Bahasa Indonesia Kelas 8 (Bab V - Menciptakan Puisi) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Rabu, 15 Januari 2025

Bahasa Indonesia Kelas 8 (Bab V - Menciptakan Puisi)

 Bab V Menciptakan Puisi


è Setelah mempelajari bab ini, kalian diharapkan dapat memahami puisi prismatis, unsur-unsur puisi, cara membuat puisi, dan cara mendeklamasikannya. Kalian juga akan mempelajari majas metafora, simile, dan repetisi yang ada dalam puisi.

 

A.    MENGENAL PUISI


Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas siang Ketika engkau datang dengan kantong belanjaanBermerek toko sepatu terkenal

 

Kau meminta maaf karena sudah datang terlambat Katamu kau punya urusan penting yang tidak bisa ditunda.Aku melihat merek di kantong belanjaanmu Dan tahu, bahwa membeli sepatu lebih penting dari pada akuAku duduk di kedai kopi ini sejak pukul sembilan Sejak semalam berpikir tentang kau dan aku

Aku teman sejak masa kecilmu Kau teman sepermainanku

Dulu kita sering bermain bersama Sepanjang hari mengerjakan apa saja Tapi sekarang semua berbeda

Kau mulai berubah

Lebih suka membicarakan hal-hal yang dulu tidak pernah ada

 

Seperti, seberapa mahal harga pakaianmu Seberapa mahal merek jam tanganmu Seberapa murah harga sandal jepitku

 

Aku tidak tahu,

Apakah aku masih sahabatmu Tapi yang jelas,

Di kedai kopi ini aku tahu,

Pertemuan kita tidak lebih penting dari sepatumu.

Puisi adalah teks atau karangan yang mengungkapkan perasaan atau pikiran yang mengutamakan keindahan kata-kata. Teks puisi dapat mengungkapkan perasaan apa saja, seperti rindu, bahagia, kagum, kecewa, dan lain sebagainya. Puisi salah satu bentuk karya sastra yang puitis, terdiri atas beberapa unsur yaitu :


1.      Larik adalah setiap baris atau kalimat (sajak) di dalam puisi

2.      Bait adalah suatu kesatuan puisi yang terdiri atas beberapa baris

3.      Rima dan irama. Rima adalah pengulangan bunyi yang sama, baik dalam puisi maupun pada bagian akhir, sedangkan irama adalah bunyi-bunyi yang berulang, teratur, dan variasi bunyi menimbulkan gerak yang hidup, seperti air mengalir.

Ananda dapat memahami apa yang dimaksud dengan bait, larik, rima, dan irama, dari keterangan tentang puisi “Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang” berikut.

Kau menunggu aku berbicara à Larik

Aku menunggu kau berkata-kata Kopiku menunggu segala hal yang sia-sia

Kau tahu,                                                                           Bait

Aku dan kopiku seperti waktu Bersabar menunggu apa pun berlalu

 

Bagian yang digarisbawahi mengandung rima. Dan kata menunggu merupakan irama, karena dalam sebuah puisi kata menunggu ditulis berulang kali.

 

4.      Pengimajinasian dalam puisi

Pengimajinasian adalah kata atau susuanan kata yang dapat menimbulkan khayalan. Pengimajinasian terbagi 3 yaitu:

a.       Imajinasi melalui pendengaran adalah pembaca seolah-olah bisa mendengar. Contohnya: gelakku rayu,bunyi halilintar,berdering.

b.      Imajinasi melalui penglihatan adalah pembaca seolah-olah melihat benda. Contohnya: jarum besi, senja samar.

c.       Imajinasi melalui perabaan adalah pembaca seolah-olah bisa meraba dan menyentuh benda-benda. Contoh: meneyejukkan badan, sepoi.

 

5.      Diksi

Diksi adalah pemilihan kata- kata yang digunakan penyair dalam puisi atau pemilihan kata-kata yang padat makna dan mengandung nilai estetika (keindahan). Biasanya diksi lebih ke kata-kata yang butuh pemahaman lebih dalam.

Contoh :   Pukul sebelas siang kamu datang

Senyum segan tersampir di wajahmu Kantong belanjaan tertenteng di tanganmu “Maaf aku terlambat,” ujarmu

Aku menatap kopiku yang sudah dingin sejak dua jam lalu “Tak apa,” jawabku

Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu


Kata tersampir dan tertenteng adalah sebuah diksi yang digunakan penyair yang mengandung nilai keindahan.

