Mozaik 1 Laki-Laki Zenit dan Nadir - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Rabu, 08 Januari 2025

Mozaik 1 Laki-Laki Zenit dan Nadir

Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gerbong—ini pendapat Einstein—maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.

Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacam itu bak mutiara dan mutiara dalam hidupku adalah lelaki yang mengutuki hidupnya sendiri, namanya Weh. 

Kini lihatlah perbuatan Weh. Taikong Hamim, penggawa masjid, sampai mengacung-acungkan tombak mimbar pada khalayak yang silang sengketa. 

"Tahu apa kalian soal hukum agama! "Jangan mandikan mayatnya di masjid! Biar dia hangus di neraka berdaki-daki!" 

ooOO00Oooo

Langit, kemudi, dan layar, itulah samar ingatku tentang Weh. Tapi di sekolah lama Molten Bass Technisce School di Tanjong Pandan, aku pernah melihat fotonya. Tak bohong orang bilang bahwa dia bukan sembarang, karena Belanda hanya menerima pribumi yang paling cerdas di sekolah calon petinggi teknik kapal keruk timah itu.

Foto kuno itu sudah buram. Weh seorang pemuda yang gagah. la bergaya, berdiri con-dong menumpukan tubuh kekarnya di atas pemukul kasti. Namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya. Seringainya hambar, jauh, dan kesakitan. Weh mengawasi lekat siapa pun yang mendekati fotonya. Aku menatapnya, lama, lalu bisikan garau mendesis dari foto itu, "Engkau, laki-laki zenit dan nadir...." Bulu tengkukku meruap, seseorang seakan berdiri di belakangku, aku berbalik, sepi.

Mengapa Weh kesakitan? Semula ia baik-baik saja, bahkan tempatnya terhormat di kelas.Sampai penyakit nista merampok hidupnya. Ia kena burut. Burut terkutuk yang meniup skrotum dan kelakilakiannya, bengkak seperti balon sampai jalannya pengkor.Jampi dan ramuan tak mempan. la atau sanak leluhurnya pernah melangkahi Qur'an, kualat, tuduh orang kampung tanpa perasaan. Hidup Weh disita malu. Semangat pemuda penuh harapan itu tumbang. la keluar dari Technisce School, mengasingkan diri, meninggalkan tunangannya. Weh menjadi nelayan, tinggal di perahu. 

ooOO00Oooo

Aku masih kecil dan Weh sudah tua ketika kami bertemu. Weh adalah sahabat masa kecil ayah ibuku. Puluhan tahun ia telah hidup di perahu. Perkenalan kami terjadi gara-gara aku disuruh ayahku mengantar beras dan knur untuknya. Semula aku ragu mendekati perahunya. Laki-laki itu keluar dari lubang palka, tubuhnya aneh. Ia tampak miris bertemu manusia.

"Lemparkan!" hardiknya melihat benda-benda di tanganku. Aku terkejut. Enak saja, tidak adil. Ayahku membawa kebaikan untuknya dan ia sama sekali tak punya basa-basi. Dia bisa menakuti siapa saja, bukan aku. Weh meradang, aku bergeming. "Keras kepala! Mirip sekali ibumu!" Ia menibar pokok terunjam, merapatkan perahunya ke pangkalan. Aku melompat dan berdiri tertegun di buritan. Sampai aku pulang kami tak berkata-kata.

Esoknya, tak tahu apa yang menggerakkanku, aku kembali ke pangkalan. Weh juga pasti tak tahu mengapa ia kembali menibar pokok terunjam. la hilir mudik di depanku lalu menghunus sebilah terampang dari punggungnya sambil menunjuk gerinda di dekatku. 

Tanpa bicara, aku meraih terampang itu, memutar gerinda, dan mengasah lekak-lekuknya. Aku masih tak tahu mengapa setiap hari aku mengunjungi Weh. Yang kutahu, ketika melihat matanya yang bening dan kesakitan, hatiku ngilu, ketika melihat jalannya timpang karena burut mengisap air dalam tubuhnya, mengumpul di selangkang, kubuang pandanganku karena hatiku perih, dan ketika melihatnya tidur, memasrahkan tubuhnya yang dikhianati nasib pada senyap sungai payau, aku gelisah sepanjang malam.

