Bahasa Indonesia Kelas 8 (Bab IV _ Mengulas Karya Fiksi) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 13 Januari 2025

Bahasa Indonesia Kelas 8 (Bab IV _ Mengulas Karya Fiksi)

 


BAB IV MENGULAS KARYA FIKSI

 TUJUAN PEMBELAJARAN

è Setelah mempelajari BAB ini, ananda diharapkan dapat mengenal bacaan fiksi dan mengetahui unsur-unsur yang ada di dalamnya, belajar membuat penilaian terhadap karya fiksi, dan menyusun argumentasi untuk mendukung penilaian. Pada BAB ini ananda juga diajak untuk menyimak, berdiskusi, dan melakukan presentasi, serta mempelajari cara mengulas karya fiksi yang baik.

 

A.    MENGENAL FIKSI

Karya fiksi (sastra) adalah karya hasil perbaduan antara perasaan dan pikiran (Suharianto, 2005). Wellek dan Warren (2009) mendefinisikan karya fiksi sebagai cerita atau latar yang bersumber dari imajinasi. Meskipun karya fiksi adalah cerita rekaan yang bersumber dari imajinasi penulis, ada pelajaran penting di dalamnya tentang cara menghadapi masalah dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, kalian dapat melihatnya dalam cerita pendek berikut. Cermatilah pelajaran atau pesan yang dapat diambil dari kisah dalam cerita pendek ini.

Kotak Sulap Paman Tom Karya Maya Lestari Gf.

Randu suka sekali menonton pertunjukan sulap Paman Tom. Menurutnyasulap Paman Tom sangat ajaib. Paman Tom bisa mengeluarkan kelinci, pistol- pistolan, sepatu baru, dan buku-buku dari kotak sulapnya. Ketika bermain sulap, Paman Tom sering menyuruh seorang anak naik ke panggung. Anak itu dimintanya memasukkan tangan ke dalam kotak sulap.

“Kosong!” begitu selalu teriak anak-anak yang ikut bermain sulap. “Kosong lagi!” teriak mereka berulang. Paman Tom tersenyum, lalu ia akan menutup kotak tersebut. Beberapa detik kemudian ia akan membukanya kembali dan penonton akan berteriak, “Ada kelincinya!”

Randu dahulu pernah pula naik ke panggung. Kata Paman Tom, ia butuh anak laki-laki yang bisa membantunya. Randu langsung tunjuk tangan. Ia disuruh menarik sapu tangan yang menutupi kotak itu. Begitu kotak terlihat, seekor burung akan keluar, dan hup …! Burung itu terbang mengitari panggung. Saat itu penonton sangat heboh. Semua orang bertepuk tangan sampai lama sekali. Tidak cukup sampai di situ. Keesokan harinya semua anak di sekolah menceritakan kejadian itu berulang-ulang. Guru kelas Randu bahkan ikut memuji pertunjukan itu di depan kelas. Saatitu Randu masih kelas 1 SD.


Sekarang Randu sudah kelas tiga SD. Ia bersama teman-temannya masih tetap suka menonton pertunjukan sulap Paman Tom yang diadakanv setiap bulan di Perpustakaan Daerah. Namun, kini ada sesuatu di hati Randu. Rasa kagum terhadap sulap Paman Tom berganti menjadi penasaran. “Mengapa Paman Tom begitu hebat? Dari mana Paman Tom mendapatkan kotak ajaibnya yang terkenal itu?” Randu ingin tahu jawabannya.


Pada suatu hari Minggu, dua jam menjelang pertunjukan sulap Paman Tom, Randu diam-diam masuk ke ruang pegawai. Biasanya Paman Tom beristirahat dahulu di ruangan itu sebelum memulai sulapnya di panggung. Mujur bagi Randu, hari itu, setelah meletakkan peralatan sulapnya, Paman Tom keluar ruangan. Mendapat kesempatan itu, Randu segera menuju ke tas besar Paman Tom yang terbuat dari anyaman pandan. Dibukanya tas itu dengan berdebar. Kotak sulap itu ada di dalamnya. Dengan gemetar ia mengangkat kotak itu, lalu mengintip isinya. Kosong. Dirabanya sisi-sisi dalam kotak. Alangkah kagetnya ia ketika menemukan empat buah laci kecil. Di dalam empat laci itu, ia menemukan seekor kelinci kecil, seekor burung merpati, sekuntum bunga, dan sebuah terompet.


Randu terkejut dan kecewa. Kotak itu tak seperti harapannya. Kotak itu tidak ajaib sama sekali. Dalam pikirannya, Paman Tom adalah seorang pembohong. Paman Tom penipu. Ia sama sekali tidak hebat. Randu kecewa karena merasa tertipu.


Dengan lunglai Randu kembali ke ruang pertunjukan. Tak lama kemudian, Paman Tom datang dengan kotaknya yang ternyata tidak ajaib. Randu mendadak merasa benci. Ia tidak suka dengan sulap Paman Tom. Paman Tom tidak pandai melakukan yang ajaib. Paman Tom hanya penipu!


“Anak-anak, mari kita lihat ada keajaiban apa di kotak sulap Paman Tom!” seru Paman Tom gembira. Anak-anak bertepuk tangan.


