Luh Ayu Manik Mas, Sayang Hutan I Made Sugianto Gus Dark - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 04 Agustus 2024

Luh Ayu Manik Mas, Sayang Hutan I Made Sugianto Gus Dark

 

Luh Ayu Manik dan teman-temannya tidak sabar memulai perkemahan mereka di pantai. Setibanya di pantai, teman-temannya yang laki-laki segera berlari ke tepi pantai. Mereka senang sekali bermain pasir dan ombak. Luh Ayu Manik mengingatkan teman-temannya agar tidak bermain terlalu ke tengah laut karena angin sedang kencang dan ombak yang sedang besar. Walau musim hujan sudah berakhir, langit mendung hari itu. Tampaknya memang akan datang badai. Luh Ayu Manik memanggil teman-temannya agar keluar dari air dan berteduh ke wantilan.

Hujan berjatuhan dan petir menyambar sementara guntur tidak henti-hentinya bergemuruh di langit. Mereka dapat melihat petir menyambari air laut dari tempat mereka berteduh. Luh Putu Suastini gemetar ketakutan. Ia teringat peristiwa ayahnya meninggal dunia tersambar petir saat menanam bibit padi di sawah. Luh Ayu berusaha menenangkan teman-temannya. Sementara ia sendiri bertanya-tanya apa  hujan lebat tersebut akan menyebabkan banjir di pegunungan di utara. Untuk melewatkan waktu, Luh Ayu Manik membuka media sosial melalui gawainya. Ada berita banjir besar telah menghanyutkan banyak pohon ke hilir. Batang-batang pohon tersebut menerjang sebuah jembatan, menghancurkannya serta memutuskan jalan ke desa tersebut.

Luh Ayu Manik mengkhawatirkan keadaan penduduk desa itu. Mereka akan sulit bepergian karena jembatan penghubung telah putus. Dari berita yang dibacanya ia mengetahui bahwa jembatan tersebut hancur oleh gelondongan-gelondongan kayu yang tertambat di sungai. Ia heran kenapa ada banyak gelondongan kayu di sungai. Apakah kayu-kayu tersebut hasil rabasan lahan untuk perumahan dan pertanian? Luh Ayu Manik memberitakan kejadian tersebut pada teman- temannya.

Setelah badai berlalu, murid-murid kelas dua SMP itu memantapkan keinginan mereka untuk menanam kembali pohon-pohon yang telah dihanyutkan banjir. Mereka akan menanam cempaka, bunut, lamtoro, dan yang lainnya. Mereka akan membuat hutan menjadi lebih hijau, sekaligus mengurangi erosi jika terjadi banjir kembali.

Tidak lama tibalah waktunya bertanam! Luh Ayu Manik mengumpulkan teman- temannya. Mereka membawa sekop, cangkul, dan panyong, serta anakan-anakan pohon. Agar tetap bersemangat, murid- murid itu bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanannya mendaki gunung. Namun, angin berhembus dingin menusuk tulang. Jalan yang dilewati pun licin. Mereka semua menjaga langkah agar tidak terjatuh.

Walaupun perjalanan tersebut penuh tantangan, mereka menikmati sekali berada di alam bebas. Mereka dapat melihat rumah- rumah warga di desa di bawah sana, dan bahkan lautan di kejauhan. Burung-burung berkicau di pepohonan, seakan menyapa para murid yang datang untuk bertanam anakan pohon. Akan tetapi, saat tiba di tepi hutan mereka sangat terkejut.

Ternyata hutan telah gundul. Padahal para murid tersebut mengira mereka hanya akan melihat segelintir pepohonan yang hilang akibat badai. Namun, mereka malah mendapati jika seluruh hutan telah ditebang habis. Hanya sedikit yang tersisa. Pepohonan ini dilindungi dan hanya penjahat yang akan menebangnya. Luh Ayu Manik sedih sekaligus marah. Bukankah ada polisi hutan yang bertugas menjaga hutan? Mungkin polisi-polisi hutan kalah berani melawan para pencuri tersebut. Pamannya adalah seorang polisi hutan, barangkali ia bisa menanyakan hal ini kepada pamannya. Kini para murid tersebut makin berketetapan hati untuk mengembalikan kondisi hutan. Semuanya sigap bekerja keras dan tidak beristirahat sampai semua pohon mereka tanam.

Saat menikmati bekal makanan, mereka membicarakan hal yang telah terjadi dan apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu menjaga hutan. Luh Ayu Manik mengusulkan agar mereka kembali lagi ke hutan untuk memelihara dan memastikan anakan-anakan pohon tersebut tetap hidup. Ia tidak ingin menjadi seperti para pejabat yang hanya berbicara tentang pelestarian lingkungan, tapi tidak melakukan apa pun untuk itu.