 

6.      Majas atau gaya bahasa

Majas atau gaya bahasa unsur penting pembangun puisi . Kekuatan dan ke dalaman makna puisi tergantung pada majas yang digunakan. Majas adalah bahasa indah yang digunakan untuk mempercantik susunan kalimat. Atau majas juga bisa diartikan kiasan sebagai cara melukiskan sesuatu dengan menyamakan dengan sesuatu lain yang bersifat sama.

 

Untuk lebih jelasnya tentang unsur puisi, mari baca puisi di bawah ini!

Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang

Karya Maya Lestari Gf.

Pukul sebelas siang kamu datang, Senyum segan tersampir di wajahmu

Kantong belanjaan tertenteng di tanganmu “Maaf aku terlambat,” ujarmu

Aku menatap kopiku yang sudah dingin sejak dua jam lalu“Tak apa,” jawabku

Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu

 

“Aku ada urusan penting,” ujarmu

Kau menaruh tas belanjaanmu sangat hati-hati, Seperti seorang ayah menaruh anaknya di ayunan Aku tahu isinya sepatu,

Mereknya tercetak di kantong belanjaanmu Dan kotak sepatunya tersembul malu-malu Aku memandang kopiku

Dua jam aku dan kopiku menunggu Tak apa,

Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu

Kau bertanya kenapa aku ingin bertemu Benakku melayang ke masa lalu

Kau dan aku sama-sama bahagia bermain sepanjang waktu Kau tak pernah bertanya kenapa aku memanggilmu

Aku pun tak pernah bertanya kenapa kau ingin bertemu Saat itu, kau tahu,

Hatiku serupa baling-baling Ikut ke mana pun kau pergi

Tapi kini baling-balingku mungkin sudah rusak Tak bisa berputar ke arah anginmu berkesiur Anginmu pun mungkin sudah berubah arah Aku tidak mengenali lagi

 

Kau menunggu aku berbicara Aku menunggu kau berkata-kata


Kopiku menunggu segala hal yang sia-sia Kau tahu,

Aku dan kopiku seperti waktu Bersabar menunggu apa pun berlalu

 

Unsur-Unsur Puisi “Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang”

Unsur-unsur

Puisi

Contoh dalam Puisi

“Kedai Kopi Pukul sebelas Siang”

Larik

Pukul sebelas siang kamu datang

Bait

Pukul sebelas siang kamu datang, Senyum segan tersampir di wajahmu

Kantong belanjaan tertenteng di tanganmu “Maaf aku terlambat,”

ujarmu

Aku menatap kopiku yang sudah dingin sejak dua jam lalu“Tak apa,” jawabku

Aku dan kopiku adalah karib, kami bersabar layaknya waktu

Rima          dan Irama

Rima

Kau menunggu aku berbicara Aku menunggu kau berkata-kata

Kopiku menunggu segala hal yang sia-sia Kau tahu,

Aku dan kopiku seperti waktu Bersabar menunggu apa pun berlalu

Irama

Kau menunggu aku berbicara Aku menunggu kau berkata-kata

Kopiku menunggu segala hal yang sia-sia Kau tahu,

Aku dan kopiku seperti waktu Bersabar menunggu apa pun berlalu

Pengimajinasi an dalam Puisi

1.      Majas pendengaran

Kau tak pernah bertanya kenapa aku memanggilmu (larik ke 21)

2.      Majas penglihatan

Aku tahu isinya sepatu, Mereknya tercetak di kantong belanjaanmu (larik 11)

3.      Majas perabaan

Tak bisa berputar ke arah anginmu berkesiur (larik ke 27)

Diksi

Tersembul, karib, berkesiur

Majas        atau

gaya bahasa

Kau    menunggu      aku    berbicara      Aku    menunggu  kau

berkata-kata Kopiku menunggu segala hal yangsia-sia


B.     MENDISKUSIKAN MAKNA KATA DALAM LARIK

Saat membaca sebuah puisi, mungkin ananda akan menemukan kata atau larik yang kurang ananda pahami maksudnya. Untuk dapat memahaminya, terkadang ananda harus membaca larik puisi itu berulang kali atau dibantu dengan mengecek kata dalam kamus. Cara lain untuk memahaminya adalah dengan mencari tahu kalimat tersebut merupakan kalimat perbandingan atau bukan.

