BAB
1
Gelombang
Besar
Itam
dan Micel sedang asyik bermain gasing ketika terdengar nyanyian yang sudah
sangat mereka kenal. “Lagu itu lagi. Lagu itu lagi. Apa Cik Lam tidak bosan,
ya?” kata Itam. “Eh, ini penting …,” sergah Cik Lam. Belum selesai kalimat Cik
Lam, mendadak bumi berguncang hebat! Itam dan Micel berlari ketakutan. Tidak
lama kemudian, guncangan itu reda. Itam dan Micel kembali ke pantai untuk
bermain gasing. Namun, air laut telah surut jauh sekali, meninggalkan banyak
ikan bergelimpangan. Penduduk desa beramai-ramai mengumpulkan ikan-ikan itu.
“Kita makan besar hari ini!” sorak mereka kegirangan. “Itu smong! SMOOOONG!
Lari!” Cik Lam berteriak, mengajak orang-orang menjauhi pantai. Namun, mereka
hanya tertawa dan mengabaikan Cik Lam. Cik Lam menyambar tangan Itam dan Micel.
“Cepat, lari!” Di belakang mereka, seseorang menjerit, “AIR LAUT NAIK!”
Gelombang raksasa menghantam. Air laut menyeret Itam, memisahkannya dari Cik
Lam, lalu mengempaskannya ke sebatang pohon kelapa. Itam memeluk erat pohon
kelapa itu agar tak kembali terseret air. Itam berhasil memanjat pohon kelapa
sampai ke puncak. Dari atas yang terlihat hanya air dan air. Tidak ada Micel,
tidak ada siapa pun. Kini hanya ada dia dan U, pohon kelapa itu
Bab
2
Di
Mana Semua Orang?
Hari
ketiga, Itam mendengar seruan-seruan. Beberapa orang terlihat mencari-cari di
antara puing dan reruntuhan. Cik Lam ada di antara mereka. Itam berteriak dan
menggoyang-goyangkan pelepah U. Tim penyelamat pun membantu Itam turun. “Jangan
khawatir Itam.” Cik Lam memeluk Itam. “Semuanya baik-baik saja.” Tidak, Itam
tidak merasa baik-baik saja. Dia mengelak dari pelukan Cik Lam. Itam segera
berlari ke arah rumahnya, mencari Ayah dan Ibu. Namun, semuanya porak-poranda.
Tidak ada yang tersisa kecuali sebatang pohon nangka. Itam berlari ke rumah
Micel. Yang ditemuinya hanya reruntuhan. Sebuah tangan menepuk pundaknya. Cik
Lam. “Orang tua dan temanmu sudah tiada,” ujar Cik Lam dengan sedih. “Cik Lam
dan tim penyelamat sudah mencari mereka ke mana-mana. Tidak ada.” Tidak!” Itam
berteriak marah. “Mereka pasti masih hidup. Aku akan mencari mereka!” Seharian
Itam mengelilingi gampong, tetapi dia tidak menemukan Ayah dan Ibu. Tidak juga
Micel. Ketika malam datang, Cik Lam mengajak Itam ke rumahnya. Itam terpaksa
ikut, tetapi dia tidak mau menyentuh makanan yang disuguhkan Cik Lam.
Kelelahan, Itam pun tertidur. Itam mencari ke posko penyelamatan. Itam mencari
ke tenda darurat. Itam berjalan berjam-jam lamanya, bahkan ke gampong-gampong
sebelah. Setiap hari, selama berminggu[1]minggu,
Itam mencari. Akan tetapi, Itam tidak menemukan Ayah dan Ibunya.
Ayo
pulang, Itam. Hari sudah hampir malam,” Cik Lam berusaha membujuk Itam. “Tidak!
Aku tidak mau pulang kalau tidak ada Ayah dan Ibu!” teriak Itam. Dan dengan
sengit dia berkata, “Kenapa Cik Lam tidak membantuku?” “Sudah 30 hari s ejak
tsunami b erlalu,” jawab Cik Lam. “Sudah waktunya kita berhenti mencari.”
