Ramadhan, Bulan Keutamaan dan Pengendalian Hawa Nafsu
Oleh: Saefudin Latief (Kasubbag Hukmas dan KUB Kanwil Depag Prov. Sumsel)
Ramadhan adalah bulan yang suci dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat berbagai
keutamaan dan yang berhak mendapatkan keutamaan ramadhan adalah orang-orang ber iman
yang dipanggil untuk melakukan puasa. Seperti yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat
183; bahwa yang dipanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang yang beriman,
penekanannya bukan orang Islam ataupun manusianya tetapi yang beriman. Karena itu tidak
heran kalau pada bulan Ramadhan sering kita jumpai di terminal atau dipasar masih banyak
umat Islam yang merokok, makan (tidak berpuasa), mereka hanya Islam namun belum
beriman. Tegasnya; Orang Islam belum tentu ber iman namun orang ber iman sudah pasti
islam.
Ramadhan adalah bulan yang suci dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat berbagai
keutamaan sebagaimana telah disebutkan oleh Nabi shallallahu „alaihi wasallam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu
bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya, pada
bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga
terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak
memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Telah
datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini
dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat
berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya,
maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara
ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR. Ath Thabrani, dan para
periwayatnya terpercaya).
Maka sambutlah bulan Ramadhan dengan gembira. Siapkan segala hal yang
menunjang agar Ramadhan kita penuh arti. Lihatlah Ramadhan kita sebelumnya sebagai
patokan. Lalu berusahalah agar amal ibadah kita meningkat lebih dari itu. Hal ini dsebabkan
keistimewaan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang pahala-Nya akan langsung diberikan
balasan oleh Allah.
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,
bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh
kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, „Kecuali puasa, itu
untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan
minumnya karena-Ku. 'Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan
ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut
orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi."
Bulan Al-Qur‟an
Sering kita mengatakan atau mendengar bahwa puasa (shaum) adalah berfungsi untuk
menundukkan hawa nafsu buruk kita. Namun, yang dimaksud sekadar menahan nafsu makan
dan minum, tidak berbohong, tidak bertengkar atau aktiviti lain yang bersifat moral sematamata. Sekiranya faktanya sedemikian rupa maka sebenarnya telah terjadi penyempitan makna
dari menundukkan hawa nafsu itu sendiri. Allah SWT berfirman yang artinya:
Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran dan al-Hadist) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [TMQ An-Najm
(53): 3-4) ]
Dalam ayat di atas, Allah SWT secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu saling
berbeza. Hawa nafsu adalah segala bentuk dorongan yang berasal dari dalam diri manusia.
Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moral saja, melainkan meliputi
seluruh dorongan ada dalam diri manusia yang terwujud dalam seluruh aktiviti. Sebaliknya, wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah saw. berupa perintah
dan larangan. Wahyu ini yang harus mengendalikan hawa nafsu manusia. Jika hawa nafsu
manusia tidak dibimbing wahyu, ia akan cenderung pada keburukan.
Oleh itu, ketika bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan menundukkan hawa nafsu, maka
yang seharusnya terbayang dalam fikiran kita adalah kita mencampakkan dan membuang
jauh-jauh seluruh aktiviti yang dilarang oleh Allah SWT. Itulah hakikat sebenarnya dari usaha
untuk menundukkan hawa nafsu. Apabila kita telah mampu menundukkan hawa nafsu sebagai
hasil dari puasa kita, kita akan menjadi (insyaAllah) manusia yang benar-benar bertakwa,
sebagaimana firman Allah yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. [TMQ Al-Baqarah (2) 183]
Ramadhan Bulan Utama
Memang benar, bulan Ramadhan adalah bulan yang setiap detik, minit, jam, dan hari-harinya
penuh dengan keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut antara lain :
Pertama: Ramadhan membentuk peribadi Mukmin yang taat secara total kepada Allah SWT
dan Rasulullah saw. dalam seluruh perkara yang diperintahkan ataupun yang dilarang-Nya.
