BAB IV MENGULAS KARYA
FIKSI
TUJUAN PEMBELAJARAN
è Setelah mempelajari BAB ini, ananda diharapkan dapat mengenal bacaan fiksi dan mengetahui unsur-unsur yang ada di dalamnya, belajar membuat penilaian terhadap karya fiksi, dan menyusun argumentasi untuk mendukung penilaian. Pada BAB ini ananda juga diajak untuk menyimak, berdiskusi, dan melakukan presentasi, serta mempelajari cara mengulas karya fiksi yang baik.
A.
MENGENAL FIKSI
Karya fiksi (sastra)
adalah karya hasil perbaduan antara perasaan dan pikiran (Suharianto, 2005). Wellek dan Warren (2009) mendefinisikan karya fiksi sebagai cerita atau latar yang bersumber
dari imajinasi. Meskipun
karya fiksi adalah cerita rekaan yang bersumber dari imajinasi penulis,
ada pelajaran penting di dalamnya tentang cara menghadapi masalah dalam
kehidupan nyata. Sebagai contoh, kalian dapat melihatnya dalam cerita pendek berikut. Cermatilah pelajaran atau
pesan yang dapat diambil dari kisah dalam
cerita pendek ini.
Kotak Sulap Paman Tom Karya Maya Lestari Gf.
Randu suka sekali menonton pertunjukan sulap Paman Tom. Menurutnyasulap Paman Tom sangat ajaib. Paman Tom
bisa mengeluarkan kelinci, pistol- pistolan, sepatu baru, dan buku-buku dari kotak sulapnya.
Ketika bermain sulap, Paman Tom sering menyuruh seorang anak naik ke
panggung. Anak itu dimintanya memasukkan tangan ke dalam kotak sulap.
“Kosong!” begitu selalu teriak anak-anak yang ikut bermain sulap. “Kosong lagi!” teriak mereka berulang.
Paman Tom tersenyum, lalu ia akan menutup kotak tersebut.
Beberapa detik kemudian
ia akan membukanya kembali dan penonton akan berteriak, “Ada
kelincinya!”
Randu dahulu pernah pula naik ke panggung. Kata Paman Tom, ia butuh anak laki-laki
yang bisa membantunya. Randu langsung tunjuk tangan. Ia disuruh menarik sapu tangan yang
menutupi kotak itu. Begitu kotak terlihat, seekor burung akan keluar,
dan hup …! Burung itu terbang
mengitari panggung. Saat itu penonton sangat heboh. Semua orang bertepuk
tangan sampai lama sekali. Tidak cukup sampai di situ. Keesokan harinya
semua anak di sekolah menceritakan kejadian
itu berulang-ulang. Guru kelas Randu bahkan ikut memuji pertunjukan itu di
depan kelas. Saatitu Randu masih kelas 1 SD.
Sekarang Randu sudah kelas tiga SD. Ia bersama teman-temannya masih tetap suka menonton pertunjukan sulap Paman Tom yang diadakanv setiap bulan di Perpustakaan Daerah. Namun, kini ada
sesuatu di hati Randu. Rasa kagum terhadap sulap Paman Tom
berganti menjadi penasaran. “Mengapa
Paman Tom begitu hebat? Dari mana Paman Tom mendapatkan kotak ajaibnya yang
terkenal itu?” Randu ingin tahu jawabannya.
Pada suatu hari Minggu, dua jam menjelang pertunjukan sulap Paman Tom, Randu diam-diam masuk ke ruang
pegawai. Biasanya Paman Tom beristirahat dahulu di ruangan itu sebelum memulai
sulapnya di panggung. Mujur bagi Randu, hari itu,
setelah meletakkan peralatan sulapnya, Paman
Tom keluar ruangan. Mendapat kesempatan itu, Randu segera menuju ke tas
besar Paman Tom yang terbuat dari anyaman pandan. Dibukanya tas itu dengan
berdebar. Kotak sulap itu ada di dalamnya.
Dengan gemetar ia mengangkat kotak itu, lalu mengintip
isinya. Kosong. Dirabanya sisi-sisi dalam kotak. Alangkah kagetnya
ia ketika menemukan
empat buah laci kecil. Di dalam
empat laci itu, ia menemukan seekor kelinci kecil, seekor burung merpati,
sekuntum bunga, dan sebuah terompet.
Randu terkejut dan kecewa. Kotak itu tak seperti harapannya. Kotak itu
tidak ajaib sama sekali. Dalam pikirannya, Paman Tom adalah seorang pembohong.
Paman Tom penipu. Ia sama sekali tidak hebat. Randu kecewa karena merasa tertipu.
Dengan lunglai Randu kembali ke ruang pertunjukan. Tak lama kemudian, Paman Tom datang dengan kotaknya
yang ternyata tidak ajaib.
Randu mendadak merasa benci. Ia tidak suka dengan sulap Paman Tom. Paman Tom tidak pandai melakukan yang
ajaib. Paman Tom hanya penipu!
“Anak-anak, mari kita lihat ada keajaiban apa di kotak sulap Paman Tom!” seru Paman Tom gembira. Anak-anak
bertepuk tangan.
“Apakah ada yang suka terompet?” tanya Paman Tom. Semua anak tunjuk tangan sambil berteriak,
“Saya! Saya!”
