Juragan Ikan dan Tiga Istrinya - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 18 November 2024

Juragan Ikan dan Tiga Istrinya

 

Di sebuah perkampungan di pesisir pantai, hiduplah seorang juragan ikan yang sangat kaya raya. Ia memiliki tiga istri yang masing-masing diberikan sebuah rumah yang saling terpisah di kampung tersebut. Semua istrinya sangat cantik. Mungkin jika penulis gambarkan, kecantikannya mirip mantan pacar penulis yang saat ini sudah menjadi istri tetangga sebelah, yang setiap pagi menyapa saat menjemur cuciannya.

Selain kaya raya, juragan ikan tersebut juga sangat murah hati. Dia gemar bersedekah dan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Karena kebaikannya itulah, ia sangat dicintai oleh masyarakat.

Pada suatu hari juragan ikan itu ingin berlayar ke negeri seberang untuk berniaga, sebelum ia berangkat ia bertanya kepada ketiga istrinya, oleh-oleh apa yang mereka inginkan. Istri termuda ingin dibelikan kalung emas yang besar, istri kedua ingin belikan liontin berlian dan istri tertua atau istri pertamanya tidak meminta dibelikan apa-apa, ia hanya meminta dibelikan akal sehat. Mendengar permintaan istri yang paling tua, juragan ikan termenung dan bingung dengan maksud dari salah satu istrinya itu.

"Sungguh permintaan aneh dan tidak masuk akal" Pikirnya .

Dengan bijaksana, juragan ikan pun hanya tersenyum mendengar permintaan yang aneh tersebut, yang berarti setuju. Sampai tibalah waktunya bagi juragan ikan untuk berangkat berlayar.

"Apakah semua sudah siap?" Tanya juragan ikan pada salah satu orang kepercayaannya. "Jika semuanya sudah siap, mari kita segera berangkat!" Tambahnya. Mereka pun berangkat dengan kapal besar milik juragan ikan tersebut.

Setelah beberapa bulan berlayar, Ia pun berniat kembali ke kampungnya. Namun entah kenapa, setiap kali ia mau berangkat kembali ke kampungnya ada saja masalah yang ia hadapi, hingga akhirnya ia berulang kali harus menunda dan mengurungkan kepulangannya. Dari kapal yang tiba-tiba bocor dan bisa utuh kembali dan angin ribut dan gelombang tinggi yang menghadang kapalnya. Ia pun tak habis fikir, tiba-tiba ia teringat pesan istri tertuanya yang ia duga memiliki kekuatan ghaib. 

Setelah merenungi semuanya, akhirnya juragan ikan itu menunda kepulangannya sebelum ia mendapatkan jawaban atas teka-teki pesanan istri tertuanya. Hingga suatu ketika saat ia sedang beristirahat dan makan di sebuah kedai, ia berkenalan dengan seorang pedagang benda-benda kuno, mereka pun cepat akrab dan terlibat dalam obrolan hangat. Kemudian ia menceritakan apa yang sedang membuatnya bingung dan penuh tanda tanya.

"Saya ini sedang bingung dengan permintaan istri saya, dia memintaku pulang dengan membawakan akal sehat. Sumpah mati deh, Pusing sekali saya dibuatnya" Ucap juragan ikan.

Pedagang barang antik itu tampak serius mendengarkan cerita juragan ikan. Kemudian ia mengajak juragan ikan itu ikut dengannya, pergi ke suatu tempat untuk mendapat jawaban atas kebingungannya itu.

Rupanya, ia menuju ke sebuah gubuk. Namun disana tidak ada siapapun. Akhirnya, pedagang barang antik itu menyarankan agar juragan ikan menemui seseorang kakek bijak, namun tidak mudah untuk menemui beliau, jika memang berjodoh pasti akan bertemu dengannya. Setelah menceritakan ciri-ciri kakek bijak itu kepada juragan ikan, ia pun mohon diri.

Namun, untuk menemukan kakek yang diceritakan oleh pedagang barang antik memang bukan perkara mudah. Setelah berhari-hari juragan ikan mencari dan bertanya, namun belum juga bertemu dengan kakek bijak itu. 

Seperti kebiasaannya saat di kampung, setiap dia bertemu dengan orang yang kesusahan, pasti ia memberi sedekah, begitu terus setiap harinya, hingga perbekalan dan uang sakunya habis. Ketika dia sudah tidak punya apa-apa itulah, ia bertemu dengan seorang kakek tua yang keadaannya sangat menyedihkan. Kakek tersebut terlihat kurus dan susah untuk berjalan. Juragan ikan pun menghampiri kakek tersebut.