“Apakah ada yang suka terompet?” tanya Paman Tom. Semua anak tunjuk tangan sambil berteriak, “Saya! Saya!”

“Nah! Apakah kotak ajaib Paman Tom bisa mengeluarkan terompet?

Mari kita lihat!”

Anak-anak bersorak gembira. Tiba-tiba Randu berdiri.


“Tidak benar!” teriaknya benci, “Paman Tom bohong!” Ia segera berlari ke panggung. Merampas kotak sulap itu, lalu menunjukkan laci-laci rahasia pada semua orang.


“Lihat, ‘kan?” kata Randu sambil menarik seekor kelinci. “Paman Tom menipu kita! Tidak ada kotak ajaib! Ia menyembunyikan semua itu dalam laci rahasia!”


Semua orang terkejut. Paman Tom lebih terkejut. Wajahnya tampak memerah pertanda marah. Randu melemparkan kotak itu ke lantai.

“Aku tak percaya lagi padanya. Paman Tom pembohong!” Randu lalu lari ke luar. Pulang.

 

***

Apa yang terjadi di hari Minggu pagi itu menjadi pembicaraan di mana-


mana, termasuk di sekolah Randu. Teman-teman Randu umumnya kesal karena merasa tertipu. Selama ini mereka menyangka Paman Tom punya kekuatan super. Kotak sulapnya mereka anggap kotak keramat. Kini begitu tahu yang sebenarnya, mereka merasa marah.


Bisa ditebak, tak ada lagi anak yang mau datang ke pertunjukan Paman Tom. Ruang sulap itu jadi sepi. Akhirnya, setelah tiga bulan, pihak Perpustakaan Daerah menghentikan acara sulap karena tak ada penonton.

Saat itu, entah kenapa, Randu merasa sedikit kehilangan.

 

***

Suatu hari, saat pergi berjalan-jalan dengan para sepupunya, tiba-tiba dari jendela mobil Randu melihat kerumunan anak di pinggir jalan. Anak-anak itu tampak gembira dan bertepuk tangan. Ia melongok karena penasaran. Apakah gerangan yang membuat anak-anak itu senang?


“Lihat, Paman Tom!” teriak salah seorang sepupunya. Randu terkejut. Ketika ia memperhatikan lebih jelas dari celah kerumunan, ia melihat Paman Tom duduk di sebuah bangku dengan kotak sulapnya.

“Ih, kok dia jadi kumal, ya?” seru sepupunya lagi.

“Iya. Semenjak pekerjaannya dihentikan pihak Perpustakaan Daerah, Paman Tom jadi tidak punya pekerjaan,” kata sepupunya yang lain.“Akhirnya, untuk mencari uang, terpaksa ia main sulap di jalanan.”


“Sayangnya, anak-anak itu tidak tahu kalau mereka kena tipu,” kata sepupunya yang lain, “Aku sudah bosan dibohongi Paman Tom!”


Randu terdiam. Diperhatikannya terus Paman Tom hingga celah kerumunan itu menutup. Hatinya terasa tidak nyaman. Terbayang lagi peristiwa ketika ia membongkar semua rahasia sulap Paman Tom di depan para penonton. Terkenang lagi hari ketika ia mencampakkan kotak sulap itu ke lantai. Mendadak ia merasa sangat bersalah.


Seandainya ia tidak melakukan kebodohan itu, tentu Paman Tom masih bekerja untuk Perpustakaan Daerah dan mendapat penghasilan yang lumayan. Kemarahan telah membuat Randu melakukan hal-hal yang tidak pantas. Ingin rasanya ia turun dari mobil dan berlari menuju Paman Tom untuk minta maaf, tetapi apakah maafnya bisa membuat Paman Tom mendapat pekerjaan lagi? Randu merasa bodoh. Sulap hanya sebuah permainan. Tak ada kebohongan di sana. Sulap itu seperti teka-teki yang dilakukan dengan gerakan. Paman Tom tidak pernah menyakiti penontonnya. Jadi, tidak ada alasan bagi Randu untuk mempermalukannya. Randu menunduk. Diam-diam air matanya menitik.

Dikutip dari Maya Lestari dalam SophieBooks 2020, Yogyakarta LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 1)

Ananda sudah membaca cerita berjudul “Kotak Sulap Paman Tom”. Sekarang jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

  1. 1.     Siapa saja tokoh dalam cerita tersebut?
  2. 2.     Apa yang terjadi pada tokoh cerita tersebut?
  3. 3.     Menurut ananda, sudah benarkah tindakan yang dilakukan oleh tokoh Randu?
  4. 4.     Mengapa Randu sampai melakukan tindakan demikian?
  5. 5.     Apa nasehat yang dapat kita ambil dari cerita tersebut?


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


B.     MENEMUKAN UNSUR KARYA FIKSI

 

Karya fiksi tidak lepas dari 5 unsur-unsur berikut :

1.          Tokoh cerita

Tokoh cerita adalah tokoh-tokoh yang ada di dalam sebuah cerita. Tokoh cerita dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung. Kalian dapat mengenali tokoh utama cerita dengan mencermati hal-halberikut.

a.    Tokoh yang paling banyak muncul di sepanjang cerita.

b.    Tokoh yang memiliki peran penting dalam cerita. Bila tokoh ini tidak ada, cerita itu pun tidak akan ada.

