"TERANGKANLAH, mak, terangkanlah kembali riwayat lama itu, sangat inginku hendak mendengarnya," ujar Zainuddin kepada mak Base, orang tua yang telah bertahun-tahun mengasuhnya itu.
Meskipun sudah berulang-ulang
dia menceriterakan hal yang lama-lama itu kepada Zainuddin, dia belum juga
puas. Tetapi kepuasannya kelihatan bilamana dia duduk menghadapi tempat sirihnya,
bercengkerama dengan Zainuddin menerangkan hal-ikhwal yang telah lama terjadi.Menerangkan
ceritera itulah rupanya kesukaan hatinya.
"Ketika itu engkau masih
amat kecil," katanya memulai hikayatnya, "engkau masih merangkak-rangkak
di lantai dan saya duduk di kalang hulu ibumu memasukkan obat ke dalam
mulutnya.
Nafasnya sesak turun naik,
dan hatinya rupanya sangat dukacita akan meninggalkan dunia yang fana ini.
Ayahmu menangkupkan kepalanya ke bantal dekat tempat tidur ibumu. Saya sendiri berurai
air mata, memikirkan bahwa engkau masih sangat kecil belum pantas menerima
cobaan yang seberat itu, umurmu baru 9 bulan. Tiba-tiba ibumu menggamitkan
tangannya kepadaku, aku pun mendekat. Kepalaku diraihnya dan dibisikkannya ke
telingaku - sebab suaranya telah lama hilang - berkata: "Mana Udin,
Base!"
"Ini dia, Daeng,"
ujarku, lalu engkau kuambil. Ah, Zainuddin! Engkau masih tertawa saja waktu itu,
tak engkau ketahui bahwa ibumu akan berangkat meninggalkan engkau buat
selamanya, engkau tertawa dan melonjak-lonjak dalam pangkuanku. Aku bawa engkau
ke mukanya. Maka dibarutnyalah seluruh badanmu [16] dengan tangannya yang
tinggal jangat pembalut tulang. Digamitnya pula ayahmu, ayahmu yang matanya
telah balut itu pun mendekat pula. Dia berbisik ke telinga ayahmu: "Jaga
Zainuddin, Daeng." "Jangan engkau bersusah hati menempuh maut,
adinda. Tenang dan sabarlah! Zainuddin adalah tanggunganku." "Asuh
dia baik-baik, Daeng, jadikan manusia yang berguna. Ah ... lanjutkan
pelajarannya ke negeri Datuk neneknya sendiri."
"Dua titik air mata yang
panas mengalir di pipi ibumu, engkau ditengoknya juga tenang-tenang. Setelah
air matanya diseka ayahmu, maka dia mengisyaratkan tangannya menyuruh membawa engkau
agar jauh dari padanya, agar tenang hatinya menghadapi sekaratil maut.
Tidak berapa saat kemudian,
ibumu pun hilanglah, kembali ke alam baqa, menemui Tuhannya, setelah
berbulan-bulan berjuang menghadapi maut, karena enggan meninggalkan dunia sebab
engkau masih kecil."
Air mata Zainuddin
menggelanggang mendengarkan hikayat itu, Mak Base meneruskan pula. "Bingung
sangat ayahmu sepeninggal ibumu. Mereka belum lama bergaul, baru kira-kira 4 tahun,
dan sangat berkasih-kasihan. Sekarang kudrat Allah merampas ibumu dari
tangannya. Hampir dia jadi gila memikirkan nasib yang menimpa dirinya. Kerap
kali dia termenung seorang, kerap dia pergi berziarah di waktu matahari hendak
turun ke kuburan ibumu di Kampung Jera.