“Tidak! Aku tak mau menyerah! Aku tak mau pulang bersama Cik Lam.” Itam
berteriak dan berlari menjauh. Dia berlari menuju pantai. Di sana dia melihat
bayangan tinggi hitam dengan daun-daunnya yang melambai. “U!” Itam menyandarkan
tubuhnya ke pohon yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Telinganya dia
tempelkan ke batang U. “Apakah kamu melihat Ayah dan Ibu? Apakah kamu melihat
Micel? Beri tahu aku, U.” Namun, pohon kelapa itu hanya diam.
BAB
3
Jala
Cik Lam dan Smong
“Hei,
Itam, di situ kamu rupanya.” Suara Cik Lam memanggil Itam. “Bagaimana kalau
kamu membantu Cik Lam memperbaiki Jala ?” Itam langsung merengut. Dia tidak ingin mendekati jala Cik
Lam. Jala mengingatkannya kepada Ayah. Dulu Itam sering membantu Ayah
memperbaiki jala. Dan Cik Lam bukan ayahnya ! Cik Lam mulai bekerja sendiri.
Seperti biasa, dia mendendangkan lagu kesukaannya. “… Ede Smong kahanee …”
Syairnya terdengar ganjil, dan iramanya amat mendayu. Itam terhanyut menyimak
lantunan lagu itu.
|
Enggel
mon sao curito Inang
maso semonan Manoknop
sao fano Uwi
lah da sesewan Unen
ne alek linon Fesang
bakat ne mali Manoknop
sao hampong Tibo-tibo
mawi …. Anga
linon ne mali Uwek
suruik sahuli Maheya
mihawali Fano
me singa tenggi Ede
smong kahanne Turiang
da nenekta Miredem
teher ere Pesan dan navi da |
Dengarlah
sebuah cerita Suatu
hari dahulu kala Tenggelamlah
sebuah desa Demikianlah
dituturkan kisah Awalnya
terjadi gempa Lalu
ombak besar luar biasa Seluruh
kampung pun sirna Tiba-tiba
saja …. Maka,
jika gempa besar melanda Lalu
air laut surut jauh ke tengah Segeralah
cari Tempat
yang lebih tinggi Itulah
smong namanya Sejarah
nenek moyang kita Ingatlah
ini semua Pesan dan nasihatny |
Itam
sejenak terdiam. “Ba-bagaimana keluarga Cik Lam?” tanya Itam, “apakah mereka
selamat?” “Ayahku selamat, tetapi kakekku tidak. Begitu pula paman, bibi, dan
beberapa sepupuku yang masih kecil. Mereka hilang tersapu ombak. Kami tidak
pernah melihat mereka lagi.”
Cik
Lam tampak berusaha tetap tersenyum. Itam mengamati Cik Lam yang kini diam
terus memperbaiki jala. Perlahan Itam mendekati Cik Lam dan meraih ujung jala.
“Aku boleh bantu, Cik Lam?” tanya Itam
BAB
4
Itu
Micel ?
Itam
menggoreskan satu garis lagi di batang pohon U. “Seratus delapan puluh hari,”
gumam Itam. Dia tempelkan telinganya ke batang pohon. “ U, t e m a n k u , a d
a k a h y a n g terlihat olehmu dari atas sana?” tanya Itam. “Beri tahu aku,
ya, kalau kamu melihat sesuatu?” “Di mana Ayah dan Ibu saat ini?” Itam
bertanya-tanya dalam hati. Itam mengkhayal, mungkin Ayah pergi melaut ke tempat
yang jauh, mencari ikan yang besar. Mungkin Ibu melanjutkan sekolah lagi,
seperti yang selalu dia impikan. Sementara, Micel mungkin sedang mengikuti perlombaan
gasing tingkat dunia! Dia pasti menang! Itam tersenyum sendiri membayangkan
semua itu. Tiba-tiba Itam melihat seorang anak laki-laki berlari melintas. Dia
terlihat seperti … Micel! Anak itu membanting sebuah gasing ke tanah. Itam
menahan napas. Itu pasti Micel! Micel sudah pulang! “MICEEEEEL!” Itam berteriak
memanggil. Itam berlari menyusul anak itu sampai ke sebuah posko pengungsian.
