Anya dan Sapi Kurus - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Selasa, 12 November 2024

Anya dan Sapi Kurus


Dahulu kala, hiduplah seorang wanita bernama Bu Jelena. Ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Dusana. Setelah suaminya meninggal, kehidupannya tidak sekaya dulu. Namun ia tetap mempunyai dua pelayan wanita, yaitu Lida yang sudah tua, serta anak perempuan Lida yang bernama Anya.

Suatu hari,dengan ketus Bu Jelena menyuruh Lida ke pasar di pusat kota. “Pergi, dan beli seekor anak sapi kurus berharga murah. Bawa Anya untuk membantumu membawa anak sapi itu pulang!”
Lida dan Anya lalu pergi ke pasar di pusat kota. Mereka melihat seekor anak sapi kurus yang menyedihkan.
“Kita beli anak sapi ini saja, Bu. Aku akan mengurusnya sampai ia gemuk dan sehat,” kata Anya yang lembut dan pekerja keras. Maka Lida pun membeli anak sapi itu dan membawanya pulang.
Berbeda dengan Anya, Dusana adalah gadis yang malas dan sehari-hari hanya tidur-tiduran dan berdandan. Itu karena Bu Jelana sangat memanjakannya.
Esok harinya, Bu Jelena berkata kepada Anya,
"Mulai hari ini, setiap hari kau harus membawa anak sapi itu ke padang rumput. Beri dia makan rumput sebanyak mungkin supaya cepat gemuk dan bisa dijual dengan harga mahal. Kamu juga harus memintal rumput rami menjadi tali. Dan sapi itu harus kau kembalikan ke kandangnya setiap malam!”
Anya terkejut dengan tugas yang sangat berat itu. Namun ia bekerja dengan rajin dan patuh. Setiap hari, ia mengolah rumput rami dan memintalnya menjadi tali rami.
Akan tetapi, lama kelamaan, tugas yang diberikan Bu Jelena semakin berat. Ia menyuruh Anya membuat benang yang halus dari rumput rami. Lalu ditenun menjadi sehelai kain. Setiap hari, ia harus membuat sehelai kain dari rami. Tentu saja, Anya juga tetap harus membawa anak sapi untuk merumput di padang rumput.
Karena tugas yang sangat berat, saat anak sapi merumput, Anya duduk dan menangis. Di saat itu, anak sapi itu mendekatinya dan bertanya,
"Gadis manis tersayang, kenapa engkau menangis..."
"Majikanku memberiku rumput rami, menyuruhku mengolahnya menjadi benang halus, lalu menenunya menjadi sehelai kain. Nanti malam, semua itu harus jadi,” ujar Anya sambil terus menangis.
“Tenanglah, gadis baik!" kata anak sapi. "Semuanya akan baik-baik saja. Berbaringlah tidur!"
Anya lalu berbaring dan tidur. Ketika ia terbangun, semua rumput rami itu telah dipintal menjadi benang, lalu ditenun menjadi kain kain. Anya sangat gembira. Ia lalu membawa pulang anak sapi itu dan memasukkannya ke kandang. Ia lalu memberikan kain rami itu pada Bu Jelena.
Majikan wanita itu sangat terkejut karena Anya bisa mengerjakan pekerjaan yang sangat sulit. Ia jadi penasaran, apakah Dusana putrinya, bisa mengerjakan hal itu juga.
Esok harinya, Bu Jelena berkata pada putrinya,
"Dusana putriku yang cantik, bawalah anak sapi kita ke padang rumput agar dia bisa merumput. Bawalah juga seikat kecil rumput rami ini. Olahlah menjadi benang rami dan pintal menjadi kain. Bawa pulang ke rumah nanti malam.”
Sambil menggerutu, Dusana membawa anak sapi itu ke padang rumput. Ia meletakkan seikat rumput rami yang diberikan ibunya di tanah, lalu berbaring tidur di rumput yang nyaman. Ia tidur sepanjang hari karena tak mau repot mencuci rami di sungai untuk diolah menjadi benang.