Tidak ada keraguan di dalam hatinya untuk menjalankan Islam secara kâffah (menyeluruh),
baik dalam hal akidah maupun hukum-hukum yang lain seperti: hukum ibadah, makanan,
minuman, pakaian, sosial, politik, ekonomi, budaya, pemerintahan, dan sebagainya. Mereka
siap untuk mengikuti wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
dengan ikhlas dan tawakal.
Kedua: Di aspek lain, pada bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan wahyu berupa al-Quran
untuk yang pertama kali. Wahyu inilah yang merupakan sumber hukum untuk dijadikan
pemimpin dan panduan kehidupan. Dengan tegas, Allah SWT berfirman:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi
manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqân)
(antara haq dan batil). [TMQ al-Baqarah (2): 185]
Ayat ini menjelaskan, bahwa al-Quran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi
umat manusia yang mengimaninya; dalil yang jelas dan tegas bagi mereka yang
memahaminya, yang terlepas dari kebatilan dan kesesatan; juga merupakan pembeza antara
yang haq dan batil, halal dan haram (Lihat: Tafsîr al-Qur‟ân al-„Azhîm, I/269).
Al-Quran bukan kumpulan pengetahuan semata, tetapi juga petunjuk bagi manusia. Al-Quran
tidak hanya sekadar dibaca dan dihafalkan saja, melainkan wajib difahami dan diamalkan
isinya dalam kehidupan seharian. Nabi saw. dalam berbagai hadisnya menegaskan, bahwa
sesiapapun yang berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya.
Allah SWT berfirman:
Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul, ambillah; apa saja yang dilarang olehnya,
tinggalkanlah! [TMQ al-Hasyr (59): 7]
Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul, ambillah; apa saja yang dilarang olehnya,
tinggalkanlah! [TMQ al-Hasyr (59): 7]
Oleh itu, dapat disimpulkan bahawa setiap perintah yang terdapat dalam al-Quran, adalah
mutlak harus dilaksanakan, dan setiap larangannya harus ditinggalkan, baik terasa berat
maupun terasa ringan. Yang tertanam dalam hati dan fikiran adalah, “Kami mendengar dan
kami patuhi!” Alangkah ruginya orang yang memahami al-Quran tetapi tidak
mengamalkannya. Demikian juga bagi orang yang sentiasa menyerukan Islam namun tidak
menjalankannya. Apalagi bagi orang yang menjadikan al-Quran sebagai „barang dagangan‟,
suka memutarbelit pemahaman di dalamnya, bahkan mengatakan al-Quran penuh dengan
mitos dan buatan Muhammad. Sungguh, orang tersebut bukan hanya orang yang rugi, namun
juga dilaknat oleh Allah. Jadi, pada bulan Ramadhan, Allah SWT bukan sekadar memerintahkan kita berpuasa supaya kita bertakwa, tetapi juga menurunkan al-Quran sebagai
sumber aturan untuk mencapai ketakwaan.
Ketiga: Allah sungguh Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Pengasih, dan Maha
Penyayang. Dalam bulan Ramadhan pintu keampunan dibuka oleh Allah seluas-luasnya,
syaitan-syaitan dibelenggu agar tidak dapat menggoda manusia untuk berbuat mungkar, pintupintu syurga dibuka seluasr-luasnya, dan berbagai kenikmatan Allah dicurahkan. Dalam bulan
ini juga terdapat satu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Itulah malam Lailatul
Qadar. Pada malam tersebut untuk pertama kalinya diturunkan al-Quran kepada Rasulullah
saw. sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia; bukan hanya bagi kaum Muslim saja,
tetapi juga berlaku bagi umat selain Islam. Itulah tanda rahmatan lil „alamin-nya Islam.
Wahai kaum Muslimin! Bulan Ramadhan adalah bulan untuk melakukan ketaatan kepada
Allah. Sudahkah kita mentaati Allah SWT secara kaffah? Ataukah kita masih tetap
membiarkan hidup kita diatur oleh hukum- hukum dari aqal dan hawa nafsu kita? Adakah
Ramadhan hanya merupakan tempoh menahan lapar dan haus belaka? Wallâhu a‘lam bi ashshawâb
Sumber: https://sumsel.kemenag.go.id/files/sumsel/file/dokumen/artikelramadhan.pdf
