Pencari Jamur Yang Sombong - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Rabu, 16 Oktober 2024

Pencari Jamur Yang Sombong



Pada jaman dahulu, di suatu desa, ada seorang pencari jamur yang sangat miskin, saking miskinnya dia hanya mempunyai sebuah keranjang dan pisau untuk bekerja dan menghidupi anak-anak dan istrinya. Dengan sangat sulit dia bisa memperoleh beberapa keping uang dari menjual jamur setiap hari. Dia dan istrinya harus bekerja membanting tulang dari subuh hingga larut malam agar mereka dapat hidup dengan tidak kehabisan makanan. Apabila mereka beristirahat, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.

“Apa yang harus saya lakukan?” katanya, suatu hari, “Saya sekarang sangat lelah, istri dan anakku tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, dan saya sudah tidak sekuat dulu lagi, untuk memperoleh sepiring nasi untuk keluargaku saja susahnya minta ampun. Ah, begitu buruknya nasib bagi orang miskin, ketika mereka dilahirkan ke dunia ini.”

Sementara dia masih berkeluh-kesah, sebuah suara memanggilnya dengan penuh rasa iba: “Apa yang kamu keluhkan, wahai manusia?”

“Bagaimana saya tidak suka mengeluh, apabila saya tidak memiliki makanan?” katanya. “Pulanglah ke rumahmu,” kata suara itu, “galilah tanah di sudut pekaranganmu, dan kamu akan menemukan harta karun di bawah sebuah pohon yang telah mati.

Ketika pencari jamur mendengar hal ini, dia langsung berlutut di tanah, dan berkata: “Tuan, siapakah nama tuan? siapakah tuan yang begitu baik hati?”

“Panggil saja aku Darta,” kata suara itu.

“Ah! Tuan, Tuhan akan memberkahimu apabila kamu datang menolongku dan menyelamatkan keluargaku dari kemelaratan.”

“Pergilah cepat,” kata suara itu, “dan dalam satu tahun, kembalilah ke sini, dan berikanlah saya penjelasan tentang apa saja yang kamu lakukan dengan uang yang kamu temukan di sudut pekaranganmu.”

“Tuan, Saya akan mengunjungimu dalam satu tahun, atau setiap hari, apabila kamu memerintahkan saya.”

Lalu sang pencari jamur pulang ke rumahnya, menggali tanah pada sudut pekarangannya dan disana dia menemukan harta karun yang telah dijanjikan. Betapa gembiranya mereka sekeluarga karena telah lepas dari kemiskinan. Ia menemukan sekotak besar emas dan berlian.

Karena tidak ingin tetangganya tahu mengapa mereka tiba-tiba menjadi kaya, dia masih pergi ke dalam hutan dengan membawa keranjang wadah jamur, sehingga seolah-olah dia bekerja keras dan secara perlahan-lahan terangkat dari kemiskinan menjadi kemakmuran.

Pada akhir tahun, dia pergi ke dalam hutan untuk memenuhi janjinya. Dan suara itu berkata, “Jadi kamu akhirnya datang!” “Ya Tuan,” “Dan bagaimana kamu membelanjakan harta tersebut?” “Tuan, keluargaku sudah dapat makan makanan yang baik dan berpakaian yang bagus, dan kami selalu berterima kasih kepadamu setiap hari.”

“Keadaan kamu sekarang menjadi lebih baik kalau begitu, tapi katakan padaku, apakah masih ada hal yang kamu inginkan?” “Ah, ya, Tuan, saya ingin menjadi kepala desa di tempat saya.”

“Baiklah, dalam empat puluh hari kamu akan menjadi kepala desa.”

“Oh, beribu-ribu terima kasih, pelingdungku yang baik.”

Pada tahun kedua, pencari jamur yang kaya datang ke hutan dengan baju baru yang sangat baik dan mengenakan atribut bahwa dia adalah seorang kepala desa, memakai beskap dan belangkon yang terlihat mahal.

“Bapak Darta,” panggilnya, “datanglah dan berbicaralah padaku.”

“Saya di sini,” kata suara itu, “apa yang kamu harapkan?”

“Seorang kepala desa di desa tetangga baru saja meninggal kemarin, dan anak laki-laki saya yang tinggal di desa tersebut, dengan bantuanmu, ingin menggantikannya, Saya meminta kebaikan hatimu.”

“Dalam empat puluh hari, hal yang kamu inginkan akan terwujud,” kata Darta.