Akhir bulan aku memecahkan tabungan pramukaku lalu bersepeda puluhan kilometer ke Manggar demi satu tujuan: membeli radio saku untuk Weh. "Irama Semenanjung Pak Cik, programa RPM Malaysia. Banyak pantun dan lagu cinta, pasti Pak Cik senang." Weh menerima radio itu, meletakkannya di atas rak, dan tak menyentuhnya selama seminggu. Dua minggu berikutnya aku harus ke Tanjong Pandan mengikuti ujian sekolah. Tak tahu mengapa, setiap hari di Tanjong Pandan, aku merindukan Weh. Kembali dari Tanjong Pandan aku bergegas ke pangkalan. Dekat perahu Weh kudengar sayup lagu sendu. Aku menyelinap pelanpelan. Weh tidur meringkuk sambil memeluk radio pemberianku. Tak pernah kulihat wajahnya sedamai itu. Programa RPM Malaysia mengalunkan "Kasih Tak Sampai", kemerosok, timbul tenggelam. Aku menggenggam kuat-kuat bungkusan beras di tanganku, hatiku mengembang.

ooOO00Oooo

Berminggu-minggu berikutnya aku bersusah payah membujuk ayahku agar diizinkan berlayar bersama Weh. "Tak ada orang yang bernyali ke Mentawai hanya dengan menaikkan layar. Kautahu, Bujangku? Weh menyelami teripang, empat puluh meter di dasar Lingga yang pekat, dengan tabung udara dadanya saja. Hanya dia yang masih be-rani ke Pulau Lanun. la tak peduli lagi dengan nyawanya." Ayah memilih kata dengan teliti. la tak ingin aku terinspirasi keberanian Weh yang gelap. Namun, semakin keras Ayah melarangku, semakin kuat inginku. Ketika Ayah menyerah, semalam suntuk tak dapat kupejamkan mataku.

Akhir pekan, pagi buta, kami bertolak ke tenggara. Weh mengambil jalur pintas penuh bahaya. Perahu ia layarkan melintasi lor-lor ganas Karimata. Di selat sempit itu, Laut Jawa dari utara dan Laut Cina Selatan beradu, terjebak dalam pusaran yang dahsyat. Aku melihat buih berlimpah-limpah. Perahu bergoyang halus tapi cepat serupa denting senar sitar, setiap benda gemeletar, paku-paku yang mengikat papan berderak bak gemelutuk gigi, seolah akan bingkas meledak. Perahu meluncur pelan dan waswas dalam intaian maut, laksana melintas titian serambut terbelah tujuh di atas neraka yang berkobar-kobar.

Terlepas dari daya isap pusaran air, Weh tersenyum melihatku yang pucat karena telah memuntahkan seluruh isi lambungku. Perahu terlontar memasuki perairan Kalimantan di wilayah Tanjung Sambar. Tengah malam, Weh menyalakan obor, merapal sebaris mantra, aku merinding melihat gerakan-gerakan halus di bawah air.

Ribuan kerisi dan cumi-cumi menyerbu perahu. Sampai habis tenagaku meraupnya. Mereka tersihir cahaya obor dan aku tertenung kehebatan Weh. Hari pertama bulan September, Weh mengajakku berburu ikan hiu gergaji. Kami menghadang kawanan besar, memotong jalur migrasi kafilahnya dari terumbu-terumbu Belonna yang dingin di Tasmania menuju Kuala Trenggano yang hangat. Semakin dekat, raksasa-raksasa kelabu itu ternyata jauh lebih besar dari yang selalu kubayangkan. Mereka adalah gajah di laut. Air bah bersimbah setiap kali mereka mengempaskan dadanya yang dilekati teritip. Aku gemetar mengokang tuas harpun dan membidik seekor hiu yang lebih panjang dari perahu kami. Kuinjak pegas tuas, tempuling yang ditambat seutas tali melesat dari larasnya, menikam punggung hiu dan penguasa laut itu menggelinjang berguling-guling seperti buaya mematahkan leher lembu. Simpul tempuling dalam genggamku tersentak, aku terlempar ke udara, melayang, lalu tertujam ke laut laksana peluru. Weh terjun menyelamatkanku. la meraih tali tempuling, aku menahannya. Aku tak rela melepaskan hiu besar itu.

Ini adalah perburuanku yang pertama, pertaruhan harga diri-ku. Aku terombang-ambing diseret hiu yang kalap. Weh mencabut sundang di pinggangnya, dengan satu gerakan tangkas, meski tertahan tekanan air. la menampas tali tempuling. Aku terlonjak ke permukaan, kehabisan napas.

