Oleh : Febria Erisa
Setelah
launching S-Gabusi Lite 4 Juni 2024 lalu, SMP Negeri 3 Payakumbuh kembali
menggelar pelatihan Literasi bagi peserta didik kelas VII dan VIII, dengan
mengangkat tema “Mahir dalam Literasi, Bijak dalam Aksi” sebagaimana motto
Literasi SMP Negeri 3 Payakumbuh. Kegiatan berlangsung tanggal 30 dan 31 Juli 2024 dan langsung
dibuyka secara resmi oleh Bapak Kepala Sekolah M. Isral, S.Pd.. Tahun ini, tim
Literasi dan peserta mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Narasumber
yang merupakan seorang pegiat literasi dan Founder Sekolah Menulis Elipsis,
Muhammad Subhan. Sedikitnya 30 orang peserta didik menerima sajian materi dari kak
Subhan (begitu peserta didik memanggil beliau), yang juga seorang penulis. Kak subhan
juga menyerahkan lima judul buku yang beliar tulis sendiri untuk memperkaya
perpustakaan SMP Negeri 3 Payakumbuh. Diantaranya Percakapan Marapi, Jalan
Sunyi Paling Duri, Bensin di Kepala Bapak, Tungku Api Ibu dan tentunya buku
best seller Rinai Kabut Singgalang.
Dihari
pertama peserta didik dikenalkan lebih dalam dengan penulisan cerpen, mulai
dari genre, ide, penokohan, sudut padang, konflik, pengembangan dialog, dst.
Peserta langsung praktek menulis cerpen dihari yang sama, tentu sesuai materi
yang sudah ada. Dihari kedua kak subhan beralih ke cara menulis puisi, mulai
dari definisi, jenis, struktur dan teknik menulis puisi itu sendiri. Disini
siswa sangat bersemangat, begitu juga dengan pendamping yang tidak mau kalah
dengan peserta. Seluruh karya dibaca langsung masing-masing penulis di depan seluruh
peserta. 30 cerpen dan kurang lebih 200 puisi ditelurkan dalam dua hari
pelatihan dilaksanakan.
Tulisan peserta
sedikit banyaknya menggambarkan kehidupan mereka, ada yang Wibu (orang yang terobsesi dengan budaya dan anime
jepang), ada yang suka kucing, penggemar game sampai kisah nyata mengharu biru.
Kami dibuat takjub, takjub dengan alur cerita, premis bahkan pemilihan diksi diluar
ekspektasi. Ada lagi yang membuat kami tak henti menangis, ketika semua puisi
tentang ibu mulai dibacakan satu persatu. Kak subhan juga terkesan dengan hal
yang jarang terjadi, karena salah satu peserta didik membuatkan puisi khusus
untuk beliau. Puisi yang mengutarakan rasa terima kasih kepada narasumber atas dua
hari yang luar biasa, hari penuh ilmu dari kak subhan.
Sejak dibuka
hingga pelatihan berakhir tidak terlihat raut bosan dari wajah peserta, semua
mengikuti dengan antusias dan sungguh-sungguh. Materi yang luar biasa, apalagi
cara kak subhan mengemasnya praktis, tidak berbelit-belit dan mudah dipahami
sehingga membuat peserta nyaman duduk sehari penuh di dalam ruangan. Kak subhan
juga mengingatkan kepada peserta bahwa Gen-Z begitu beruntung hidup di zaman
penuh teknologi super canggih. Peserta harus menjadikan teknologi menjadi
sarana menambah wawasan dan informasi.
Sebagai
pegiat literasi Kak subhan juga berharap program ini tetap berlanjut, sehingga
terjadi regenerasi dibidang literasi (menulis dan membaca), karena segala
sesuatu membutuhkan proses tidak ada yang instan. Begitupun harapan kami,
bahkan hal ini merupakan program yang sudah dianggarkan setiap tahunnya, begitu
penuturan Bapak Kepala Sekolah M. Isral, S.Pd pada sa’at menutup kegiatan
secara resmi. Kak Subhan juga berharap karya-karya yang sudah dihasilkan dapat
diabadikan dalam bentuk buku, dan beliau diundang ketika launching. Dalam hal
ini tentu butuh proses yang cukup panjang, tapi tidak ada yang mustahil. Semoga
kami mendapatkan dukungan nantinya. Semoga bisa direalisasikan sehingga
karya-karya peserta didik kami bisa tetap hidup. Seperti kata PRAM “Jika ingin mengenal dunia membacalah, jika
ingin dikenal dunia menulislah”.