Bab 5: Pertemuan di Pantai
Amy duduk di atas tikar di bawah pohon kelapa, bersama teman-temannya, menikmati waktu luang setelah serangkaian kegiatan di kampus. Ia sedang berbicara dengan Dina tentang berbagai hal seputar perkuliahan, ketika tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pria yang berjalan di sepanjang pantai.
Dia tidak bisa menjelaskan mengapa, tetapi sesuatu dalam diri Amy membuatnya menatap lebih lama. Pria itu tampak berbeda—tampak asing, tapi ada sesuatu yang menarik dari caranya berjalan, seolah-olah dia sudah mengenal pantai ini sejak lama. Rambutnya hitam legam, tubuhnya tinggi dan tegap, dengan penampilan yang sederhana namun tegas. Sesekali dia melirik ke arah Amy, namun hanya sebentar.
Amy menarik napas, berusaha menepis perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja. “Apa ini? Hanya karena dia tampak berbeda? Pasti bukan," pikirnya, berusaha membuang jauh rasa tak biasa yang mulai merayapi hatinya.
Namun, ketika pria itu semakin dekat dan berpapasan, matanya bertemu dengan mata Amy, dan seketika itu pula ada gelombang perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan yang kuat—antara penasaran dan sesuatu yang lebih.
Pria itu tersenyum ringan saat mereka berpapasan, dan Amy secara otomatis tersenyum kembali.
Namun, dalam hatinya ada rasa canggung yang mendalam. "Siapa dia?" Amy bertanya-tanya dalam hati, sambil mencoba mengalihkan perhatian kepada Dina, yang tampaknya tak menyadari kejadian itu.
Beberapa saat setelah pertemuan itu, pria itu berhenti sejenak dan memandang ke arah Amy, seakan merasakan sesuatu yang sama.
Dia mendekat dengan langkah tenang, memperkenalkan diri dengan ramah. "Hai, aku Ona," katanya, dengan suara yang lembut namun penuh ketegasan.
Amy sedikit terkejut, namun mencoba tetap bersikap santai.
"Amy," jawabnya, sambil menjabat tangan Ona, yang terasa hangat.
"Anak baru di Universitas Andalas, ya?" tebak Ona, melihat buku yang dipegang Amy sambil tersenyum. "Kamu di jurusan apa?"
"Fakultas Kedokteran," jawab Amy, masih dengan senyum tipis di wajahnya.
Ona mengangguk dan tertawa pelan. "Bagus sekali. Saya di Universitas Bung Hatta, jurusan Teknik Sipil, semester empat. Sekarang kerja sambil kuliah di toko di Kampung Cina."
"Ooh kamu kerja Kampung Cina, Pondok ya. Wih, berarti kamu udah lama di Padang ya?" Amy bertanya, mulai merasa nyaman berbicara dengannya.
"Iya, sekitar dua tahun. Cukup lama, sih. Tapi lebih banyak waktunya untuk bekerja, jadi ya gitu deh," jawab Ona, dengan nada yang rendah hati. "Tapi senang bisa bertemu orang-orang baru."
Mereka mengobrol sejenak tentang kehidupan di Padang, dan meskipun pembicaraan mereka sederhana, Amy merasa ada ikatan yang kuat, seolah-olah percakapan itu sudah berlangsung lama.
Namun, tiba-tiba Amy ingat kedua orang tuanya, wajah mereka langsung terbayang di benaknya.
Tiba-tiba, kata-kata peringatan dari ibunya terngiang di telinganya. "Hati-hati dengan orang-orang yang kamu temui di sini, terutama dengan laki-laki. Orang tua kita di sini sangat menjunjung adat, dan mereka tidak akan senang kalau kamu bergaul dengan orang Nias," pesan ibunya kembali berputar dalam pikirannya.
Amy merasakan sedikit ketegangan. Meskipun ia merasa nyaman dan tertarik dengan Ona, ia teringat lagi bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan, terutama perbedaan yang jelas antara mereka berdua. Sebagai anak yang dibesarkan dengan ajaran adat dan aturan ketat, peringatan orang tuanya membuatnya ragu. Ia tahu bahwa hubungan dengan seseorang yang bukan berasal dari suku Minang bisa membawa banyak masalah.
Apalagi, isu tentang orang Nias di kampungnya selalu menjadi topik yang sensitif. Ia tidak pernah benar-benar memahami apa yang dimaksud orang tuanya, tetapi ia sering mendengar cerita buruk yang beredar di sekitar kampung mengenai orang-orang dari Nias.
Ona, yang melihat perubahan ekspresi di wajah Amy, menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Eh, aku harus pergi dulu," kata Amy dengan cepat, merasa canggung.
"Senang bisa ngobrol."
Ona mengangguk dengan senyum, meskipun dia sedikit kecewa karena percakapan yang singkat. "Ya, semoga kita bisa bertemu lagi," ujarnya dengan tulus.
Amy hanya mengangguk pelan, dan dengan hati yang berat, ia kembali berjalan menuju teman-temannya, berusaha menyembunyikan kebingungannya. "Apa yang aku rasakan? Kenapa aku merasa seperti ini?" pikirnya, berusaha menenangkan diri.
Sesampainya di tempat duduk, Dina melihatnya dengan pandangan penasaran. "Eh, kenapa mukanya berubah?" tanya Dina, memperhatikan perubahan pada wajah Amy.
Amy tersenyum kecil. "Enggak apa-apa. Cuma... bertemu orang yang baru.
Dina hanya mengangguk, tanpa tahu bahwa ada sebuah perasaan baru yang mulai tumbuh dalam hati Amy, meskipun ia juga terbelenggu oleh peringatan orang tuanya yang selalu menghantui.
Namun, benarkah peringatan orang tuanya benar? Apakah pertemuan ini hanya kebetulan, ataukah ada lebih dari itu? Amy terperangkap dalam kebingungannya, antara apa yang ia rasakan dan apa yang ia tahu sebagai aturan yang harus diikuti. Akankah ia mampu menghadapi ketertarikan yang kuat ini, atau justru akan menghindar demi menjaga jarak dari segala hal yang bisa membawa masalah?
