Kisah Mak Ijah, Hidup 50 Tahun Bersama Seekor Harimau Sumatera di Hutan (1960) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Selasa, 11 Februari 2025

Kisah Mak Ijah, Hidup 50 Tahun Bersama Seekor Harimau Sumatera di Hutan (1960)


Di sudut paling sunyi dari hutan Sumatra, di mana angin berbisik tentang rahasia alam, hiduplah seorang nenek yang kisahnya tak akan pernah kamu duga. Warga desa memanggilnya ‘Mak Ijah’, tapi di balik nama sederhana itu, tersembunyi sebuah ikrar. ikrar untuk melindungi sang penguasa hutan yang ditakuti banyak orang: seekor harimau Sumatra.

Ya, harimau! Binatang buas yang cakarnya bisa mencabik tubuh manusia dalam sekejap. Tapi di mata Mak Ijah, ia bukan monster. Ia adalah ‘Tuah’, anak yang ia selamatkan dari jerat pemburu lima tahun lalu. Sementara orang-orang menjauh, Mak Ijah justru memberinya makan, merawat lukanya, bahkan berbicara padanya seperti pada seorang anak.
Pernah suatu pagi, seorang pemuda nekat mengintip ke dalam gubuk Mak Ijah. Apa yang ia lihat? Sang nenek tua itu sedang duduk bersila, tangan kanannya mengelus kepala Tuah yang perkasa, sementara bibirnya berbisik lembut: ‘Allah menciptakanmu bukan untuk dibenci, Nak. Tapi untuk mengingatkan manusia, bahwa kita semua adalah makhluk yang bersujud pada-Nya.’

Lalu, kenapa Mak Ijah melakukan semua ini? Apa rahasia di balik keberaniannya? Untuk menjawabnya, kita harus mundur ke 50 tahun yang lalu, saat ia masih seorang gadis kecil, dan ayahnya mengajarkan sebuah pelajaran yang mengubah hidupnya selamanya. Mari kita simak kisah ini dengan hati yang terbuka, agar kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah ini, terimakasih.

Setiap pagi, sebelum fajar merekah, Mak Ijah sudah berdiri di hadapan Sang Pencipta. Shalatnya bukan ritual bisu. Di setiap gerakannya, ada kisah yang tertanam puluhan tahun lalu.

Bayangkanlah: Sumatra tahun 1960-an. Hutan masih perawan, harimau berkeliaran bebas. Di sebuah gubuk tepi hutan, hiduplah seorang gadis kecil bernama Ijah. Ayahnya, Pak Bahrun, bukanlah pawang atau tokoh sakti. Ia hanya penjaga hutan biasa, tapi hatinya seluas samudera.
Suatu malam, saat kabut tebal menyelimuti desa, Pak Bahrun membangunkan Ijah dengan mendesak: ‘Ijah, cepat! Bawa kain lap dan rebusan kunyit!’

Di tengah kegelapan, dengan obor bambu yang nyaris padam, mereka menyusuri sungai kecil. Hingga terdengar suara mengerikan: raungan harimau yang kesakitan. Di balik semak, seekor induk harimau tergeletak tak bernyawa, perutnya terkoyak peluru pemburu. Di sebelahnya, dua anak harimau yang satu sudah mati, satunya lagi masih hidup kakinya terjepit jerat besi berkarat.

Dengan tangan gemetar, Pak Bahrun membuka jerat itu. ‘Lihat, Ijah’ bisiknya sambil meneteskan air mata. ‘Allah menciptakan mereka seperti kita, Bernapas, merasakan sakit, dan mencintai anaknya.’ Gadis kecil itu tak akan pernah lupa: darah harimau kecil itu menodai tangan ayahnya, tapi raut wajahnya penuh kelembutan, seperti sedang menolong bayi manusia.

‘Ijah,’ kata Pak Bahrun sambil membalut luka harimau itu dengan kain, ‘Rasulullah pernah bersabda: “Siapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” Bahkan pada binatang sekalipun.’

Sejak hari itulah, hati Ijah terpatri pada satu keyakinan: "setiap nyawa adalah amanah", Dan keyakinan itu kini menjelma dalam diri Mak Ijah yang renta.

Lihatlah! Tuah sang raja hutan tunduk patuh pada wanita berjilbab lusuh ini. Bukan karena mantra, bukan karena sihir. Tapi karena 'cinta' yang tumbuh dari kesabaran. Setiap pagi, Mak Ijah mengoleskan ramuan herbal ke bekas luka Tuah sambil berbisik: ‘Sabarlah Nak, Dunia ini ujian bahkan untukmu.’

Pernah suatu hari, Tuah mengaum keras karena kesakitan. Mak Ijah tak gentar. Ia malah mendekat, mengusap taring harimau itu sambil tersenyum: ‘Kau marah karena manusia jahat, ya? Tapi dengarkan ini’ Lalu, dengan suara parau, ia melantunkan ayat yang diajarkan ayahnya dulu: ‘‘Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi maupun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat seperti kamu juga'. Qur'an Surah Al-An’am ayat 38).
Tuah pun terdiam. Seakan ia paham, di balik bahasa manusia, ada firman Yang Maha Kuasa.