Pada malam hari, ia membawa anak sapinya kembali ke kandang. Ia lalu mengembalikan seikat rumput rami tadi pada ibunya.
“Oh Ibu, tadi kepalaku sakit seharian. Matahari juga sangat terik. Aku tidak bisa turun ke sungai untuk membasahi rami. Apalagi mengolahnya menjadi benang dan kain,” keluhnya sambil menangis.
"Tidak apa-apa,"kata Bu Jelena agak kecewa, karena putrinya tidak sehebat Anya. “Berbaring dan tidur saja. Kau bisa mencobanya di lain hari.”
Di hari berikutnya, Bu Jelena kembali menyuruh Anya,
"Bangun dan bawa sapi itu ke padang rumput untuk makan. Bawa seikat rumput rami ini dan olah jadi benang halus. Beri warna putih, lalu tenun menjadi kain yang sangat halus. Bawa pulang pada malam hari ini!"
Anya kembali membawa anak sapi merumput di padang rumput. Saat anak sapi merumput, ia duduk di bawah pohon willow dan menangis. Anak sapi itu datang kepadanya dan bertanya,
"Gadis manis tersayang, kenapa engkau menangis..."
Anya menceritakan perintah majikannya.
"Tenanglah. Sekarang tidurlah, aku akan membereskan masalahmu.”
Dan pada malam hari,seikat rami telah dipintal menjadi benang putih, lalu ditenun menjadi sehelai kain putih halus. Anya lalu membawa pulang anak sapi itu dan memberikan sehelai kain putih halus tadi pada majikannya.
Bu Jelena terheran-heran. “Bagaimana mungkin Anya bisa melakukan tugas yang tidak masuk akal itu dengan mudah? Si anak sapi itu pasti sudah melakukan sesuatu untuknya. Aku ingin tahu, apakah Anya masih bisa melakukan tugas sulit kalau anak sapi itu dipotong!”
Bu Jelena lalu berkata pada Lida pelayannya,
“Putrimu tidak bisa bekerja keras. Dia membawa anak sapi ke padang rumput, lalu tidur seharian tidak bekerja apa-apa. Karena itu, anak sapi itu lebih baik dipotong dan dagingnya dijual di pasar!”
Diam-diam Anya mendengar kata-kata Bu Jelena. Ia sangat sedih dan pergi ke kandang anak sapi, lalu menangis tersedu.
Si anak sapi yang kini tidak kurus lagi, mendekati Anya dan bertanya,
"Katakan padaku, gadis yang baik, mengapa engkau menangis?"
"Majikanku ingin membunuhmu,” tangis Anya.
“Tak usah sedih. Sebelum dia membunuhku, besok pagi aku akan berubah menjadi sebutir benih. Tanamlah benih itu, dan dari situ akan tumbuh sebatang pohon delima. Jika kau perlu sesuatu, datanglah pada pohon delima itu, dan mintalah apa saja,” kata anak sapi itu.
Esok paginya, Bu Jelena masuk ke kandang untuk membunuh anak sapi itu. Namun ternyata anak sapi itu telah hilang. Mula-mula ia sangat marah. Namun ia lalu sadar, kalau anak sapi itu hilang, tak ada lagi yang bisa membantu Anya.
Setelah Bu Jelena pergi dari kandang, Anya masuk dan mencari sebutir benih di antara jerami di lantai kandang. Setelah mencari dengan teliti, Anya akhirnya menemukan benih itu. Ia tahu kalau benih itu adalah jelmaan si anak sapi. Ia membawa benih itu dan menanamnya di halaman rumah.
Anya menyirami benih itu. Esok paginya, ketika ia terbangun, ia melihat sebatang pohon delima telah tumbuh dari benih itu. Di bawah pohon delima itu ada mata air. Di desa itu, tak ada air yang sejernih dan sedingin air di mata air itu.
