Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah menghampar luas, tinggallah seorang pemuda bernama Darta bersama ibunya yang sudah tua. Kehidupan mereka sederhana, bahkan bisa dibilang miskin. Gubuk yang mereka tempati hanya berlantaikan tanah dan berdinding bambu yang sudah lapuk. Setiap malam, angin dingin menyusup melalui celah-celah dinding, tetapi mereka tetap bertahan dengan hati yang penuh doa.
Darta adalah pemuda yang penuh semangat dan optimisme. Ia yakin bahwa keberhasilan suatu saat akan berpihak kepadanya, meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan. Suatu pagi, ia memutuskan untuk berbicara kepada ibunya.
"Ibu, aku sudah memikirkan ini lama sekali," kata Darta sambil menatap wajah ibunya yang penuh kerutan. "Aku ingin pergi ke kota mencari pekerjaan. Aku tidak ingin kita terus hidup seperti ini."
Sang ibu terdiam, matanya berkaca-kaca. "Nak, ibu tahu kau pemuda yang rajin dan penuh semangat. Tapi, kota bukan tempat yang mudah. Apa kau yakin bisa menghadapi segala tantangannya?"
Darta mengangguk mantap. "Ibu, aku harus mencoba. Jika aku tetap di sini, tidak ada yang akan berubah. Doakan aku, Bu, agar aku bisa membawa pulang rezeki untuk kita."
Dengan berat hati, sang ibu merestui kepergian anak satu-satunya itu. "Pergilah, Nak. Tapi ingat, jangan pernah melupakan Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Itu yang akan menuntun langkahmu."
Berbekal tekad dan doa sang ibu, Darta memulai perjalanannya ke kota.
Hari pertama di kota, Darta penuh semangat. Ia mendatangi sebuah toko alat pertanian. Pemilik toko, seorang pria bertubuh gempal dengan kumis tebal, menyambutnya dengan ramah.
"Apa yang bisa kubantu, Anak Muda?" tanyanya.
"Saya ingin bekerja di sini, Pak. Saya rajin dan cekatan. Saya yakin bisa membantu banyak," ujar Darta penuh keyakinan.
Namun, pria itu menggelengkan kepala. "Maaf, Nak. Kami sedang tidak membutuhkan tenaga kerja saat ini. Tapi tetaplah semangat. Mungkin rezekimu ada di tempat lain."
Darta tersenyum getir. "Terima kasih, Pak," ujarnya sambil melangkah pergi.
Hari berikutnya, ia mencoba melamar pekerjaan pada seorang pembuat kerajinan bambu. Ia melihat pria tua dengan tangan yang lincah meraut bambu di depan rumahnya.
"Pak, bolehkah saya membantu Anda di sini?" tanya Darta dengan penuh harap.
Pria tua itu menghentikan pekerjaannya dan menatap Darta dengan senyum lemah. "Aku senang melihat semangatmu, Nak. Tapi usaha ini kecil. Bahkan untuk diriku sendiri, penghasilan ini tidak cukup."
Darta kembali kecewa. Namun, ia tak menyerah. Ia mendatangi kios buah, berharap pekerjaan di sana lebih mudah didapat.
"Maaf, Nak. Penjualan sedang sepi. Aku bahkan tidak mampu membayar pegawai baru," ujar pemilik kios dengan nada menyesal.
Ia mencoba di warteg, tetapi lagi-lagi mendapat jawaban serupa. Setiap penolakan membuat semangat Darta semakin surut.
Saat perjalanan pulang, Darta meluapkan kekesalannya dengan menendang kerikil-kerikil di tengah jalan. Ia tidak peduli bahwa kerikil-kerikil itu kini tersingkir ke sisi jalan. Tiba-tiba, suara lembut menyapa dari belakangnya.
"Anak muda, mengapa kau tampak begitu murung?"
Darta menoleh dan melihat seorang pria tua dengan jubah lusuh berdiri di sana. Wajahnya penuh senyum namun matanya memancarkan keteduhan.
"Aku sudah berusaha keras mencari pekerjaan, tapi semua orang menolak. Apa gunanya kerja keras kalau nasib selalu menyedihkan?" jawab Darta dengan nada kesal.
Rupanya apa yang dilakukan Darta menendang kerikil-kerikil tajam dari jalanan menyita perhatian orang tersebut.
