"Nasi jagung mengingatkan kami pada kisah Kasili Sesane."
Siapa Kasili Sesane?
Ia bukan sekadar seorang pemuda, melainkan putra tunggal dari Datu Mamangkunusa, penguasa Pulau Sawenahe yang kaya raya. Namun, kemewahan yang ia miliki membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang manja dan tak tahu bersyukur.
Yuk ikuti keseruannya dalam dongeng berikut ini
Pada suatu ketika, Pulau Sawenahe diperintah oleh seorang raja yang bergelar Datu Mamangkunusa. la hanya mempunyai seorang putra bernama Kasili Sesane.
Datu Mamangkunusa sangat sayang pada putranya. Segala keinginannya selalu dituruti. Ini menyebabkan Kasili Sesane tumbuh menjadi pemuda yang beradat buruk. Orang-orang istana sering pusing dibuatnya. Terutama Elang Mapia, juru masak kepercayaan istana.
Salah satu kebiasaan buruk Kasili Sesane ialah ia tidak pernah menghabiskan makanannya. Piringnya selalu berisi banyak sisa makanan. Kadang- kadang Kasili Sesane membuat keributan di ruang makan. Dibantingnya piring-piring perak yang berisi bermacam-macam hidangan lezat dan mahal. Ayam panggang rica, semur daging sapi, sup cakalang, ikan tuna bakar.... Semua berhamburan di meja dan lantai. Taplak meja yang tadinya putih bersih, menjadi tak karuan lagi warnanya. Lantai menjadi sangat kotor. Setelah itu, ia berteriak memanggil Elang Mapia.
"Ada apa lagi dengan masakan ini, Kasili?!" tanya Elang Mapia menahan marah. la sangat sakit hati melihat masakannya selama berjam-jam berhamburan di lantai.
"Huh, tidak enak! Sop cakalangnya kebanyakan air! Ayamnya keras! Ikannya gosong!" gerutu Kasili Sesane. Elang Mapia mengusap-usap dadanya. "Kasili Sesane memang keterlaluan!" sungutnya dalam hati.
Pada suatu malam, Datu Mamangkunusa bermimpi. la bertemu dengan dewi yang sangat cantik.
"Aku, Dewi Meluase! Selama ini, akulah yang telah memberikan kesejahteraan di pulau ini. Namun, puteramu telah menyia-nyiakannya. Karena itu, mulai besok, kesejahteraan itu akan kuambil kembali dari pulau ini!" ucap Dewi Meluase.
‘’Jangan, Dewi… Jangan!’’ Datu Mamangkunusa memohon dengan panik.
"Dewi yang bijaksana, apa yang harus kulakukan? Kasihanilah rakyat Pulau Sawenahe. Janganlah mereka harus menderita karena perbuatan putraku!"
"Kalau ingin kerajaan ini tetap sejahtera, kau harus relakan putramu kuambil selama beberapa bulan!" ujar Dewi Meluase.
Datu sangat heran mendengar permintaan itu. la berpikir sejenak. Akhirnya…
"Baiklah..." ujarnya ragu-ragu.
Dalam sekejap mata, Dewi Meluase pun lenyap. Keesokan paginya, Datu terbangun mendengar suara ribut-ribut. la segera keluar dari kamarnya.
"Kasili Sesane hilang! Kasili hilang!" teriak pelayan kamar. "Datu, Kasili Sesane hilang! Tempat tidurnya kosong!" ucap pelayan itu dengan panik. Pengawal-pengawal istana berdatangan mendengar teriakan pelayan kamar tidur.
"Pengawal, cepat cari Kasili Sesane!" perintah Datu. Eh, tiba-tiba Datu teringat akan mimpinya tadi malam. "Eit.. tidak perlu! Tidak perlu dicari!” ujar Datu lagi.
Pengawal-pengawal menjadi bingung.
"Dewi Meluase telah mengambilnya," gumam Datu sedih.
Sementara itu, Kasili Sesane masih asyik tidur. la tidak menyadari dirinya tidak berada di kamar tidurnya lagi.
