Dewi Candra Kirana mencari keberadaan Raden Putra. Ia menyamar menjadi perempuan desa biasa. Dalam perjalanannya, Dewi Candra Kirana bertemu seorang janda kata bernama Mbok Randa Karangwulusan.
Kemudian, mengangkat Dewi menjadi anak dan mengganti nama Dewi menjadi Kleting Kuning. Mbok Randa sudah memiliki tiga anak perempuan, Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Klenting Biru. Dewi Candra Kirana atau Kleting Kuning dianggap anak bungsu.
Ketiga anak Mbok Randa tidak menyukai Kleting Kuning sehingga mereka selalu berperilaku jahat terhadapnya. Mereka bahkan memaksa Kleting Kuning untuk selalu mengenakan pakaian jelek agar terlihat seperti pembantu.
Suatu hari ada kabar dari Desa Dadapan bahwa ada seorang pria tampan yang sedang mencari istri. Mbok Randa memerintahkan ketiga anaknya untuk pergi menemui pria itu sedangkan Kleting Kuning diminta untuk tetap tinggal di rumah.
Ketiga anak Mbok Randa pun pergi menuju Desa Dadapan. Menuju desa itu tidaklah mudah, mereka harus melewati sungai luas. Tiba-tiba muncullah seekor kepiting raksasa bernama Yuyu Kangkang yang menawarkan bantuan tapi dengan syarat ketiga putri Mbok Randa harus bersedia dicium Yuyu Kangkang.
Kleting Kuning bersikeras untuk menemui pria tersebut juga. Meskipun Mbok Randa sudah melarangnya.
Sama seperti anak Mbok Randa yang lainnya, ia juga harus melewati sungai dengan menaiki Yuyu Kangkang. Kleting Kuning tak kehabisan akal, ia menempelkan kotoran ayam yang dibawanya ke pipinya dan berhasil membuat Yuyu Kangkang tidak mau menciumnya.
Sesampainya di Desa Dadapan Kleting Kuning mendapati ketiga kakaknya ditolak Ande-Ande Lumut. Tak disangka Kleting Kuning yang dipilih oleh Ande-Ande Lumut. Rupanya Ande-Ande Lumut ialah Raden Putra.
Sumber:https://www.inews.id/news/nasional/10-dongeng-sebelum-tidur-untuk-sang-buah-hati-seru-dan-edukatif