Selimut Cahaya Kunang - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Kamis, 14 November 2024

Selimut Cahaya Kunang

Di sebuah kerajaan, suasana terlihat berbeda dari biasanya, hari itu semua terlihat murung. Ada apa gerangan?

Di sudut kota, tidak jauh dari istana. Nizan, anak laki-laki berumur delapan tahun yang nakal, sangat jahil dan banyak tingkah. Ada-ada saja ulahnya yang membuat orang-orang berteriak marah, atau jengkel.

Namun hari ini Nizan sangat heran. Karena tidak ada seorang pun yang mempedulikan kebandelannya. Padahal dia baru saja mencat anak sapi milik Pak Dorman dengan warna hijau. Tapi Pak Dorman diam saja dengan wajah murung. Tidak membentak Nizan. Ketika Nizan main perahu-perahuan dengan sandal Bu Martha yang besar, wanita gemuk itu juga tidak memarahi Nizan. Bu Martha hanya melirik Nizan dengan raut wajah sedih.

Ada apa, ya? Kenapa orang-orang terlihat murung dan sedih? Nizan bingung.

Akhirnya Nizan bosan berbuat nakal dan jahil karena tidak ada yang mempedulikannya. Nizan jadi penasaran.

"Apa yang terjadi, Pak Gembul? Kenapa orang-orang terlihat sedih?" tanya Nizan pada Pak Gembul, Tukang Pedati.

"Ya, orang-orang di seluruh negeri sedang berduka. Putri Faghira telah diculik Raja Penyihir Drago. Tidak ada yang dapat membebaskan Putri Faghira. Raja Penyihir Drago tidak terkalahkan. Pasukan kerajaan yang diutus Raja belum kembali juga," jelas Pak Gembul sedih.

Nizan terdiam sebentar. Nizan tahu Putri Faghira sangat disayangi rakyat seluruh negeri. Putri Faghira sangat cantik jelita dan baik hati. Nizan menjadi marah kepada Raja Penyihir Drago.

"Aku akan membebaskan Putri Faghira. Jangan khawatir!" ucap Nizan yakin. Pak Gembul malah tertawa, meremehkan Nizan.

"Anak nakal seperti kamu, apa yang dapat kamu lakukan?" tanya Pak Gembul.

“Nanti aku pikirkan. Aku akan membebaskan Putri Faghira!" Orang-orang yang mendengar ucapan Nizan hanya mendengus kesal. Para ksatria kerajaan saja tidak bisa membebaskan Putri Faghira. Apalagi Nizan, anak kecil yang suka jahil dan berbuat nakal.

Namun tidak ada yang tahu, diam-diam Nizan menemui Zoya, peri kunang-kunang, sahabatnya. Zoya pernah diselamatkan Nizan ketika terjerat sarang laba-laba raksasa. Seluruh tubuh Zoya berwarna kuning kehijauan. Bila malam, seluruh tubuh Zoya bercahaya berkerlip-kerlip.

"Aku ingin membebaskan Putri Faghira. Tapi aku tidak tahu di mana tempat persembunyian Raja Penyihir Drago," keluh Nizan murung.

"Aku tahu. Istana Pualam Raja Penyihir Drago ada di Lembah Bunga Seribu Warna," kata Zoya dengan mata berbinar.

"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Nizan.

"Aku sudah menanyakannya pada Tabib Tenung. Putri Faghira disekap di Menara Kaca yang tingginya sampai ke awan."

"Bagaimana caranya kita dapat ke sana?" tanya Nizan putus asa.

"Aku akan meminjam Selimut Kunang-kunang pada Ratu Lentera Kuning!" kata Zoya mantap. Ratu Lentera Kuning adalah ratu para peri kunang-kunang.

Malam harinya, Nizan berjanji untuk bertemu Zoya lagi. Tak lama kemudian Zoya datang membawa sebuah selimut aneh yang berwarna kusam. Ternyata selimut itu disulam dari ribuan sayap kunang-kunang.

"Aku tidak jadi meminjamnya dari Ratu. Ratu tak akan mengizinkannya. Aku terpaksa mengambilnya ketika Peri Penyulam sedang lengah. Ada bagian yang sobek pada selimut ini," jelas Zoya.

"Terima kasih, Zoya. Kamu mau membantu aku," kata Nizan.