Contoh :

Malaikat di Dunia Karya Elfi Yasni

Rambut yang dulu hitam kini sudah mulai memutih à Mulai menua

Badan yang dulunya tegap kini sudah mulai melemah à Kekuatan yang sudah berkurang Sedih, haru, bercampur rasa yang dirasakan à Perasaan sedih

Ketika melihat ayah dan ibuku à Melihat kedua orang tua

 

Dalam senyummu kau sembunyikan letihmu à Tetap tersenyum meskipun lelah

Derita siang dan malam menimpamu à Siang dan malam memikirkan kehidupan yang layak Tak sedikitpun menghentikan langkahmu à Tidak pernah putus asa

Untuk bisa memberi secercah harapan untukku à Untuk bisa memberikan kehidupan yang baik

untuk keluarganya

 

Seonggok cacian selalu menghampirimu à Sering menerima cacian

Secercah hinaan tak menghentikan langkahmu à Tidak putus asa walaupun menerima hinaan Selalu kau teruskan langkah untuk masa depanku à Selalu berjuang untuk masa depan keluarga Mencari harapan baru untuk anakmu à Berjuang demi cita-cita si anak tercapai

Ibu... ayah... kau laksana malaikatku di dunia à Orang tua adalah segalanya

 

C.   . C.MENEMUKAN PESAN DALAM PUISI

Puisi pada umumnya mengandung sebuah kisah. Para penyair mencari inspirasi kisah dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Ketika kisah itu dituliskan, seorang penyair biasanya memasukkan pikiran- pikirannya ke dalam puisi. Pikiran itulah yang disebut dengan pesan dalam puisi. Terkadang pesan-pesan itu disampaikan melalui sebuah majas. Untuk memahami maksud dan pesan-pesan seorang penyair yang ditulis dalam sebuah puisi, terlebih dahulu pembaca harus menafsirkan majas-majas yang ada dalam puisi tersebut.

Contoh     :    dari    pusi     “Malaikat      Di    Dunia”     pesannya adalah        kita    harus menghargai perjuangan orang tua.




D.    MEMBANDINGKAN PUISI DIAFAN DAN PUISI PRISMATIS

Puisi Diafan

Puisi Prismatis

Diafan berarti jernih atau bening. Jadi, puisi diafan berarti puisi yang isinya mudah dipahami. Puisi diafan

sering disebut puisi polos.

Prismatis mempunyai maknacukup sulit dipahami.

Kalimat-kalimatnya jelas dan umumnya merupakan

kalimat yang digunakan dalam

percakapan sehari-hari.

Kalimat-kalimatnya mengandungmajas dan perlu ditafsirkan agar dapat dipahami pesan-pesan yangada di dalamnya.

Contohnya puisi “Pada SebuahKedai Kopi”

Contohnya puisi “Kedai Kopi Pukul Sebelas Siang”

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 3)

Centanglah apabaila menurut ananda potongan puisi ersebut diafan atau prismatis!

Bait Puisi

Diafan

Prismatis

Sahabatku bernama Farid Orangnya jenaka

Suka melontarkan lelucon sepanjang waktu

 

 

Aku membeli topi Pedagangnya sudah tua

Setiap hari membawa berlusin-lusin topi dikeranjang

 

 

Setelah 10 tahun, aku melihatnya lagi

Tubuhnya seperti daun yang dimakan ulatKeropos oleh sakit Kopong oleh waktu

 

 

Ketika dia tersenyum

Aku bisa melihat warna-warni dunia, segala irama, juga tawa Berhamburan di sekitarnya

 

 

Sebelum tidur aku berdoa Semoga dalam mimpi

Kita bisa bersua

 

 

Hidupku berjalan seperti siputaku ingin berlari

Tapi yang kumampu hanya merangkak

 

 

Aku memiliki kelinci,

Hadiah ulang tahun dari ayahku

Kupasang pita di lehernya Sebagai tanda ia milikku

 

 

Kau bertanya tentang hidupku, Tahukah kau,

Hidupku seburam kaca jendela mobilmu

Pada suatu malam berhujan, dan tak ada apa pun yang bisa kau lihat dari baliknya,

Selain kerlap suram cahaya lampu toko.

 

 


E.     MEMBANDINGKAN   MAJAS    METAFORA,    SIMILE,    DAN    REOETISI DALAM PUISI

Majas diartikan sebagai kiasan atau cara melukiskan sesuatu dengan menyamakan dengan sesuatu yang lain yang bersifat sama. Majas menciptakan efek estetika dalam puisi. Terdapat banyak jenis majas, tetapi pada bagian ini kalian hanya akan mempelajari tiga majas, yaitu metafora, simile, dan repetisi.

