Angin malam berembus lembut, membawa keheningan di sebuah desa kecil yang damai. Langit bertabur bintang, rembulan menggantung tenang di antara awan tipis. Di dalam sebuah rumah sederhana, seorang anak bernama Yusuf tidur lelap, tenggelam dalam dunia mimpi yang begitu nyata.
Dalam mimpinya, Yusuf berdiri di tengah hamparan padang pasir yang luas. Di atasnya, sebelas bintang bersinar terang, matahari bersinar hangat, dan rembulan bersujud kepadanya. Cahaya mereka menyelimuti tubuhnya, seakan membisikkan sesuatu yang belum ia pahami.
Tiba-tiba, suara lembut memanggilnya, "Yusuf… Yusuf… Bangunlah, Nak. Waktunya sahur."
Mata Yusuf perlahan terbuka. Cahaya rembulan masih menyelinap masuk dari jendela. Ia mengusap matanya, masih teringat dengan jelas gambaran dalam mimpinya. Dengan langkah malas, ia berjalan ke ruang makan, di mana ayah dan ibunya telah menunggunya.
"Mengantuk sekali?" tanya ayahnya sambil tersenyum.
Yusuf mengangguk. Tapi ada sesuatu yang mengganggunya. Ia lalu bertanya, "Ayah, tadi aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan rembulan bersujud kepadaku. Apa maksudnya?"
Ayahnya terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Itu adalah mimpi yang dulu pernah dialami Nabi Yusuf, Nak. Mimpi yang menjadi pertanda masa depan, tapi juga ujian yang harus ia lalui dengan kesabaran."
"Ujian?" tanya Yusuf heran.
Ibunya menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu berkata lembut, "Nabi Yusuf pernah dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri. Ia dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, lalu dipenjara karena fitnah. Tapi ia tidak pernah mendendam. Ia tetap bersabar, hingga akhirnya Allah mengangkat derajatnya menjadi penguasa di Mesir."
Yusuf terdiam. Matanya menatap kosong ke mangkuk buburnya. "Jadi… jika seseorang menyakitiku, aku tidak boleh membalas?"
Ayahnya mengusap kepalanya dengan lembut. "Benar, Nak. Dendam hanya akan membebani hati. Lihatlah Nabi Yusuf, meskipun ia disakiti, ia tetap memaafkan. Dan itulah yang membuatnya mulia di hadapan Allah."
Yusuf mengangguk perlahan. Ia mengingat seorang temannya di sekolah yang pernah mengejeknya, membuatnya kesal. Tapi kini ia mulai mengerti.
Ketika ia menyuapkan makanannya, suara azan Subuh mulai terdengar dari masjid desa. Yusuf menatap keluar jendela, melihat langit yang perlahan berubah warna.
"Jadi, kesabaran itu seperti sahur, ya?" katanya tiba-tiba.
Ayah dan ibunya saling bertukar pandang, lalu tersenyum.
"Kenapa begitu?" tanya ibunya.
"Karena kita makan di saat orang-orang masih tidur, walau mengantuk, kita tetap bangun. Kita sabar menunggu waktu berbuka, walau haus dan lapar. Tapi di akhirnya, ada pahala dan berkah dari Allah."
Ayahnya tertawa kecil. "Benar, Yusuf. Kesabaran selalu memiliki akhir yang indah. Seperti sahur yang membawa keberkahan bagi puasa kita, kesabaran akan membawa cahaya bagi kehidupan kita."
Malam itu, Yusuf belajar sesuatu yang berharga. Ia tidak hanya bangun untuk sahur, tetapi juga bangun dari kebingungannya. Ia mengerti bahwa menjadi kuat bukan berarti membalas dendam, tetapi memiliki hati yang luas untuk memaafkan.
Di luar, rembulan perlahan tenggelam. Fajar menyingsing, membawa harapan baru bagi mereka yang sabar dan beriman.
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1TZqV9FJ2y/?mibextid=oFDknk
