Putri Bau Domba - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 11 November 2024

Putri Bau Domba


Kerajaan Alusiana adalah kerajaan kecil yang tenteram. Mereka tidak suka berperang dan tidak memiliki banyak tentara. Raja Alusiana memiliki anak cantik bernama Putri Dewi.

Suatu ketika, Raja Alusiana menghadapi masalah yang amat sulit. Pangeran Gaok dari kerajaan Topi Miring yang besar akan datang berkunjung. Ia ingin berkenalan dengan Puteri Dewi. Bila ia merasa cocok, ia akan melamar Puteri Dewi menjadi istrinya.
Raja Alusiana sangat bingung. Pangeran Gaok terkenal kejam dan suka mabuk. Namun, jika lamarannya ditolak, sudah pasti Pangeran Gaok akan tersinggung. Bisa saja ia mengirim pasukan untuk menyerang kerajaan Alusiana yang kecil. Raja Alusiana tidak mau rakyatnya menderita karena pertempuran. Akan tetapi Raja juga tidak rela puteri tunggalnya menikah dengan pangeran yang kejam.
Melihat wajah ayahnya yang muram, Puteri Dewi yang pintar dan bijaksana, berusaha menghibur.
“Ayah jangan khawatir. Aku punya rencana yang bagus untuk menghadapi pangeran Gaok!”
Lalu Puteri Dewi membisikan rencananya. Raja mengangguk-angguk setuju dan persiapan pun mulai dilakukan.
Pada hari yang dijadwalkan, rombongan Pangeran Gaok tiba di kerajaan Alusiana. Mereka membawa hadiah-hadiah yang mahal dan indah untuk Puteri Dewi. Raja Alusiana mengadakan perjamuan. Namun, selama perjamuan berlangsung, Puteri Dewi tidak kelihatan.
Setelah makan, Pangeran Gaok bertanya dengan perasaan kurang senang. “Yang Mulia, mengapa Puteri Dewi tidak menyambutku?”
“Mohon maaf, Pangeran. Puteriku itu mempunyai kebiasaan unik. Dia senang sekali berada di antara domba-dombanya. Dia memang sangat suka memelihara domba. Jika kita pergi ke kamarnya, maka sudah pasti ia akan menyambut Pangeran dengan senang hati!”
“Baiklah, kita ke sana. Aku ingin sekali berkenalan dengan Puteri Dewi yang terkenal cantik itu!” kata pangeran Gaok . Mereka lalu menuju ke halaman belakang istana. Di sana ada sebuah kamar dari kayu. Dua orang pengawal berjaga di muka pintu. Baginda membuka pintu kamar. Segera tercium bau domba yang menyengat. Raja Alusiana dan Pangeran Gaok langsung menutup hidung mereka.
Terlihat, Puteri Dewi yang cantik duduk di bangku dan dikelilingi oleh banyak domba. Lantai kamar dipenuhi kotoran domba. Puteri Dewi memegang sebuah cambuk.
“Tar, Taaar, taaar!” Puteri Dewi melecut seekor domba.
“Mbeeek… mbeeek…” domba yang dilecuti menjerit kesakitan dan menjauh.
Pangeran Gaok mundur dua langkah sambil tetap menutup hidungnya. Betapa memuakkan bau domba. Namun, ia tidak mau menyerah kalah.
Puteri Dewi bergerak ke pintu dan membungkukkan badan memberi hormat kepada Pangeran Gaok.
“Mari, silakan masuk dan duduk, Pangeran!” sambut Puteri Dewi.
Pangeran Gaok masuk dan duduk. Puteri Dewi menyerahkan cambuknya pada Pangeran Gaok.
“Silahkan Pangeran cambuk domba-domba itu. Menyenangkan, kan, mendengar suara cambuk dan jerit kesakitan domba-domba?” kata Puteri Dewi.
Pangeran mengucapkan terima kasih dan mengembalikan cambuk tersebut.
“Saya juga akan memberikan hadiah untuk Pangeran. Dua ekor domba yang terbesar. Bila Pangeran membawa dua ekor domba ini ke negeri Pangeran, semoga Pangeran selalu mengingat hamba!” kata Puteri Dewi sambil tersenyum manis.
Akan tetapi, Pangeran Gaok segera pamit dengan alasan banyak tugas Negara yang harus diselesaikannya.
Pangeran dan rombongan pulang ke negerinya dengan membawa dua ekor domba. Namun, setelah jauh dari istana Raja Alusiana, Pangeran menyuruh anak buahnya melepas kedua ekor domba itu.
“Siapa sudi mengingat puteri yang hobi bermain dengan domba!” gerutu Pangeran Gaok. “Cantiknya sih mirip Luna Maya, tetapi bau dombanya minta ampun!”
Raja Alusiana sangat lega. Berkat kecerdikan puterinya, kerajaan aman. Yang repot Puteri Dewi. Sudah tiga hari ia mencuci rambut dan badannya, tetapi bau domba itu belum hilang-hilang juga!

Program