1.     Metafora

Metafora diartikan sebagai pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Majas metafora menggunakan kata-kata yang bukan arti sebenarnya atau arti kiasan. Majas ini biasa digunakan untuk menunjukkan perbandingan yang tersirat atau tidak  langsung antara suatu benda dan benda atau antara orang dan benda.

Contoh:

tulang punggung                   >     penopang

buah hati                               >     anak

cendera mata                         >     oleh-oleh

bunga desa                            >     gadis cantik di desa sampah masyarakat                            >     orang yang tidak berguna

Selain contoh-contoh tersebut, metafora dalam pengertian yang lebih luas juga menggunakan kata-kata kiasan yang berkaitan dengan alam, seperti matahari, bulan, bintang, pelangi, hujan, benda-benda, dan keadaanlain yang mengandung estetika sebagai kiasan dalam puisi.

 

2.   Simile

Menurut Keraf (2007: 138), simile diartikan sebagai perbandingan yang bersifat eksplisit. Hal yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah perbandingan yang langsung (terus terang dan gamblang) menyatakan sesuatu sama dengan hal lainnya dengan menggunakan kata-kata pembanding: seperti,sama, sebagai, bagaikan, bak, laksana, dan umpama.

Contoh:

Bibirnya seperti delima merekah Matanya seperti bintang timur Seperti menating minyak penuh Bagai air di daun talas

Laksana bulan empat belas

3.   Repetisi

Masih dalam Keraf (2007: 127), repetisi diartikan sebagai majas berupa perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.


Contoh : (Penggalan bait puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah)

Satu kekasihku Aku manusia Rindu rasa Rindu rupa

 

F.     MENCIPTAKAN PUISI

Langkah-langkah membuat puisi sebagai berikut!

1.    Menciptakan Puisi dengan Metode Lima Langkah

Lima langkah menciptakan puisi adalah sebagai berikut.

a.   Temukan satu hal yang paling mengesankan. Contoh:

Kalian pernah ke sebuah desa dan kalian sangat

terkesan dengan desa tersebut.

b.   Ingat-ingat hal yang membuat kalian terkesan. Contoh:

Kalian terkesan dengan kolam-kolam ikan di halaman

rumah penduduk, hamparan sawah, bebek-bebek yang digiring di tengahsawah, dan suara lenguhan sapi.

c.   Ingat perasaan kalian saat itu. Contoh:

Saat itu kalian merasa takjub, gembira, dan nyaman. Tuliskan

danungkapkan perasaan kalian tersebut dalam puisi.

d.   Gunakanlah majas untuk mengungkapkan kesan kalian tersebut. Contoh:

Petak-petak sawah terhampar seperti

permadani alam.Bulir-bulir padi menguning seperti biji-biji emas mulia.

e.    Gunakan kata-kata yang berkaitan dengan pancaindra, misalnyapenglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa, supayapembaca bisa ikut membayangkan peristiwa yang kalian alami. Contoh:

1)      Sebelum matahari terbit, ayam berkokok menyambut pagi

2)      Fajar menyingsing dan burung-burung berkicau.

3)      Pagi yang cerah, bunga mekar dan harum semerbak memenuhitaman

Penjelasan:

1)     Kata ayam berkokok dan burung berkicau menggunakan indrapendengaran.

2)     Kata fajar menyingsing dan pagi yang cerah menggunakan indrapenglihatan.

3)     Kata harum semerbak menggunakan indra penciuman.

2.     Menciptakan Puisi dengan Inspirasi Tiga Kata

Bagi sebagian orang, memulai menulis puisi merupakan hal yang sulit. Kesulitan itu biasanya disebabkan oleh dua hal, yaitu :

a.    tidak punya ide dan

b.   punya ide, tetapi tidak tahu cara menuliskannya.

Ananda dapat memecahkan masalah tersebut melalui inspirasi tiga kata. Caranya adalah tentukan tiga buah kata, lalu buatlah kalimat-kalimat yang menghubungkan kata-kata tersebut. Supaya lebih jelas, perhatikan contoh berikut ini.


a.   Contoh a

Tiga kata: hujan, ranting, dan awan

Kalimat puisi yang dibuat dari tiga kata ini adalah sebagai berikut.

Masih tampak bekas hujan semalam

Daun-daun jatuh, ranting-ranting patah, rumput dan tanah basahAwan di langit masih kelabu, matahari masih sembunyi

Hatiku pun masih berawan

Seusai mendengar kabar duka darimu tadi malam

Kata-kata yang digarisbawahi merupakan kata-kata yang sudah ditentukan melalui inspirasi tiga kata sebelumnya. Adapun kata-kata dan larik lainnya adalah tambahan yang dibuat untuk melengkapi puisi tersebut.

