Tahun Terbit : 2008
Jumlah Halaman : 294
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Tempat Terbit : Yogyakarta
Cerita dalam novel Edensor ini mengisahkan kegigihan dua orang anak melayu Belitong yang ingin mewujudkan mimpi-mimpi mereka sejak kecil meraih puncak sourbone Paris. Tamat SMA Ikal dan Arai merantau ke Pulau jawa. Di sana mereka kuliah sambil bekerja demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sudah berbagai macam pekerjaan mereka jalani hanya untuk dapat bertahan hidup di kota besar, sampai pada akhirnya tawaran itu pun datang. Arai dan Ikal mengikuti jalur penerimaan beasiswa Eropa yang diadakan oleh Universitas mereka masing-masing. Berbulan-bulan Ikal menekuni buku tebal yang runyam berjudul Financial Econometrics untuk menyusun proposal risetnya. Sampai akhirnya Besiswa itu kami dapatkan. Ayah baru pensiun dari perusahaan tambang. Ayah adalah seorang Family man, Sejak muda ia mengencangkan ikat pinggangnya bekerja membanting tulang untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Pagi itu Ayah melepas kami di Bandara seperti tidak akan pernah melihat kami lagi, baginya Eropa tak terbayangkan jauhnya. Air matanya mengalir pelan, aku memeluk ayahku, ayah yang kucintai melebihi apapun, tangannya yang kaku merenguhku. Kami pun meninggalkan Tanah air.
Setibanya di Perancis, mereka berkuliah di Universite de Paris Sorbone. Di sini, Ikal dan Arai mengalami banyak kejadian yang orang biasa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlainan sama sekali dengan peradaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indonesia khususnya Melayu. Rupanya euforia menuntut ilmu di sourbonne tengah dialami oleh Ikal dan Arai. Bermalam-malam mereka tak tertidur, Arai bercita cita jadi seorang Microbiologist sebuah kualifikasi yang masih sangat jarang di Bumi Pertiwi. Sedangkan Ikal ingin menjadi Economics scientist. Hari-hari di Paris adalah satu kegiatan yang tidak pernah ada bosannya. Setiap harinya mereka menghabiskan waktu dengan kuliah, menonton pertunjukan seni, mengunjungi toko musik, dan belajar di Apartemen. Seperti kebanyakan remaja pada umumnya di Paris, Ikal pun menjalin hubungan dengan seorang wanita cantik bernama Katya Kristanaema, Katya adalah sesosok wanita keturunan jerman yang menjadi objek persaingan hampir semua laki-laki di Universitas Sourbonne karena kecantikan dan kecerdasannya. Namun, hubungan itu tidak berlangsung lama karena bagi Katya Cinta adalah Chaneel TV yang dengan mudah ia ganti jika ia sudah bosan sedangkan Cinta menurut Ikal adalah A Ling dania akan terus mencari cinta pertamanya.
Paris mulai menyambut musim panas, semua orang di paris bersuka cita, galeri-galeri dipadati pengunjung, karavan-karavan gipsi memenuhi lapangan-lapangan kosong, sesuatu mengusik pikiran Ikal dan Arai. Mimpi yang telah lama tertanam di benak mereka: menjelajah Eropa sampai ke afrika. Namun, ini bukan persoalan ringan. Masalahnya klasik: biaya. Sedang benua Eropa amat luas belum lagi memikirkan benua hitam Afrika. Berhari-hari mereka kerja banting tulang dari pagi hingga malam hari namun uang yang dikumpulkan masih jauh dari kata cukup. Namun, mereka tidak menyerah disitu saja berkat saran yang diberiakan oleh Famke somers kami berangkat dengan hanya berbekal keberanian dan pertunjukan kesenian patung putri duyung yang akan mereka tampilkan disetiap kota benua Eropa hingga Afrika. Kota demi kota dari negara satu menuju negara lainnya hingga ke benua Eropa telah mereka lalui dengan berbagai pengalaman yang mencengangkan, mencekam, membuat pembaca terbahak-bahak, juga berurai air mata. Dalam pertualangan mereka Ikal dan Arai kembali menuai karma akibat kenakalan-kenakalan yang pernah mereka lakukan semasa kecil dan remaja dulu. Aku teringat akan perkataan Ayahku dulu “Tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan.” Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemuka apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi sepahit apa pun keadaannya. Dan sekarang satu persatu kami telah mewujudkan mimpi-mimpi kami.
Setibanya kembali di paris, paris telah di genggam lagi oleh dingin yang jahat. Suhu sekonyong-konyong drop. Jalanan sepi dan mereka pun kembali memulai aktivitas rutinnya. Namun Musibah datang kepada Arai, ia diserang Astma Bronchiale, penyakit ini berhubungan dengan paru-paru, ia mengalami Bleeding berat di pangkal hidungnya karena vaso kontriksi: pembuluh darahnya mengerut lalu pecah akibat alergi dingin. Dengan sangat berta Arai terpaksa dipulangkan ke Indonesia untuksementara waktu dan boleh kembali saat musim panas tiba. Ikal sedih mendapatkan bahwa kenyataannya ia harus berjuang sendiri. Tidak lama kemudian hari berselang berita buruk datang lagi Hopkins Turnbull, profesor yang amat terhormat dan supervisor tesisku, akan segera mengakhiri masa pensiunnya dan ia akan pindah he Sheffield Inggris dan akan bekerja di sana. Dan Ikal dengan sangat terpaksa menyusul karena ingin menyelesaikan tesisnya. Sampai di sheffield tak banyak pemandangan yang dapat dijumpai, sheffield bagaikan gudang pabrik tidak ada yang menarik disana. Berbulan-bulan Ikal menekuni risetnya akhirnya selesai juga dan ia segera menemui Profesor Turnbull di rumahnya tepatnya di Doncaster. Setibanya di sana ternyata profersor Turnbull sedang ada keperluan mendadak dan baru akan kembali 2 jam kemudian. Akhirnya Ikal memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi desa sesuai saran yang diberikan oleh Nyonya Turnbull. Ikal menuju ke halte bus lalu menaiki bus desa yang butut. Di dalamnya duduk terpisah-pisah segelintir petani. Diam. Setiap orang tenggelam dalam lamunan. Bus meluncur berderak-derak berhenti di setiap desa dan silih berganti naik turun petani yang kumal. Tak ada yang bicara. Di luar jendela terlihat gudang-gudang tua, ladang bunga matahari, rumput yang digulung untuk makanan.
Ternak, dan kuda yang berlarian di lapangan luas. Sebuah senja yang muram nun di pedalaman Inggris. Tak terasa, lebih dari sejam bus meliuk-liuk sampai ke pelosok desa jauh, jauh sekali meninggalkan Sheffield. Lalu bus mendaki sebuah lereng bukit yang landai. Mulanya ujung tanjakkan ditutupi pohon-pohon cemara yang rapat. Ketika bus berbelok, dedaunan cemara tersibak dan seketika itu, pula tersaji pemandangan yang tidak asing. Bus merayap. Tumpukan batu bulat berwarna hitam nun di bawah sana, rumah- rumah penduduk berselang-seling di antara jerejak anggur yang terlantar dan jalan setapak yang berkelok-kelok. hamparan desa yang menawan. Ikal merasa mengenal gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar perternakan itu. Ia seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbunya. Ikal bergegas meminta sopir berhenti dan menghambur keluar. Ribuan fragmen ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun, tibat-tiba tersintesa persis di depan matanya, indah tak terperi. Kepada seorang ibu yang lewat ia bertanya, “Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?” ia menjawab.
“Sure lof, it’s Edensor…”