Pada suatu hari, beredar pengumuman di desa bahwa akan ada pesta besar di gedung pesta di desa itu. Semua penduduk desa diharapkan datang dengan pakaian indah, karena calon raja muda akan hadir. Penduduk desa sangat gembira, karena mereka ingin melihat calon raja muda mereka. Raja mereka telah tua dan sebentar lagi akan menyerahkan tahtanya pada putra pertamanya.
Bu Jelena langsung sibuk menyiapkan gaun indah untuk Dusana. Namun ia tetap menyuruh Anya bekerja keras.
“Kau harus memasak makan malam. Lalu rapikan rumah, cuci dan setrika semua pakaian kami. Jahit semua yang sobek. Semua harus selesai ketika kami pulang dari pesta!”
Anya melakukan semua perintah itu. Ia membuat perapian menyala, dan menyiapkan malan malam. Namun ia khawatir tugasnya yang lain tidak selesai. Maka ia pun pergi ke pohon delima dan memohon, "Pohon delima, pohon delima yang baik! Kirimkanlah aku seseorang untuk membantuku bekerja...”
Dahan-dahan pohon delima itu tampak bergerak-gerak. Lalu, muncul seorang wanita berpakaian pelayan dari pohon itu.
"Nona kecil yang baik hati, apa perintahmu?" tanya pelayan wanita itu.
“Tolong bantu aku menyelesaikan pekerjaan rumah. Tolong berikan aku juga sehelai gaun indah dan kereta kuda. Aku ingin melihat pesta di gedung pesta...”
Pelayan wanita dari pohon delima itu lalu memberikan Anya sehelai gaun sutra dan satin yang indah. Juga sepasang sandal emas dan kereta kuda. Anya lalu pergi ke pesta. Sementara itu, pelayan wanita itu mengerjakan semua pekerjaan rumah yang belum selesai.
Ketika Anya masuk ke ruang pesta, semua tamu melihatnya dan berkata,
“Oh! oh! oh! Siapa dia? Apakah puteri atau ratu dari negeri lain? Belum pernah kita lihat sebelumnya."
Saat itu, calon raja muda pangeran Rafa berada di situ. Ketika ia melihat Anya, ia kagum akan kecantikannya. Namun ia tak tahu, siapa gadis cantik itu. Rafa mencoba mendekati Anya, namun tak bisa karena banyak orang datang menyalami dan memberinya hormat.
Menjelang pesta selesai, Anya bergegas pulang ke rumah. Ia membuka gaun indah dan sandal emasnya. Ia lalu duduk di sudut jendela rumah. Ia melihat penduduk desa pulang dari pesta. Bu Jelena dan Dusana juga telah pulang.
"Apakah makan malam sudah siap?" kata Bu Jelena.
“Ya, sudah siap,” kata Anya.
"Sudah kau jahit pakaian yang sobek? Sudah kau setrika yang kusut?”
“Semua sudah,” kata Anya.
Kemudian Bu Jelena dan Dusana duduk untuk makan malam. Mereka sambil bercerita tentang wanita muda yang cantik di pesta.
"Pangeran Rafa, calon raja muda kita, tidak sempat menyapa kita. Matanya hanya memandangi gadis cantik tadi," kata Bu Jelena kesal. Lalu ia berkata kepada Anya,
“Calon raja muda Rafa telah memperpanjang pesta menjadi tiga hari. Tapi kau harus tetap bekerja di rumah dan tidak boleh pergi kemana mana!”
Esok harinya, pesta hari kedua diadakan. Bu Jelena mendandani Dusana dengan lebih cantik. Sebelum pergi, ia kembali memberi banyak pekerjaan pada Anya. Anya melakukan semua tugasnya. Ia lalu datang pada pohon delima,
"Pohon delima, malam ini cuaca sangat cerah, aku perlu bantuanmu!"