Contoh: Tokoh utama dalam cerita “Kotak Sulap Paman Tom” adalah Randu. Hal ini karena cerita mengisahkan Randu. Tanpa kehadiran Randu, cerita tersebut tidak akan ada. Randu adalah tokoh yang paling sering muncul.

 

2.          Latar cerita

Latar cerita adalah keterangan tempat, suasana dan waktu terjadinya cerita. Ananda dapat mengetahui latar suatu cerita dengan melihat nama-nama tempat, perasaan dan waktu dalam cerita. Dalam cerita “Kotak Sulap Paman Tom”, peristiwa berlangsung di Perpustakaan Daerah.

 

3.          Tema cerita

Tema cerita adalah unsur pokok dalam cerita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tema adalah pokok pikiran atau dasar cerita yang (dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang). Tema cerita pendek “Kotak Sulap Paman Tom” adalah kekecewaan Randu terhadap Paman Tom. Ananda dapat melihat dan menemukan tema suatu cerita dengan menerapkan langkah-langkah seperti dalam tabel berikut.

Membaca keseluruhan cerita

Bacalah keseluruhan cerita terlebih dahulu agar kalian mengerti isinya!

Mencermati paragraf pertama dan terakhir

Pokok pikiran biasanya diperkenalkan melalui konflik yang mulai dikenalkan penulis sejak paragraf pertama. Adapun paragraf terakhir merupakan tempat penulis menutup ceritanya dengan sebuah pesan atau peristiwa yang memberi makna.

Contoh: Perbuatan yang dilakukan tergesa-gesa membawa akibat buruk bagiorang lain.

 

4.          Alur atau jalan cerita

Dalam karya fiksi, jalan cerita disebut juga alur atau plot. Alur berisi rangkaian kejadian yang dihadapi tokoh cerita dari awal sampai akhir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alur adalah rangkaian peristiwayang direka atau dijalin dengan saksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian. Terdapat tiga macam alur cerita.

a.    Alur maju adalah alur yang diawali cerita kejadian masa kini dengan


konflik datar, pada bagian tengah, konflik makin menanjak, dan diakhiri klimaks serta penyelesaian pada akhir cerita.

b.    Alur mundur adalah alur yang dibuka dengan penceritaan kejadian masa lampau di awal cerita dan diselesaikan dengan konflik pada masa kini.

c.    Alur campuran (maju-mundur) adalah alur yang mencampurkan kisah kejadian masa kini dan masa lalu secara bergantian.

 

5.          Amanat

Amanat adalah pesan yang terkandung dalam sebuah cerita. Amanat yang terkandung dalam cerita Kotak Sulap Paman Tom yaitu jangan mempermalukan orang lain.

 

Bacalah baik-baik cerita pendek berjudul “Parki dan Alergi Telur”berikut ini.

 

Parki dan Alergi Telur Karya Maya Lestari Gf.


Ibu sangat ingin Parki tumbuh sehat dan tinggi. Untuk itu, Ibu menyuruh Parki makan telur setiap hari.

“… tetapi, Bu, …,” ujar Parki, “aku bosan makan telur setiap hari.” “Ini peraturan!” kata Ibu tegas. “Kalau kamu ingin kuat, kamu harus makan makanan bergizi setiap hari.”

Parki ingin membantah kalau makanan bergizi itu bukan cuma telur, masih ada tahu, tempe, kacang, dan ikan, tetapi Ibu tidak ingin mendengarkan. Menurut Ibu, komposisi gizi dalam sebutir telur sangat sempurna. Telur memiliki kalsium yang dibutuhkan Parki agar tulang- tulangnya kuat. Ibu ingin Parki tumbuh setinggi pemain-pemain basketprofesional. Jadi, ia memasak telur setiap hari. Kadang telur itu direbus, kadang dibuat jadi telur mata sapi atau dijadikan telur dadar.

“Ibu memasaknya jadi bermacam masakan,” kata Ibu, “supaya kamu tidak bosan.”

Akan tetapi, tetap saja itu telur! Aarggh! Parki bosan, tetapi Parki tidak ingin membantah Ibu. Jadi, ia makan saja semua hidangan telur. Kadang kalau sudah terlalu bosan, ia membawa telur ke kamarnya dan menyembunyikannya di bawah kasur. Sayangnya, Ibu selalu bisa menemukan. Entah bagaimana caranya.

Suatu pagi, ketika Parki bangun tidur, ia merasa matanya berat sekali. Dikucek-kuceknya matanya. Terasa ada sesuatu di kelopaknya. Cepat ia menuju cermin. Astaga! Apakah itu? Kenapa ada bengkak dikelopak matanya?

“Ibuuu!” teriaknya. “Kenapa mataku seperti ini?”