“Nah! Apakah kotak ajaib Paman Tom bisa mengeluarkan terompet?
Mari kita lihat!”
Anak-anak
bersorak gembira. Tiba-tiba Randu berdiri.
“Tidak benar!” teriaknya benci,
“Paman Tom bohong!” Ia segera berlari ke
panggung. Merampas kotak sulap itu, lalu menunjukkan laci-laci rahasia pada
semua orang.
“Lihat, ‘kan?” kata Randu sambil menarik seekor kelinci. “Paman Tom
menipu kita! Tidak ada kotak ajaib! Ia menyembunyikan semua itu dalam laci rahasia!”
Semua orang terkejut. Paman Tom lebih terkejut. Wajahnya tampak memerah
pertanda marah. Randu melemparkan kotak itu ke lantai.
“Aku tak percaya lagi padanya. Paman Tom pembohong!” Randu lalu lari ke luar.
Pulang.
***
Apa yang terjadi di hari Minggu
pagi itu menjadi
pembicaraan di mana-
mana, termasuk
di sekolah Randu. Teman-teman Randu umumnya kesal karena
merasa tertipu. Selama ini mereka menyangka Paman Tom punya kekuatan super. Kotak sulapnya mereka
anggap kotak keramat. Kini begitu tahu yang sebenarnya, mereka merasa marah.
Bisa ditebak, tak ada lagi anak yang mau datang ke pertunjukan Paman Tom. Ruang sulap itu jadi sepi. Akhirnya, setelah
tiga bulan, pihak Perpustakaan Daerah menghentikan acara sulap karena tak ada penonton.
Saat itu, entah kenapa,
Randu merasa sedikit kehilangan.
***
Suatu hari, saat pergi berjalan-jalan dengan para sepupunya, tiba-tiba dari jendela mobil Randu melihat
kerumunan anak di pinggir
jalan. Anak-anak itu tampak gembira dan bertepuk tangan.
Ia melongok karena penasaran. Apakah gerangan yang
membuat anak-anak itu senang?
“Lihat, Paman Tom!” teriak salah seorang sepupunya. Randu terkejut.
Ketika ia memperhatikan lebih jelas
dari celah kerumunan, ia melihat
Paman Tom duduk di sebuah bangku dengan kotak sulapnya.
“Ih, kok dia jadi kumal, ya?” seru sepupunya lagi.
“Iya. Semenjak pekerjaannya dihentikan pihak Perpustakaan Daerah, Paman Tom jadi tidak punya pekerjaan,” kata sepupunya yang lain.“Akhirnya, untuk mencari uang, terpaksa ia main sulap di jalanan.”
“Sayangnya, anak-anak itu tidak tahu kalau mereka kena tipu,” kata sepupunya
yang lain, “Aku sudah bosan dibohongi Paman Tom!”
Randu terdiam. Diperhatikannya terus Paman Tom hingga celah kerumunan itu menutup. Hatinya terasa
tidak nyaman. Terbayang lagi peristiwa ketika ia membongkar semua rahasia sulap
Paman Tom di depan para penonton. Terkenang lagi hari ketika ia mencampakkan kotak sulap itu ke lantai. Mendadak ia merasa sangat
bersalah.
Seandainya ia tidak melakukan kebodohan itu, tentu Paman Tom masih
bekerja untuk Perpustakaan Daerah dan mendapat penghasilan yang lumayan. Kemarahan
telah membuat Randu melakukan hal-hal yang tidak pantas. Ingin rasanya ia turun dari mobil dan berlari
menuju Paman Tom untuk minta maaf, tetapi apakah maafnya bisa membuat Paman Tom
mendapat pekerjaan lagi? Randu merasa
bodoh. Sulap hanya sebuah permainan.
Tak ada kebohongan di sana. Sulap itu seperti teka-teki
yang dilakukan dengan gerakan. Paman Tom tidak pernah menyakiti
penontonnya. Jadi, tidak ada
alasan bagi Randu untuk mempermalukannya. Randu menunduk. Diam-diam
air matanya menitik.
Dikutip dari Maya Lestari
dalam SophieBooks 2020, Yogyakarta LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD 1)
Ananda sudah membaca cerita berjudul “Kotak Sulap Paman Tom”. Sekarang jawablah pertanyaan berikut
dengan benar!
- 1. Siapa saja tokoh dalam cerita tersebut?
- 2. Apa yang terjadi pada tokoh cerita tersebut?
- 3. Menurut ananda, sudah benarkah tindakan yang dilakukan oleh tokoh Randu?
- 4. Mengapa Randu sampai melakukan tindakan demikian?
- 5. Apa nasehat yang dapat kita ambil dari cerita tersebut?
B. MENEMUKAN UNSUR KARYA
FIKSI
Karya fiksi tidak
lepas dari 5 unsur-unsur berikut
:
1.
Tokoh cerita
Tokoh cerita adalah tokoh-tokoh yang ada di dalam sebuah cerita. Tokoh
cerita dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung. Kalian dapat mengenali tokoh utama cerita dengan mencermati hal-halberikut.
a. Tokoh yang paling banyak muncul di sepanjang cerita.
b. Tokoh yang memiliki peran penting dalam
cerita. Bila tokoh ini tidak ada, cerita itu pun tidak akan ada.