Tapi, bisakah keyakinan seorang nenek melawan ketakutan ratusan manusia? Di desa sebelah hutan, kabar tentang ‘nenek penyihir dan harimau jadi-jadian’ mulai menyebar. Dan angin membawa bau konflik yang mencekik.

Kabarnya menyebar lebih cepat dari api: ‘Harimau Mak Ijah telah menerkam kambing warga!’ Padahal, Tuah tak pernah mendekati pemukiman. Tapi, siapa yang peduli? Ketakutan buta telah membutakan mata hati. Dengan senjata tajam dan amarah, mereka bergerak ke gubuk Mak Ijah, siap menghabisi sang harimau, atau bahkan sang nenek, jika menghalangi.

Di dalam gubuk, Mak Ijah sedang duduk bersila. Tangannya menggenggam tasbih, matanya tertutup. Ia tak perlu melihat untuk merasakan: Tuah sedang bersembunyi di bawah jembatan kayu dekat sungai, nafasnya tersengal-sengal. ‘Tenanglah Nak’ bisiknya dalam hati. Tiba-tiba Pintu gubuk terbanting. Pak Rudi berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam. ‘Di mana harimau itu, Mak?! Kami tak akan biarkan ia hidup lagi!.

Mak Ijah bangkit perlahan. Tubuhnya ringkih, tapi sorot matanya membuat para lelaki bersenjata itu mundur selangkah. ‘Kalau kau membunuhnya karena takut,’ ujarnya dengan suara menggelegar, ‘apa beda kita dengan Firaun yang membantai bayi Musa?’
Kerumunan bergemuruh. Seorang pemuda mengacungkan golok: ‘Ini bukan urusan agama Mak! Ini urusan nyawa kami!’.

Mak Ijah melangkah maju. Obor menerangi keriput di wajahnya yang tak gentar. ‘Urusan nyawa?’ hardiknya. ‘Rasulullah saja pernah memotong ujung jubahnya agar tak membangunkan kucing yang tidur di atasnya! Kalian mau membunuh harimau yang cuma mencari makan karena hutannya dirusak manusia?!.

Diam tiba-tiba menyergap. Di luar, auman Tuah menggema, menggetarkan bumi. Para warga berdesak-desakan, ada yang lari, ada yang bersiap menyerang. Tapi Mak Ijah berteriak: ‘BERHENTI! Kalau kalian ingin melihat ‘monster’ yang sebenarnya, ikut aku!’.

Di sana, di bawah sinar bulan purnama, mereka melihatnya: harimau perkasa itu sedang menjilati kaki kanannya yang bengkak. Di pangkal kukunya, jerat besi berkarat masih menancap. Tuah tak menerkam ternak—ia hanya mencari tempat untuk mati dengan tenang. Dan Mak Ijah, dengan tangan bergetar, membuka jerat itu sambil berbisik: ‘Astaghfirullah, kami telah zalim padamu.’

Air mata Pak Rudi jatuh. Golok di tangannya bergetar. Tiba-tiba, seorang nenek di kerumunan berteriak: ‘Itu itu jeratnya Bang Togar! Pemburu yang kemarin masuk hutan!’

Kebenaran mulai merekah. Tapi, terlambatkah?
Seiring berjalannya waktu, pada Malam, naluri Mak Ijah tak bisa dibohongi. Hatinya berdebar-debar. Tuah, yang biasanya pulang sebelum maghrib, tak kunjung muncul. Ia menyusuri jalan licin, tubuhnya terjatuh berkali-kali, tapi tak ada yang mampu menghentikan langkahnya. Sampai ia mendengar suara yang membuat darahnya membeku: raungan Tuah yang memilukan, diikuti tawa terkikik-kikik manusia.

Di balik pohon tumbang, terlihatlah pemandangan yang menghancurkan hati: Tuah terperangkap jerat baja, kaki beliternya terkoyak hingga ke daging. Darah segar mengalir deras, bercampur air hujan. Di depannya, dua pemburu bertopeng mengacungkan tombak besi. ‘Ini rejeki nomplok, Bang!’ seru salah satunya. ‘Kulitnya saja bisa buat beli motor baru!’.

Mak Ijah tak berpikir dua kali. Dengan teriakan lantang ‘ALLAHU AKBAR!’, nenek renta itu menerjang ke depan, tubuhnya melindungi Tuah yang sudah lemah. ‘Bunuh aku dulu sebelum kau sentuh dia!’ pekiknya, mata berkobar-kobar. Pemburu itu tertegun. ‘Gila lo Nek! Mau mati karena binatang?!’.

