Etika Bahasa Kato Nan Ampek dalam Adat Minangkabau - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Jumat, 11 Oktober 2024

Etika Bahasa Kato Nan Ampek dalam Adat Minangkabau

Etika merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena kita akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi tentunya kita tidak bisa berperilaku seenaknya, kita harus bisa menghormati dan menghargai orang lain. Baik dari sikap maupun perkataan kita tidak boleh membuat orang lain sakit hati atau tersinggung. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan makhluk lainnya, butuh kontak dan komunikasi. Dalam kehidupan, manusia membutuhkan tatakrama agar ia bisa diterima di tengah masyarakat dimana ia berada. Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Etika Berbahasa dalam Adat Minangkabau dikenal dengan istilah kato nan ampek, yang merupakan sebuah aturan dasar berkomunikasi masyarakat Minangkabau. Menurut Oktavianus konsep kato nan ampek adalah salah satu bentuk tatanan kehidupan bermasyarakat di Minangkabau. sedangkan menurut Aslinda dalam Revita merupakan aturan tuturan dalam bahasa Minangkabau yang penggunaannya tergantung kepada hubungan sosial yang terjadi antara penutur dengan mitra tutur dalam kehidupan sehari-hari. Kato nan ampek merupakan tutur bahasa sopan santun yang mengatur masyarakat Minangkabau dalam bergaul baik dalam satu nagari maupun dengan nagari lainnya.  Kato nan ampek terdiri dari kato mandaki, kato mandata, kato manurun dan kato malereng. 

Kato Mandaki (kata mendaki) 

Kato mandaki yakni bagaimana berkata dan bersikap kepada orang yang lebih dewasa atau lebih tua dari kita. Baik dari segi umur, status social yang dimiliki oleh seseorang. Kato mandaki merupakan etika berbicara yang ditujukan untuk orang yang dihormati atau dituakan, seperti penghulu, ulama, orang tua, guru dan lain sebagainya.  Hal ini dijelaskan dalam pepatah minang yang berbunyi: 

Muluik manih kucindan murah Budi baiak baso katuju 
Lamak bak santan jo tangguli 
Pandai bagaua samo gadang 
Ingek rantiang kok mancucuak 
Jago sandiang kok malukoi Artinya: 
Mulut manis mudah bergurau 
Budi baik bahasa disukai 
Enak sepertisantan dengan tengguli  
Pandai bergaul sama besar Ingat perkataan jika 
Menyinggung 
Jaga sendi jika melukai 

Kato mandaki biasanya digunakan dalam suatu pembicaraan yang dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua, seorang murid kepada guru, seorang adik kepada kakak dan lain sebagainya.  Contoh sikap dari kato mandaki ini adalah ketika seorang anak berbicara kepada orang tuanya. Ketika berbicara dengan orang tua seorang anak harus menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak boleh menjawab perkataan orang tua dengan nada yang tinggi atau menjawab dengan perkataan yang membuat orang tua marah. Seorang anak harus mengohormati orang yang lebih tua darinya. Seperti contoh ungkapan yang menunjukkan kata mandaki adalah “Awak indak dapek pai jo uni”, maksudanya menandakan penolakan dari seorang yang lebih kecil bahwa dia tidak bisa pergi dengan nya. Kato mandaki yaitu Bahasa yang digunakan oleh seseorang yang mana berkaitan dengan sikap ramah dan nada suuaranya netral serta penjiwaan yang gembira. Contoh ungkapan kato mandaki, seperti seorang anak berbicara kepada orang tuanya ketika ia menginginkan sesuatu seperti uang untuk membeli buku. 

Contoh ungkapan yang diungkapkan adalah “amak, buliah ambo maminta piti untuak mambali buku mak? Untuak baraja di sekolah. Artinya “ma, bolehkah saya minta uang untuk membeli buku di sekolah untuk belajar?”. Ungkapan diatas merupakan contoh dari kata mandaki, yang mana seorang anak inginmeminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dengan menggunakan pertanyaan dengan bahasa yang baik, sehingga tidak menyinggung perasaan orang tuanya, dan tidak mengungkapkan dengan nada yang tinggi juga. 
--->

Kato Manurun (kato manurun) 