Contoh: Tokoh utama dalam cerita “Kotak Sulap Paman Tom” adalah
Randu. Hal ini karena cerita mengisahkan Randu. Tanpa kehadiran Randu, cerita tersebut tidak akan ada. Randu adalah tokoh yang paling
sering muncul.
2.
Latar cerita
Latar cerita adalah keterangan tempat, suasana dan waktu terjadinya
cerita. Ananda dapat mengetahui latar suatu cerita dengan melihat
nama-nama tempat, perasaan dan
waktu dalam cerita. Dalam cerita “Kotak Sulap Paman Tom”, peristiwa berlangsung
di Perpustakaan Daerah.
3.
Tema cerita
Tema cerita adalah unsur
pokok dalam cerita. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, tema adalah pokok pikiran atau dasar cerita yang
(dipercakapkan, dipakai sebagai dasar
mengarang). Tema cerita pendek “Kotak Sulap
Paman Tom” adalah kekecewaan
Randu terhadap Paman Tom. Ananda dapat melihat dan menemukan tema suatu cerita dengan menerapkan langkah-langkah seperti
dalam tabel berikut.
|
Membaca keseluruhan cerita Bacalah keseluruhan cerita terlebih dahulu agar kalian mengerti isinya! Mencermati paragraf pertama dan terakhir Pokok pikiran biasanya diperkenalkan melalui konflik yang mulai
dikenalkan penulis sejak paragraf pertama. Adapun paragraf terakhir
merupakan tempat penulis menutup ceritanya dengan sebuah pesan atau peristiwa yang memberi makna. Contoh: Perbuatan yang dilakukan
tergesa-gesa membawa akibat buruk bagiorang lain. |
4.
Alur atau jalan cerita
Dalam karya fiksi, jalan cerita disebut juga alur atau plot. Alur berisi rangkaian kejadian yang dihadapi tokoh
cerita dari awal sampai akhir. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, alur
adalah rangkaian peristiwayang direka atau dijalin dengan saksama dan menggerakkan jalan cerita
melalui kerumitan ke arah
klimaks dan penyelesaian. Terdapat tiga macam alur cerita.
a. Alur maju adalah
alur yang diawali
cerita kejadian masa kini dengan
konflik datar, pada bagian tengah, konflik
makin menanjak, dan diakhiri klimaks serta penyelesaian
pada akhir cerita.
b. Alur mundur adalah alur yang dibuka dengan penceritaan kejadian masa lampau di awal cerita dan
diselesaikan dengan konflik pada masa kini.
c. Alur campuran (maju-mundur) adalah alur yang
mencampurkan kisah kejadian masa kini dan masa lalu secara bergantian.
5.
Amanat
Amanat adalah pesan yang terkandung dalam sebuah cerita.
Amanat yang terkandung dalam cerita Kotak Sulap Paman Tom yaitu jangan
mempermalukan orang lain.
Bacalah baik-baik cerita pendek berjudul
“Parki dan Alergi Telur”berikut ini.
Parki dan Alergi Telur Karya Maya Lestari Gf.
Ibu sangat ingin Parki tumbuh sehat dan tinggi. Untuk itu, Ibu menyuruh Parki makan telur setiap hari.
“… tetapi, Bu, …,” ujar Parki, “aku bosan makan telur setiap hari.” “Ini
peraturan!” kata Ibu tegas. “Kalau kamu ingin kuat, kamu harus makan makanan bergizi
setiap hari.”
Parki ingin membantah
kalau makanan bergizi
itu bukan cuma telur,
masih ada tahu, tempe, kacang, dan ikan, tetapi Ibu tidak ingin mendengarkan.
Menurut Ibu, komposisi gizi dalam sebutir telur sangat sempurna. Telur memiliki
kalsium yang dibutuhkan Parki agar tulang- tulangnya kuat. Ibu ingin Parki
tumbuh setinggi pemain-pemain basketprofesional. Jadi, ia memasak telur setiap
hari. Kadang telur itu direbus, kadang
dibuat jadi telur mata sapi atau dijadikan telur dadar.
“Ibu memasaknya jadi bermacam masakan,” kata Ibu, “supaya kamu tidak bosan.”
Akan tetapi, tetap saja itu telur! Aarggh!
Parki bosan, tetapi Parki tidak
ingin membantah Ibu. Jadi, ia makan saja semua hidangan telur. Kadang kalau sudah terlalu bosan, ia membawa telur ke kamarnya
dan menyembunyikannya di bawah
kasur. Sayangnya, Ibu selalu bisa menemukan. Entah bagaimana caranya.
Suatu pagi, ketika Parki bangun tidur, ia merasa matanya berat sekali.
Dikucek-kuceknya matanya. Terasa ada sesuatu di kelopaknya. Cepat ia menuju
cermin. Astaga! Apakah itu? Kenapa ada bengkak
dikelopak matanya?
“Ibuuu!” teriaknya. “Kenapa mataku seperti
ini?”
“Ada apa?” tanya Ibu. Cepat-cepat Ibu berlari ke kamar Parki, “Astagaaa!
Parki! Ada apa dengan matamu?”
teriak Ibu histeris. “Ayaaah! Cepat kemari! Lihat mata Parki!”