Tapi Mak Ijah tak gentar. Tangannya meraih tanah basah, melemparkannya ke muka pemburu. ‘Kalian tahu tidak?!’ teriaknya sambil menahan tangis. ‘Rasulullah melaknat orang yang menjadikan makhluk hidup sebagai target panah!Kalian bukan pemburu, kalian algojo!’

Salah satu pemburu menggeram, mengangkat golok. Tapi tiba-tiba, Tuah mengerahkan sisa tenaganya. Cakar tajamnya menyambar tali jerat, melepaskan diri. Dengan satu lompatan ganas, ia menerjang pemburu itu—tapi bukan untuk menerkam. Dengan cerdik, ia menginjak jerat baja yang sudah terpasang, membuat perangkap itu menjebak kaki si pemburu! sambil terjatuh ke lumpur.

"Di detik itulah, para pemburu itu paham: mereka bukanlah penguasa hutan. Tuah bisa saja merobek tenggorokan mereka, tapi tidak. Ia hanya mengaum panjang, menggetarkan jiwa-jiwa yang keras membatu. Seakan berkata: ‘Aku bukan pembunuh tapi aku juga bukan budak!’
Mak Ijah merangkul leher Tuah yang basah. ‘Sudah, Nak sudahlah,’ bisiknya. ‘Mereka bukan ancaman lagi.’ Dengan tangan gemetar, nenek itu justru mengulurkan kain ke arah pemburu yang terjebak. ‘Ambil ikat lukamu,’ katanya. ‘Dan ingat: dosa pada makhluk Allah tak akan pernah diam di bumi.’

Para pemburu kabur ketakutan, tapi satu pesan tertancap di hati mereka: rasa malu yang lebih pedih dari tusukan tombak.
Sahabat pendengar, Kadang manusia perlu diingatkan dengan cara yang keras, bahwa mereka bukanlah penguasa alam. Usai kejadian malam itu, seluruh desa gempar. Kabar tentang nenek tua yang rela mati untuk harimau, dan harimau yang mengampuni manusia, menyebar bak kisah para wali. Perlahan, rasa malu mulai mengubah hati mereka.

Pak Rudi, yang dulu paling keras meneriaki Mak Ijah, kini berjalan ke gubuk itu dengan kepala tertunduk. ‘Maafkan kami Mak’ ujarnya, suaranya serak. ‘Kami sudah buta, Bagaimana cara menebus ini?’
Mak Ijah tak menjawab. Ia hanya mengambil segenggam tanah, menaburkannya ke sekeliling gubuk. ‘Lihat: tanah yang kita injak ini,’ katanya, ‘adalah cermin. Jika kita rawat, ia akan memberi buah. Jika kita rusak, ia akan melahirkan duri. Maukah kalian jadi penjaga cermin itu?’
Semenjak kejadian itu, dimulailah babak baru. Para pria yang dulu membawa golok, kini membawa cangkul. Mereka menanam pohon buah di tepi hutan, makanan untuk harimau agar tak perlu memangsa ternak. Para ibu membuat obat luka dari rempah untuk disimpan di pos penjagaan. Bahkan anak-anak diajari doa sebelum masuk hutan: ‘Ya Allah, jadikan kami teman, bukan perusak bagi makhlukMu.’
Dan Tuah? Ia tetap datang setiap Jumat pagi. Kadang membawa ayam hutan mati sebagai ‘hadiah’ untuk Mak Ijah. Tapi suatu hari ia tak datang sendirian.

Tuah berjalan dengan seekor anak harimau kecil mengikuti di belakangnya. Mak Ijah tersenyum, tangannya mengangkat ke langit: ‘Alhamdulillah, ini lebih berharga dari permata dunia.’
"Inilah kisah tentang seorang nenek dan harimau—dua makhluk yang dianggap lemah dan buas, tapi justru mengajarkan arti kekuatan sejati. Kekuatan yang lahir dari iman, bukan cakar. Dari kasih sayang, bukan kekerasan.

Setiap kali kau melihat binatang terlantar, ingatlah: Rasulullah pernah menegur sahabat yang menyiksa kucing sampai mati. ‘Sungguh, neraka layak untukmu karena seekor kucing,’ sabdanya. Maka, jadilah seperti Mak Ijah: merawat, bukan merampas. Menjaga, bukan membunuh.
Karena di akhirat nanti, Allah tak akan bertanya berapa harimau yang kau taklukkan?, tapi berapa makhluk-Nya yang kau selamatkan dengan tanganmu.

Dan Tuah? Hingga kini, ia masih jadi penjaga hutan. Jika kau beruntung, di malam sunyi, kau bisa mendengar aumannya—seperti azan yang bergema: ‘Ummatan wahidah, kita semua adalah umat yang satu.’",(semoga kisah ini bermanfaat untuk kita semua, jangan lupa like,komentar, dan share kisah ini sebanyak-banyaknya, terimakasih,(sampai jumpa di kisah selanjutnya, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Program