cik Lam yang kini diam terus memperbaiki jala. Perlahan Itam mendekati Cik Lam dan meraih ujung jala. “Aku boleh bantu, Cik Lam?” tanya Itam

 

 

BAB 4

Itu Micel ?

Itam menggoreskan satu garis lagi di batang pohon U. “Seratus delapan puluh hari,” gumam Itam. Dia tempelkan telinganya ke batang pohon. “ U, t e m a n k u , a d a k a h y a n g terlihat olehmu dari atas sana?” tanya Itam. “Beri tahu aku, ya, kalau kamu melihat sesuatu?” “Di mana Ayah dan Ibu saat ini?” Itam bertanya-tanya dalam hati. Itam mengkhayal, mungkin Ayah pergi melaut ke tempat yang jauh, mencari ikan yang besar. Mungkin Ibu melanjutkan sekolah lagi, seperti yang selalu dia impikan. Sementara, Micel mungkin sedang mengikuti perlombaan gasing tingkat dunia! Dia pasti menang! Itam tersenyum sendiri membayangkan semua itu. Tiba-tiba Itam melihat seorang anak laki-laki berlari melintas. Dia terlihat seperti … Micel! Anak itu membanting sebuah gasing ke tanah. Itam menahan napas. Itu pasti Micel! Micel sudah pulang! “MICEEEEEL!” Itam berteriak memanggil. Itam berlari menyusul anak itu sampai ke sebuah posko pengungsian. Sekelompok anak bermain gasing. Seorang anak berseru menyambut anak yang baru datang itu, “Hasim, ayo bermain bersama kami.” Kecewa, Itam pun tersadar bahwa anak laki-laki itu bukan Micel. Sewaktu Itam berbalik hendak pergi, anak-anak itu mulai bertengkar. “Ayolah, Hasim, biarkan yang lain dapat giliran.” “Hasim, aku juga ingin main gasing!” Itam melihat mereka bertengkar. Itam juga melihat sebagian mereka belum pandai memainkan gasing. “Hmmmm … aku punya ide,” pikir Itam.

 

BAB 5

Seribu Kejutan

 

Itam mengumpulkan kayu dari hutan. “Apa yang kamu lakukan, Itam?” tanya Cik Lam. “Ngggg … aku ingin membuat sesuatu dengan kayu-kayu ini,” ragu-ragu Itam menatap Cik Lam. “Cik Lam mau bantu aku?

Segera mereka sibuk memotong, mengikir, dan mengamplas kayu. Serpihan kayu berserakan di mana-mana. Mereka terus sibuk. Hanya azan dan perut keroncongan yang membuat mereka berhenti. Dan ketika saatnya mengecat, tangan mereka pun penuh dengan cat warna-warni. Hari sudah gelap ketika mereka selesai. Itam dan Cik Lam merapikan semua sisa kayu dan cat. “Inilah dia, seribu gasing kejutan!” sorak Itam

 

BAB 6

Berbagi Kegembiraan

 

Keesokan harinya, dengan sebuah tas besar Itam membawa semua gasing itu ke rumah pengungsian. “ I n i u n t u k k a l i a n ,” u j a r I t a m s a mb i l menuangkan isi tas. “HOREEEEE!” anak-anak bersorak-sorai. “Aku mau yang kuning,” kata seorang anak perempuan. “Yang ini untukku!” seorang anak kecil mungil menyabet gasing totol-totol merah. Seorang anak menghampiri Itam. “Terima kasih, Bang,” katanya. Senyumnya lebar sekali. Anak itu kemudian menghampiri seorang nenek. “Itu Ina dan neneknya,” Hasim berkata. “Gelombang besar memisahkan mereka, tapi nenek Ina terus mencari dan menemukan cucunya di posko ini.” Ina melambaikan tangan berpamitan ke semua orang.

 

BAB 7

Kembali Melaut

 

Sambil menyeka matanya, Itam berjalan menuju pantai untuk menemui U. Dia menyandarkan pipinya ke batang U. “Terima kasih telah ada untukku,” kata Itam kepada U. “Terima kasih telah mengawasi Mama, Papa, dan Micel.” Itam memeluk pohon itu. “Aku mungkin tidak akan datang menemuimu setiap hari sekarang, U. Aku mungkin sibuk dengan hal-hal lain.” Ketika Itam berbalik dan melangkah pergi, Cik Lam memanggilnya. “Itam, aku mau memancing! Tunggu aku di sini.” Itam berhenti. Dia melihat ke arah U. Daun-daun pohon melambai tertiup angin. Dia memandang Cik Lam, dan lelaki tua itu tersenyum padanya. Dia melihat Cik Lam menaiki kapalnya. Bersama-sama Itam dan Cik Lam menyanyikan lagu Smong saat perahu nelayan membawa mereka melintasi laut.

Sumber : Buku Siswa Bahasa Indonesia kelas 7 kurikulum merdeka

Program