Ayah yang saat itu sedang mengenakan kemeja kaget bukan main. Tidak biasanya Ibu berteriak histeris
seperti itu. Cepat ia berlari ke kamar Parki. Ayah lupa kalau ia belum memakai
celana panjang.
“Ada apa? Ada apa?” Ayah ikut-ikutan panik. Ia takut sekali kalau sesuatu
yang gawat terjadi.
“Mata Parkiii!” teriak Ibu.
“Kenapa mata Parki bisa bengkak seperti itu?” Ayah memeriksa kelopak mata kanan Parki. “Oh! Ini bintitan,”
kata Ayah.
Ia merasa lega karena ternyata
situasi tidak segawat
yang ditakutkannya. Ayah beberapa
kali juga pernah mengalami
bintitan waktu kecil. Jadi, apa yang terjadi pada Parki tidak terlalu
mengkhawatirkannya.
“Akan tetapi, ini bukan bintitan biasa!”
Ibu masih histeris.
“Lihat, bengkaknya
sebesar ujung kelingkingku! Warnanya merah. Pasti sakit sekali.”
“Biarkan saja, nanti juga hilang sendiri,”
kata Ayah kalem. “Bagaimana
mungkin Ayah bilang begitu? Ini mata Parki!
Bagaimana kalau bintitan itu sesuatu yang berbahaya? Dia harus
dibawa ke dokter!” “Astaga!” kata Ayah.
“Tenang, Bu! Ayah dahulu sering mengalaminya waktu kecil. Ini bukan hal yang gawat.”
“Tidak bisa! Ini pasti buruk!
Parki harus dibawa
ke dokter!”
Parki memandang kedua orang tuanya berganti-ganti. Sebenarnya, ia juga
tidak terlalu paham apa yang terjadi. Ia merasa sependapat dengan Ayah. Bintitan
bukan hal yang gawat kok. Temannya, si Alex, juga pernah mengalaminya. Biasanya,
bintitan itu hilang dalam
seminggu, tetapi Parki merasa ngeri dengan Ibu. Jika Ayah
dan Ibu berdebat, Ibu pasti menjadi pemenang. Hal itu sudah terjadi berkali-
kali.
“Baiklah,” kata Ayah kemudian, “nanti sore kita ke dokter.” Tuh, benar, ‘kan? Pasti Ibu yang menang.
***
Akhirnya, sore itu mereka ke dokter.
Dokter memeriksa mata Parki
beberapa kali sebelum akhirnya bertanya.
“Pernah mengalami hal ini sebelumnya?”“Tidak pernah,” jawab Ibu. “Debu bisa menjadi penyebabnya,”
kata Dokter.
“…, tetapi selama ini Parki selalu bermain di luar. Matanya pasti sering
kemasukan debu,” kata Ibu, “tetapi mengapa sebelum ini matanya tidak pernah bengkak?”
“Hmm …,” Dokter
mengangguk-angguk. “Kemarin Parki makan apa saja?” tanyanya.
“Jeruk,” jawab Parki. Ia tidak suka jeruk. Ia berharap jeruklah penyebab
matanya bintitan supaya besok-besok ia tidak makan jeruk lagi.
“Tadi malam dia makan nasi goreng,”
kata Ibu.“Siangnya?” tanya dokter. “Siang dia makan …,” Ibu mengingat-ingat,
“nasi dan telur dadar.”“Paginya?” “Pagi dia makan bubur kacang hijau.”
“Kemarinnya lagi?” tanya dokter.
“Apakah dia makan udang?”
“Tidak. Dia makan nasi dan telur rebus,” jawab Ibu.
“Oh, ya?” dokter memandang Ibu.
“Tiga hari lalu dia makan apa?”“Telur dadar,”
kata Ibu.
Karena Ibu memberi Parki telur setiap hari, makanan
Parki yang dia ingat cuma itu.
“Empat hari lalu?” tanya
dokter.“Telur.” “Telur lagi?” dokter itu melongo.“Iya.” “Seminggu
sebelumnya?”“Telur juga.”
Dokter itu membuka kacamatanya dan menghela napas. “Mengapa ia makan
telur setiap hari?” tanyanya.
“Karena telur itu bergizi. Parki membutuhkan gizi bagus supaya bisa
tumbuh tinggi,” kata Ibu.
“Itu betul,” kata dokter, “tetapi
sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Sepertinya Parki alergi telur.”
“Alergi telur?” tanya Ibu heran.Dokter mengangguk.
“Kompreslah kelopak matanya yang bengkak dengan air hangat dua kali
sehari,” kata dokter. “Mudah-mudahan lima hari kemudian bengkaknya hilang.
Untuk sementara, jangan beri dia telur!”
“Apa?” Ibu tak percaya. “Apakah dokter baru saja mengatakan, Parkitidak
boleh makan telur? Tidak mungkin.”
“Benar,” dokter mengangguk.
“…, tapi …, tapi …,” Ibu tidak setuju.
Mereka lalu keluar dari ruang periksa. Ibu tidak mampu berkata- kata.
Wajahnya tampak sedih sekali. Sebaliknya, Parki justru merasa gembira. Ingin
rasanya ia melompat-lompat karena
tidak perlu lagi makan telur. Ia merasa bengkak di kelopak matanya adalahsuatu anugerah yang teramat
istimewa. Ayah senyum-senyummemandangnya.
