Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang perempuan muda bernama Tini yang terkenal suka berhutang. Setiap kali ada kebutuhan, Tini tak segan meminjam uang kepada tetangga. Namun, kebiasaan buruknya adalah menunda-nunda pembayaran. Setiap kali ditagih, Tini selalu punya alasan. "Besok saja, Bu," atau "Lagi tidak ada uang, Bu," adalah jawaban yang seringkali diucapkannya.
Suatu hari, Bu Jono, tetangga yang paling sering meminjamkan uang pada Tini, datang menagih. "Bu Tini, kapan nih hutangnya dilunasi? Sudah berkali-kali janji, tapi belum ada realisasinya," tanya Bu Jono dengan nada tegas. Tini pun panik, "Sabar ya, Bu. Minggu depan pasti saya bayar," jawab Tini sambil tersenyum kecut.
Beberapa minggu berlalu, Bu Jono kembali datang menagih. Kali ini, Tini pura-pura sakit. "Aduh, Bu, saya lagi sakit. Tidak bisa kemana-mana," keluhnya. Bu Jono merasa iba, namun tetap mengingatkan Tini agar segera melunasi hutangnya.
Tak disangka, beberapa minggu kemudian, Tini benar-benar jatuh sakit. Penyakitnya semakin parah hingga harus dijual rumah dan ladang untuk biaya pengobatan. Suami Tini ternyata sama saja, ia tidak mau menanggung hutang istrinya. Kini, mereka hidup susah, tinggal di gubuk kecil milik desa dan bekerja serabutan di sawah tetangga untuk melunasi sisa hutang.
"Dulu saya selalu mengelak, Bu," ucap Tini lirih pada Bu Jono saat bertemu di sawah, "Sekarang saya menyesal. Hutang itu seperti api, jika tidak segera dipadamkan, akan membakar segalanya."
Bu Jono hanya mengangguk sambil tersenyum sedih. "Ingatlah Tini, kejujuran itu lebih baik daripada seribu alasan. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari."
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/Hqi98EkQLAw1HAWA/