"Huah..." Kasili menguap lebar sambil menggosok matanya. Ketika ia membuka matanya. "Hah!" la sangat terkejut. la berada di dalam hutan!
"Pasti aku sedang bermimpi," pikir Kasili. Tiba-tiba perutnya berbunyi, minta diisi. la mulai memperhatikan sekelilingnya. Siapa tahu ada pohon apel atau jeruk, atau apa saja.
"Ya ampun! Ini hutan pinus!" gerutu Kasili. Di sekelilingnya semua pohon Pinus, tak ada pohon yang bukan pohon pinus. "Sial! Rupanya aku sedang mimpi buruk!" sungutnya.
Kasili akhirnya melangkah tak tentu arah. la berharap dapat segera bangun dari mimpi buruknya. la tidak tahu bahwa Dewi Meluase yang telah memindahkannya ke hutan pinus itu.
Setelah berjalan berjam-jam, perut Kasili mulai terasa sakit. Kakinya lecet. Matanya berkunang-kunang. Akhirnya ia jatuh pingsan. Ketika sadar kembali, Kasili Sesane terheran-heran. Kini ia tidak berada di hutan pinus lagi.
"Apakah aku sudah terbangun dari mimpiku?" pikir Kasili.
"Hei, anak muda! Kau sudah siuman rupanya! Makan siang sudah kusiapkan!" ujar seorang kakek tua.
"Eh, emm ... Kakek siapa?" Tanya Kasili Sesane.
"Panggil saja aku Kakek Tehigu. Tadi pagi aku menemukanmu pingsan di hutan pinus. Lantas kugotong saja kau ke gubukku ini.”
"Mimpi burukku belum berakhir!" sungut Kasili dalam hati.
Kakek Tehigu lalu mengeluarkan sebakul besar nasi jagung.
"Aku tidak bisa hidup bermalas-malasan. Sebab jika persediaan beras jagungku habis, aku bisa mati kelaparan!" ujar Kakek Tehigu.
"Itu kan urusanmu!" kata Kasili dalam hati.
"Besok kau harus menanam biji-biji jagung ini di ladangmu sendiri! Kau harus merawatnya sendiri! Tiga bulan mendatang, kau bisa memanennya!" ujar Kakek Tehigu. la memberi Kasili Sesane sekantong biji jagung.
"Tapi... tapi aku tidak punya ladang!" ujar Kasili kesal.
"Di sebelah ladangku ada tanah kosong. Kau bisa memakainya,”kata Kakek Tehigu. "Selama tiga bulan ini, aku akan membagi jagungku padamu. Tetapi setelah itu, tidak lagi! Kau harus makan dari hasil ladangmu sendiri. Kalau kau tidak mau mati kelaparan, kau harus rajin mengurusi ladangmu!" ancam Kakek Tehigu.
"Oh! Mengapa mimpiku bisa seburuk ini?" keluh Kasili.
Keesokan harinya, Kakek Tehigu mengajari Kasili cara menanam jagung. Sejak itu, hari-harinya berlalu dengan amat lambat. Kasili Sesane sudah tidak tahan lagi. Tiap hari ia harus mengambil air dari sungai yang cukup jauh. la harus menyirami tanaman jagungnya satu persatu.
Sementara itu, tiap hari ia cuma makan nasi jagung. Lelah, bosan, sedih... bercampur dalam diri Kasili. la ingin kembali ke istana, tetapi bagaimana caranya?
"Kapan aku terbangun? Mengapa mimpiku sangat panjang?" gumam Kasili sedih. la membayangkan ayam panggang rica, sop cakalang hangat... "Hmm lezatnya!" Kasili menelan air liurnya.
Dulu makanan selezat itu sering ia buang-buang. Sekarang, tiap hari ia cuma bisa menikmati nasi jagung. Sementara menyirami ladang jagungnya, Kasili Sesane menangis. la menyadari kesalahannya. Padahal banyak orang yang sangat sulit mendapat makanan, seperti ia sekarang. Untuk bisa makan nasi jagung saja, ia harus bekerja keras. Kulitnya yang putih kini hitam terbakar sinar mentari.