“Ada apa?” tanya Ibu. Cepat-cepat Ibu berlari ke kamar Parki, “Astagaaa! Parki! Ada apa dengan matamu?” teriak Ibu histeris. “Ayaaah! Cepat kemari! Lihat mata Parki!”

Ayah yang saat itu sedang mengenakan kemeja kaget bukan main. Tidak biasanya Ibu berteriak histeris seperti itu. Cepat ia berlari ke kamar Parki. Ayah lupa kalau ia belum memakai celana panjang.

“Ada apa? Ada apa?” Ayah ikut-ikutan panik. Ia takut sekali kalau sesuatu yang gawat terjadi.

“Mata Parkiii!” teriak Ibu.

“Kenapa mata Parki bisa bengkak seperti itu?” Ayah memeriksa kelopak mata kanan Parki. “Oh! Ini bintitan,” kata Ayah.

Ia merasa lega karena ternyata situasi tidak segawat yang ditakutkannya. Ayah beberapa kali juga pernah mengalami bintitan waktu kecil. Jadi, apa yang terjadi pada Parki tidak terlalu mengkhawatirkannya.

“Akan tetapi, ini bukan bintitan biasa!” Ibu masih histeris.

“Lihat, bengkaknya sebesar ujung kelingkingku! Warnanya merah. Pasti sakit sekali.”

“Biarkan saja, nanti juga hilang sendiri,” kata Ayah kalem. “Bagaimana mungkin Ayah                   bilang    begitu?   Ini            mata Parki!

Bagaimana  kalau  bintitan  itu  sesuatu  yang  berbahaya?  Dia  harus dibawa ke dokter!” “Astaga!” kata Ayah.

“Tenang, Bu! Ayah dahulu sering mengalaminya waktu kecil. Ini bukan hal yang gawat.”

“Tidak bisa! Ini pasti buruk! Parki harus dibawa ke dokter!”

Parki memandang kedua orang tuanya berganti-ganti. Sebenarnya, ia juga tidak terlalu paham apa yang terjadi. Ia merasa sependapat dengan Ayah. Bintitan bukan hal yang gawat kok. Temannya, si Alex, juga pernah mengalaminya. Biasanya, bintitan itu hilang dalam seminggu, tetapi Parki merasa ngeri dengan Ibu. Jika Ayah dan Ibu berdebat, Ibu pasti menjadi pemenang. Hal itu sudah terjadi berkali- kali.

“Baiklah,” kata Ayah kemudian, “nanti sore kita ke dokter.” Tuh, benar, ‘kan? Pasti Ibu yang menang.

 

***

Akhirnya, sore itu mereka ke dokter. Dokter memeriksa mata Parki beberapa kali sebelum akhirnya bertanya.

“Pernah mengalami hal ini sebelumnya?”“Tidak pernah,” jawab Ibu. “Debu bisa menjadi penyebabnya,” kata Dokter.

“…, tetapi selama ini Parki selalu bermain di luar. Matanya pasti sering kemasukan debu,” kata Ibu, “tetapi mengapa sebelum ini matanya tidak pernah bengkak?”

“Hmm …,” Dokter mengangguk-angguk. “Kemarin Parki makan apa saja?” tanyanya.

“Jeruk,” jawab Parki. Ia tidak suka jeruk. Ia berharap jeruklah penyebab matanya bintitan supaya besok-besok ia tidak makan jeruk lagi.


“Tadi malam dia makan nasi goreng,” kata Ibu.“Siangnya?” tanya dokter. “Siang dia makan …,” Ibu mengingat-ingat, “nasi dan telur dadar.”“Paginya?” “Pagi dia makan bubur kacang hijau.” “Kemarinnya lagi?” tanya dokter.

“Apakah dia makan udang?”

“Tidak. Dia makan nasi dan telur rebus,” jawab Ibu. “Oh, ya?” dokter memandang Ibu.

“Tiga hari lalu dia makan apa?”“Telur dadar,” kata Ibu.

Karena Ibu memberi Parki telur setiap hari, makanan Parki yang dia ingat cuma itu.

“Empat hari lalu?” tanya dokter.“Telur.” “Telur lagi?” dokter itu melongo.“Iya.” “Seminggu sebelumnya?”“Telur juga.”

Dokter itu membuka kacamatanya dan menghela napas. “Mengapa ia makan telur setiap hari?” tanyanya.

“Karena telur itu bergizi. Parki membutuhkan gizi bagus supaya bisa tumbuh tinggi,” kata Ibu.

“Itu betul,” kata dokter, “tetapi sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Sepertinya Parki alergi telur.”

“Alergi telur?” tanya Ibu heran.Dokter mengangguk.

“Kompreslah kelopak matanya yang bengkak dengan air hangat dua kali sehari,” kata dokter. “Mudah-mudahan lima hari kemudian bengkaknya hilang. Untuk sementara, jangan beri dia telur!”

“Apa?” Ibu tak percaya. “Apakah dokter baru saja mengatakan, Parkitidak boleh makan telur? Tidak mungkin.”

“Benar,” dokter mengangguk.

“…, tapi …, tapi …,” Ibu tidak setuju.

“Baiklah, kami pikir juga begitu,” kata Ayah tiba-tiba. “Terima kasih atas nasihat Anda, Dokter. Terima kasih.”“Sama-sama.”