Kato menurun yaitu bagaimana bersikap dan berkata-kata kepada yang lebih kecil.  Kato manurun biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih kecil dari kita baik dari status usia ataupun kekeluargaan. Contohnya seperti komunikasi orang tua dengan anak, mamak dengan kemenakan dan lain sebagainya. Seperti yang diungkapkan dalam pepatah minang, yang berbunyi: 
Jalan manurun taantak-antak 
Ingek di bawah kok tasingguang 
Jago kato ka manganai 
Ingek nan di ateh 
Kok nan di bawah kok maimpok 
Tirih kok datang dari lantai 
Galodo kok dating dari hilia 
Tagangnyo bajelo-jelo 
Kanduanyo badantiang-dantiang 
Artinya 
Ingat-ingat yang diatas 
Yang dibawah jika terhimpit 
Bocor jika dating dari lantai 
Banjir bandang jika dating dari muara  
----

Kosa kata yang digunakan dalam penggunaan kato manurun adalah, kata yang mengandung unsur kasih sayang, atau kata yang mudah dimengerti oleh lawan bicara kita, yaitu orang yang lebih kecil dari kita sebagai pembicara.

Contoh dari kato manurun ini adalah ketika orang tua berbicara dengan anaknya. Orang tua harus menggunakan kata-kata yang santun dan lembut ketika berbicara dengan anaknya, agar anaknya bisa mencontoh sikap tersebut dalam kehidupannya. Tidak boleh seorang orang tua berkata kasar atau keras kepada anaknya, karana nanti anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orangtuanya. 

Seperti contoh ungkapan yang menggambarkan kato manurun adalah “Uni indak dapek pai jo adiak”, kata ini menggambarkan bahwa seorang kaka menolak pergi dengan adiknya. 

Kato manurun sangat berhubungan dengan sikap, cara dan nada suara serta penjiwaan yang ramah dan pemilihan kata yang santun.  Contoh ungkapan yang digunakan dalam kato manurun seperti “diak, tolong balikan uni gulo ka kadai ciek”, artinya “dek, tolong belikan kaka gula ke warung”. Ungkapan tersebut adalah salah satu bentuk ungkapan yang diutarakan oleh seorang kaka kepada adiknya, yang mana kaka ingin meminta tolong kepada adiknya agar dibelikan gula ke sebuah warung. Ungkapan tersebut merupakan ungkapan perintah namun tidak mengandung unsur menyuruh dengan kata-kata kasar ataupun menghardik. 

---

Kato Mandata 

Kato mandata adalah tata tertib berbicara dengan orang yang sama besar baik dari segi usia maupun status dalam kaum. Contoh dari penggunaan kato mandata adalah ketika seseorang berbicara dengan teman sebayanya, dan dalam kato mandaki ini harus ada rasa saling menghargai satu sama lain. Seperti yang diungkapkan dalam pepatah Minang, yang berbunyi: 

Lamak bak santan jo tangguli 
Pandai bagaua samo gadang 
Ingek rundiang kok mancucuak  
Jago sandiang kamalukoi 
Artinya:
Enak seperti santan dengan tengguli 
Pandai bergaul sama besar 
Ingat perkataan jika menyinggung 
Jaga sendi jika melukai 

Artinya, seseorang dalam berinteraksi harus pandai berkata-kata, ingat orang akan tersinggung dengan ucapan kita. Dalam bergaul harus saling menghargai perasaan orang lain agar kita bisa diterima dengan senang di dalam kehidupan bermasyarakat.  

Kata mendatar diperuntukkan untuk teman sepergaulan dengan kita, meskipun sepergaulan kata yang dilontarkan pun tidak boleh kata yang mengandung unsur menyakiti lawan bicara, harus menggunakan kata yang menghormati agar lawan bicara tidak tersinggung. Dan tidak boleh menyombongkan diri ketika berbicara serta tidak boleh menggunakan nada yang tinggi. Contoh ungkapan yang menggambarkan kato mandata adalah “den indak dapek pai jo ang”, ini merupakan sebuah percakapan antara teman sebaya. Kato mandata digunakan ketika seseorang berbicara dengan teman sebayanya yang berhubungan akrab namun tetap memperhatikan intinasi dan kata yang diucapkan.