“…, tetapi gizi Parki, bagaimana? Aduh …!” Ibu menutup wajahnya dengan
telapak tangan.
“Tenang, Ibu. Toh sesekali ia masih boleh makan telur,” kata Ayah sambil
merangkul bahu Ibu.
“Masalah selesai,” kata Ayah. “Ayo, pulang!”
Ayah menggamit tangan Ibu dan Parki, lalu bersiul-siul. Di sampingnya,
Parki melompat gembira.
(Dikutip utuh dari Maya Lestari dalam SophieBook
2020, Yogyakarta)
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
(LKPD 2)
Ananda sudah mempelajari unsur-unsur yang ada dalam sebuah cerita.
Ananda juga sudah mempelajari cara menemukan unsur tersebut. Sekarang, jawablah
pertanyaan berikut!
1. Apa tema ceritanya?
2. Tuliskan semua tokoh
yang terlibat dalam
cerita tersebut!?
3. Di mana latar ceritanya?
a. Latar tempat
b. Latar waktu
c. Latar suasana
4. Apa jenis alurnya?
5. Apa amanat yang terdapat dalam cerita tersebut?
JAWABAN :
C. MELAKUKAN PENILAIAN TERHADAP
KARYA SASTRA
Biasanya seorang pembaca akan melakukan penilaian terhadap cerita yang
baru saja ia baca. Jika ia menyukai
sebuah cerita, ia akan mengatakan cerita tersebut bagus dan menjelaskan
alasannya. Ananda pun dapat melakukan penilaian
sendiri terhadap sebuah cerita. Hal yang perlu ananda lakukan adalah mengamati unsur-unsurnya. Hal yang diamati
adalah kelengkapan informasi dan cara penulis menampilkan
informasi tersebut. Informasi yang lengkap membuat ananda dapat membayangkan sebuah cerita dengan baik.
Cara penulisan yang bagus akan membuat cerita enak dibaca. Informasi- informasi
tersebut dapat diketahui melalui unsur-unsurnya.
1.
Tema
Apakah ananda dapat memahami maksud penulisnya dengan jelas? Gunakanlah
langkah-langkah mengenali tema yang sudah kalian pelajari sebelumnya untuk
mengetahui jawabannya.
2.
Tokoh Cerita
Cerita yang baik adalah
cerita yang tokoh-tokohnya
dipahami pembaca. Makin jelas penggambaran tokohnya,
makin kenal pembaca
dengannya. Ananda dapat
menikmati cerita dengan baik bila ananda paham seperti apa tokohnya. Ananda
dapat menilai seorang penulis sudah menggambarkan tokoh ceritanya dengan baik atau belum melalui data diri, latar belakang, dan sifat-sifat tokoh.
a. Data diri
Cermatilah cerita yang ananda baca. Apakah nama, jenis kelamin,
dan usia tokoh disebutkan dalam cerita? Sebuah cerita pendek kadang- kadang hanya memuat tiga informasi ini
saja, sementara sebuah novel dapat memuat informasi yang lebih banyak, seperti
tanggal dan tahun kelahiran, nama-nama anggota keluarga, dan makanan favorit.
b. Latar belakang
Latar belakang adalah alasan tokoh melakukan sebuah tindakan. Kalian
dapat menyebut latar belakang ini sebagai motif. Untuk menilai sebuahtindakan
karakter, kalian harus mencermati alasan yang diberikan
penulis pada tokoh untuk bertindak.
c. Sifat tokoh
Sifat tokoh tecermin melalui kata-kata dan tindakannya. Cermatilah cara
tokoh menghadapi sesuatu. Amatilah kata-kata dalam kalimat dialognya. Kalian
dapat menyimpulkan sifatnya dari hal-hal tersebut.
Penokohan Cerita “Kotak
Sulap Paman Tom”
|
Gambaran Tokoh |
Detail |
Ditemukan di |
|
Identitas diri |
Nama: Randu Jenis kelamin : laki-laki |
Paragraf ke-1, ke-2, dan ke-3 |
|
|
Usia: kelas tiga SD, perkiraan usia antara 9—10 tahun |
|
|
Latar belakang/
alasan bertindak |
Tindakan: Randu membongkar rahasia sulap Paman Tom. Alasan: Randu kecewa
karena kotak sulap Paman Tom ternyata
bukan benda ajaib. |
Paragraf ke-5 |
|
Sifat atau karakter tokoh |
Mementingkan diri sendiri dan
emosional. |
Sifat mementingkan diri sendiri tampak dari tindakannya membongkar
rahasia sulap Paman Tom. Sifat emosional
tampak saat Randu melihat Paman Tom bermain sulap di jalan dan ia meneteskan air mata
karena merasa menyesal. |
3.
Latar
Unsur cerita fiksi berikutnya yang perlu ananda lihat saat menilai sebuah karya fiksi adalah latar cerita.