Mereka lalu keluar dari ruang periksa. Ibu tidak mampu berkata- kata. Wajahnya tampak sedih sekali. Sebaliknya, Parki justru merasa gembira. Ingin rasanya ia melompat-lompat karena tidak perlu lagi makan telur. Ia merasa bengkak di kelopak matanya adalahsuatu anugerah yang teramat istimewa. Ayah senyum-senyummemandangnya.

“…, tetapi gizi Parki, bagaimana? Aduh …!” Ibu menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Tenang, Ibu. Toh sesekali ia masih boleh makan telur,” kata Ayah sambil merangkul bahu Ibu.

“Baiklah,” kata Ibu. Ia menurunkan tangannya. Wajahnya sangat nelangsa. Dipandangnya Parki dengan suatu cara yang membuat Parki merasa baru saja divonis dokter tidak boleh membaca buku seumur hidup!

“Masalah selesai,” kata Ayah. “Ayo, pulang!”

Ayah menggamit tangan Ibu dan Parki, lalu bersiul-siul. Di sampingnya, Parki melompat gembira.

(Dikutip utuh dari Maya Lestari dalam SophieBook 2020, Yogyakarta)


LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 2)

 

Ananda sudah mempelajari unsur-unsur yang ada dalam sebuah cerita. Ananda juga sudah mempelajari cara menemukan unsur tersebut. Sekarang, jawablah pertanyaan berikut!

 

1.    Apa tema ceritanya?

2.    Tuliskan semua tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut!?

3.    Di mana latar ceritanya?

a.       Latar tempat

b.      Latar waktu

c.       Latar suasana

4.    Apa jenis alurnya?

5.   Apa amanat yang terdapat dalam cerita tersebut?

JAWABAN :


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


C.    MELAKUKAN PENILAIAN TERHADAP KARYA SASTRA

Biasanya seorang pembaca akan melakukan penilaian terhadap cerita yang baru saja ia baca. Jika ia menyukai sebuah cerita, ia akan mengatakan cerita tersebut bagus dan menjelaskan alasannya. Ananda pun dapat melakukan penilaian sendiri terhadap sebuah cerita. Hal yang perlu ananda lakukan adalah mengamati unsur-unsurnya. Hal yang diamati adalah kelengkapan informasi dan cara penulis menampilkan informasi tersebut. Informasi yang lengkap membuat ananda dapat membayangkan sebuah cerita dengan baik. Cara penulisan yang bagus akan membuat cerita enak dibaca. Informasi- informasi tersebut dapat diketahui melalui unsur-unsurnya.

 

1.               Tema

Apakah ananda dapat memahami maksud penulisnya dengan jelas? Gunakanlah langkah-langkah mengenali tema yang sudah kalian pelajari sebelumnya untuk mengetahui jawabannya.

 

2.               Tokoh Cerita

Cerita yang baik adalah cerita yang tokoh-tokohnya dipahami pembaca. Makin jelas penggambaran tokohnya, makin kenal pembaca dengannya. Ananda dapat menikmati cerita dengan baik bila ananda paham seperti apa tokohnya. Ananda dapat menilai seorang penulis sudah menggambarkan tokoh ceritanya dengan baik atau belum melalui data diri, latar belakang, dan sifat-sifat tokoh.

 

a.       Data diri

Cermatilah cerita yang ananda baca. Apakah nama, jenis kelamin, dan usia tokoh disebutkan dalam cerita? Sebuah cerita pendek kadang- kadang hanya memuat tiga informasi ini saja, sementara sebuah novel dapat memuat informasi yang lebih banyak, seperti tanggal dan tahun kelahiran, nama-nama anggota keluarga, dan makanan favorit.

 

b.      Latar belakang

Latar belakang adalah alasan tokoh melakukan sebuah tindakan. Kalian dapat menyebut latar belakang ini sebagai motif. Untuk menilai sebuahtindakan karakter, kalian harus mencermati alasan yang diberikan penulis pada tokoh untuk bertindak.

 

c.       Sifat tokoh

Sifat tokoh tecermin melalui kata-kata dan tindakannya. Cermatilah cara tokoh menghadapi sesuatu. Amatilah kata-kata dalam kalimat dialognya. Kalian dapat menyimpulkan sifatnya dari hal-hal tersebut.


Penokohan Cerita “Kotak Sulap Paman Tom”

Gambaran Tokoh

Detail

Ditemukan di

Identitas diri

Nama: Randu

Jenis kelamin : laki-laki

Paragraf ke-1, ke-2, dan ke-3

 

Usia:

kelas tiga SD, perkiraan usia antara 9—10 tahun

 

Latar belakang/ alasan bertindak

Tindakan:

Randu membongkar rahasia sulap Paman Tom.

Alasan:

Randu kecewa karena kotak

sulap Paman Tom ternyata bukan benda ajaib.

Paragraf ke-5

Sifat    atau karakter tokoh

Mementingkan diri sendiri dan emosional.

Sifat mementingkan diri sendiri tampak dari

tindakannya membongkar rahasia sulap Paman Tom. Sifat emosional tampak saat Randu melihat Paman Tom bermain sulap di jalan dan ia meneteskan air mata karena merasa menyesal.