Contoh ungkapan kato mandata, ketika seseorang berbicara dengan temannya dalam bergaul di kehidupan sehari-hari, seperti “sadang manga ndan, ikuik jo aden sabanta lah” artinya “lagi ngapain nih, ikut dengan aku sebentar yuk”, ungkapam ini merupakan salah satu bentuk percakapan seorang yang ingin mengajak temannya untuk ikut dengannya. Kata yang digunakan bersifat santai dan tidak menghardik. 

Kato Malereang 

Kato malereang yaitu bagaimana seseorang berkata kepada orang yang cukup disegani, dan kato malereang adakalanya tidak diucapkan secara terus terang, ada kalanya diucapkan melalui sindiran.  Kato malereang biasanya menggunakan kata atau bahasa kiasan. Seperti ungkapan minang, yang berbunyi: 

Arih dikilek kato bayang 
Alun bakilek alah bakalam 
Bulan lah ganok tigo puluah 
Takilek ikan dalam aia 
Lah tantu jantan jo batinonyo 
Artinya: Arif dengan kilat kata bayang 
Belum berkilat sudah masuk kedalam tubuh 
Terkilat air dalam air 
Ikan terkilat jala tiba 
Sudah tentu jantan betinanya 

Contoh dari kato malereang yaitu ketika seseorang berbicara kepada seorang sumando, ipar mamak rumah dan di keluarganya. Contoh ungkapan yang menggmbarkan kato malereang adalah, “ambo indak dapek pai jo angku”, kalimat ini merupakan percakapan antara seorang terhadap penghulunya atau pimpinan sukunya.

Dilihat dari unsur kebahasaannya, kato nan ampek erat hubungannya dengan faktor sosial budaya dan aturan-aturan yang mengikat masyarakat sebagaimana dipahami oleh masyarakat Minangkabau itu sendiri. Seperti yang ditemukan Revita, norma-norma interaksi ini umumnya valid, objektif, aturan mengikat yang harus dipatuhi dan diikuti oleh pengguna bahasa itu sendiri. Memperlakukan orang dengan bahasa sesuai dengan kemampuannya merupakan bentuk penghargaan yang pada gilirannya menciptakan hubungan sosial yang langgeng satu sama lain. Pada saat yang sama, menurut Oktavianus, bahasa dapat mencerminkan realitas di tengah masyarakat penuturnya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain heruslah menggunakan bahasa yang baik dan santun, jangan pernah membuat perasaan seseorang tersinggung dengan perkataan yang kita lontarkan. Seperti dalam adat Minangkabau sudah dijelaskan terdapat aturan tentang berbicara atau berbahasa yang disebut dengan kato nan ampek. Dalam kehidupan bermasyarakat di Minangkabau kato nan ampek harus sangat diperhatikan, agar tidak terjadi perselisihan antar sesama.

Penggunaan Kato Nan Ampek 

Bahasa Minangkabau merupkan identitas masyarakat Minangkabau. Bahasa Minang ini digunakan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Minangkabau mengandung nilai-nilai dan norma sosial dalam setiap pengucapannya. Dan bukan hanya sebagai alat komunikasi, namun bahasa Minangkabau menjadi alat penyampaian nilai-dan ajaran sosial dan budaya yang ada dalam adat Minangkabau. 

Dalam adat Minangkabau, sangat memperhatikan tatakrama atau kesopanan berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kesopanan dan tata karma berbicara adat minangkabau tergambar dalam sebuah aturan yang disebut dengan kato nan ampek.

Kato nan ampek juga mengandung nilai baso-basi (basa-basi) sebagai ukuran terhadap ketinggian budi seseorang dalam melakukan interaksi antar individu dan masyarakat, seperti yang terungkap dalam pepatah minang yang berbunyi: 
Umua satahun jaguang 
Darah satampuak pinang 
Artinya: umur yang baru setahun jagung, darah yang baru setampuk pinang. 
Mandi dibaruah-baruah 
Manyauak di ilia-ilia 
Artinya  Mandi di bawah-bawah, menyauk di hilir-hilir. 

Kedua ungkapan di atas merupakan bentuk ungkapan metafora yang mengandung makna basa basi yang berlaku di masyarakat Minangkabau, supaya seorang tidak menonjolkan diri tetapi memiliki sikap rendah hati. Dalam berbicara masyarakat Minangkabau harus sangat memperhatikan aturan kato nan ampek, jika tidak sesuai dengan etika kato nan ampek maka yang bersangkutan sudah melanggar etika minangkabau. Orang yang melanggar etika kato nan ampek disebut dengan sumbang kato.   

