Benarkah Perempuan Minang Membeli Laki-Laki? Fakta Unik di Balik Budaya Bajapuik - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Rabu, 08 Januari 2025

Benarkah Perempuan Minang Membeli Laki-Laki? Fakta Unik di Balik Budaya Bajapuik

 


Ketika mendengar tentang budaya Bajapuik dari Pariaman, tak sedikit orang luar yang salah kaprah dan menganggap bahwa tradisi ini adalah bentuk “perempuan Minang membeli laki-laki”.
Padahal, Bajapuik jauh lebih kompleks dan bermakna daripada sekadar transaksi material.
Tradisi ini sarat akan nilai kehormatan, penghargaan, dan penguatan hubungan kekeluargaan yang unik dari masyarakat Pariaman.
Mari kita telusuri lebih dalam, apa sebenarnya makna Bajapuik dan mengapa tradisi ini hanya ditemukan di satu wilayah khusus dalam budaya Minangkabau!
Budaya Bajapuik di Pariaman: Sebuah Kearifan Lokal
Bajapuik, sebuah tradisi unik dari Pariaman, Sumatera Barat, merupakan simbol kehormatan dan kesuburan dalam pernikahan. Nama "Bajapuik" berasal dari bahasa Minangkabau, "japuik," yang berarti "menaburkan" atau "menebarkan." Tradisi ini telah ada sejak abad ke-16 dan merupakan warisan budaya Kerajaan Pariaman.
*Kekhasan Budaya dan Fungsi*
Kekhasan budaya bajapuik ini terletak pada penaburan uang tunai kepada pengantin perempuan sebagai simbol kehormatan, kesuburan, dan kemakmuran.
Fungsi Bajapuik meliputi pengakuan hak milik istri atas harta suami, penguatan ikatan keluarga, dan perwakilan kemampuan ekonomi keluarga.
*Proses dan Langkah-Langkah*
Proses Bajapuik dimulai dengan persiapan keluarga pengantin laki-laki menentukan jumlah uang Bajapuik.
Kemudian, uang tersebut dibawa dalam bentuk keranjang atau tas dan dibacakan doa oleh penghulu atau pemimpin adat. Setelah itu, uang ditaburkan ke arah pengantin perempuan sebagai simbol kehormatan dan kesucian. Pengantin perempuan kemudian menerima uang tersebut sebagai simbol penerimaan hak milik.
Ritual penaburan uang dalam tradisi Bajapuik Pariaman memang unik. Pada dasarnya, penaburan uang dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki kepada pengantin perempuan sebagai simbol penghormatan, kesuburan dan kemakmuran.
Namun, ada variasi pelaksanaan Bajapuik yang melibatkan penaburan uang oleh pihak keluarga perempuan kepada pengantin perempuan juga, yang dikenal sebagai "Bajapuik Basiba" atau "Bajapuik Balasin". Ini merupakan bentuk penghormatan dan kasih sayang dari keluarga perempuan kepada anaknya.
Jadi, ada dua bentuk penaburan uang dalam Bajapuik:
*Penaburan Uang oleh Pihak Laki-Laki*
1. Simbol penghormatan dan kesuburan.
2. Pengakuan hak milik istri atas harta suami.
3. Penguatan ikatan keluarga.
*Penaburan Uang oleh Pihak Perempuan (Bajapuik Basiba/Balasin)*
1. Penghormatan dan kasih sayang dari keluarga perempuan.
2. Simbol kebahagiaan dan kesucian.
3. Penguatan ikatan keluarga.
Keduanya memiliki makna yang mendalam dan merupakan bagian integral dari tradisi Bajapuik.
Kenapa budaya Bajapuik Hanya Ada di Pariaman?
Budaya Bajapuik hanya ada di Pariaman karena memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan nilai-nilai sosial yang khas dari masyarakat Pariaman.
Keharmonisan sosial dan nilai kekeluargaan yang tinggi menjadi dasar utama kenapa tradisi ini tetap hidup dan berkembang di daerah ini. Keunikan Bajapuik terletak pada peran keluarga wanita dalam memberikan uang kepada keluarga pria, yang berbeda dengan adat Minangkabau yang lebih umum.
Hal ini juga dapat dipahami dalam konteks bagaimana masyarakat Pariaman sangat menjaga hubungan antar keluarga. Tradisi ini lebih dari sekadar transaksi ekonomi, tetapi lebih merupakan simbol dari komitmen dan kepercayaan yang harus dipertahankan dalam keluarga besar
*Besaran Uang Bajapuik*
Besaran uang Bajapuik bervariasi tergantung pada kemampuan ekonomi keluarga dan status sosial, bisa jutaan atau ratusan juta
Dampak Jika Tidak Melakukan Budaya Bajapuik
Jika tradisi Bajapuik tidak dilaksanakan, bisa timbul ketegangan antar keluarga karena hilangnya simbol komitmen dalam pernikahan.
Hal ini bisa menurunkan rasa saling menghormati antara dua keluarga besar yang terlibat dalam pernikahan tersebut.
Tanpa adanya Bajapuik, hubungan sosial antara kedua keluarga bisa terganggu, dan pernikahan bisa kehilangan makna simbolis yang selama ini menjadi inti dari tradisi tersebut.
Perubahan dalam Perspektif Generasi Muda dan Penyesuaian dengan Konteks Modern
Generasi muda Pariaman semakin terbuka terhadap perubahan dan adaptasi budaya Bajapuik sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka kini lebih fleksibel dalam melihat jumlah uang atau bentuk bantuan yang diberikan dalam prosesi ini, tetapi tetap menjaga nilai-nilai simbolis dan makna sosial dari tradisi tersebut.
Di sisi lain, ada juga yang mulai mempertanyakan relevansi aspek finansial dalam budaya ini, dan lebih memilih untuk mengutamakan simbolisme dan penghormatan antar keluarga.
Kritik dan Kontroversi terhadap Bajapuik
Budaya Bajapuik tak lepas dari kritik dan kontroversi. Beberapa pihak menganggap bahwa tradisi ini bisa memperburuk ketimpangan sosial terutama di kalangan keluarga yang tidak mampu.
Besaran uang yang diminta bisa menjadi beban bagi keluarga wanita, yang mungkin tidak mampu memenuhinya.
Namun, meskipun ada kritik tersebut, sebagian besar masyarakat Pariaman tetap memandang Bajapuik sebagai tradisi yang penuh makna simbolis dan sangat penting dalam kehidupan sosial mereka
Sumber:
- "Bajapuik: Tradisi Unik Pernikahan di Pariaman" (Kompas, 2020)
- "Mengenal Bajapuik, Tradisi Pernikahan Khas Pariaman" (Detik, 2022)
- "Bajapuik: Simbol Kehormatan dan Kesuburan" (Jurnal Antropologi, 2019)

Program