KISAH TIKO SI TIKUS TANAH YANG RABUN.
Di sebuah desa yang tenang dan damai, hiduplah seekor tikus tanah bernama Tiko. Tiko tidak seperti tikus tanah lainnya. Ia memiliki masalah penglihatan yang membuatnya sangat rabun. Meski begitu, Tiko memiliki semangat kerja yang tinggi dan berprofesi sebagai penggali terowongan sewaan.
Suatu hari, ada seekor kucing betina anggora yang cantik jelita bernama Anggi, datang ke desa itu dan ingin membuat rumah di bawah tanah. Anggi mendengar bahwa Tiko adalah penggali terowongan andal. Ia pun mencari Tiko untuk menyewa jasanya.
"Tiko, aku ingin kamu membuatkanku terowongan yang menghubungkan rumahku dengan kebun wortel di seberang desa," pinta Anggi.
Tiko setuju dan segera memulai pekerjaannya. Namun, karena rabun, Tiko sering salah arah. Ia menggali terowongan yang berbelok-belok tidak karuan, bahkan hampir menabrak akar pohon besar.
"Tiko, kenapa terowongannya jadi seperti ini?" tanya Anggi bingung.
"Maaf, Nona Anggi. Aku memang sedikit rabun, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Tiko dengan nada menyesal.
Anggi sebenarnya merasa khawatir, tapi ia tetap memberikan semangat pada Tiko. "Tidak apa-apa, Tiko. Aku percaya kamu bisa!"
Tiko pun melanjutkan pekerjaannya dengan lebih hati-hati. Ia mencoba mengikuti petunjuk yang diberikan Anggi, meski kadang masih saja salah arah.
Suatu sore, saat Tiko sedang asyik menggali, tiba-tiba ia menemukan sesuatu yang keras di dalam tanah. Dengan penasaran, Tiko terus menggali dan ternyata ia menemukan sebuah peti harta karun!
"Nona Anggi, lihat apa yang kutemukan!" seru Tiko dengan gembira.
Anggi terkejut melihat peti harta karun itu. Mereka berdua membuka peti itu dan ternyata isinya adalah emas batangan dan perhiasan berlian yang berkilauan.
"Wah, ini rezeki nomplok!" kata Anggi senang.
Tiko dan Anggi akhirnya menjadi kaya raya. Mereka berdua membangun rumah yang mewah dan hidup bahagia selamanya. Tiko tetap menjadi penggali terowongan, tetapi sekarang ia bisa membeli kacamata yang membantunya melihat lebih jelas.
Setelah menemukan peti harta karun dan menjadi kaya raya, Anggi tidak melupakan kebaikan Tiko. Ia tahu bahwa selama ini Tiko kesulitan melihat karena rabun matanya. Anggi pun punya ide untuk membantu Tiko.
Suatu hari, Anggi mengajak Tiko ke kota. Mereka pergi ke sebuah toko optik yang menjual berbagai macam kacamata. Anggi meminta Tiko untuk mencoba satu per satu kacamata yang ada di toko itu.
Tiko mencoba berbagai macam kacamata, dari yang bulat, kotak, sampai yang berwarna-warni. Namun, tidak ada satu pun kacamata yang membuatnya bisa melihat dengan jelas.
"Bagaimana ini, Nona Anggi? Aku sepertinya tidak bisa melihat dengan jelas meski sudah mencoba semua kacamata," kata Tiko dengan nada sedih.
Anggi tidak menyerah. Ia terus mencari kacamata yang cocok untuk Tiko. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah kacamata unik dengan lensa yang sangat tebal.
"Coba kacamata ini, Tiko," kata Anggi sambil memberikan kacamata itu kepada Tiko.
Tiko memakai kacamata itu dan seketika matanya terbelalak. "Wow, Nona Anggi! Aku bisa melihat dengan jelas!" seru Tiko dengan gembira.
Anggi sangat senang melihat Tiko akhirnya bisa melihat dengan jelas. Ia pun membelikan kacamata itu untuk Tiko.
Sejak saat itu, Tiko selalu memakai kacamata barunya saat bekerja. Ia tidak lagi salah arah saat menggali terowongan. Hasilnya, terowongan yang ia buat menjadi lebih rapi dan lurus.
Tiko semakin terkenal sebagai penggali terowongan yang handal. Ia juga menjadi lebih percaya diri dan berani. Tiko tidak lagi merasa minder karena rabun matanya.
Suatu hari, Tiko bertemu dengan seekor tikus tanah muda yang juga ingin menjadi penggali terowongan. Tikus tanah muda itu kagum dengan kemampuan Tiko.
"Tiko, bagaimana kamu bisa menggali terowongan dengan begitu rapi?" tanya tikus tanah muda itu.
"Aku bisa melihat dengan jelas sekarang," jawab Tiko sambil tersenyum. "Aku punya kacamata yang membuatku bisa melihat seperti orang normal."
Tikus tanah muda itu pun termotivasi untuk belajar dari Tiko. Ia ingin menjadi penggali terowongan yang sukses seperti Tiko.
Kisah Tiko si tikus tanah rabun yang sukses berkat kacamata barunya ini menjadi inspirasi bagi semua tikus tanah di desa itu. Mereka belajar bahwa keterbatasan tidak harus menghalangi seseorang untuk meraih impiannya.
(Batam, 16 Februari 2025)
Created By: Aisha Pasha Patria
PATRIA FAMILIA