"Keras kepala! "Keras kepala, seperti ibumu! "Kau bisa tewas tak berguna!" Weh menatapku tajam. Aku tahu ia membacaku. Kuangkat wajahku, tak kusembunyikan siapa diriku. Perburuan itu, pembuktian martabat itu, berakhir dengan kesimpulan bahwa aku pantas diajak Weh mengelana samudra. Ada gunanya tak kulepaskan hiu gergaji itu. Kami beranjak pulang. Di tengah perjalanan kembali, Weh menghampiriku. "Ikal, malam ini, engkaulah nakhoda," tantangnya. 

Aku terpana. Laut, hanya laut dan riak gelombang, delapan penjuru angin, sejauh pandang. Bagaimana aku akan membawa perahu kecil ini pulang? "Kalau salah arah, kita akan terdampar di Teluk Hauraki, Selandia Baru, mati kering seperti ikan asin."

Aku mereka-reka arah, tanpa kompas, tak dapat kubuat keputusan apa pun. Weh bersungut-sungut, menikmati saat berkuasa karena ilmunya. Ia diam sampai aku menyerah. Sejurus kemudian, ia menunjuk ke arah yang jauh, nun di sana, empat kerlip bintang trapesium perlahan menjelma di horizon.

"Rasi belantik.... “ "Itulah timur...." Aku kagum. Perlahan kuputar gagang kemudi. Sekarang barat daya jelas bagiku. Ke sanalah tujuanku. Sepanjang malam aku menatap belantik. Rasi itu bergerak pelan seakan meniti langit karena bumi berputar. Columbus telah lama tahu pengetahuan ini, maka ia berani bertaruh bumi ini bulat. Tengah malam, trapesium belantik terpancang tepat di atas kepalaku, kubelokkan perahu ke timur laut.

Weh berkisah. "Tahukah engkau, Ikal...? "Langit adalah kitab yang terbentang...." Perahu menyusur gugusan pulau. "Sejak masa Azoikum, ketika kehidupan belum muncul, langit telah mencatat semua kejadian di muka bumi...." Dedaunan trembesi yang merunduk memagari tepian delta, puKatyang centang-perenang, tonggak-tonggak tambak yang diabaikan, laut sepi pasang malam, dan kecipuk anak-anak buaya muara, tepekur menyimaknya. "Semburat awan-awan tipis itu ...."

Weh menuding langit utara. Berjuta serpih putih terapung-apung seperti telah dihalau tenaga dahsyat, punggung gemawan berkilau membias cahaya rembulan. "Adalah ekor puting beliung yang sepanjang hari ini menyapu Selat Gaspar...." Dramatis. "Awan-awan sisik di tenggara sana mengabarkan sebentar lagi telur-telur ikan belanak akan menetas ...." Aku terpesona.

"Angin ini, semilir angin ini! Ikal! Dapatkah kaurasakan?" Weh bersidekap, kedinginan. "Ini bukan Angin Selatan! Ini Angin Timur! "Artinya, kemarau akan panjang tahun ini." Weh bangkit. "Tampakkah olehmu lingkaran itu?" Weh menunjuk berjuta bintang, tak kasat olehku lingkaran itu karena tersembunyi di antara gemerlap miliaran benda langit. la menarik sebatang kayu bakar dan melukis langit. Bara kayu bakar melingkar merah. Aku mengikuti lukisannya.

Perlahan, seperti menyimak gambar tiga dimensi, sebentuk lingkaran merekah. la membagi lingkaran menjadi dua belas iris. Ajaib! Di setiap puncak jejarinya tampak bintang yang lebih gemerlap dari sekitarnya. Dipatrinya simbol-simbol aneh dalam setiap iris lingkarannya, ber ulang-ulang, sehingga dapat kugambar dalam kepalaku. 

Pada setiap simbol Weh bersabda, "Keseimbangan, perawan, Leo sang singa, matahari pertama musim panas, bintang kastor, musim menyemai benih ...." Mendebarkan! Langit adalah kitab yang terbentang, kata Weh. Laki-laki uzur ini memiliki indra keenam untuk membagi lapisan langit menjadi halaman-halaman ilmu.

Aku mengerti, itulah konstelasi zodiak! Pada iris kesepuluh ia berpaling padaku. "Anak Muda, dirimu, lelaki Oktober. Sambaran api Mars dan arus dingin Pluto akan menjebakmu ...." Napasku tercekat. "Engkau, laki-laki zenit dan nadir...."