Latar cerita meliputi latar tempat, suasana dan latar waktu kejadian. Ketika ananda membaca
sebuah cerita fiksi,
cermatilah penjelasan latarnya: disampaikan secara jelas atau tidak. Cerita yang tidak jelas latarnya akan menimbulkan
kebingungan karena pembaca tidak tahu waktu, suasana dan tempat terjadinya
cerita tersebut. Kadang-kadang seorang penulis
menjelaskan latar melalui pendekatan pancaindra. Maksudnya, latar dijelaskan
sedemikian rupa sehingga pembaca dapat membayangkan dan merasakan bentuknya,
mendengar suara, dan mencium aromanya.
4.
Alur
Ananda sudah mempelajari bahwa alur berisi rangkaian kejadian yang
dihadapi tokoh cerita dari awal sampai akhir. Alur dapat dikenali dengan
melihat bagian perkenalan, konflik, dan penyelesaian cerita. Ketika menilai
sebuah karya, perhatikanlah jenis alur yang dipakai.
Perhatikan pula rangkaian peristiwanya. Apakah rangkaian peristiwa
yangdirancang penulis menunjukkan adanya perubahan pada tokoh cerita?
5.
Amanat
Ananda sudah mempelajari bahwa amanat
adalah pesan yang terkandung dalam sebuah cerita. Ketika menilai sebuah cerita
pahamilah amanat apa yang disampaikan oleh penulis dalam cerita tersebut.
Temukanlah apa pesan yang bisa kita ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari
dari sebuah cerita tersebut.
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
(LKPD 3)
Ananda sudah mempelajari unsur-unsur yang ada dalam sebuah cerita.
Ananda juga sudah mempelajari cara menemukan unsur tersebut. Sekarang, duduklah
berkelompok. Bacalah cerita “Parki dan Alergi Telur” secara mandiri, kemudian
diskusikan hal-hal berikut dengan teman satu kelompok.
1. Apa tema ceritanya?
|
Pengarang |
|
: |
|
Alasannya |
|
: |
2.
Siapa tokohnya?
|
Nama Tokoh |
Gambaran tokoh |
Detail |
Bisa Ditemukan di |
|
|
Identitas diri |
|
|
|
Latar belakang/ alasan bertindak |
|
|
|
|
Sifat atau karaktertokoh |
|
|
|
|
|
Identitas diri |
|
|
|
Latar belakang/ alasan bertindak |
|
|
|
|
Sifat atau karaktertokoh |
|
|
|
|
|
Identitas diri |
|
|
|
Latar belakang/ alasan bertindak |
|
|
|
|
Sifat atau karaktertokoh |
|
|
3.
Di mana latar ceritanya?
|
Pengarang |
|
: |
|
Alasannya |
|
: |
4.
Apa jenis alurnya?
|
Pengarang |
|
: |
|
Alasannya |
|
: |
5.
Apa amanat yang terdapat
dalam cerita tersebut?
|
Pengarang |
|
: |
|
Alasannya |
|
: |
D. MEMBANDINGKAN KATA KONOTASI DAN DENOTASI
DALAM KARYA FIKSI
Kata
konotosi adalah kata yang tidak bermakna sebenarnya (kiasan). Kata denotasi adalah kata yang sebenarnya (bukan makna kiasan).
Dalam sebuah cerita, ananda akan menemukan banyak kata. Seorang penulis
biasanya menggunakan kata-kata dengan makna konotasi
agar kalimat-kalimat dalam
cerita yang ditulisnya menjadi lebih menarik.
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD 4)
Perhatikanlah
kata-kata pada kalimat-kalimat dalam tabel berikut! Tentukanlah
kata denotasi dan konotasi dari kalimat di bawah ini!
|
Kalimat |
Denotasi |
Konotasi |
|
Mukhlis hidup
sebatang kara. |
|
|
|
Rumah Paijo
hangus dilalap si jago
merah. |
|
|
|
Benny orang yang pandai bersilat lidah. |
|
|
|
Jalanan sesunyi
kuburan pagi ini. |
|
|
|
Irfan merupakan keturunan darah biru. |
|
|
|
Annisa menjadi
buah bibir semenjak sukses mendirikan toko kue. |
|
|
|
Sekarang aku merasakan akibat keras kepala-ku sendiri. |
|
|
|
Dian bisa bekerja
di kantor tersebut karena ada
orang dalam. |
|
|
|
Ibu Parki memandang buah hatinya dengan cemas. |
|
|
|
Para pedagang tersebut gulung tikar. |
|
|
E.
MENGENALI LANGKAH-LANGKAH PENULISAN RESENSI
KARYA FIKSI
Jika ananda membaca koran, majalah, atau membuka sebuah web, ananda
kadang menemukan artikel resensi buku atau karya fiksi. Artikel seperti itu
umumnya berisi penilaian terhadap sebuah buku. Melalui
artikel tersebut, penulis
menyajikan keunggulan dan kelemahan buku. Penulis kadang membandingkannya
dengan buku lain. Tujuan penulisan artikel resensi ada bermacam-macam, tetapi
pada umumnya, resensi buku bertujuan untuk mengenalkan sebuah buku baru kepada
publik agar orang-orang tertarik membacanya.
Mari berlatih menulis
resensi buku tersebut. Ananda dapat mengikuti
langkah-langkah penulisan resensi melalui contoh berikut!
Langkah 1.