Demikianlah, setiap hari Kasili bekerja keras mengurusi ladang jagungnya. Akhirnya, tibalah hari yang dinanti-nantikan.
"Kakek Tehigu! Hari ini aku panen! Horee!" teriak Kasili girang. la segera mengambil karung, lalu berlari keluar pondok, menuju ladang. Kakek Tehigu mengikutinya dari belakang. Hari itu cuaca sangat cerah. Angin berhembus sangat pelan menggerakkan daun-daun jagung.
"Lihatlah hasil kerja kerasmu, Nak! Kau telah berhasil!" Kakek Tehigu menepuk pundak Kasili. Kasili tersenyum bangga. Hatinya berbunga-bunga memandangi ladang jagung yang siap dipanen.
la memetik jagung itu dan mengolahnya menjadi beras jagung. "Ini untuk pertama kalinya kita makan nasi jagung hasil ladangmu!" ucap Kakek Tehigu.
Mereka berdua menikmati nasi jagung hasil ladang Kasili.
"Wuah... enaknya!" puji Kasili. "Belum pernah aku makan makanan yang selezat ini. Rasanya nasi jagungku lebih enak daripada nasi jagung Kakek! Ha ... ha ...ha ...." gurau Kasili.
"Kau tahu, kenapa bisa begitu?" tanya Kakek Tehigu serius.
Kasili menggelengkan kepala. "Itu karena nasi jagung itu berasal dari kerja kerasmu!" Ujar Kakek Tehigu.
"Coba lihat kulitmu!"
Kasili memandang kulitnya yang hitam terbakar mentari. la teringat kembali kerja kerasnya selama tiga bulan di bawah terik matahari.
"Sekarang, bagaimana perasaanmu kalau nasi jagung ini kubuang?!" Tiba-tiba Kakek Tehigu mengangkat lalu membanting bakul yang berisi nasi jagung.
"Jangaaaan, Kek!" jerit Kasili. "Oh..." Kasili tidak tahu harus berkata apa. Nasi jagung hasil ladangnya berhamburan di lantai.
"Kek... mengapa Kakek begitu tega," ucap Kasili di sela-sela tangisnya. la tidak tahu, perasaan apa yang ada di dalam dadanya. Sedih, marah, sakit hati...
Kakek Tehigu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berubah menjadi asap. Dari asap itu muncullah Dewi Maluase. Kasili Sesane tercengang memandangnya. Ternyata Kakek Tehigu adalah penjelmaan Dewi Maluase.
"Kasili Sesane, perbuatan seperti itulah yang selama ini telah kau lakukan. Kau telah menyia-nyiakan hasil kerja keras orang lain!" ujar Dewi Maluase.
Kasili Sesane malu. la teringat pada Elang Mapia. Kini ia tahu bagaimana perasaan Elang Mapia ketika ia membuang makanan.
"Kalau kau ingin jerih payahmu dihargai, hargailah jerih payah orang lain!" pesan Dewi Maluase.
Tiba-tiba Kasili Sesane merasa mengantuk sekali. la pun tertidur. Ketika terbangun, ternyata ia sudah kembali ke kamarnya. Betapa girangnya hati Kasili. Pesan Dewi Maluase masih terngiang di telinganya dan tak akan dilupakannya seumur hidup.
"Kalau kau ingin jerih payahmu dihargai, hargailah jerih payah orang lain."
Pesan Moral :
Pesan moral dari kisah Kasili Sesane dan Ladang Jagungnya adalah bahwa kita harus menghargai setiap rezeki yang diberikan dan tidak menyia-nyiakan makanan, karena di luar sana banyak orang yang berjuang keras hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Kesombongan dan kebiasaan buruk akan membawa kesulitan di kemudian hari, tetapi dengan kerja keras dan ketekunan, seseorang dapat belajar menghargai jerih payah sendiri. Kasili Sesane akhirnya memahami bahwa makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri terasa lebih nikmat, dan pengalaman itu mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik.
