Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck | 2. Anak Yatim - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Jumat, 31 Januari 2025

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck | 2. Anak Yatim

 


"TERANGKANLAH, mak, terangkanlah kembali riwayat lama itu, sangat inginku hendak mendengarnya," ujar Zainuddin kepada mak Base, orang tua yang telah bertahun-tahun mengasuhnya itu.

Meskipun sudah berulang-ulang dia menceriterakan hal yang lama-lama itu kepada Zainuddin, dia belum juga puas. Tetapi kepuasannya kelihatan bilamana dia duduk menghadapi tempat sirihnya, bercengkerama dengan Zainuddin menerangkan hal-ikhwal yang telah lama terjadi.Menerangkan ceritera itulah rupanya kesukaan hatinya.

"Ketika itu engkau masih amat kecil," katanya memulai hikayatnya, "engkau masih merangkak-rangkak di lantai dan saya duduk di kalang hulu ibumu memasukkan obat ke dalam mulutnya.

Nafasnya sesak turun naik, dan hatinya rupanya sangat dukacita akan meninggalkan dunia yang fana ini. Ayahmu menangkupkan kepalanya ke bantal dekat tempat tidur ibumu. Saya sendiri berurai air mata, memikirkan bahwa engkau masih sangat kecil belum pantas menerima cobaan yang seberat itu, umurmu baru 9 bulan. Tiba-tiba ibumu menggamitkan tangannya kepadaku, aku pun mendekat. Kepalaku diraihnya dan dibisikkannya ke telingaku - sebab suaranya telah lama hilang - berkata: "Mana Udin,

Base!"

"Ini dia, Daeng," ujarku, lalu engkau kuambil. Ah, Zainuddin! Engkau masih tertawa saja waktu itu, tak engkau ketahui bahwa ibumu akan berangkat meninggalkan engkau buat selamanya, engkau tertawa dan melonjak-lonjak dalam pangkuanku. Aku bawa engkau ke mukanya. Maka dibarutnyalah seluruh badanmu [16] dengan tangannya yang tinggal jangat pembalut tulang. Digamitnya pula ayahmu, ayahmu yang matanya telah balut itu pun mendekat pula. Dia berbisik ke telinga ayahmu: "Jaga Zainuddin, Daeng." "Jangan engkau bersusah hati menempuh maut, adinda. Tenang dan sabarlah! Zainuddin adalah tanggunganku." "Asuh dia baik-baik, Daeng, jadikan manusia yang berguna. Ah ... lanjutkan pelajarannya ke negeri Datuk neneknya sendiri."

"Dua titik air mata yang panas mengalir di pipi ibumu, engkau ditengoknya juga tenang-tenang. Setelah air matanya diseka ayahmu, maka dia mengisyaratkan tangannya menyuruh membawa engkau agar jauh dari padanya, agar tenang hatinya menghadapi sekaratil maut.

Tidak berapa saat kemudian, ibumu pun hilanglah, kembali ke alam baqa, menemui Tuhannya, setelah berbulan-bulan berjuang menghadapi maut, karena enggan meninggalkan dunia sebab engkau masih kecil."

Air mata Zainuddin menggelanggang mendengarkan hikayat itu, Mak Base meneruskan pula. "Bingung sangat ayahmu sepeninggal ibumu. Mereka belum lama bergaul, baru kira-kira 4 tahun, dan sangat berkasih-kasihan. Sekarang kudrat Allah merampas ibumu dari tangannya. Hampir dia jadi gila memikirkan nasib yang menimpa dirinya. Kerap kali dia termenung seorang, kerap dia pergi berziarah di waktu matahari hendak turun ke kuburan ibumu di Kampung Jera.

Yang lebih menyedihkan hatiku lagi, ialah bilamana air matanya titik dan engkau sedang dalam pangkuannya dia mengeluh: 'Ah, Udin! Sekecil ini engkau sudah menanggung!' Karena mamakmu ini sudah bertahun-tahun tinggal menjadi orang gajiannya, tetapi kemudian telah dipandangnya saiudara kandung, telah berat hati mamak hendak meninggalkan rumah ini. Mamak tidak hendak kembali iagi ke Bulukumba. Tidak sampai [17] hati mamak meninggalkan ayahmu mengasuhmu. Takut terlambat dia pergi ke mana-mana mencari sesuap pagi sesuap petang.

Beberapa bulan setelah ibumu meninggal dunia, sudah mamak suruh dia kawin saja dengan perempuan lain, baik orang Mengkasar atau orang dari lain negeri. Dia hanya menggeleng saja, dia belum hendak kawin sebelum engkau besar, Udin. Pernah dia berkata: Separo dari hatinya dibawa ibumu ke kuburan, dia tinggal di dunia ini dengan hati yang separo lagi. Betapa dia takkan begitu, ia cinta kepada ibumu. Dia orang jauh, orang Padang, lepas dari buangan karena membunuh orang. Hidup 12 tahun di dalam penjara telah menyebabkan budinya kasar, tidak mengenal kasihan, tak pernah kenal akan arti takut, walau kepada Tuhan sekalipun. Dia keluar dari penjara, nenekmu Daeng Manippi menyambutnya, dan dikawinkan dengan ibumu.

Ibumulah yang telah melunakkan kekerasan ayahmu, ibumulah yang telah mengajarnya menghadapkan muka ke qiblat, meminta ampun kepada Tuhan atas segenap kesalahan dan dosanya.

