Di sebuah kota yang makmur, hiduplah seorang pemuda bernama Tuan Muda Rahman. Ia berasal dari keluarga kaya raya dan terbiasa hidup dengan segala kemudahan. Rahman sangat menyukai segala sesuatu yang praktis dan enggan melakukan pekerjaan fisik. Ia lebih senang menyuruh orang lain daripada bergerak sendiri.
Sejak kecil, ia memiliki seorang teman bernama Malik. Berbeda dengan Rahman, Malik berasal dari keluarga sederhana dan terbiasa bekerja keras. Ketika Rahman ingin sesuatu, ia hanya perlu memerintah, dan Malik yang mengerjakannya. Saat mereka beranjak dewasa, Malik bekerja di rumah Rahman yang megah, sementara Rahman tetap hidup dalam kenyamanan tanpa pernah berusaha sendiri.
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun berganti, hingga akhirnya usia tua menghampiri mereka. Kini, Rahman mulai merasakan tubuhnya lemah, sering sakit-sakitan, dan sulit bergerak. Sementara itu, Malik yang usianya sama, tetap sehat dan bugar. Sejak muda, tubuhnya terbiasa bekerja, sehingga fisiknya tetap kuat seperti orang yang rajin berolahraga.
Suatu hari, Rahman pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter. Namun, setelah selesai bukannya langsung bisa pulang , ia justru mendapat wejangan panjang dari sang dokter yang juga seorang pemuka agama:
"Sebelum bapak pulang, tolong dengarkan cerita saya, agar bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja, dan tolong ceritakan ulang jika bertemu siapapun di rumah, ini tentang Perjalanan Umur" Kata dokter, sebelum bercerita.
"Ketika umur kita di bawah 10 tahun, kita merasa bahwa bermain merupakan sesuatu yang sangat penting. Pagi, siang, sore, malam, kita hanya ingin bermain.
Ketika beranjak belasan tahun, kita merasakan kebebasan itu lebih penting. Kita ingin menyuarakan pendapat, ingin didengar, mulai memberontak, dan keras kepala. Kita menjadi bandel dan tak suka mendengar nasihat.
Saat memasuki usia 20-an, pendidikan dan pekerjaan terasa lebih penting. Kita mulai belajar sungguh-sungguh agar mendapatkan pekerjaan yang baik. Kadang, kita menyesal karena dulu tidak serius belajar, sehingga tertinggal dari teman-teman lain.
Menginjak usia 30-an, kita sadar bahwa keuangan adalah hal yang sangat penting. Masa inilah kita mulai membangun kehidupan—membeli rumah, kendaraan, tanah, dan aset lainnya. Namun akhirnya, kita pun memasuki usia 40-an.
Di fase ini, kesehatan menjadi segalanya. Penyakit seperti darah tinggi, diabetes, asam urat, kolesterol, dan jantung mulai datang. Kita menyesal karena terlalu sering makan enak tanpa menjaga kesehatan, sibuk bekerja hingga lupa berolahraga.
Kemudian, ketika usia 50-an tiba, kita sadar bahwa kasih sayang adalah hal yang paling penting. Anak-anak kita telah beranjak dewasa, sibuk dengan kehidupannya sendiri. Rumah besar dan mobil mewah tidak lagi berarti, karena yang kita inginkan hanyalah kebersamaan.
Memasuki usia 60-an, kita akhirnya sadar bahwa hanya amal ibadahlah yang akan menjadi bekal ke alam berikutnya. Kekayaan dan kemewahan dunia tak lagi bermakna, dan maut bisa datang kapan saja. Beruntunglah mereka yang masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri.
Maka ingatlah lima hal sebelum datang lima hal lainnya:
1. Masa mudamu sebelum datang masa tua,
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakit,
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskin,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibuk,
5. Masa hidupmu sebelum datang kematian."
Mendengar kata-kata itu, Rahman tertunduk. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hanya mengejar kenyamanan tanpa memperhatikan kesehatannya. Sementara Malik, yang bekerja keras setiap hari, justru menikmati masa tuanya dengan tubuh yang sehat dan bugar.
Dengan penuh penyesalan, Rahman menyadari bahwa segala kemewahan yang dimilikinya tak bisa mengembalikan kesehatan yang telah hilang. Seandainya ia bisa mengulang waktu, ia pasti akan lebih menghargai kesehatannya sejak muda.
Namun, waktu tak bisa diputar kembali. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berusaha hidup lebih sehat dan menggunakan sisa waktunya dengan sebaik-baiknya.
Penulis Edi Warsono
Kontributor Eveline Novita Eva Nurhayati Bundanya Khafa
#Cerita #Dongeng #Legenda #DongengIndonesia #FairyTale #CeritaRakyat #Fabel #DongengAnak #Folklore #CerpenAnak #Cerpen