
TEPAT hari ini, 01 Januari 1667, 357 tahun yang lalu, perang besar pecah di Bungi di muka teluk Baubau, memperhadapkan armada besar lebih 20 ribu pasukan Makassar pimpinan Karaeng Bontomarannu melawan raja Bugis Arung Palakka yang disokong Buton dan Belanda.
Dalam catatan hariannya, Arung Palakka menulis: Kiattebbang Araja ri Bungi—Kami berperang besar-besaran di Bungi. ( Hady, 2021: 64)
Perang itu berlangsung lebih dua bulan lamanya dengan diakhirnya kekalahan Bontomarannu dan penawanan lebih 5000 pasukan Makassar, sampai bahkan Tiworo—tempat pasukan Makassar berbasis di utara Pangesana (Muna) dijatuhkan juga dengan Arung Mappili, pimpinan pasukan Makassar di wilayah itu diberitakan melarikan diri, Arung Palakka menulis: 6 Maret 1667 Na Lari Arung Mappili—Melarikan diri Arung Mappili, dan delapan hari setelah itu raja Tiworo mengucap janji kesetiaannya pada Arung Palakka dan Buton: najjanci Arung Tiworo—mengucap janji (kesetiaan) Arung Tiworo (Hady, 2021: 65)
Inilah mulanya kejatuhan Makassar di Buton, dan hanya tujuh bulan setelahnya, pada November 1667 palagan bergeser ke jantung Makassar.
Serangan pasukan Bugis yang dibantu lebih 4000 orang Buton di bawah La Arafani—Sapati Bhaaluwu masuk melalui Bantaeng terus merangsek mencapai Somba Opu tetapi tak dijatuhkan, dan pada tanggal 18 dalam bulan itu, Gowa mengakui kekalahannya dengan terpaksa meneken perjanjian Bungaya di Bungaya.
***
KARAENG Gowa Sultan Hasanuddin murka. Ia memanggil panglima angkatan lautnya: Karaeng Bontomarannu ke Istana dan memerintahkan penyiapan armada laut yang besar untuk misi invasi ke Buton.
Paling tidak ada dua sebab murkanya Karaeng Gowa itu kepada Buton yakni berkongsinya diam-diam antara Buton dengan VOC Belanda dan terutama perlindungan yang diberikan oleh sultan Buton La Simbata kepada rombongan bangsawan dan raja Bone buruan Gowa: Arung Palakka.
Tetapi selain dari dua sebab itu, Gowa memang menganggap Buton juga Muna--Pancana sebagai negeri Palili—bawahannya dan menempatkannya sebagai sangat strategis dalam kerangka pelayaran ke negeri muasal rempah di timur nusantara: Mamluk atau Maluku.
Karena letaknya yang sangat strategis itu, juga sekaitan dengan sumber daya tenaga manusianya yang potensial, terus menguasai, menggenggam dan menundukan Buton adalah sebuah keharusan. (Zuhdi, 2010:141).
Ketika kongsi kerja sama diam-diam Buton—VOC Belanda terdengar diketahui sampai ke Gowa, bukan main murkanya Karaeng Gowa Sultan Hasanuddin, apalagi ditambahi berita pula bahwa bangsawan Bone buruan mereka: Arung Palakka, ternyata berlindung disembunyikan di Buton.
Langkah melindungi Buton terhadap musuh paling dicari buruan Gowa itu dilihat oleh Gowa sebagai sikap lancang yang lancung dan pembangkangan negeri abdi terang-terangan yang ‘kurangajar’ pada negeri tuannya.
Dalam masa itu posisi Buton di mata Gowa sangat jelas, tegas bahwa Gowa adalah negeri atasan yang menjadi “Tuan” bagi Buton. Buton bagi Gowa adalah negeri "Palili"nya, Pulau terjauh tempat pembuangan para bangsawannya yang "nakal"
Maka murka dilampiaskanlah sejadi-jadinya, pasak angkara peperangan dikerek naik setingginya, dari bibir pantai Panakukkang hingga di ujung tanjung Barombong kapal-kapal yang sebagiannya didatangkan dari Bira berjenis Phinisi dengan lambung dipenuhi mesiu, senjata dan serdadu berderet siaga dilabuhkan sebagai tengah bersiap menerima perintah penyerangan ke Buton.
Gelagat yang sangat gawat itu dibaca oleh VOC Belanda sebagai tanda makin dekatnya perang besar terbuka di wilayah timur nusantara. Bangsa kulit putih Eropa ini bergegas sigap dan mengambil langkah aman mendahului.
Pada 29 Maret 1666—Sembilan bulan sebelum perang besar terbuka terjadi, mereka mengeluarkan “Resolutie” VOC untuk mengirimkan sejumlah amunisi, termasuk 20.000 ton dinamit dan perbekalan ke Ambon untuk mendukung perlawanan VOC dan sekutunya (Buton dan Ternate) terhadap orang Gowa Makassar (Stapel, 1922:94).
Misi pengiriman amunisi yang besar itu dimaksudkan sebagai gertakan agar Gowa surut dan menarik diri dari ambisinya terus mengganggu Buton dan Ternate, dua sekutu dekat VOC Belanda
Tapi Gowa tak tergertak, Hasanuddin tak gentar, memang benarlah ia bernyali besar dan kuat dalam berpendirian. Bagi Gowa sekali layar terkembang pantang kapal surut ke pantai, sekali niat terkerek pantang utasnya ditarik turun.
***
Pagi sekali, 26 Desember 1666, saat matahari baru menaik sejengkalan dari puncak gunung Lompobatang, pasak tiang agung kapal-kapal Gowa didirikan, mereka telah mengerek menaikan layar pula.