"Kakek darimana, dan mau kemana?, Mari saya bantu" Tanya juragan ikan, sambil memapah kakek tersebut, dan membantunya untuk duduk di sebuah gubuk yang tidak jauh dari tempat itu.

"Terimakasih banyak, Tuan. Saya hanya seorang pencari kerang yang ingin pulang, rupanya tubuh tuaku memang seharusnya istirahat di rumah saja" Jawab kakek tersebut.

Juragan ikan kemudian memperkalkan diri kepada kakek itu. Mereka pun terlibat obrolan hangat dan tanpa sadar ia menceritakan tentang rumah tangganya dan istrinya yang ada tiga. Ia juga bercerita tentang apa yang menjadi ganjalan di hatinya sejak ia berangkat berlayar, juga tentang hadiah yang diinginkan oleh ketiga istrinya tersebut.

Kakek itu diam mendengarkan cerita Juragan ikan, dengan nada yang santun kakek itu memberi nasehat kepada juragan ikan,

"Rumah tangga Tuan, unik." Kata kakek itu. "Menurut saya, ada baiknya Tuan memilih satu saja dari ketiga istri Tuan itu. Pilih satu yang setia pada Tuan" Kakek itu melanjutkan petuahnya.

"Pilih yang setia? Menurut saya istri-istri saya semuanya setia. Mereka tidak pernah terlihat aneh di depan saya" jawab juragan ikan, agak bingung.

"Ukuran setia itu tidak hanya ada pada yang tampak di mata saja, Tuan. Sikap, perilaku dan hati semuanya berperan" Ujar kakek itu.

"Lalu, bagaimana saya bisa tahu mana yang setia dan yang tidak setia padaku?" Tanya juragan ikan, penasaran.

"Mudah saja, pulanglah Tuan dengan memakai pakaian yang compang camping, berpura-puralah menjadi miskin karena kapal yang Tuan gunakan berlayar telah tenggelam dan semua harta yang ada didalamnya hilang ke dasar laut." Jawab kakek Tua, sambil menatap tajam ke arah juragan ikan.

Juragan ikan manggut-manggut, ia paham dengan petuah kakek itu. Setelah menerima nasihat itu, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun kapal yang ia gunakan untuk berlayar tidak menepi melainkan di tengah laut dan ia menepi dengan menggunakan perahu kecil.

Sesampainya di kampungnya, dengan pakaian yang compang camping juragan ikan menemui satu istrinya, itu adalah istri ketiganya atau istri yang paling muda. Melihat kondisi suaminya yang datang seperti itu, ditambah tidak membawa hadiah, istrinya membentak-bentak dan mengusir dia.

"Jangan pernah pulang kesini lagi, saya tidak sudi memiliki suami gembel seperti kamu! Pergi dari sini, pulanglah ke istri tuamu!" Bentak istri ketiganya.

Hujan turun dengan deras, dengan hati sedih, juragan ikan pun pergi melanjutkan menemui istri keduanya, namun nasib sama di alami juragan ikan, ia dimaki-maki dan di usir dari rumah. Bahkan sempat diludahi segala.

Akhirnya juragan ikan itu pergi menemui istri pertamanya atau istri yang paling tua, melihat keadaan suaminya yang menggigil dan basah kuyup, ditambah dengan pakain yang compang camping, istri pertamanya ini segera menyuruhya masuk dan membawa air panas untuk suaminya, lalu menyediakan seperangkat pakaian untuk ganti baju, dengan rasa cinta dan kasih sayang, istri pertamanya ini merawat suaminya, ia tidak peduli dengan kondisi juragan ikan yang tampak menyedihkan seperti sekarang ini. Baginya, suaminya kembali dengan selamat itu sudah cukup membuatnya bahagia.

Dengan melaksanakan nasihat kakek tua itu, akhirnya juragan ikan tahu, mana istri yang tulus dan setia kepadanya. Keesokan harinya kedua istri yang tidak setia itu diceraikan oleh juragan ikan, dan akhirnya ia hidup bahagia dengan istri pertamanya. Kedua istri muda itu pun akhirnya menyesal karena sudah tidak mencintai suami sepenuh hati, mereka lebih memandang harta sebagai ukuran kebahagiaan. Namun penyesalan sudah tidak berarti lagi.


Program