 

3.               Latar

Unsur cerita fiksi berikutnya yang perlu ananda lihat saat menilai sebuah karya fiksi adalah latar cerita. Latar cerita meliputi latar tempat, suasana dan latar waktu kejadian. Ketika ananda membaca sebuah cerita fiksi, cermatilah penjelasan latarnya: disampaikan secara jelas atau tidak. Cerita yang tidak jelas latarnya akan menimbulkan kebingungan karena pembaca tidak tahu waktu, suasana dan tempat terjadinya cerita tersebut. Kadang-kadang seorang penulis menjelaskan latar melalui pendekatan pancaindra. Maksudnya, latar dijelaskan sedemikian rupa sehingga pembaca dapat membayangkan dan merasakan bentuknya, mendengar suara, dan mencium aromanya.

 

4.               Alur

Ananda sudah mempelajari bahwa alur berisi rangkaian kejadian yang dihadapi tokoh cerita dari awal sampai akhir. Alur dapat dikenali dengan melihat bagian perkenalan, konflik, dan penyelesaian cerita. Ketika menilai sebuah karya, perhatikanlah jenis alur yang dipakai. Perhatikan pula rangkaian peristiwanya. Apakah rangkaian peristiwa yangdirancang penulis menunjukkan adanya perubahan pada tokoh cerita?


5.               Amanat

Ananda sudah mempelajari bahwa amanat adalah pesan yang terkandung dalam sebuah cerita. Ketika menilai sebuah cerita pahamilah amanat apa yang disampaikan oleh penulis dalam cerita tersebut. Temukanlah apa pesan yang bisa kita ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari dari sebuah cerita tersebut.

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 3)

Ananda sudah mempelajari unsur-unsur yang ada dalam sebuah cerita. Ananda juga sudah mempelajari cara menemukan unsur tersebut. Sekarang, duduklah berkelompok. Bacalah cerita “Parki dan Alergi Telur” secara mandiri, kemudian diskusikan hal-hal berikut dengan teman satu kelompok.

1.      Apa tema ceritanya?

Pengarang

:

Alasannya

:


 

2.      Siapa tokohnya?

Nama Tokoh

Gambaran tokoh

Detail

Bisa Ditemukan di

 

Identitas diri

 

 

Latar belakang/ alasan bertindak

 

 

Sifat atau karaktertokoh

 

 

 

Identitas diri

 

 

Latar  belakang/  alasan

bertindak

 

 

Sifat atau karaktertokoh

 

 

 

Identitas diri

 

 

Latar belakang/ alasan bertindak

 

 

Sifat atau karaktertokoh

 

 


3.      Di mana latar ceritanya?

Pengarang

:

Alasannya

:


 

4.      Apa jenis alurnya?



Pengarang

:

Alasannya

:



5.      Apa amanat yang terdapat dalam cerita tersebut?

Pengarang

:

Alasannya

:


 

D.    MEMBANDINGKAN KATA KONOTASI DAN DENOTASI DALAM KARYA FIKSI

Kata konotosi adalah kata yang tidak bermakna sebenarnya (kiasan). Kata denotasi adalah kata yang sebenarnya (bukan makna kiasan). Dalam sebuah cerita, ananda akan menemukan banyak kata. Seorang penulis biasanya menggunakan kata-kata dengan makna konotasi agar kalimat-kalimat dalam cerita yang ditulisnya menjadi lebih menarik.

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 4)

Perhatikanlah kata-kata pada kalimat-kalimat dalam tabel berikut! Tentukanlah kata denotasi dan konotasi dari kalimat di bawah ini!

Kalimat

Denotasi

Konotasi

Mukhlis hidup sebatang kara.

 

 

Rumah Paijo hangus dilalap si jago merah.

 

 

Benny  orang  yang  pandai  bersilat

lidah.

 

 

Jalanan sesunyi kuburan pagi ini.

 

 

Irfan merupakan keturunan darah biru.

 

 


Annisa menjadi buah bibir semenjak sukses mendirikan toko kue.

 

 

Sekarang     aku    merasakan      akibat keras kepala-ku sendiri.

 

 

Dian bisa bekerja di kantor tersebut

karena ada orang dalam.

 

 

Ibu      Parki       memandang        buah hatinya

dengan cemas.

 

 

Para pedagang tersebut gulung tikar.

 

 

 

E.     MENGENALI LANGKAH-LANGKAH PENULISAN RESENSI KARYA FIKSI

 

Jika ananda membaca koran, majalah, atau membuka sebuah web, ananda kadang menemukan artikel resensi buku atau karya fiksi. Artikel seperti itu umumnya berisi penilaian terhadap sebuah buku. Melalui artikel tersebut, penulis menyajikan keunggulan dan kelemahan buku. Penulis kadang membandingkannya dengan buku lain. Tujuan penulisan artikel resensi ada bermacam-macam, tetapi pada umumnya, resensi buku bertujuan untuk mengenalkan sebuah buku baru kepada publik agar orang-orang tertarik membacanya.