Begitu pula dalam empat puluh hari, keajaiban terjadi, dengan mudah anaknya menjadi kepala desa di desa itu, dan mereka masih juga belum puas.

Pada akhir tahun ketiga, pencari jamur tersebut mencari lagi Darta di hutan, dan dengan suara yang merendahkan, dia berkata “Darta, maukah kamu membantu saya?”

“Apa yang kamu kehendaki?” kata suara itu.

“Putriku berharap agar dapat menikah dengan seorang pejabat,” katanya. “Harapanmu akan terwujud,” balas Darta, dan dalam empat puluh hari, anak perempuan pencari jamur itu menikah dengan seorang pejabat di kota.

Dan begitulah akhirnya waktu terus berlalu, hingga pada akhir tahun keempat, istrinya yang bijaksana menyuruhnya kembali kesana untuk berterima kasih, tetapi suaminya itu menjawab:

”Mengapa saya harus masuk kembali ke hutan itu untuk berbicara dengan mahluk yang tidak pernah saya lihat? Saya sekarang sangat kaya, mempunyai banyak teman, dan namaku sangat di hormati semua orang.”

“Pergilah sekali lagi,” kata istrinya, “Kamu harus memberi dia salam dan berterima kasih atas segala kebaikannya.”

Akhirnya dengan berat hati ia menuruti istrinya, dengan menunggangi kudanya, diikuti oleh dua orang bawahannya, masuk ke dalam hutan dan mulai berteriak: “Darkem! Darkem! Saya tidak membutuhkan kamu lagi, karena sekarang saya cukup kaya.” 

Darta membalasnya, “Sepertinya kamu lupa saat kamu masih miskin, tidak cukup makan, dengan hanya keranjang dan pisau, kamu dengan susah payah mendapatkan beberapa keping uang setiap hari! Saya memberikan kamu berkah pertama kali, kamu berlutut dengan kedua kakimu, dan memanggil saya ‘Tuan’, setelah berkah kedua, kamu hanya memanggil saya ‘Bapak’ dan setelah yang ketiga, kamu memanggilku dengan ‘Darta’ saja, sekarang dengan sombongnya kamu memanggilku ‘Darkem’! kamu mungkin berpikir bahwa kamu sudah sangat kaya dan hidup dengan baik dan tidak memerlukan lagi saya, Mari kita lihat nanti, selama ini kamu tidak memiliki hati yang baik dan selalu bertindak bodoh, tetaplah menjadi bodoh, dan tetaplah menjadi miskin seperti saat pertama saya bertemu dengan kamu.” 

Pencari jamur itu tertawa terbahak-bahak, mengangkat bahunya dan tidak mempercayai apa yang dikatakan kepadanya.

Dia kembali ke rumahnya, tapi dengan cepat anaknya yang sekarang menjadi kepala desa, sakit mendadak dan meninggal, putrinya yang menjadi istri seorang pejabat juga menderita sakit keras dan akhirnya meninggal. Kesialan menimpanya terus menerus, hingga dia tidak memiliki uang satu peser pun.

Ketika tiba masa untuk membayar pajak, dia tidak mempunyai uang di kantongnya, sehingga dia terpaksa menjual semua ladangnya. 

“Lihat,” kata pencari jamur yang tidak tahu berterimakasih itu, sambil menangis, “Saya telah kehilangan semua yang saya miliki, uang, ladang, kuda, anak-anakku! Mengapa saya tidak percaya kepada Darta? hanya kematian yang belum menjemput saya, saya sudah tidak tahan dengan penderitaan ini.”

“Tidak begitu,” kata istrinya yang bijaksana, “Kita harus mulai bekerja keras kembali.” “Dengan apa?” kata pencari jamur, “Kita bahkan sudah tidak memiliki satu alat pun untuk bekerja!”

“Dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita,” kata istrinya lagi.

Tuhan hanya memberikan mereka sebuah keranjang, yang dipinjam dari tetangganya. Dengan keranjang ini di punggungnya dan pisau di tangannya, dia akhirnya masuk ke hutan untuk bekerja mencari jamur seperti dulu lagi, mencoba untuk mencari jamur untuk mendapatkan beberapa keping uang sehari.

Dan suara Darta, tidak pernah lagi ia dengar dan temui.

Sumber: https://www.facebook.com/share/RQpDw6NQX5Stf6tN/

Program