Darta Yang Malang - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Kamis, 14 November 2024

Darta Yang Malang

 

Di sebuah desa, hidup seorang pemuda bernama Darta. Ia terlahir di tengah keluarga kaya raya, hidupnya penuh kemudahan dan tanpa larangan. Apa saja yang ia inginkan selalu dipenuhi oleh ayah dan ibunya. Namun, kekayaan itu membuat Darta tumbuh menjadi pemuda yang malas, manja dan sombong. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk makan, tidur, bermain dan membangga-banggakan harta orang tuanya. Ia meyakini bahwa hartalah yang akan membuatnya selalu bahagia dan tenteram.
Suatu hari, Darta memutuskan untuk berburu di hutan, lebih karena bosan daripada keinginan untuk bekerja keras. Siapa sangka, perburuan yang ia kira akan mudah malah membawanya pada serangkaian kejadian yang menguji keberaniannya. Ia bertemu seorang pengembara misterius yang sedang kesulitan membawa barang di dalam lima karung yang terlihat sangat berat. Orang itupun meminta bantuan pada Darta.
"Hai, pemuda! Maukah kau membantuku membawa karung-karung ini ke kota?" tanyanya pada Darta.
Darta yang angkuh, pura-pura tak mendengar. Ia asyik membidikkan anak panahnya ke arah seekor burung di atas pohon. Karena permintaannya tidak dengar, pria itu pun menawarkan karung yang dibawanya. Darta disuruh memilih satu dari lima karung tersebut.
"Nak, aku akan memberimu salah satu karung ini. Silakan pilih!"
Darta masih saja pura-pura tidak mendengar. "Huh! Tadi minta tolong! Sekarang malah mau memberi karung. Paling-paling isinya cuma sampah," batin Darta kesal.
"Anak muda! Karungku yang bertali merah muda ini berisi ramuan obat segala penyakit. Yang bertali hijau berisi bibit padi segala musim. Padi ini akan tumbuh walau di musim hujan atau kemarau. Karung bertali putih berisi macam-macam pakaian sutra pilihan. Bila dijual, harganya mahal sekali," kata sang pengembara.
"Karung bertali biru berisi aneka macam penyedap masakan. Air sungai yang keruh pun bila dicampur penyedap masakan ini maka rasanya akan menjadi manis. Bila dicampur dengan daun kering sekali pun akan terasa seperti daging goreng lezat. Karung terakhir yang bertali kuning berisi emas permata. Nah, pilihlah salah satu!" lanjutnya.
"Ah, baiklah!" Darta bersemangat. "Aku pilih karung bertali kuning saja."
"Apakah kau yakin karung itu bisa memberimu keberuntungan?"
"Sangat yakin. Sudah, berikan karung bertali kuning itu! Jangan banyak tanya. Aku sudah tak sabar untuk membawanya pulang," omel Darta.
Pengembara itu menyerahkan karung bertali kuning kepada Darta. Darta langsung nyelonong membawa pergi karung itu tanpa sepatah kata pun untuk berterima kasih.
Setelah agak jauh ia membuka karung itu. Ah, betapa gembiranya Darta saat melihat banyak emas di dalamnya. Darta lalu melanjutkan perjalanan pulangnya. Walau berat dan susah dibawa, Darta terus berjalan menapaki jalanan yang berbukit.
Ketika sampai di sebuah bukit yang tinggi, ia bertemu dengan seorang pengemis.
"Tuan, kasihanilah saya. Berilah sedikit uang untuk membeli makanan, Tuan!" pinta si pengemis sambil mengikuti langkah Darta.
Darta membalikkan badan, matanya melotot. "Diam! Jangan ikuti aku lagi!" bentak Darta.
Si pengemis berhenti, wajahnya nampak sedih. Dipandanginya si Darta. Darta betul-betul kesal karena merasa terganggu oleh pengemis tadi.
Sesampainya di tikungan jalan, ia berhenti. Darta rupanya kelelahan juga membawa karung itu. Saat ia sedang duduk beristirahat, dari arah depan terlihat dua orang sedang berjalan menuju ke arahnya. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan dua orang tersebut.
"Pokoknya, bila bertemu orang kaya, kita ambil perhiasan mereka," kata salah satunya.
"Betul, Kang. Juga mereka harus dibunuh agar tidak ada saksi hidup dan bisa menyebarkan berita tentang kita," timpal yang satunya.
Darta kaget. Cepat-cepat ia bersembunyi di balik semak-semak. Setelah kedua orang itu berlalu, ia keluar dari persembunyiannya.
Lalu meneruskan perjalanan dengan tergesa-gesa. Baru kali ini ia merasa takut. Jika saja ia tak membawa karung berisi emas, tentu ia tak setakut itu.
Sampailah Darta di tepi sungai. Ia tinggal menyeberanginya dan bisa segera tiba di rumah. Di tempat penyeberangan tampak sepi. Tak ada orang lain hendak menyeberang kecuali tiga orang penarik perahu yang biasa menyeberangkan orang-orang.
"Abang, sepi sekali ya, hari ini?" ujar yang bertubuh paling kecil.
"Benar. Tak seperti biasanya," jawab yang berambut keriting.
"Ya, sampai saat ini, belum satu pun orang yang menyeberang dengan perahuku. Jika nanti ada orang kaya yang menyeberang, di tengah sungai nanti akan kuceburkan dia ke sungai. Lalu perhiasannya kuambil semua," kata orang ketiga.
Obrolan ketiga orang itu membuat Darta semakin takut. Ia mengurungkan niatnya untuk menyeberangi sungai. Diambilnya jalan pintas.
Ia sendirian menyeberangi sungai dengan batang pohon pisang. Tepat di tengah sungai Darta ketakutan lagi. Seekor buaya berputar-putar tepat di bawah batang pisang tempatnya berpijak. Tubuhnya menggigil ketakutan.
Tak disangka, ketakutan itu membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Tubuhnya terhuyung-huyung ke kiri dan ke kanan.
Akhirnya... BYUURRR! Darta tercebur ke sungai. Buaya tadi membuka mulutnya lebar-lebar. Darta tak banyak pikir. Ia melempar karung berisi emas permata itu ke arah buaya.
Lemparan itu tepat sekali. Si buaya kesulitan mengunyah karung itu. Berulang-ulang kali dikunyah. Namun tak juga ditelan. Darta merasa musuhnya lengah. Ia berenang ketepian secepatnya.
Saat itu Darta baru menyadari sesuatu. Ternyata emas berlian itu tidak mendatangkan keberuntungan untuknya, tapi justru mendatangkan bahaya yang hampir saja merenggut nyawanya. Sejak itu Darta menjadi orang yang bijaksana. Ia menjadi rajin bekerja membantu orang tuanya, dan sering menyumbangkan hartanya. Karena dia sadar, bukan hanya harta yang bisa mendatangkan kebahagiaan.
Tanpa Darta ketahui, pengembara yang ia temui di hutan dan memberikan karung berisi emas itu sebenarnya jelmaan peri hutan yang ingin menyadarkan Darta dari sifat malas dan sombongnya tentang harta.
Penulis Edi Warsono

Program