Mereka semua sepakat untuk menjaga kelestarian hutan. Mereka berjanji akan kembali secepatnya. Tiba di rumah, Luh Ayu Manik masih terbayang-bayang keadaan hutan yang hancur. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi di kawasan terlindungi?  Luh Ayu Manik tersadar bahwa ia tidak melihat satu polisi hutan pun dalam perjalanan mereka mendaki gunung ke hutan tersebut. Jadi, siapa yang akan mengidentifikasi para penjahat yang menebang pepohonan tersebut? Terbit keinginan kuat dalam dirinya untuk kembali ke hutan dan menemukan sendiri para penjahat tersebut. Lalu ia bisa melaporkan para pencuri ini kepada polisi dan mencegah mereka melakukan lebih banyak perusakan.

Luh Ayu Manik menyadari jika penebangan pepohonan terus berlanjut, semua warga yang hidup di hilir akan menghadapi masalah serius. Tidak saja banjir akan menimbulkan bencana yang lebih parah, berkurangnya pepohonan akan mengakibatkan berkurangnya curah hujan, yang berdampak pada tidak tersedianya cukup air untuk petani bercocok tanam. Sungai bahkan dapat mengering sepenuhnya sehingga manusia akan sulit mendapatkan air minum bersih. Jika air tak ada lagi, yang tersisa tinggal air mata.

Esoknya, Luh Ayu Manik mengajak Luh Putu Suastini mendaki gunung. Sepanjang perjalanan, Luh Putu Suastini bersemangat memotret pemandangan alam sekitar. Ia juga asyik berswafoto yang lalu diunggahnya ke media sosial. Banyak temannya yang menyukai gambar yang ia unggah dan menanyakan lokasi pengambilan foto-foto tersebut. Mereka ingin tahu lokasi tempat- tempat indah yang difotonya itu dan meminta ia mengunggah  lebih banyak foto lagi. Sayangnya, tidak lama kemudian daya baterai gawai Luh Putu Suastini melemah. 

Saat mereka tiba di pinggir hutan, mereka mendengar bunyi yang sangat mengganggu. Itu bunyi mesin gergaji kayu! Para pelaku pembalakan liar ada di sana. Mereka berdua lalu berjalan mengendap-endap mencari para penjahat tersebut. Dari balik gelondongan kayu besar, murid-murid SMP itu melihat seorang pria sedang menebang pohon. Luh Ayu Manik mencari-cari gawainya untuk memotret laki-laki tersebut. Namun, ternyata ia telah meninggalkan gawainya di rumah! Ia lalu meminjam gawai Luh Putu Suastini, tapi sayangnya daya baterai gawai temannya pun sudah habis. Luh Ayu Manik kesal karena tidak bisa memotret si pencuri kayu. Ia juga jengkel pada temannya tersebut karena terlalu asik berswafoto sehingga daya baterai gawainya habis. Akan tetapi, Luh Putu Suastini bersikeras itu adalah kesalahan Luh Ayu Manik karena meninggalkan gawainya di rumah.

Luh Ayu Manik dan Luh Putu Suastini sadar jika satu-satunya harapan mereka adalah mengamati seksama serta mengingat wajah dan penampilan si pencuri. Mereka akan langsung melapor ke polisi dan menjelaskan ciri-ciri fisik pencuri tersebut. Luh Ayu Manik yakin hal itu akan memberi cukup alasan untuk polisi mencari dan menangkap penjahat tersebut. Kedua anak perempuan itu bergegas menuruni gunung tanpa terlihat oleh pencuri tersebut.

Di kantor polisi, Luh Ayu Manik dan Luh Putu Suastini menceritakan ciri-ciri fisik dan wajah orang yang membabat hutan itu. Sayangya, polisi tidak percaya pada mereka! Polisi mengatakan mereka berbohong dan telah menuduh seseorang melakukan sebuah kejahatan serius dengan tanpa adanya bukti. Luh Ayu Manik memikirkan yang telah dikatakan polisi padanya. Kata-kata polisi itu dirasakan seperti bermakna ganda oleh Luh Ayu Manik. Jika ketahuan, pencuri itu akan ditangkap dan dipenjara. Jika tidak, si pencuri bisa berbuat sekehendak hatinya. Ia menjadi marah karena polisi tersebut tidak akan menginvestigasi laporan warga. Sia-sia rasanya hal yang ia telah upayakan dan laporkan. Ia berharap bisa menghentikan yang dilakukan para pencuri itu.

