Nusantara memiliki keberagaman budaya dan tradisi, nah untuk saat ini kita menelusuri kebudayaan yang ada di pulau Borneo, yaitu kebudayaan Dayak, dalam hal ini disetiap suku bangsa Dayak memiliki budaya dan tradisi yang cukup unik. Salah satunya adalah Bertelinga Panjang atau lebih dikenal oleh masyarakat lokal yaitu dalam bahasa Dayak Kayaan dengan menyebutnya TELINGAAN ARUU.
Dari sekian ratus sub-suku ( Dayak) yaitu lebih dari 405 suku, ini tidak semuanya memiliki budaya dan tradisi seperti ini, karena di pulau Borneo sendiri, memiliki budaya dan tradisi yang beranekaragam, berbeda sub-suku, berbeda pula budaya dan tradisinya, khususnya sub-suku yang memiliki budaya dan tradisi yang bertelinga panjang, yang dilakukan tradisi yang telah diwariskan turun temurun ini ,yang berlaku di suku ;
Dayak Kayaan, Dayak Iban ,Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Punan, Dayak Penan, Dayak Kelabit, Dayak Sa’ban, dan Dayak Taman.
Kini tradisi ini tidak lagi atau pun jarang dilakukan oleh generasi muda Dayak. Hanya tersisa beberapa orang dari generasi tua yang tampak masih memegang teguh tradisi. Para pemerhati masyarakat Dayak juga mengatakan tradisi ini sudah pada tahap kritis. Nucuk penikng (penindikan) masih dilakukan, namun tidak dengan telingaan aruu.
Dalam memberlakukan tradisi telingaan aruu atau daun telinga panjang, yang merupakan tradisi turun-temurun, baik oleh pria maupun wanita dikalangan masyarakat Dayak. Tradisi ini bertujuan untuk menunjukkan identitas kebangsawanan bagi pria, serta simbol kebangsawanan dan kecantikan bagi wanita. Mereka meyakini, semakin panjang telinga seorang wanita, semakin cantik pula wanita tersebut.
Di masyarakat Dayak Kayaan mengenal tradisi ini dimulai saat seseorang masih bayi dan hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan.
Setelah luka bekas tindikan mengering, kemudian di pasang benang yang lalu diganti oleh kayu sehingga lubang kian lama makin membesar. Prosesi penindikan telinga ini dikenal dengan sebutan Mucuk Penikng. Anting akan ditambahkan satu persatu ke dalam telinga yang lama kelamaan akan mebuat lubang semakin membesar dan memanjang.
Pemasangan anting-anting dilakukan sejak bayi, diawali dengan ritual nucuk penikng atau penindikan daun telinga. Proses penindikan menggunakan jarum dengan lubang tindikan awalnya hanya diberi hiasan berupa benang sebagai pengganti anting-anting. Setelah luka tindikan sembuh, benang diganti pintalan kayu gabus, yang seminggu sekali diganti dengan yang berukuran lebih besar.
Lubang yang membesar itu pun kemudian digantungi anting-anting berbahan tembaga, yang disebut belaong. Berat dan jumlah yang terus ditambah menyebabkan daun telinga memelar hingga menyentuh pundak. Penambahan anting-anting dilakukan menyesuaikan usia dan status sosial. Tradisi pemanjangan telinga ini memiliki batasan. Wanita Dayak diperbolehkan memanjangkan daun telinga hingga sebatas dada. Sementara kaum pria, hanya diijinkan memanjangkan telinga hingga sebatas bahu. Daun telinga yang memanjang ini pun dapat kembali memendek apabila tidak lagi mengenakan hisang kavaat hingga belasan atau puluhan tahun.
Jenis anting-anting pada tradisi ini secara umum dibagi dua, yaitu hisang semhaa dan hisang kavaat. Hisang semhaa dipasang di sekeliling lubang daun telinga, sedangkan hisang kavaat dipakai pada lubang daun telinga.
Sementara untuk masyarakat Dayak Iban percaya bahwa pemberat telinga ini merupakan bentuk latihan kesabaran dan ketahanan akan penderitaan maupun rasa sakit.
PENERAPAN DAN PENGERTIAN TRADISI TELINGAAN ARUU
Meski sama-sama menjalani tradisi ini, namun ada beberapa perbedaan dalam penerapan juga pengertian atas tradisi telingaan aruu ini dari masing-masing sub-suku ( Dayak). Dayak Iban misalnya, tidak memberikan pemberat pada telinganya. Telinga yang telah dilubangi dibiarkan begitu saja hingga terlihat seperti lubang besar yang menyerupai angka nol, yang bertujuan melatih kesabaran dengan adanya manik-manik yang cukup berat yang menempel pada telinga dan digunakan setiap hari. Sementara bagi masyarakat Dayak yang tinggal di hulu Sungai Mahakam, memanjangkan telinga menjadi penanda untuk menunjukkan usia seseorang. Di tempat ini bayi yang baru lahir akan diberikan manik-manik di telinga, yang nantinya akan ditambahkan setiap tahunnya.
DIGERUS ARUS MODERNISASI HAMPIR HILANG/ PUNAHNYA BUDAYA DAN TRADISI TELINGA PANJANG INI
Arus modernisasi menjadi penyebab ancaman kepunahan identitas budaya Dayak ini. Bagi mereka, tradisi telingaan aruu sudah tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Selain itu, generasi muda Dayak lebih memilih perhiasan yang menyerupai daun telinga panjang lengkap dengan hisang kavaat-nya. Sekarang ini, sudah sulit sekali menemukan wanita Dayak yang masih memanjangkan telinganya. Kalaupun ada, mereka biasanya sudah berusia senja. Ironisnya lagi, karena dianggap ketinggalan zaman, beberapa perempuan Dayak yang telah memanjangkan telinganya, lalu sengaja menghilangkan atribut tradisi tersebut dengan sengaja memotong bagian bawah daun telinganya.
Pulau Borneo ini selain punya seni tato juga memiliki tradisi telinga panjang yang hampir punah seiring dengan arus globalisasi dan perkembangan jaman. Jika masih ada yang mempertahankannya, itu pun tinggal segelintir orang Dayak berusia lanjut.
Alasannya, lantaran generasi muda masyarakat Dayak merasa malu memiliki daun telinga yang panjang dan kerap diolok-olok saat mereka bertandang ke kota. Selain itu, trend di ranah fashion juga cukup berpengaruh untuk meredam dan perlahan menghilangkan tradisi tersebut. Biasanya mereka yang bertelinga panjang sengaja memotong ujung daun telinganya lewat sebuah operasi kecil.
