Sejarah Kota Saranjana - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Selasa, 22 Oktober 2024

Sejarah Kota Saranjana

           SEJARAH KOTA SARANJANA
Kota Saranjana terkenal sebagai kota gaib yang berada di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, ujung Kalimantan Selatan. Saranjana digambarkan sebagai kota dengan peradaban yang modern dan hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki kemampuan mata batin.
Banyak masyarakat yang melaporkan pernah berkunjung ke Saranjana, dan setelah masuk ke kota tersebut enggan untuk pulang. Cerita mengenai kota gaib ini sudah melegenda bagi warga lokal Pulau Kalimantan atau Borneo. Saranjana pernah tercatat di peta Hindia Belanda namun keberadaannya tidak tercatat di peta Indonesia.
Banyak masyarakat di luar pulau Kalimantan yang sangat penasaran akan keberadaan Saranjana. Bahkan di media sosial tersebar bahwa kota tersebut sempat tertangkap kamera saat seorang wisatawan sedang berfoto di bukit Mamake, Desa Sarang Tiung yang berjarak sekitar 11 km dari Kotabaru.

Sejarah Kota Saranjana

Dikutip dari artikel ilmiah “Saranjana in Historical Record: The City’s Invisibility in Pulau Laut, South Kalimantan Selatan”, Mansyur (2018:14) keberadaan kota saranjana adalah sebuah fakta.
Sejarah mengatakan naturalis Jerman, Salomon Muller pada tahun 1845 menuliskan dan menggambarkan pada peta berjudul Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermaing tot behoorende de zuidelijke Reize in het gedelte van Borneo atau peta wilayah pesisir pedalaman Kalimantan bahwa ada daerah yang ditulisnya sebagai Tandjong Serandjana.
Letaknya di sebelah selatan Pulau Laut tepatnya Pulau Kerumputan yang berbatasan dengan wilayah dan Pulau Kijang. Awal mulanya Salomon Muller sedang melakukan perjalanan penelitian dunia binatang dan tumbuh-tumbuhan di kepulauan Indonesia.
Namun sebelum melakukan pemetaan tidak bisa dipastikan apakah Salomon melakukan perjalanan ke Tandjong Serandjana.
Versi kedua mengenai Saranjana adalah dari Pieter Johannes Veth dalam kamus Aardijkskundig woordenboek van statistisch en Nederlandsch Indie: bewerkt naar de jongste en beste berigten halaman 252 yang menuliskan "Sarandjana, aan de kaap Oostzijde van Zuid-Poeloe sea, welk eiland aan Borneo's Zuid-Oost punt is gelegen" (Sarandjana, tanjung di sisi selatan Poeloe Laut, yaitu sebuah pulau yang terletak di bagian tenggara Kalimantan).
Masyarakat Borneo meyakini bahwa jika ada yang dengan sengaja mencari keberadaan Saranjana maka sebagian besar orang tersebut tidak akan pernah menemukannya. Hal ini menjadi mitos yang banyak beredar di masyarakat.
Versi ketiga, dalam artikel dijelaskan bahwa Saranjana erat kaitannya dengan mitos atau legenda Kerajaan Pulau Halimun yang tokohnya merupakan Raja Pakurindang dan memiliki dua anak yaitu Sambu Batung dan Sambu Ranjana.
Pada legenda tersebut dikisahkan bahwa Sambu Batung dan Sambu Ranjana berkelahi, dan untuk menengahi kedua anaknya, Raja Pakurindang memberikan kekuasaan.
Raja memberi Sambu Batung kekuasaan untuk menguasai alam manusia dengan bereinkarnasi menjadi Gunung Sebatung, sedangkan Sambu Renjana diberi kekuasaan untuk menguasai, tinggal, dan membangun kota gaib di Saranjana.
Dari cerita tersebut, nama Sambu Renjana mengalami evolusi atau perubahan pengucapan menjadi Saranjana dalam bahasa setempat yang kemudian dipercaya sebagai kota gaib yang modern.
https://m.kumparan.com/jendela-dunia/sejarah-kota-saranjana-dan-fakta-menariknya-22M0XVojW0o/full

 

Program