Luh Ayu Manik menceritakan kejadian di kantor polisi pada teman-temannya. Ia beberkan polisi telah memperingatkannya bahwa yang melaporkan bisa saja berbalik dilaporkan jika tidak ada bukti. Bersama- sama, para sahabat ini merencanakan siasat untuk membuktikan telah terjadinya pembalakan liar di kawasan hutan lindung. Made Anjasmara akan menakut-nakuti para penjahat. Ia akan berpakaian seperti Rangda, satu tokoh janda tukang sihir dalam lakon Calonarang. Jika ada Rangda di tengah hutan gunung, pasti pencuri itu akan lari tunggang langgang  menyelamatkan diri.

Luh Ayu Manik dan teman-temannya bersiap untuk kembali ke gunung. Semuanya sudah mendapatkan tugas masing-masing untuk menakut-nakuti si penjahat. Selain Rangda, Ketut Suprabawa Kabinawa akan memakai topeng Cluluk, rekan Rangda yang juga berwajah seram. Sementara yang lain menyiapkan tali untuk menjerat kaki si penjahat ketika berlari menyelamatkan diri. Luh Ayu Manik yakin siasat itu akan dapat berjalan sesuai harapan.

Ketika telah tiba di tepi hutan, mereka dapat mendengar dengan jelas raung bunyi mesin gergaji.  Saat itulah Made Anjasmara dan Ketut Suprabawa Kabinawa memakai kostum dan topeng. Wajah mereka yang tampan seketika menjadi seram. Begitu mereka melompat keluar dari pohon dan menampakkan diri di hadapan pria pembawa gergaji mesin itu, seketika pencuri itu terkejut, menjerit ketakutan, lalu lari tunggang  langgang.  Ia terjerat tali yang telah dipasang dan terjatuh. Menjeritlah pencuri itu meminta tolong, tetapi tidak didengar oleh teman-temannya karena riuhnya suara gergaji mesin. Cluluk lalu mendekat dan mencengkeram pinggang  pencuri itu.

Si pencuri menjadi marah. Ia lalu mengangkat gergaji mesinnya untuk melawan si iblis. Ketut Suprabawa melepas pencuri itu dan lari menyelamatkan diri dari ancaman dipotong menggunakan gergaji mesin. Pembalak liar yang lain mulai menyadari yang telah terjadi dan mendatangi murid-murid tersebut. Murid-murid ini pun berbalik dan lari. Mereka tidak bisa memenangkan perkelahian melawan gerombolan bersenjata. Sialnya, Ketut Suprabawa masih dengan topeng Cluluk-nya, ia tersandung dan terperangkap tali yang dipasang teman-temannya.

Si pencuri tertawa melihat Cluluk menjerit minta tolong. Si pencuri membawa gergaji mesin dan mulai mendekatkan alat itu ke wajah Cluluk. Luh Ayu Manik menyaksikan hal yang sedang terjadi pada temannya itu, dan tahu bahwa ia harus memberi pertolongan. Ia lalu mencari tempat tersembunyi, dan secepat kilat bertransformasi menjadi sosok dirinya yang lain, Luh Ayu Manik Mas. Mahkota dan hiasan lengannya yang keemasan tampak menyala terkena cahaya. Ia menyerang si pencuri dengan senjata supranatural miliknya, menjatuhkan gergaji mesin dari genggaman  penjahat itu. Penjahat tersebut langsung roboh setelah petir menyambar dadanya.

Dengan segera pencuri yang lain menyerang Luh Ayu Manik Mas dengan dua kapaknya. Dengan mudah ia menghindar serangan tersebut dan tanpa kesulitan mengalahkan pencuri tersebut. Setelah mengikat para pencuri itu, Luh Ayu Manik Mas lalu memperkenalkan dirinya. Ia mengatakan kepada para pencuri tersebut bahwa mereka tidak akan pernah kembali ke hutan ini lagi. Lalu Luh Ayu pergi menyelinap ke balik pepohonan untuk berubah wujud kembali menjadi Luh Ayu Manik. Selanjutnya Luh Ayu Manik memanggil teman-temannya agar mengawasi para pencuri tersebut, sementara ia menelepon serta mengabari pamannya dan polisi.

Polisi dan paman Luh Ayu Manik segera tiba. Mereka menangkap para pencuri dan mengucapkan selamat atas keberhasilan murid-murid tersebut. Pamannya mengatakan padanya bahwa para polisi hutan belum bisa menangkap para pencuri dengan tangan sendiri karena takut terbunuh. Kini mereka lega karena hutan akan aman. Bencana dapat menimpa daerah- daerah di aliran sungai jika para pencuri ini tidak dihentikan. Pamannya mengatakan Luh Ayu Manik dan teman-temannya sekarang adalah pahlawan hutan!


Program