"Kita harus saling membantu. Kau kan pernah menyelamatkan aku. Ayo, tutupi tubuhmu dengan selimut kunang-kunang ini. Kita harus segera membebaskan Putri Faghira!"

Nizan menuruti kata-kata Zoya. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut kunang-kunang. Tiba-tiba ribuan cahaya berkerlap-kerlip menyelubungi tubuh Nizan. Nizan berubah menjadi cahaya. Kemudian melesat ke langit tinggi, menuju Menara Kaca tempat Putri Faghira disekap, dengan Zoya sebagai penunjuk jalan. Kemudian mereka sampai di Menara Kaca. Putri Faghira terkejut dengan kedatangan mereka. Nizan membuka Selimut Kunang-Kunang yang menyelubunginya. Selimut itu berubah menjadi selimut biasa kembali.

"Putri Faghira, aku Nizan, kita harus segera meninggalkan tempat ini," seru Nizan.

"Tapi bagaimana dengan tawanan yang lain?" tanya Putri Faghira.

"Mereka telah disihir menjadi bunga-bunga yang memenuhi seluruh Lembah Bunga Seribu Warna. Aku pun akan disihir menjadi bunga emas!"

“Kalian tidak akan bisa meninggalkan tempat ini!" tiba-tiba Raja Penyihir Drago datang dengan suara marah. Wajahnya yang tampan menjadi merah. Dia bersiap menyihir Nizan. Tiba-tiba Zoya melihat kalung bola kristal menyembul di dada Raja Penyihir Drago. Zoya segera menyambar bola kristal itu dan membantingnya sampai pecah. Itu adalah kelemahan Raja Penyihir Drago.

Nizan segera menyelubungi tubuhnya dan Putri Faghira dengan Selimut Kunang-kunang. Tubuh mereka berubah menjadi cahaya. Tapi Raja Penyihir Drago berhasil menarik ujung Selimut Kunang-kunang. Nizan menyentaknya. Kreekk! Terdengar bunyi sobek. Tapi Nizan berhasil lepas dan melesat ke langit bebas bersama Putri Faghira. Sihir Raja Penyihir Drago punah. Dia tidak berdaya lagi. Orang-orang yang disihirnya menjadi bunga berubah kembali menjadi manusia. Penduduk negeri menyambut gembira kembalinya Putri Faghira. Raja mengadakan pesta untuk Nizan dan Zoya.

"Anak nakal, kalian harus tetap mendapat hukuman dariku. Mengambil selimut kunang-kunang tanpa izin. Kalian harus membantuku menambal pakaian dan memasang kancing selama sebulan penuh!" omel Peri Penyulam. Nizan dan Zoya hanya bisa tersenyum kecut. Hmm, dengan sibuk bekerja, mudah-mudahan Nizan tidak sempat berbuat jahil lagi.

Hari-hari telah berlalu, kerajaan kini menjadi damai. Anak-anak tidak takut lagi bermain dan tidak cemas akan di culik dan dijadikan bunga oleh penyihir Drago.

Namun tanpa sepengetahuan Nizan dan peri kunang-kunang. Ternyata, walau kekuatannya sudah punah, Drago berhasil diselamatkan oleh Nenek Drula, seorang penyihir tua yang setia padanya. Dengan susah payah, Nenek Drula membawa Drago ke persembunyiannya dan menyembuhkannya. Ia kemudian menyerahkan mustika sakti kepada Drago.

"Kau harus segera bangkit, Drago," kata Nenek Drula sambil menyerahkan mustika yang berkilauan merah menyala. "Ini akan memberimu kekuatan baru. Kau bisa membalas dendam dan mengambil kembali kehormatanmu."

Drago menerima mustika itu dengan tatapan penuh dendam. "Aku akan mencari Nizan dan peri kunang-kunang itu. Mereka akan menyesal telah melawanku."

Nenek Drula tersenyum dingin. "Pergilah ke istana. Ratu Lentera Kuning dan rakyatnya pasti akan kaget melihatmu kembali."

Tak lama kemudian, Drago menuju istana dengan kekuatan barunya. Saat tiba, ia mengaum keras hingga membuat seluruh negeri berguncang. Nizan yang sedang bermain di taman istana bersama Putri Faghira dan Zoya terkejut mendengar suara itu.

"Itu Drago!" seru Nizan kaget. "Bagaimana mungkin dia kembali? Bukankah kekuatannya sudah hancur?"