Lakukan penilaian unsur-unsur cerita di lembar
penilaian.Contoh:
Judul : Bawang Merah dan Bawang Putih
Penulis : Rifan
Diterbitkan oleh : Majalah
Sekolah Cerdas, SMP Kemerdekaan
Tokoh cerita dan sifatnya:
1. Bawang Putih mempunyai
sifat sabar, suka menolong, tidak suka mengeluh, dan tidak serakah.
2. Bawang Merah mempunyai
sifat tidak sabaran,
pemalas, dan tamak.
3. Ibu Tiri, tidak dijelaskan oleh penulis.
4. Nenek, nama dan sifatnya tidak dijelaskan oleh penulis.
Penilaian : penulis cukup berhasil
menggambarkan sifat Bawang Putih dan Bawang Merah.
Sifat mereka berdua tergambar melalui
tindakan-tindakan mereka.
Latar cerita : di sebuah rumah yang di pinggir sungai. Latar tempat
dijelaskan dengan cukup baik.
Tema : kesabaran dan
kejujuran membawa keberuntungan.Jalan cerita : Cerita mengisahkan kehidupan Bawang Putih yang tinggal bersama Ibu Tiri dan saudara tirinya,
Bawang Merah, yang sangat pemalas. Suatu pagi Bawang Putih pergi ke sungai
untuk mencuci
pakaian. Malang, arus sungai yang deras membuat beberapa pakaian hanyut,
termasuk pakaian Ibu Tiri. Bawang Putih kemudian mencari pakaian tersebut
hingga ke hilir.
Di sana ia bertemu dengan seorang nenek yang
sedang menjemur pakaian Ibu Tiri. Sebelum
meminta pakaian Ibu Tiri, Bawang
Putih membantu si Nenek
membersihkan rumahnya. Si Nenek sangat terkesan hingga ia memberikan dua labu
pada Bawang Putih. Namun, Bawang
Putih memilih satu labu saja, yaitu yang berukuran kecil. Begitu kembali ke
rumah, Bawang Putih membuka labunya, ternyata
di dalamnya banyak sekali perhiasan. Bawang Merah merasa iri melihat keberuntungan Bawang Putih. Ia
kemudianmeniru apa yang dilakukan Bawang Putih. Ia pergi ke rumah si
Nenek dan meminta labu pula. Ia
mengambil labu yang berukuran besar. Malang baginya, begitu labu dibelah, isinya
ternyata aneka hewan berbisa.
Penilaian :
penulis cukup berhasil
membuat alur cerita yang menarik.
Pendapat saya tentang cerita
ini : Cerita cukup bagus.
Penulisan menarik. Cerita ini
mengajarkan
tentang betapa penting sifat sabar dan tidak serakah dalam kehidupan.
Langkah 2.
Masukkan informasi di lembar penilaian tadi ke dalam artikel. Berikut ini contoh artikel yang ditulis berdasarkan informasi di
lembarpenilaian.
Ulasan Cerita “Bawang Merah dan Bawang Putih”
Bawang Merah dan Bawang Putih merupakan salah satu cerita rakyat
Indonesia yang sangat populer. Cerita ini ditulis ulang oleh Rifan di Majalah Sekolah Cerdas yang diterbitkan
SMP Kemerdekaan. Cerita ini memiliki
empat tokoh cerita, yaitu Bawang Putih, Bawang Merah, Ibu Tiri, dan Nenek.
Cerita ini mengambil tema kesabaran
dan kejujuran yang membawa
keberuntungan. Topik ceritanya
seputar kesabaran Bawang Putih menjalani kehidupan dan menghadapi nasibnya.
Kesabarannya ternyata membawa
keberuntungan.
Diceritakan Bawang Putih yang tinggal bersama Ibu Tiri dan saudara
tirinya, Bawang Merah memiliki sifat sangat pemalas.
Suatu pagi Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci
pakaian. Malang, arus sungai yang
deras membuat beberapa pakaian hanyut, termasuk pakaian Ibu Tiri. Bawang Putih
kemudian mencari pakaian
tersebut hingga ke hilir.
Di sana ia bertemu dengan seorang nenek yang sedang menjemur
pakaian Ibu Tiri. Sebelum meminta pakaian Ibu Tiri,Bawang Putih membantu si
Nenek membersihkan rumahnya. Si Nenek sangat terkesan sehingga ia memberikan
dua labu pada Bawang Putih. Namun, Bawang Putih hanya memilih satu labu saja, yaitu labu yang berukuran kecil. Begitu kembali
ke rumah, Bawang Putih membuka labunya,
Di dalamnya ternyata
banyak sekali perhiasan. Melihat
keberuntungan Bawang Putih, Bawang Merah menjadi iri. Ia pun kemudian ke rumah si nenek dan
meminta labu pula. Ia mengambil labu yang berukuran besar. Malang baginya,
begitu labu dibelah,
isinya ternyata
aneka hewan berbisa.
Menurut saya, cerita yang ditulis Rifan ini cukup menarik. Tokoh- tokohnya
digambarkan dengan jelas. Rangkaian peristiwanya juga menarik. Lebih dari itu, kita dapat mengambil pelajaran
bahwa kesabaran dan kejujuran
itu sangat penting. Dua sifat ini akan membawa
kebaikan pada diri kita.