Mari berlatih menulis resensi buku tersebut. Ananda dapat mengikuti langkah-langkah penulisan resensi melalui contoh berikut!

 

Langkah 1.

Lakukan penilaian unsur-unsur cerita di lembar penilaian.Contoh:

Judul                          : Bawang Merah dan Bawang Putih

Penulis                       : Rifan

Diterbitkan oleh        : Majalah Sekolah Cerdas, SMP Kemerdekaan

Tokoh cerita dan sifatnya:

1.   Bawang Putih mempunyai sifat sabar, suka menolong, tidak suka mengeluh, dan tidak serakah.

2.   Bawang Merah mempunyai sifat tidak sabaran, pemalas, dan tamak.

3.   Ibu Tiri, tidak dijelaskan oleh penulis.

4.   Nenek, nama dan sifatnya tidak dijelaskan oleh penulis.

Penilaian : penulis cukup berhasil menggambarkan sifat Bawang Putih dan Bawang Merah. Sifat mereka berdua tergambar melalui tindakan-tindakan mereka.

Latar cerita : di sebuah rumah yang di pinggir sungai. Latar tempat dijelaskan dengan cukup baik.

Tema                 : kesabaran dan kejujuran membawa keberuntungan.Jalan cerita : Cerita mengisahkan kehidupan Bawang Putih yang tinggal bersama Ibu Tiri dan saudara tirinya, Bawang Merah, yang sangat  pemalas.  Suatu pagi Bawang Putih pergi ke sungai


untuk mencuci pakaian. Malang, arus sungai yang deras membuat beberapa pakaian hanyut, termasuk pakaian Ibu Tiri. Bawang Putih kemudian mencari pakaian tersebut hingga ke hilir.

 

Di sana ia bertemu dengan seorang nenek yang sedang menjemur pakaian Ibu Tiri. Sebelum meminta pakaian Ibu Tiri, Bawang Putih membantu si Nenek membersihkan rumahnya. Si Nenek sangat terkesan hingga ia memberikan dua labu pada Bawang Putih. Namun, Bawang Putih memilih satu labu saja, yaitu yang berukuran kecil. Begitu kembali ke rumah, Bawang Putih membuka labunya, ternyata di dalamnya banyak sekali perhiasan. Bawang Merah merasa iri melihat keberuntungan Bawang Putih. Ia kemudianmeniru apa yang dilakukan Bawang Putih. Ia pergi ke rumah si Nenek dan meminta labu pula. Ia mengambil labu yang berukuran besar. Malang baginya, begitu labu dibelah, isinya ternyata aneka hewan berbisa.

Penilaian  : penulis cukup berhasil membuat alur cerita yang menarik.

Pendapat saya tentang cerita ini : Cerita cukup bagus. Penulisan menarik. Cerita ini

mengajarkan tentang betapa penting sifat sabar dan tidak serakah dalam kehidupan.

 

Langkah 2.

Masukkan informasi di lembar penilaian tadi ke dalam artikel. Berikut ini contoh artikel yang ditulis berdasarkan informasi di lembarpenilaian.

 

Ulasan Cerita “Bawang Merah dan Bawang Putih”

Bawang Merah dan Bawang Putih merupakan salah satu cerita rakyat Indonesia yang sangat populer. Cerita ini ditulis ulang oleh Rifan di Majalah Sekolah Cerdas yang diterbitkan SMP Kemerdekaan. Cerita ini memiliki empat tokoh cerita, yaitu Bawang Putih, Bawang Merah, Ibu Tiri, dan Nenek. Cerita ini mengambil tema kesabaran dan kejujuran yang membawa keberuntungan. Topik ceritanya seputar kesabaran Bawang Putih menjalani kehidupan dan menghadapi nasibnya. Kesabarannya ternyata membawa keberuntungan.

Diceritakan Bawang Putih yang tinggal bersama Ibu Tiri dan saudara tirinya, Bawang Merah memiliki sifat sangat pemalas. Suatu pagi Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Malang, arus sungai yang deras membuat beberapa pakaian hanyut, termasuk pakaian Ibu Tiri. Bawang Putih kemudian mencari pakaian tersebut hingga ke hilir.

Di sana ia bertemu dengan seorang nenek yang sedang menjemur pakaian Ibu Tiri. Sebelum meminta pakaian Ibu Tiri,Bawang Putih membantu si Nenek membersihkan rumahnya. Si Nenek sangat terkesan sehingga ia memberikan dua labu pada Bawang Putih. Namun, Bawang Putih hanya memilih satu labu saja, yaitu labu yang berukuran kecil. Begitu kembali ke rumah, Bawang Putih membuka labunya, Di dalamnya ternyata banyak sekali perhiasan. Melihat keberuntungan Bawang Putih, Bawang Merah menjadi iri. Ia pun kemudian ke rumah si nenek dan meminta labu pula. Ia mengambil labu yang berukuran besar. Malang baginya, begitu labu dibelah, isinya ternyata


aneka hewan berbisa.

Menurut saya, cerita yang ditulis Rifan ini cukup menarik. Tokoh- tokohnya digambarkan dengan jelas. Rangkaian peristiwanya juga menarik. Lebih dari itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kesabaran dan kejujuran itu sangat penting. Dua sifat ini akan membawa kebaikan pada diri kita.