Pria tua itu tertawa kecil. "Kerikil-kerikil yang kau tendang tadi mungkin tampak sepele, tapi tahukah kau? Dengan memindahkannya, kau telah membantu pengguna jalan lain agar tidak tergelincir dan terluka. Kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia."
Darta hanya mendengus. "Aku tidak berniat melakukannya. Aku tidak bermaksud menyingkirkan kerikil-kerikil itu dari jalanan. Aku hanya sedang kesal."
Pria itu menatapnya lembut. "Adakah sesuatu yang kau impikan, Anak Muda?"
Darta terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "Aku hanya ingin seekor kerbau. Dengan kerbau, aku bisa membajak sawah orang dan menghasilkan uang untuk mengubah hidupku."
Pria tua itu tersenyum. "Pulanglah ke rumahmu. Kau akan menemukan apa yang kau butuhkan."
Setiba di rumah, Darta terkejut melihat seekor kerbau gemuk berdiri di halaman. "Ibu! Dari mana kerbau ini?" tanyanya dengan mata membelalak.
Ibunya tersenyum, ia menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Ibu juga tidak tahu. Mungkin ini berkah dari Tuhan, untuk kita, Nak."
Dengan kerbau itu, Darta mulai membajak sawah orang-orang. Upah yang ia terima ditabung lalu digunakannya untuk membeli lebih banyak kerbau. Tahun demi tahun berlalu, Darta menjadi salah satu orang terkaya di desanya. Orang-orang kini memanggilnya Darta Si Kaya. Darta kemudian menikah dengan seorang wanita cantik jelita dari desa tetangga. Kini lengkaplah sudah kebahagiaan Darta.
Tapi, kekayaan telah mengubah Darta menjadi pribadi yang berbeda. Rumahnya yang dulu sederhana kini berdiri megah dengan halaman luas. Ia memiliki puluhan pelayan yang melayani segala kebutuhannya, dan kerbau-kerbau miliknya memenuhi padang. Namun, di balik semua kemewahan itu, hatinya menjadi dingin dan jauh dari belas kasih.
Suatu sore, seorang nenek tua berjalan tertatih-tatih mendekati rumah Darta. Tubuhnya yang kurus dan lemah terlihat semakin rapuh dengan kain lusuh yang membalut badannya. Ia mengetuk pintu rumah Darta dengan tangan gemetar.
"Permisi, Tuan Darta," ucap nenek itu dengan suara lemah. "Bolehkah saya meminta seikat padi untuk saya masak, Tuan. Saya dan cucu saya sudah dua hari tidak makan, berilah saya sedikit saja untuk mengisi perut kami yang kosong?"
Darta yang sedang bersantai di beranda, mengenakan pakaian mewah, menatap nenek itu dengan ekspresi muak. "Apa kau pikir aku ini tempat membuang belas kasihan? Pergi dari sini sebelum aku memanggil penjaga!" bentaknya.
"Tapi, Tuan..." Nenek itu memohon dengan air mata berlinang. "Saya hanya membutuhkan sedikit saja. Tuhan pasti akan memberkati kebaikan Tuan."
"Pergi!" Darta mengayunkan tongkat kecil yang dipegangnya, membuat nenek itu mundur ketakutan. Dengan langkah gontai, nenek itu pergi tanpa membawa apa-apa, meninggalkan rasa iba di hati para pelayan yang menyaksikan kejadian itu.
Beberapa hari kemudian, seorang pria dengan penyakit kulit mendekati Darta di pasar. Wajahnya penuh luka, dan tangannya gemetar memegang sebuah mangkuk kosong.
"Tuan Darta, saya mendengar Anda adalah orang terkaya di desa ini. Saya tidak meminta uang, hanya sedikit makanan untuk mengganjal perut saya. Tidak ada yang mau mempekerjakan saya karena penyakit ini," ucap pria itu dengan nada penuh harap.
Darta menatapnya dengan jijik. "Apa kau pikir aku mau memberikan makananku untukmu? Kau hanya akan membuat rumahku penuh penyakit menjijikkan itu. Pergi, atau aku akan menyuruh penjaga menyeretmu!"
Pria itu terdiam, matanya berkaca-kaca. "Tuan, apakah hati Anda tidak memiliki belas kasihan?"