Sekelompok anak bermain gasing. Seorang anak berseru menyambut anak yang baru
datang itu, “Hasim, ayo bermain bersama kami.” Kecewa, Itam pun tersadar bahwa
anak laki-laki itu bukan Micel. Sewaktu Itam berbalik hendak pergi, anak-anak
itu mulai bertengkar. “Ayolah, Hasim, biarkan yang lain dapat giliran.” “Hasim,
aku juga ingin main gasing!” Itam melihat mereka bertengkar. Itam juga melihat
sebagian mereka belum pandai memainkan gasing. “Hmmmm … aku punya ide,” pikir
Itam.
BAB
5
Seribu
Kejutan
Itam
mengumpulkan kayu dari hutan. “Apa yang kamu lakukan, Itam?” tanya Cik Lam.
“Ngggg … aku ingin membuat sesuatu dengan kayu-kayu ini,” ragu-ragu Itam
menatap Cik Lam. “Cik Lam mau bantu aku?
Segera
mereka sibuk memotong, mengikir, dan mengamplas kayu. Serpihan kayu berserakan
di mana-mana. Mereka terus sibuk. Hanya azan dan perut keroncongan yang membuat
mereka berhenti. Dan ketika saatnya mengecat, tangan mereka pun penuh dengan
cat warna-warni. Hari sudah gelap ketika mereka selesai. Itam dan Cik Lam
merapikan semua sisa kayu dan cat. “Inilah dia, seribu gasing kejutan!” sorak
Itam
BAB
6
Berbagi
Kegembiraan
Keesokan
harinya, dengan sebuah tas besar Itam membawa semua gasing itu ke rumah
pengungsian. “ I n i u n t u k k a l i a n ,” u j a r I t a m s a mb i l
menuangkan isi tas. “HOREEEEE!” anak-anak bersorak-sorai. “Aku mau yang
kuning,” kata seorang anak perempuan. “Yang ini untukku!” seorang anak kecil
mungil menyabet gasing totol-totol merah. Seorang anak menghampiri Itam.
“Terima kasih, Bang,” katanya. Senyumnya lebar sekali. Anak itu kemudian
menghampiri seorang nenek. “Itu Ina dan neneknya,” Hasim berkata. “Gelombang
besar memisahkan mereka, tapi nenek Ina terus mencari dan menemukan cucunya di
posko ini.” Ina melambaikan tangan berpamitan ke semua orang.
BAB
7
Kembali
Melaut
Sambil menyeka matanya, Itam berjalan menuju pantai untuk menemui U. Dia menyandarkan pipinya ke batang U. “Terima kasih telah ada untukku,” kata Itam kepada U. “Terima kasih telah mengawasi Mama, Papa, dan Micel.” Itam memeluk pohon itu. “Aku mungkin tidak akan datang menemuimu setiap hari sekarang, U. Aku mungkin sibuk dengan hal-hal lain.” Ketika Itam berbalik dan melangkah pergi, Cik Lam memanggilnya. “Itam, aku mau memancing! Tunggu aku di sini.” Itam berhenti. Dia melihat ke arah U. Daun-daun pohon melambai tertiup angin. Dia memandang Cik Lam, dan lelaki tua itu tersenyum padanya. Dia melihat Cik Lam menaiki kapalnya. Bersama-sama Itam dan Cik Lam menyanyikan lagu Smong saat perahu nelayan membawa mereka melintasi laut.
Sumber : Buku Siswa Bahasa Indonesia kelas 7 kurikulum merdeka
