Di sebuah desa yang indah di bawah kaki bukit, hidup seorang petani yang jujur dan pekerja keras. Setiap hari, ia merawat ladangnya dengan penuh kasih, berharap hasil panennya akan mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun, kemarau panjang melanda desa itu, membuat tanahnya mengering. Dengan tekad yang kuat, petani itu memutuskan untuk mencari sumber air agar tanaman di ladangnya tetap hidup. Perjalanan inilah yang membawa petani pada sebuah sumur yang dimiliki oleh tetangganya yang terkenal licik.
Suatu pagi, petani itu mendatangi rumah tetangganya. “Tetangga, aku mendengar kau memiliki sebuah sumur yang tak terpakai. Aku ingin membelinya untuk mengairi ladangku,” katanya dengan penuh harap.
Tetangganya tersenyum licik, “Tentu, aku akan menjual sumur itu padamu. Tetapi, pastikan kau membayar dengan harga yang pantas.”
Setelah mereka sepakat, petani menyerahkan uangnya, dan sumur itu menjadi miliknya. Keesokan harinya, dengan hati gembira, petani itu membawa ember untuk mengambil air dari sumur yang baru saja dibelinya. Namun, saat hendak menimba air, tetangganya muncul dan menghalanginya.
“Hentikan! Kau tidak boleh mengambil air dari sumur itu!” seru tetangga dengan nada tajam.
Petani terkejut. “Apa maksudmu? Aku sudah membeli sumur ini darimu!”
Tetangga itu menyeringai, “Kau memang membeli sumurnya, tapi aku tidak menjual airnya. Air itu masih milikku.”
Merasa dipermainkan, petani itu tidak ingin bertengkar. Dengan hati berat, ia pergi ke istana untuk mengadukan masalahnya kepada Kaisar. Setelah mendengar cerita petani, Kaisar tersenyum tipis dan berkata, “Aku tahu siapa yang bisa menyelesaikan masalah ini. Panggil Birbal!”
Tak lama kemudian, Birbal, penasihat yang terkenal bijak dan cerdik, datang menghadap. “Yang Mulia, apa yang bisa saya bantu?” tanyanya.
Kaisar menjelaskan masalah petani dan meminta Birbal untuk memberikan keputusan yang adil. Birbal mengangguk dan berkata, “Bawa tetangga petani itu ke sini.”
Ketika tetangga itu tiba, Birbal langsung bertanya, “Benarkah kau menjual sumur ini kepada petani?”
Tetangga itu mengangguk. “Benar, saya menjual sumurnya, tetapi bukan air di dalamnya. Air itu tetap milik saya.”
Birbal tersenyum tipis. “Baiklah, jika air di dalam sumur itu milikmu, maka kau tidak punya hak untuk menyimpannya di sumur petani. Kau harus membayar sewa kepada petani untuk setiap hari airmu berada di sumurnya, atau segera angkat semua air itu keluar dari sumur.”
Tetangga itu terdiam, wajahnya berubah pucat. Ia menyadari bahwa ia telah terjebak oleh kata-katanya sendiri. Namun, ia terlalu angkuh untuk mengakui kekeliruannya. Untuk menutup rasa malunya, dengan nada tinggi ia berkata, “Baik, sekarang juga aku akan memindahkan air itu!.”
Birbal tersenyum. “Silahkan, nanti akan saya lihat pekerjaanmu, sebaiknya kau selesaikan masalah airmu itu. Upayakan dalam satu hari sudah kau pindahkan semua, atau kau kami jerat dengan tuduhan pelanggaran hukum kerajaan” katanya sambil menatap Kaisar yang mengangguk setuju.
Akhirnya, tetangga itu kembali ke sumur dan mulai mengambil airnya. Ia membawa ember demi ember, bertekad memindahkan seluruh air dari sumur itu.
Namun, semakin ia mengambil air, semakin deras air keluar dari dalam sumur. Ia mulai lelah, tangannya gemetar, tapi air di sumur tidak kunjung habis.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” gumam tetangga itu sambil mengelap keringatnya. “Aku sudah mengangkat begitu banyak air, tapi sumur ini seperti tak pernah kering!”
Petani yang menyaksikan dari kejauhan hanya menggelengkan kepala. “Air itu adalah anugerah alam. Tak mungkin kau bisa menguasainya,” katanya dengan nada lembut.
Tetangga itu akhirnya menyerah. Ia menjatuhkan embernya ke tanah dan duduk terengah-engah di tepi sumur. Dengan wajah penuh rasa malu, ia mendatangi petani. “Aku menyerah. Aku tidak bisa memindahkan air ini. Maafkan aku atas keserakahanku,” katanya penuh penyesalan.
Birbal yang datang kemudian menatapnya dengan tajam. “Kau telah belajar bahwa keserakahan hanya akan membawa penderitaan. Mulai sekarang, bersikaplah jujur dan adil.”
Tetangga itu mengangguk dengan kepala tertunduk. Ia pun menyerahkan sumur beserta airnya kepada petani tanpa syarat.
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/12C1yjBwxBx/