Yang lebih menyedihkan hatiku
lagi, ialah bilamana air matanya titik dan engkau sedang dalam pangkuannya dia
mengeluh: 'Ah, Udin! Sekecil ini engkau sudah menanggung!' Karena mamakmu ini
sudah bertahun-tahun tinggal menjadi orang gajiannya, tetapi kemudian telah
dipandangnya saiudara kandung, telah berat hati mamak hendak meninggalkan rumah
ini. Mamak tidak hendak kembali iagi ke Bulukumba. Tidak sampai [17] hati mamak
meninggalkan ayahmu mengasuhmu. Takut terlambat dia pergi ke mana-mana mencari
sesuap pagi sesuap petang.
Beberapa bulan setelah ibumu
meninggal dunia, sudah mamak suruh dia kawin saja dengan perempuan lain, baik
orang Mengkasar atau orang dari lain negeri. Dia hanya menggeleng saja, dia
belum hendak kawin sebelum engkau besar, Udin. Pernah dia berkata: Separo dari
hatinya dibawa ibumu ke kuburan, dia tinggal di dunia ini dengan hati yang
separo lagi. Betapa dia takkan begitu, ia cinta kepada ibumu. Dia orang jauh,
orang Padang, lepas dari buangan karena membunuh orang. Hidup 12 tahun di dalam
penjara telah menyebabkan budinya kasar, tidak mengenal kasihan, tak pernah
kenal akan arti takut, walau kepada Tuhan sekalipun. Dia keluar dari penjara,
nenekmu Daeng Manippi menyambutnya, dan dikawinkan dengan ibumu.
Ibumulah yang telah
melunakkan kekerasan ayahmu, ibumulah yang telah mengajarnya menghadapkan muka
ke qiblat, meminta ampun kepada Tuhan atas segenap kesalahan dan dosanya.
Ah, Zainuddin ! .........
Ibumu, kalau engkau melihat wajah ibumu, engkau akan melihat seorang perempuan
yang lemah-lembut, yang di sudut matanya terletak pengharapan ayahmu. Dia adalah
raja, anak. Dia adalah bangsawan turunan tinggi, turunan Datuk ri Pandang dan
Datuk ri Tirro, yang mula-mula menanam dasar keislaman di Jumpandang *) ini.
Dan dia pun bangsawan budi, walaupun ibumu tak pernah bersekolah. Perkawinannya
dengan ayahmu tidak disetujui oleh segenap keluarga, sehingga nenekmu Daeng
Manippi dibenci orang, dan perkawinan ini memutuskan pertalian keluarga. *) Jum
pandang nama asli dari Mengkasar, laksana Sriwijaya bagi Palembang. Masih
terasa-rasa oleh mamak, ayahmu berkata: "Tertalu banyak korban yang engkau
tempuh lantaran dagang melarat ini, Habibah" [18] Jawab ibumu hanya
sedikit saja: "Adakah hal semacam ini patut disebut korban? Ada-ada raja Daeng
ini." Cuma itu jawaban ibumu, anak.
Demikianlah bertahun-tahun
lamanya. Mamak masih tetap tinggal dalam rumah ini mengasuhmu, dan ayahmu
berjalan ke mana-mana, kadang-kadang menjadi guru pencak Padang yang masyhur
itu, kadang-kadang berdukun, dan paling akhir dia suka sekali mengajarkan ilmu
agama. Pakaiannya berobah benar dari semasa dia keluar dari bui. Dia tak pernah
memakai destar lagi, melainkan memakai kupiah Padang yang amat disukainya, bersarung,
berpakaian cara "orang siak" di Padang katanya.
Benar apa yang dikatakannya,
bahwa hidupnya hanya dengan hati yang separo saja. Pernah juga dia menerima
surat dari Padang, dari keluarganya menyuruh pulang saja ke kampung. Karena dia
seorang beradab, gelar pusaka Datuk Mantari Labih tidak ada yang akan memakai. Di
Minangkabau orang merasa malu kalau dia belum beristeri orang kampungnya
sendiri.