Ah, Zainuddin ! ......... Ibumu, kalau engkau melihat wajah ibumu, engkau akan melihat seorang perempuan yang lemah-lembut, yang di sudut matanya terletak pengharapan ayahmu. Dia adalah raja, anak. Dia adalah bangsawan turunan tinggi, turunan Datuk ri Pandang dan Datuk ri Tirro, yang mula-mula menanam dasar keislaman di Jumpandang *) ini. Dan dia pun bangsawan budi, walaupun ibumu tak pernah bersekolah. Perkawinannya dengan ayahmu tidak disetujui oleh segenap keluarga, sehingga nenekmu Daeng Manippi dibenci orang, dan perkawinan ini memutuskan pertalian keluarga. *) Jum pandang nama asli dari Mengkasar, laksana Sriwijaya bagi Palembang. Masih terasa-rasa oleh mamak, ayahmu berkata: "Tertalu banyak korban yang engkau tempuh lantaran dagang melarat ini, Habibah" [18] Jawab ibumu hanya sedikit saja: "Adakah hal semacam ini patut disebut korban? Ada-ada raja Daeng ini." Cuma itu jawaban ibumu, anak.

Demikianlah bertahun-tahun lamanya. Mamak masih tetap tinggal dalam rumah ini mengasuhmu, dan ayahmu berjalan ke mana-mana, kadang-kadang menjadi guru pencak Padang yang masyhur itu, kadang-kadang berdukun, dan paling akhir dia suka sekali mengajarkan ilmu agama. Pakaiannya berobah benar dari semasa dia keluar dari bui. Dia tak pernah memakai destar lagi, melainkan memakai kupiah Padang yang amat disukainya, bersarung, berpakaian cara "orang siak" di Padang katanya.

Benar apa yang dikatakannya, bahwa hidupnya hanya dengan hati yang separo saja. Pernah juga dia menerima surat dari Padang, dari keluarganya menyuruh pulang saja ke kampung. Karena dia seorang beradab, gelar pusaka Datuk Mantari Labih tidak ada yang akan memakai. Di Minangkabau orang merasa malu kalau dia belum beristeri orang kampungnya sendiri.

Berbini di rantau orang artinya hilang. Demi, setelah terdengar oleh mereka bahwa ibumu telah mati, bertubi-tubi pula datang surat menyuruh pulang. Kepada mamak kerap kali diterangkannya, bahwa hatinya rasa diiris dengan sembilu teragak pulang, seakan-akan kelihatan olehnya pelabuhan Teluk Bayur, Gunung Merapi yang hijau kelihatan dari laut. Tetapi hatinya tidak sampai hendak meninggalkan pusara ibumu, pusara gurunya, katanya. Dia tidak pula mau hendak membawamu ke Padang, karena hati keluarga belum dapat diketahui, entah suka menerima anak pisang orang Mengkasar, entah tidak.

Karena kabarnya adat di sana berlain sangat dengan adat di Mengkasar ini. Kerap kali dia menengadahkan matanya ke langit sambil membuaikan engkau di waktu engkau kecil. Dibuaikannya dengan lagu "Buai Anak" cara Serantih, yang meskipun mamak tak pandai bahasa Padang, bulu roma mamak sendiri berdiri mendengarnya. [19] "Hanya dua untuk mengobat-obat hati, Base," katanya kepada mamak. "Pertama membaca Al-Qur-an tengah malam, kedua membuaikan si Udin dengan nyanyian negeri sendiri, negeri Padang yang kucinta. Amat indah negeri Padang, Base, pelabuhannya terliku bikinan Tuhan sendiri, di tengah-tengah tampak pulau Pandan, hijau dilamun alun, yaitu di balik Pulau Angsa Dua. Itulah yang dipantunkan nenek moyangku, dan bila menyebut pantun itu saya teringat kepada Habibah:

Pulau Pandan jauh di tengah, di balik pulau Angsa Dua.Hancur adik dikandung tanah, rupa adik terkenang jua.

Rupanya kudrat Ilahi tidak mengizinkan ayahmu menunggumu sampai besar. Karena di waktu engkau sedang cepat bermain, di waktu sedang enak mengecap nikmat kecintaan ayah dan kecintaan ibu, terkumpul ke dirimu dari ayahmu seorang, ayahmu meninggal dunia. Meninggalnya seakan-akan terbang ke langit saja, dengan tidak tersangka-sangka. Pada suatu malam, petang Kamis malam Jum'at, sedang dia duduk di atas tikar sembahyangnya, bertekun sebagai kebiasaannya, meminta taubat dari segenap dosa, dia meninggal. Ketika itu engkau telah pandai menangis dan bersedih, engkau meratap memanggil-manggil dia.

Rupanya beberapa bulan sebelum mati sudah ada juga gerak dalam hatinya bahwa dia takkan lama hidup lagi. Sehingga dia pemah berkata: "Kalau saya mati pula, bagaimana Zainuddin, Base?" "Saya yang akan mengasuhnya, Daeng," jawabku. "Ya, tapi harta peninggalanku agaknya tidak banyak, tentu Udin memberati engkau." "Jangan bicara demikian, Daeng. Apa yang aku makan, itulah yang akan dimakan Zainuddin."

Pada suatu hari, dipanggilnya mamak dan diserahkannya [20] serencengan anak kunci seraya berkata: "Mulai sekarang engkaulah yang berkuasa di sini, Base. Kunci ini engkau yang memegang. Kunci putih ini, ialah kunci almari. Sebuah peti kecil ada dalam almari itu. Peti itu tak boleh engkau buka, kecuali kalau saya mati." Petaruhnya itu mamak pegang baik-baik dan teguh. Setelah dia wafat barulah peti itu mamak buka, di sana ada sehelai surat kecil dengan tulisan huruf Arab: "Pengasuh Zainuddin sampai dia besar." Itulah bunyi tulisan itu. Di dekat surat tersebut ada segulung wang kertas dari Rp. 1000,-. Itulah yang mamak pergunakan untuk mengasuhmu, penyampaikan sekolahmu, sehingga sekarang engkau berkeadaan begini ......."

 

Program