"Hati? Aku bekerja keras untuk mendapatkan kekayaanku. Jangan harap aku akan memberikan apa pun pada pemalas seperti dirimu!" ujar Darta dingin, meninggalkan pria itu yang hanya bisa terisak di tengah keramaian pasar.
Beberapa minggu kemudian, seorang kakek tua dengan satu kaki datang ke rumah Darta. Wajahnya penuh kerutan, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang dalam. Dengan tongkat kayunya, ia mengetuk pintu rumah Darta.
Darta keluar dengan langkah malas, matanya langsung memicing melihat tamu yang tidak diundang itu. "Apa lagi sekarang? Kau ingin apa dariku, Kakek Tua?" tanyanya sinis.
Kakek itu tersenyum tipis. "Aku tidak meminta banyak, Darta. Aku hanya ingin seekor kerbau untuk membantuku membajak sawah. Dengan itu, aku bisa memperbaiki hidupku."
Darta tertawa terbahak-bahak. "Seekor kerbau? Apa kau sedang bermimpi, Kakek? Aku bahkan tidak akan memberimu sehelai bulu kerbau, apalagi seekor!"
Kakek itu tetap tenang, meski dihina. "Darta, apakah kau lupa siapa dirimu dulu? Kau hanya pemuda miskin yang putus asa karena sulit mencari pekerjaan. Kekayaan ini bukan milikmu selamanya. Ini semua adalah titipan dan ujian."
Darta mendengus. "Jangan khotbahi aku tentang ujian, Kakek Tua! Kekayaanku adalah hasil kerja keras, bukan pemberian siapa pun. Sekarang pergi sebelum aku menyuruh orang mengusirmu!"
Kakek itu menatap Darta dengan penuh arti, lalu berkata pelan, "Ingatlah kata-kataku, Darta. Semua ini bisa hilang kapan saja." Ia pun pergi dengan langkah perlahan, meninggalkan Darta yang masih tertawa mengejek.
Beberapa minggu kemudian, secara tiba-tiba bencana melanda. Wabah penyakit misterius menyerang kerbau-kerbau Darta. Satu per satu, kerbau-kerbaunya yang gemuk dan sehat mulai mati. Para pelayan berlarian panik.
"Tuan, semua kerbau kita mati! Wabah ini tak bisa dihentikan!" lapor salah satu pelayannya dengan wajah penuh kecemasan.
Darta hanya bisa terdiam. Hatinya hancur melihat kandang-kandang yang kosong. Dalam waktu singkat, kekayaan yang ia banggakan habis tak bersisa.
Sebagai upaya terakhir, Darta menjual rumah megahnya untuk melunasi hutang-hutang yang terus menumpuk. Namun, cobaan belum berhenti di situ. Istri cantiknya yang mirip Krisdayanti, yang dulu ia nikahi dengan penuh cinta, kini meninggalkannya.
"Maaf, Darta," ujar istrinya dingin. "Aku tidak bisa hidup denganmu dalam kemiskinan lagi. Aku butuh kehidupan yang layak."
"Istriku, jangan pergi!" Darta memohon, tetapi wanita itu tetap melangkah pergi tanpa menoleh.
Darta kini kembali ke kehidupan miskin yang dulu ia tinggalkan. Ia duduk di depan gubuk kecilnya, memandangi langit malam dengan mata penuh penyesalan. Ia teringat kata-kata sang kakek.
"Semua ini adalah ujian..." gumamnya pelan. "Kekayaanku, kesombonganku... semuanya salah. Aku lupa bagaimana rasanya hidup tanpa apa-apa."
Kesedihan Darta makin menjadi-jadi, ketika sang ibu yang sangat ia sayangi jatuh sakit dan tidak bisa tertolong. Kini ia hidup sebatang kara dengan keadaan yang sangat memperihatinkan.
Air matanya jatuh membasahi tanah. Ia menyadari bahwa harta tidak berarti apa-apa tanpa kebaikan hati. Namun, kesadaran itu datang terlambat. Semua yang ia miliki telah hilang.
Di akhir hidupnya, Darta memilih untuk menjalani hari-hari dengan rendah hati, membantu sesama semampunya. Ia belajar bahwa kebaikan hati adalah harta sejati yang tidak pernah bisa hilang.
Sumber:https://www.facebook.com/share/14p4qvnyAJ/