Kato nan ampek merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Kato nan ampek digunakan menurut tinggi rendahnya kedudukan status sosial pemberi pesan dan penerima pesan dalam komunikasi. Penggunaan kato nan ampek juga disesuaikan dengan ketika hendak komunikasi, hubungan sosial anatara pembicara dengan lawan bicaranya serta sifat keformalan atau keinformalan hubungan.  Dapat disimpulkan bahwa penggunaan kato nan ampek digunakan melihat dari siapa lawan bicaranya, seperti apakah lebih tua atau lebih muda darinya, dan orangnya disegani ataukah seumuran. 

Dalam bahasa Minangkabau, penutur minang mempunyai sederet kata yang dipinjam dari berbagai kosa kata, seperti kekerabatan dan status sosial. seperti ungkapan di bawah ini: 

Den indak dapek pai jo ang 
Uni indak dapek pai jo adiak 
Ambo indak dapek pai jo angku 
Awak indak dapek pai jo uda 

Makna dari ungkapan di atas adalah “saya tidak bisa pergi dengan kamu, namun setiap ujaran tersebut dilontarkan pada saat situasi yang berbeda dan kepada orang yang berbeda-beda status sosialnya dengan kita. Pada kalimat pertama itu dikategorikan sebagai kato mandata, karena penggunaan dari kosa katanya merupakan kosa kata yang berkonotasi keakraban, artinya kata yang digunakan untuk teman sebaya atau seumuran. Kalimat kedua merupakan contoh dari penggunaan kato manurun, karena itu sebuah contoh ungkapan atau pembicaraan dari seorang kakak kepada adiknya atau ditujukan untuk orang yang lebih muda dari si pembicara. Kalimat ketiga, merupakan salah satu contoh dalam penggunaan kato malereang, karena itu ditujukan untuk orang yang disegani, seperti saudara ipar. pada kalimat keempat adalah contoh dari kato mandaki, yaitu kato yang ditujukan untuk orang yang lebih dewasa dari si pembicara.  

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa penggunaan atau pengaplikasian kato nan ampek itu disesuaikan dengan lawan bicara kita nantinya, dan disesuaikan dengan konteks pembicaraannya. Tidak boleh seseorang berbicara dengan lawan bicaranya di luar konteks atau aturan kato nan ampek.

Kato nan ampek digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain, hal ini bertujuan untuk meminimalisir kesenjangan social dalam berkomunikasi. Maka untuk itu dalam komunikasi dikenal dengan kajian tindak tutur yang disebut dengan makna lokusi, ilokusi dan perkolusi dalam filsafat Bahasa.  Kato nan ampek dikaitkan dengan tindak tutur lokusi, ilokusi dan perkolusi karena, sama-sama mengandung aturan dalam berbahasa dan komunikasi. Penulis mencoba menganalisa kato nan ampek dengan memperhatikan aksi kolusi, ilokusi dan perkolusi. 

Lokusi adalah suatu tindak tutur untuk menyatakan sesuatu, seperti contoh ungkapan seseorang kepada temannya yang memberitahu tentang suatu peristiwa “Ibu, saya merasaka pusing”, kalimat ini mengandung kalimat pernyataan yang disampaikan seorang anak kepada ibinua dengan menggunakan bahasa yang santun. Seperti halnya dalam kato nan ampek ungkapan yang diucapkan seorang anak ketika memberitahu suatu pernyataan adalah menggunakan kato mandata, seperti contoh “Amak, ambo sadang marasoa sakik dibagian kapalo”.

Ilokusi adalah suatu tindak tutur yang mempunyai makna tersembunyi dari kalimat yang diucapkan (bisa dikatakan kalimat kiasan atau sindiran), seperti contoh “baju yang kamu pakai sekarang keliatan tidak rapi”, kata ini merupakan ungkapan yang mempunyai makna bahwa orang itu harus mengganti baju yang lebih rapi. Dalam kato nan ampek juga mengandung ilokusi dalam mengungkapkan sesuatu, seperti contoh “Adiak, piriang di dapua banyak yang alun bacuci”, kata ini merupakan ungkapan dari seorang kaka yang memberitahu bahwa piring di dapur banyak yang belum di cuci, ungkapan ini mengandung makna bahwa kaka meminta adiknya untuk segera mencuci piring yang kotor. 