"Aku juga tidak tahu, Nizan," kata Zoya sambil bersembunyi di balik sayapnya yang berkerlip. "Tapi kita harus segera mencari bantuan. Drago pasti lebih kuat sekarang."

Drago melangkah masuk ke istana dengan mata penuh amarah. "Nizaan!" panggilnya dengan suara menggelegar. "Keluar dan hadapi aku, atau aku akan menghancurkan istana ini!"

Nizan menguatkan hati. "Aku tidak akan lari, Drago! Kau tidak boleh menyakiti orang-orang di sini lagi."

Drago tertawa dingin. "Kau hanya anak kecil, Nizan. Dengan mustika ini, aku tak terkalahkan!"

Nizan menggenggam tangan Zoya dan berbisik, "Zoya, apa kita punya kesempatan melawannya?"

Zoya mengangguk tegas. "Kita tidak boleh menyerah! Ingat, Ratu Lentera Kuning pasti punya kekuatan untuk melawan Drago. Kita harus menemukannya."

Putri Faghira yang mendengar itu langsung berbisik, "Aku tahu cara menghubungi Ratu Lentera Kuning. Tapi kalian harus bertahan dulu. Aku akan mencari bantuan."

Sementara itu, Drago mulai melemparkan sihirnya ke arah mereka, menciptakan pusaran angin yang kuat. Nizan dan Zoya berlari menghindar, terus mencari perlindungan sambil mencari cara untuk melawan.

"Aku tidak takut padamu, Drago!" teriak Nizan sambil menguatkan dirinya. "Kalau kau pikir aku hanya anak nakal yang tak berdaya, kau salah besar!"

Di kejauhan, kilauan cahaya mulai muncul. Itu Ratu Lentera Kuning bersama pasukan peri kunang-kunang. Drago mendengus marah, namun ia tetap bersiap menghadapi mereka. Pertarungan besar pun segera terjadi, dan Nizan tahu bahwa keberanian mereka kini sedang diuji. 

Pertarungan pun tidak bisa dihindari. Kekuatan magis saling beradu. Dengan bantuan pasukan Ratu Lentera Kuning, Nizan akhirnya berhasil merebut mustika merah dari tangan Drago. Tepat ketika ia bersiap membanting mustika itu ke tanah, tiba-tiba muncul asap hitam pekat yang keluar dari dalam mustika. Asap itu berputar-putar hingga membentuk sosok jin tinggi besar yang langsung berlutut di hadapan Nizan. 

"Anak pemberani, tolong jangan hancurkan mustika ini! Aku akan mengabulkan satu permintaanmu sebagai balasan," kata jin itu memohon. Drago terkejut melihat kejadian itu dan membelalak marah. "Kenapa Nenek Drula tidak pernah memberitahuku kalau mustika itu memiliki jin?" gumamnya heran.

Nizan terdiam sejenak, berpikir, lalu berkata, "Baiklah, kalau begitu, aku punya permintaan. Ubah Drago menjadi anak kecil seusia aku, dan hilangkan semua kesaktiannya!"

Jin itu mengangguk. "Permintaanmu akan terkabul," katanya dengan suara menggema. Dalam sekejap, cahaya berkilauan keluar dari mustika, dan Drago tiba-tiba mengecil hingga menjadi bocah kecil seusia Nizan, dengan wajah yang bingung dan polos.

"Di mana aku? Siapa aku?" Drago bertanya sambil melihat sekelilingnya dengan kebingungan. Sementara jin itu ikut lenyap bersama mustika yang digenggam Nizan, berubah menjadi sebuah cincin yang menyatu di jari manis Nizan.

Nizan tersenyum dan mengulurkan tangan. "Kau adalah temanku sekarang. Namaku Nizan. Ayo, kita bermain bersama."

Sejak saat itu, Drago yang telah menjadi anak kecil dan tak lagi sakti, bersahabat erat dengan Nizan. Keduanya bermain dan belajar bersama, dan Nizan berubah menjadi anak baik yang tidak lagi jahil atau suka mengganggu orang lain. Persahabatan mereka membawa kebaikan dan kedamaian bagi seluruh negeri. Nizan dengan kekuatannya yang tersembunyi, siap melindungi putri dan kerajaan kapanpun ia dibutuhkan.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/U4YH6eMbjs5Vau6B/

Program