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 5)

Bacalah sebuah cerpen di bawah ini. Cermati unsur-unsurnya. Berikanlah penilaian ananda terhadap cerita tersebut di lembar penilaian berikut ini.

Cerita Dongeng Pendek “Malin Kundang” Pengarang  : Tika Ikanegara

Penerbit    : Mulia Jaya Surabaya

Alkisah, di pesisir pantai daerah Sumatera Barat, hiduplah seorang ibu bersama anak kesayangannya yang bernama Malin. Sejak suaminya meninggal, Ibu Malin harus berjuang mati-matian untuk menghidupi Malin. Meskipun begitu, ia tetap merasa bahagia karena Malin merupakan anak yang penyayang. Dia juga sangat manja. Malin akan selalu menemani ibunya bekerja menjual ikan.

Semakin hari, Malin semakin beranjak dewasa. Ia merasa sudah saatnya untuk menggantikan ibunya bekerja. Namun, Malin memiliki keinginan lain ketika melihat banyak teman sebayanya bisa kaya raya dalam waktu cepat setelah berjualan di kota.

“Mak, Malin ingin merantau ke kota seberang. Malin akan menghasilkan banyak uang untuk Emak dari sana.” Ibu Malin sangat terkejut mendengar keinginan putra kesayangannya itu. “Jangan, Malin. Tetaplah di sini bersama Emak. Emak tidak ingin ada hal buruk yang menimpamu jika merantau ke kota.” Malin berupaya meyakinkan ibunya bahwa ia akan baik- baik saja di kota. Dengan hati yang gelisah, Ibu Malin melepaskan putranya yang hendak merantau. “Hati-hati di sana ya, Nak. Jangan lupa untuk cepat pulang.” Ibu Malin memeluk Malin dengan sangat erat. Dia melambaikan tangan di tepi Pantai Air Manis untuk mengantarkan kepergian Malin. Beberapa lama kemudian, Malin tidak kunjung pulang ke rumah. Bertahun- tahun, ibunya hanya hidup sendirian. Hingga pada suatu hari, Ibu Malin mendapatkan kabar dari salah satu anak temannya yang juga merantau di kota seberang.

“Malin sudah menikah dengan putri seorang bangsawan, Bu. Dia tidak mungkin akan kembali ke sini,” jelas anak teman Ibu Malin yang baru saja kembali dari kota seberang. “Tidak, Malin pasti akan kembali.” Dua bulan kemudian, Istri Malin yang sedang hamil mengidamkan berlibur ke Pantai Air Manis. Karena sangat menyayangi istrinya, Malin mengabulkan permintaan istrinya itu. Di dalam perjalanan, Malin teringat dengan ibunya. Malin merasa malu jika ia harus mengenalkan ibunya kepada istrinya. Saat kapal mereka sudah menepi di pinggir pantai, Ibu Malin yang sedang berjualan ikan melihat anaknya dari kejauhan. Ia sangat yakin itu adalah Malin. Sang ibu bergegas berlari dan memeluk tubuh Malin. “Lepaskan! Siapa kau?” Ibu Malin terkejut ketika tubuhnya didorong oleh Malin. “Malin, ini aku, ibumu.” “Ibu? Apa perempuan lusuh ini ibumu? Kenapa kau berbohong, Malin? Kau bilang kau anak bangsawan sepertiku!” Istri Malin sangat marah menemukan kebohongan Malin yang terungkap. “Tidak, dia bukan ibuku!” Malin bersikeras tidak mengakui ibunya. Ia bahkan menarik tubuh istrinya untuk meninggalkan pantai. Ibu Malin merasa sangat sedih sekaligus marah. Iapun berdoa kepada Tuhan dan menyumpahi Malin agar dikutuk menjadi batu.

Langit bergemuruh setelah doa itu terdengar. Malin menyesali perbuatan yang ia lakukan kepada ibunya. “Ibu maafkan anakmu yang durhaka ini!” Teriakan Malin sia-sia karena tidak lama setelahnya, kapal Malin terombang-ambing oleh ombak hingga karam dan terpecah.


Keesokan paginya, semua orang di Pantai Air Manis terkejut menemukan banyak kepingan kapal yang berserakan. Namun, mereka lebih terkejut saat menemukan batu berbentuk manusia tengah bersujud. Kutukan Ibu Malin menjadi nyata. Ia menemukan anaknya yang ia kutuk menjadi batu. Ibu Malin menangis dan menyesali ucapannya.

 

LEMBAR PENILAIAN CERITA

JUDUL

:

PENULIS

:

DITERBITKAN

OLEH

:

TOKOH

CERITA

SIFATNYA

1.

1.

2.

2.

3.

3.

4.

4.

5.

5.

LATAR CERITA

BUKTI KALIMAT DALAM CERITA

1.

 

 

 

2.

 

 

 

3.

 

 

 

TEMA

 

ALURCERITA

 

 

Penilaian

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendapat       Saya Tentang Cerita Ini

 

 

 

 

 

 


Program