Perlokusi adalah sebuah tutur kata yang mempunya pengaruh tanpa harus diungkapkan secara eksplisit. Contoh kalimat perlokusi adalah “mohon maaf jalan ini sedang ada perbaikan”, maksud dari kalimat ini adalah memberitahu kepada orang bahwa tidak boleh melewati jalan ini. Contoh dalam kato nan ampek adalah, “Mohon maaf tuan, jalan sadang bapelokan” artinya seseorang memberitahu bahwa jalan ini sedang diperbaiki, maka orang yang diberitahu tidak akan melewati jalan yang sedang diperbaiki ini. 

Nilai Etika yang Terkandung dalam kato Nan Ampek 

Etika secara terminologis mempunyai arti adat istiadat atau kebiasaan. Cara berkomunikasi masyarakat Minangkabau mengandung nilai etika yang masih kental sampai sekarang ini, bahkan orang minangkabau dalam menempatkan komunikasi sebagai bagia yang sangat penting dalam kebudayaannya dengan menggunaan istilah khusus yaitu “kato” yang artinya komunikasi. Dalam kebudayaan Minangkabau yang menjadi acuan bagi mereka dalam menjaga kesopanan bahasa sehari-hari yaitu kato nan ampek. 

Kato nan ampek berhubungan erat kaitannya dengan faktor sosial budaya masyarakat. Bahasa Minangkabau dalam bentuk sastra ataupun tertulis tidak terlepas dari norma-norma atau kaidah yang ada dalam tuturan lisan, karena pada dasarnya perkembangan bahasa Minangkabau tersebut pada hakekatnya melalui mulut ke mulut.  

Beberapa nilai-nilai yang terkandung dalam kato nan ampek, antara lain: 

  1. Nilai Raso. Nilai raso merupakan suatu nilai yang mana kita harus saling menghargai satu sama lain. Orang minang sangat diharuskan untuk menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Nilai raso ini juga akan terbentuk dari terbinanya rasa kemanusiaan dan saling menghormati antar sesama dalam pergaula sehari-hari. Seperti ungkapan pepatah minang “nan elok diawak katuju dek urang” artinya baik bagi kita dan orang lain pun suka dengan kebaikan itu.
  2. Nilai pareso Sikap pareso ini dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam membina arti dari pentingnya kata sakato yang melahirkan persatuan, kerjasama dan terjalinnya prinsip dalam tukur pikiran dan dapat menyelesaikan setiap permasalahan serta mengambil keputusan dengan cara bermusyawarah atau mufakat. 
  3. Nilai Sopan. Nilai sopan terlihat dari bermacam-macam sikap yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam sikap berbicara antar sesama. Dalam kato nan ampek mengandung nilai-nilai kesopanan karna didalamnya terdapat aturan bagaimana seharusnya kita berbicara dengan sopan santun antar sesama.  
  4. Nilai kasih sayang. Dalam kato nan ampek juga mengandung nilai kasih sayang, karena jika kita berbicara sesuai dengan aturan yang terdapat dalam kato nan ampek, maka seseorang akan bisa berkomunikasi dengan baik dan dapat diterima dengan baik juga oleh lawan bicaranya, oleh Karena itu dengan adanya aturan ini makan akan terjalin menimbulkan rasa ksih sayang antar sesama. 

Dari penjelasan nilai etika di atas, dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berkomunikasi dengan menerapkan aturan penggunaan kato nan ampek dengan benar, maka akan menimbulkan beberapa sikap yang akan membuat kita nyaman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti adanya sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain, saling menyayangi serta saling memahami. 

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian penulis di atas, dapat disimpulkan bahwa orang Minangkabau sangat berhati-hati dalam berkomunikasi sehingga sangat memperhatikan penggunaan bahasa dan kata-kata sesuai dengan kato nan ampek.Beberapa etika berkomunikasi dalam adat Minangkabau yang tercantum dalam kato nan ampek, antara lain kato Mmandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereng. Nilai dan tanggung jawab menjadi konsep etika dalam filsafat adat Minangkabau. Tingginya nilai tanggung jawab bagi masyarakat Minangkabau menunjukkan deontology dalam konsep etika filsafat adat Minangkabau.  

Program