Berbini di rantau orang
artinya hilang. Demi, setelah terdengar oleh mereka bahwa ibumu telah mati,
bertubi-tubi pula datang surat menyuruh pulang. Kepada mamak kerap kali diterangkannya,
bahwa hatinya rasa diiris dengan sembilu teragak pulang, seakan-akan kelihatan
olehnya pelabuhan Teluk Bayur, Gunung Merapi yang hijau kelihatan dari laut.
Tetapi hatinya tidak sampai hendak meninggalkan pusara ibumu, pusara gurunya,
katanya. Dia tidak pula mau hendak membawamu ke Padang, karena hati keluarga
belum dapat diketahui, entah suka menerima anak pisang orang Mengkasar, entah
tidak.
Karena kabarnya adat di sana
berlain sangat dengan adat di Mengkasar ini. Kerap kali dia menengadahkan
matanya ke langit sambil membuaikan engkau di waktu engkau kecil. Dibuaikannya
dengan lagu "Buai Anak" cara Serantih, yang meskipun mamak tak pandai
bahasa Padang, bulu roma mamak sendiri berdiri mendengarnya. [19] "Hanya
dua untuk mengobat-obat hati, Base," katanya kepada mamak. "Pertama
membaca Al-Qur-an tengah malam, kedua membuaikan si Udin dengan nyanyian negeri
sendiri, negeri Padang yang kucinta. Amat indah negeri Padang, Base,
pelabuhannya terliku bikinan Tuhan sendiri, di tengah-tengah tampak pulau
Pandan, hijau dilamun alun, yaitu di balik Pulau Angsa Dua. Itulah yang
dipantunkan nenek moyangku, dan bila menyebut pantun itu saya teringat kepada
Habibah:
Pulau Pandan jauh di tengah, di
balik pulau Angsa Dua.Hancur adik dikandung tanah, rupa adik terkenang jua.
Rupanya kudrat Ilahi tidak
mengizinkan ayahmu menunggumu sampai besar. Karena di waktu engkau sedang cepat
bermain, di waktu sedang enak mengecap nikmat kecintaan ayah dan kecintaan ibu,
terkumpul ke dirimu dari ayahmu seorang, ayahmu meninggal dunia. Meninggalnya
seakan-akan terbang ke langit saja, dengan tidak tersangka-sangka. Pada suatu malam,
petang Kamis malam Jum'at, sedang dia duduk di atas tikar sembahyangnya,
bertekun sebagai kebiasaannya, meminta taubat dari segenap dosa, dia meninggal.
Ketika itu engkau telah pandai menangis dan bersedih, engkau meratap
memanggil-manggil dia.
Rupanya beberapa bulan
sebelum mati sudah ada juga gerak dalam hatinya bahwa dia takkan lama hidup
lagi. Sehingga dia pemah berkata: "Kalau saya mati pula, bagaimana
Zainuddin, Base?" "Saya yang akan mengasuhnya, Daeng," jawabku. "Ya,
tapi harta peninggalanku agaknya tidak banyak, tentu Udin memberati
engkau." "Jangan bicara demikian, Daeng. Apa yang aku makan, itulah
yang akan dimakan Zainuddin."
Pada suatu hari, dipanggilnya mamak dan diserahkannya [20] serencengan anak kunci seraya berkata: "Mulai sekarang engkaulah yang berkuasa di sini, Base. Kunci ini engkau yang memegang. Kunci putih ini, ialah kunci almari. Sebuah peti kecil ada dalam almari itu. Peti itu tak boleh engkau buka, kecuali kalau saya mati." Petaruhnya itu mamak pegang baik-baik dan teguh. Setelah dia wafat barulah peti itu mamak buka, di sana ada sehelai surat kecil dengan tulisan huruf Arab: "Pengasuh Zainuddin sampai dia besar." Itulah bunyi tulisan itu. Di dekat surat tersebut ada segulung wang kertas dari Rp. 1000,-. Itulah yang mamak pergunakan untuk mengasuhmu, penyampaikan sekolahmu, sehingga sekarang engkau berkeadaan begini ......."