Aku terkesiap. Malam itu, ingin kujadikan malam puisi-puisi Lucretius tentang jagat angkasa, galaksi andromeda, dan nebula-nebula triangulum. Tak 'kan kukejar Weh dengan pertanyaan-pertanyaan praktis untuk menerjemahkan kalimatnya yang bersayap-sayap. Malam itu terlalu agung untuk memohon petunjuk pedoman hidup yang oportunistik kepada seorang pembaca langit yang adiluhung.

Angin meniup layar, perahu menusuk kabut. Dini hari, tampak sayup setangkup wujud diselimuti halimun hanyut. Apakah pulau itu tujuanku? Tiga ekor elang gugok melesat diam-diam. Aku tahu, predator itu ingin menyerbu kawanan pipit yang baru bangun di sabana Genting Apit. Darah akan bersimbah di bilah-bilah ilalang. Aku yakin, daratan itulah tujuanku, Belitong. Aku berdiri di hidung haluan seperti Admiral Hook. Aku telah menjadi seorang navigator alam.

Weh-lah guru yang mengajariku mengeja bintang. Sulit kugambarkan perasaanku. Aku pulang dari tengah samudra dengan membaca langit. Weh telah membuatku, untuk pertama kalinya, merasa menjadi seorang laki-laki.

ooOO00Oooo

Berat sekali ketika harus kembali kutinggalkan Weh dua minggu untuk ujian sekolah ke Tanjong Pandan. Menghadapi kertas ujian, pikiranku tak dapat kualihkan dari rencana kami berlayar keMentawai untuk melihat penduduknya melukis tubuh dengan tinta daun. Pulangnya, kami akan memburu gurita.

Turun dari bus reyot, tak sempat aku pulang ke rumah, aku langsung ke pangkalan. Namun, kulihat perahu Weh limbung, layaknya bahtera tak bertuan. Penambatnya terseret lunglai. Lampu badai masih menyala. Layarnya bergulung. Di ujungnya terjuntai sepasang kaki yang pucat. Hatiku dingin. Aku melompat ke sungai, berenang menuju perahu. Tubuh Weh terbungkus lilitan layar, berayunayun. Laki-laki pembaca langit itu telah mati, mati meragan menggantung dirinya sendiri di tiang layar. Penyakit yang tak tertanggungkan telah merobohkan benteng terakhir semangatnya, benteng terakhir itu adalah aku.

Tubuhku menggigil waktu membuka jalinan tali rami yang menjerat lehernya. Kupeluk tubuh Weh, wajahnya yang tua, keras, dan biru terkulai di lenganku. Di sakunya masih mendesis lagu-lagu cinta orang Melayu dari programa radio RPM Malaysia. Aku berteriak-teriak, tapi suaraku surut diisap sunyi semenanjung, serak ditingkah riak ombak, lindap ditelan angin, terhalau ke Laut Cina Selatan.

Usungan digotong. Pemikulnya menggerutu. Seperti hidup mereka yang terbuang, kuburan para pembunuh diri itu pun dipisahkan, dikucilkan nun di sana, dekat rawa-rawa nifah, tempat gulma bergumpal-gumpal disarangi biawak. Aku diam terpancang seperti nisan-nisan kayu sekunyit yang didesaki ilalang. Orang Melayu bekerja keras sepanjang hidup, membanting tulang-belulang, berkeringat darah, berlumur cobaan berat, siapa yang menyerah tak dapat tempat di hati mereka. Hanya aku sendiri yang tersedan. 

Lututku lemas melihat Weh dicampakkan ke dalam lubang, diuruk sekenanya, ditancapi gagang pacul yang tadi patah waktu menggali liang lahatnya, lalu ditinggalkan begitu saja. Pesan terakhir Weh, zenit dan nadir, seperti akar ilalang yang menusuk-nusuk kakiku, menikam hatiku. Nanti, harus kujelajah separuh dunia, berkelana di atas tanah-tanah asing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rindu yang menyiksa, untuk memahami kalimah misterius itu. Di kuburan usang, di antara nisan para pendusta agama itu, aku sadar aku telah belajar mencintai hidupku dari orang yang membenci hidupnya, dan Weh adalah orang pertama yang mengajariku mengenali diriku sendiri.

ooOO00OOoo

Program