Kemudian dari pohon itu, keluarlah seorang pelayan wanita.
'Gadis yang baik hati, apa yang harus aku lakukan?”
Anya memberi tahu keinginannya. Pelayan wanita itu memberikannya gaun yang lebih cantik dari hari pertama. Ia juga memberikan sepatu emas dan kereta kuda mewah. Setelah Anya pergi, ia menyelesaikan pekerjaan rumah.
Pangeran Rafa kembali melihat Anya di pesta. Para tamu pesta juga melihatnya dengan kagum dan berbisik,
"Apakah tidak ada orang di sini yang mengenal gadis cantik itu?"
Pangeran Rafa akhirnya memanggil Aira yang menjadi pelayan kepercayaannya. Ia diminta untuk mengikuti kemana gadis itu pergi, setelah pesta usai.
Pada saat pesta selesai, Anya bergegas pergi sebelum bertemu calon raja muda. Kali ini, Aira menguntit dari jauh ketika Anya keluar gedung pesta.
Ketika tiba di rumah, dia menanggalkan gaun mahalnyavdan mengenakan pakaian jelek. Dia menunggu di sudut jendela sampai Bu Jelena dan Dusana pulang pesta. Ketika mereka datang dan makan malam, mereka kembali membicarakan pangeran Rafa yang sedang mencari tahu siapa gadis cantik di pesta tadi.
Bu Jelena sangat kesal karena pangeran Rafa tidak memerhatikan Dusana yang telah berdandan cantik. Ia semakin kesal karena Anya berhasil melakukan semua pekerjaannya dengan sangat baik.
Sementara itu, pangeran Rafa sangat bahagia ketika menerima laporan dari Aira yang telah tahu kemana Anya pulang. Aira mengira rumah itu adalah rumah Anya.
Setelah pesta di hari ketiga usai, rombongan pangeran Rafa kemudian kembali ke kerajaan. Pangeran Rafa pun menceritakan bahwa ia telah menemukan pilihan hati untuk mendampingi kelak saat me jadi raja. Raja Tua, ayahnya yang bijaksana menurut saja dengan anaknya.
Raja Tua, lalu memerintahkan penasihat raja dan pengawalnya untuk menemui wanita pilihan anaknya tersebut.
Tidak menunggu waktu lama, dua Minggu kemudian rombongan dari istana berangkat ditemani Aira sebagai penunjuk jalan. Setelah menempuh perjalanan panjang dari istana, sampailah mereka di depan rumah Bu Jelena. Penasihat raja kemudian melihat pohon delima yang indah di samping rumah sederhana itu. Di bawah pohon, ada mata air yang segar.
"Mari kita cuci muka sebentar di tempat yang teduh itu," kata penasihat pada pengawal kerajaan.
Saat mereka sedang duduk sambil mencuci wajah dengan air yang segar, keluarlah Bu Jelena dari pondoknya. Penasihat melihatnya dan berkata,
“Apakah kau punya anak perempuan, Bu?"
“Ya, aku punya,”kata Bu Jelena.
“Satu atau dua?" tanya penasihat.
“Anak perempuanku hanya satu,” katanya. “Ada satu anak perempuan lagi di dapur, tapi dia hanya pembantu, bukan anakku.”
“Baiklah,"kata penasihat, “Kami diutus oleh pangeran Rafa untuk melamar anak ibu, dimana anak ibu Sekarang?."
Bu Jelena sangat terkejut dan bahagia juga bangga, lalu buru-buru masuk ke rumahnya dan memanggil Dusana.
“Putriku, cepat cuci kakimu, ganti bajumu dengan gaun indah, ada rombongan dari istana mau ketemu kamu!”
Saat itu, Anya masih di dapur di dekat tungku. Wajah, tangan, dan gaunnya sangat kotor dengan jelaga.