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD 5)
Bacalah sebuah cerpen di bawah ini. Cermati
unsur-unsurnya. Berikanlah penilaian
ananda terhadap cerita tersebut di lembar penilaian
berikut ini.
Cerita Dongeng Pendek “Malin Kundang”
Pengarang
: Tika Ikanegara
Penerbit : Mulia Jaya
Surabaya
Alkisah, di pesisir pantai daerah Sumatera Barat,
hiduplah seorang ibu bersama anak kesayangannya yang bernama Malin. Sejak
suaminya meninggal, Ibu Malin harus berjuang
mati-matian untuk menghidupi Malin. Meskipun begitu, ia tetap merasa
bahagia karena Malin merupakan anak yang penyayang. Dia juga sangat manja.
Malin akan selalu menemani ibunya bekerja menjual ikan.
Semakin
hari, Malin semakin beranjak dewasa. Ia merasa sudah saatnya untuk menggantikan
ibunya bekerja. Namun, Malin memiliki keinginan lain ketika melihat banyak
teman sebayanya bisa kaya raya dalam waktu cepat setelah berjualan di kota.
“Mak, Malin ingin merantau ke kota seberang. Malin akan
menghasilkan banyak uang untuk Emak dari sana.” Ibu Malin sangat
terkejut mendengar keinginan putra kesayangannya itu. “Jangan, Malin. Tetaplah di sini
bersama Emak. Emak tidak ingin ada hal buruk yang menimpamu jika merantau ke
kota.” Malin berupaya meyakinkan ibunya bahwa ia akan baik- baik saja di kota.
Dengan hati yang gelisah, Ibu Malin melepaskan putranya yang hendak merantau.
“Hati-hati di sana ya, Nak. Jangan lupa untuk cepat pulang.” Ibu Malin memeluk
Malin dengan sangat erat. Dia melambaikan tangan di tepi Pantai Air Manis untuk mengantarkan
kepergian Malin. Beberapa lama kemudian, Malin tidak kunjung pulang ke rumah.
Bertahun- tahun, ibunya hanya hidup sendirian. Hingga pada suatu hari, Ibu
Malin mendapatkan kabar dari salah satu anak temannya yang juga merantau di
kota seberang.
“Malin sudah menikah dengan putri seorang bangsawan, Bu.
Dia tidak mungkin akan kembali ke sini,” jelas anak teman Ibu Malin yang baru
saja kembali dari kota seberang. “Tidak, Malin pasti akan kembali.” Dua bulan
kemudian, Istri Malin yang sedang hamil mengidamkan berlibur ke Pantai Air
Manis. Karena sangat menyayangi istrinya, Malin mengabulkan permintaan istrinya
itu. Di dalam perjalanan, Malin teringat dengan ibunya. Malin merasa malu jika
ia harus mengenalkan ibunya kepada istrinya. Saat kapal mereka sudah menepi di
pinggir pantai, Ibu Malin yang sedang berjualan ikan melihat anaknya dari
kejauhan. Ia sangat yakin itu adalah Malin. Sang ibu bergegas berlari dan
memeluk tubuh Malin. “Lepaskan! Siapa kau?” Ibu Malin terkejut ketika tubuhnya
didorong oleh Malin. “Malin, ini aku, ibumu.” “Ibu? Apa perempuan lusuh ini
ibumu? Kenapa kau berbohong, Malin? Kau bilang kau anak bangsawan sepertiku!” Istri Malin sangat marah menemukan
kebohongan Malin yang terungkap. “Tidak, dia bukan
ibuku!” Malin bersikeras tidak mengakui ibunya. Ia bahkan menarik tubuh
istrinya untuk meninggalkan pantai. Ibu Malin merasa sangat sedih sekaligus
marah. Iapun berdoa kepada Tuhan dan menyumpahi Malin agar dikutuk menjadi
batu.
Langit bergemuruh setelah doa itu terdengar. Malin menyesali perbuatan yang ia lakukan kepada ibunya. “Ibu maafkan
anakmu yang durhaka ini!” Teriakan Malin sia-sia karena tidak lama setelahnya,
kapal Malin terombang-ambing oleh ombak hingga karam dan terpecah.
Keesokan paginya, semua orang di Pantai Air Manis
terkejut menemukan banyak kepingan kapal yang berserakan. Namun, mereka lebih
terkejut saat menemukan batu berbentuk manusia tengah bersujud. Kutukan Ibu
Malin menjadi nyata. Ia menemukan anaknya yang ia kutuk menjadi batu. Ibu Malin
menangis dan menyesali ucapannya.
|
LEMBAR PENILAIAN CERITA |
|
|
JUDUL |
: |
|
PENULIS |
: |
|
DITERBITKAN OLEH |
: |
|
TOKOH CERITA |
SIFATNYA |
|
1. |
1. |
|
2. |
2. |
|
3. |
3. |
|
4. |
4. |
|
5. |
5. |
|
LATAR CERITA |
BUKTI KALIMAT DALAM
CERITA |
|
1. |
|
|
|
|
|
|
|
|
2. |
|
|
|
|
|
|
|
|
3. |
|
|
|
|
|
|
|
|
TEMA |
|
|
ALURCERITA |
|
|
|
|
|
Penilaian |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pendapat Saya
Tentang Cerita Ini |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