 

b.   Contoh b

Tiga kata: kelinci, rumput, dan manja

Larik puisi yang dibuat dari tiga kata ini adalah sebagai berikut.Aku mendapat seekor kelinci sebagai hadiah ulang tahunku Namanya Boni, kesukaannya makan rumput di halaman

Dia suka sekali bermain di antara bunga-bunga

Bila aku datang menghampirinya, ia akan berlari kepadaku danbergelung manja di pangkuanku

c.    Contoh c

Tiga kata: teh, ibu, dan kursi

Larik-larik puisi yang dibuat dari tiga kata ini adalah sebagai berikut.

Ibu suka minum teh setiap pagi

Ia akan duduk di kursi kesayangannya

Yang diletakkan di teras belakang, tepat di depan jendela kamarkuIbu suka membaca buku sambil meminum tehnya

Aku suka memandang ibuku

saat ia diam-diam tersenyum membaca cerita-cerita favoritnya

 

 

Sekarang cobalah ananda pikirkan tiga kata, lalu berlatihlah membuat larik-larik puisi dari ketiga kata tersebut, minimal 8 larik atau dua bait!


G.    MENDEKLAMASIKAN PUISI

Para penyair bukan hanya membuat puisi, mereka juga mendeklamasikan atau membacakan syair-syairnya. Para pembaca puisi biasanya akan merenungkan terlebih dahulu puisi yang akan dibacakan. Setelah itu, mereka akan menentukan gestur dan intonasi yang paling cocok untuk digunakan. Gaya pembacaan puisi yang demikian disebut deklamasi. Deklamasi adalah penyajian sajak disertai dengan lagu dan gaya. Deklamasi bukan hanya membacakan biasa. Untuk menciptakan nuansa keindahan dalam pembacaan puisi, diperlukan teknik, gaya, dan intonasi suara yang baik. Cara membacakan puisi dengan mendeklamasikan ini sering dijadikan ajang perlombaan yang dinamakanlomba mendeklamasikan puisi.

Sebuah puisi juga mengandung pesan tertentu. Saat seseorang membacakan sebuah puisi, ia harus membacakan sebuah puisi dengan suatu cara yang membuat pendengar tersentuh dan mengerti pesan yang hendak disampaikan dalam puisi. Puisi sedih tidak mungkin dibacakan dengan nada riang gembira. Sebaliknya, puisi gembira tidak mungkin dibacakan dengan nada sedih. Pembacaan puisi harus disesuaikan denganpesan yang terkandung dalam puisi.

Langkah-Langkah Mendeklamasikan  Puisi

 

Langkah-Langkah Mendeklamasikan Puisi

 

Maksud

Terlebih dahulu, bacalah puisi secara berulang-ulang.

1.    Untuk memahami suasana yang ada dalam sebuah puisi tersebut, seorang pembaca puisi harus tahu jiwa puisi tersebut: mengandung kesedihan, kegembiraan, semangat perjuangan, atau hal lainnya. Nada suara harus disesuaikan dengan suasana puisi.

2.     Untuk memahami pesan yang ada dalam puisi, seorang pembaca puisi yang mengetahui pesan dalam puisinya bisa membacakan puisi dengan gerak dan nada suara yang

cocok dengan puisi itu.

Tandailah kata-kata sulit dan ucapkanlah kata-kata tersebut berulang kali.

Cara ini bertujuan untuk lebih lancar mengucapkan kata-kata sulit saat deklamasi.

Tandailah kalimat yang mengandung repetisi atau pengulangan.

Cara ini bertujuan untuk dapat memberi penekanan suara saat mengucapkan kata-kata yang mengandung repetisi.

Penyair membuatrepetisi untuk menegaskan sesuatu.

Nyatakan itu dalam nada suara kalian.


Hal yang harus diperhatikan dalam mendeklamasikan atau membacakan puisi yaitu :

1.  Ekspresi, adalah mimik wajah dan gerak tubuh.

2.  Lafal, adalah pengucapan seseorang pada huruf ataupun kata harus jelas.

3.  Tekanan, adalah kuat lemahnya cara pengucapan kata atau kalimat.

4.  Intonasi, adalah naik turunnya lagu kalimat.

Setelah memahami materi ini silahkan ananda mendeklamasikan puisi yang telah ananda buat pada pertemuan sebelumnya!



Program