Tujuh ratus kapal dengan dua puluh ribu lebih prajurit bersiap untuk arakan berjalan dalam iringan serupa parade, menggaris lautan di selatan Makassar menuju arah naik matahari, di timur: pulau Buton.
Kota pantai Jumpandang berdesakan penuh sesak dengan orang-orang yang datang berbondong menyaksikan pelepasan pasukan Gowa itu. Ujung tanah batas di utara dan Panambungang batas di selatan. Sepanjang dari Ujung Tanah di utara itu sampai Panambungang di selatan tak ada sela, apalagi cela, karena begitu dempet rapatnya orang-orang yang menyaksikan.
Laki-laki dan perempuan semuanya merasa sedih sambil meneteskan air mata. Bagaikan bunyi lebah suara dengung tangis mereka, bagaikan hujan lebat gemuruhnya suara orang yang meraung. Semua-mua orang seperti berkoor dalam tangis, serentak meraung di pinggir pantai yang landai itu.
Belum benar terik matahari, mengembunglah kain layar kapal-kapal mereka oleh tiupan angin, mulai berjalan membelakangi pulau Lae-Lae, lewat di Tanjung Bunga dan melintasi Barombong, setelah Barombong dibelakangi, moncong haluan seluruh kapal mengarah ke Sampuluangan dan Soreang, terus menuju Sawakung, melintas di Borikcekla, menghadapi Tamassongok menuju Galessong melintas di Sanrobengi, lalu berganti-ganti dilewati: Tanrinnata, Popo, Kalulu Bodoa, Mangindarak, Pammandongang, Kantingan, Sanrobone, Takalar di Selat Tanakeke, Topejawa, Cikoang, Kassikbumbung, Punaga, Barugaya, Tamalakba, dan akhirnya mencapai Ujung Laikang.
Kapal-kapal layar yang lambungnya dipenuhi mesiu, senjata dan prajurit itu terus berlayar menuju muasal naik matahari di timur, tempat tanah pulau Buton disasar sebagai tujuan mereka.
Mereka melewati pesisir Lembang Cina, Pasorongi, Ujung Batu, Pallammassang, Danuang, Ujung Lemo-Lemo, Liukang Loe, sampai di Selat Ujung Bira disaat terbenam matahari.
Angin musim barat yang bertiup dari buritan melajukan kapal-kapal Phinisi mereka itu hingga membawa mereka mencapai perairan tanah pulau Buton dalam hanya tigaharmal—tigahari tigamalam.
Arakan kapal-kapal pasukan Gowa itu dipimpin oleh Laksamana Karaeng Bontomarannu bersama Datu Luwu bernama Sethiaraja Alimuddin dan mengikut pula beserta mereka sekutu setia paling loyal, Sultan Bima (Lightvoet, 1880:125) juga (Patunru, 1993:43)
Banyak orang tidak mengetahui dan bahkanpun sejarah abai mencatatnya bahwa serbuan Gowa ke Buton itu adalah sebuah epos perang dengan panggung paling megah dan kobar amarah paling dahsyat dengan kesertaan prajurit dan kapal terbesar paling canggih di masanya.
Perang hebat itu melibatkan banyak negara/kerajaan yang pada akhirnya hanya membawa Gowa tersuruk ke dalam kekalahan paling menyakitkan dan kerugian materi paling besar yang tidak dibayangkannya.
Lebih lima ribu dari sisa pasukan Gowa dalam perang itu ditekuk dan takluk, kemudian ditawan dan lalu diseret dengan paksa ke sebuah pulau kecil di muka teluk Baubau yang telah seperti gaol raksasa, kelak kemudian pulau itu dinamai pulau Makassar, atau oleh Belanda dinamai Makassar Kekrhoof—Kuburan orang Makassar.
Sepulang dari kekalahan perang di teluk Baubau pulau Buton itu, kekuatan pengaruh dan besar luas kekuasaan kesultanan Gowa ikut melempem ciut, meriut surut meremang pelan-pelan sebelum kemudian pada akhirnya padam.
Negeri-negeri “Palili”—Bawahan Gowa di luar tanah selatan Sulawesi sejak perjanjian Bungaya diteken telah lepas merdeka, bebas sepenuhnya dari pengaruh otoritas kesultanan Gowa.
Ini dilihat oleh Belanda sebagai tanda baik untuk memulai menguatkan cengkeraman dan mengeraskan tekanan atas Gowa. Benar saja, hanya tiga tahun setelah kekalahan di teluk Baubau pulau Buton itu, benteng Somba Opu dan Panakukang di Makassar pun jatuh dan Gowa sepenuhnya telah dapat ditaklukkan.
Legalitas runtuh takluknya Gowa itu disahkan dalam apa yang kemudian dinamai sebagai perjanjian Bungaya. Sultan Hasanuddin takluk, ia berjalan turun menemui kejatuhannya disaat yang sama ketika Arung Palakka dengan sokongan Belanda, Ternate, dan Buton meniti jalan menaiki puncak kekuasaan.
Arung Palakka, Raja Bugis itu kemudian menjadi penguasa tunggal satu-satunya dengan pengaruh yang luas, wibawanya yang besar telah dapat menyatukan seluruh kerajaan di selatan Sulawesi, tunduk dalam otoritasnya.
Sejak itu, Arung Palakka telah menjadi penguasa atasan paling disegani di seluruh semenanjung selatan dan bahkan tenggara sulawesi.
La Yusrie
Budayawan Buton | Pendiri The La Saila Institute