Bu Jelena kemudian keluar dan mempersilahkan mereka masuk, Penasihat istana dan para pengawal pun masuk ke rumah. Di dalam mereka melihat Dusana yang sedang lenggak-lenggok keganjenan sambil memoles muka dengan bedak dan gincu.
"Ck..ck..ck... Apakah perempuan ini, yang membuat pangeran Rafa jatuh cinta?" Pikir penasihat istana sambil geleng-geleng kepala.
Bu Jelena lalu menghampiri penasihat Raja, sebelum ia bicara. Aira bilang pada penasihat Raja.
"Maaf tuan, bukan perempuan ini yang dimaksud pangeran Rafa, bukan dia." Kata Aira sambil menunjuk ke arah Dusana.
Bu Jelena bingung dengan ucapan Aira, dan bertanya.
"Apa maksudmu, bukan dia?" Belum sempat dijawab oleh Aira, Penasihat raja berkata, "Ibu, panggillah anak perempuan yang satunya lagi!”
“Dia di dapur, kotor dan berpakaian kumal!” jawab Bu Jelena, ketus.
“Tidak masalah,” kata penasihat raja. "Di mana dia?"
Anya kebetulan keluar dari dapur. Ia tampak sangat kumal. Ia sangat kaget karena banyak orang di rumah itu.
"Nah ! Ini dia orangnya Tuan!" Teriak Aira sangat senang ketika melihat Anya.
Anya tampak takut dan bingung, namun ia mencoba untuk tenang dan tersenyum pada orang-orang di ruangan itu.
“Ibu," kata penasihat raja, “Kami akan membawa nona ini pergi bersama kami ke istana."
“Kalian akan membawanya? Semua orang akan menertawakan kalian!” kata Bu Jelena. “Tidak mungkin gadis kumal ini menjadi permaisuri calon raja muda!”
Penasihat raja berpikir sebentar. Lalu berkata, “Tapi gadis ini harus kami bawa. Gadis mungil, segera bersihkan wajahmu dan berdandanlah sedikit,” katanya pada Anya.
Anya segera pergi ke mata air di bawah pohon delima. Ia mencuci wajah dan tangannya. Lalu membasahi rambutnya agar tidak kusut. Saat memasuki rumah lagi, ia tampak sangat cantik bagai putri raja. Wajahnya bersinar bagai matahari. Tak pernah ada gadis secantik itu. Semua terpana melihatnya.
“Benar sekali, dialah gadis yang datang di pesta desa!” seru penasihat raja.
Bu Jelena tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sangat dongkol dan malu. Terlebih Dusana yang memang belum selesai memakai gincu saat mereka masuk rumah, tampak seperti badut sirkus.
Mereka membawa Anya dengan kereta ke istana. Ketika calon raja muda Pangeran Rafa melihatnya, dia sangat gembira. Namun ia lalu sadar kalau ia belum berkenalan dengan Anya. Keduanya lalu berkenalan dan menjadi teman.
Raja Tua melihat mereka berdua sangat cocok. Ia lalu merestui mereka untuk menikah. Anya lalu membawa Lida, ibunya, tinggal di istana bersamanya. Raja Tua menyerahkan tahtanya pada Rafa. Kini ia menjadi raja muda dan Anya menjadi permaisurinya.
Pangeran Rafa sering bertanya tentang masa lalu Anya saat tinggal di rumah Bu Jelena, namun Anya selalu bilang mereka adalah orang yang sangat baik pada dirinya dan ibunya.
Begitulah cerita tentang Anya, Pangeran Rafa sangat menyayangi dia sebagai permaisurinya. Mereka pun hidup bahagia dan dikaruniai dua orang anak yang sangat cerdas dan berbakti.
Sementara Bu Jelena dan Dusana hanya bisa mendengar kabar kebahagiaan mereka dari cerita para pedagang yang sering lewat di kampungnya.
Penulis Edi Warsono

Program