Kegiatan Literasi Berkelanjutan di SMP Negeri 3 Payakumbuh - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Sabtu, 03 Agustus 2024

Kegiatan Literasi Berkelanjutan di SMP Negeri 3 Payakumbuh

Oleh : Febria Erisa


Setelah launching S-Gabusi Lite 4 Juni 2024 lalu, SMP Negeri 3 Payakumbuh kembali menggelar pelatihan Literasi bagi peserta didik kelas VII dan VIII, dengan mengangkat tema “Mahir dalam Literasi, Bijak dalam Aksi” sebagaimana motto Literasi SMP Negeri 3 Payakumbuh. Kegiatan berlangsung  tanggal 30 dan 31 Juli 2024 dan langsung dibuyka secara resmi oleh Bapak Kepala Sekolah M. Isral, S.Pd.. Tahun ini, tim Literasi dan peserta mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Narasumber yang merupakan seorang pegiat literasi dan Founder Sekolah Menulis Elipsis, Muhammad Subhan. Sedikitnya 30 orang peserta didik menerima sajian materi dari kak Subhan (begitu peserta didik memanggil beliau), yang juga seorang penulis. Kak subhan juga menyerahkan lima judul buku yang beliar tulis sendiri untuk memperkaya perpustakaan SMP Negeri 3 Payakumbuh. Diantaranya Percakapan Marapi, Jalan Sunyi Paling Duri, Bensin di Kepala Bapak, Tungku Api Ibu dan tentunya buku best seller Rinai Kabut Singgalang.

Dihari pertama peserta didik dikenalkan lebih dalam dengan penulisan cerpen, mulai dari genre, ide, penokohan, sudut padang, konflik, pengembangan dialog, dst. Peserta langsung praktek menulis cerpen dihari yang sama, tentu sesuai materi yang sudah ada. Dihari kedua kak subhan beralih ke cara menulis puisi, mulai dari definisi, jenis, struktur dan teknik menulis puisi itu sendiri. Disini siswa sangat bersemangat, begitu juga dengan pendamping yang tidak mau kalah dengan peserta. Seluruh karya dibaca langsung masing-masing penulis di depan seluruh peserta. 30 cerpen dan kurang lebih 200 puisi ditelurkan dalam dua hari pelatihan dilaksanakan.

Tulisan peserta sedikit banyaknya menggambarkan kehidupan mereka, ada yang Wibu (orang yang terobsesi dengan budaya dan anime jepang), ada yang suka kucing, penggemar game sampai kisah nyata mengharu biru. Kami dibuat takjub, takjub dengan alur cerita, premis bahkan pemilihan diksi diluar ekspektasi. Ada lagi yang membuat kami tak henti menangis, ketika semua puisi tentang ibu mulai dibacakan satu persatu. Kak subhan juga terkesan dengan hal yang jarang terjadi, karena salah satu peserta didik membuatkan puisi khusus untuk beliau. Puisi yang mengutarakan rasa terima kasih kepada narasumber atas dua hari yang luar biasa, hari penuh ilmu dari kak subhan.

Sejak dibuka hingga pelatihan berakhir tidak terlihat raut bosan dari wajah peserta, semua mengikuti dengan antusias dan sungguh-sungguh. Materi yang luar biasa, apalagi cara kak subhan mengemasnya praktis, tidak berbelit-belit dan mudah dipahami sehingga membuat peserta nyaman duduk sehari penuh di dalam ruangan. Kak subhan juga mengingatkan kepada peserta bahwa Gen-Z begitu beruntung hidup di zaman penuh teknologi super canggih. Peserta harus menjadikan teknologi menjadi sarana menambah wawasan dan informasi.

Sebagai pegiat literasi Kak subhan juga berharap program ini tetap berlanjut, sehingga terjadi regenerasi dibidang literasi (menulis dan membaca), karena segala sesuatu membutuhkan proses tidak ada yang instan. Begitupun harapan kami, bahkan hal ini merupakan program yang sudah dianggarkan setiap tahunnya, begitu penuturan Bapak Kepala Sekolah M. Isral, S.Pd pada sa’at menutup kegiatan secara resmi. Kak Subhan juga berharap karya-karya yang sudah dihasilkan dapat diabadikan dalam bentuk buku, dan beliau diundang ketika launching. Dalam hal ini tentu butuh proses yang cukup panjang, tapi tidak ada yang mustahil. Semoga kami mendapatkan dukungan nantinya. Semoga bisa direalisasikan sehingga karya-karya peserta didik kami bisa tetap hidup. Seperti kata PRAM “Jika ingin mengenal dunia membacalah, jika ingin dikenal dunia menulislah”.


 

 

 

 

 

 

 


 

 

  

Program