Dendam Pelayan Istana
Pada masa keemasan Kerajaan Daruttama, yang berdiri megah di tengah gurun luas dan kaya akan sumber daya, hiduplah seorang pemuda dari kalangan rakyat jelata bernama Raka Wiradipa. Ia hanyalah abdi dapur istana, yang tugasnya membersihkan sisa-sisa perjamuan dan mengisi kendi-kendi air para bangsawan.
Di tengah terik siang yang membakar ubun-ubun, Raka berlari kecil ke taman istana, berharap dapat meneguk air segar dari kendi besar yang disediakan bagi para pengiring kerajaan. Tenggorokannya kering, kakinya gemetar, tapi matanya bersinar begitu melihat air dingin berembun dalam kendi kristal.
Namun belum sempat ia menyentuh gelas perak di dekat kendi itu, terdengar bentakan tajam.
“Berani sekali kau menyentuh air ini, abdi rendahan! Kendi ini hanya untuk para ahli strategi dan penasihat raja!”
Yang bersuara adalah Pangeran Devraka, penasihat muda kerajaan yang baru datang dari negeri seberang, penuh arogansi dan rasa angkuh.
Raka membeku. Ia menunduk, meletakkan kembali gelasnya, dan mundur perlahan. Tubuhnya haus, tapi jiwanya lebih dahaga oleh hinaan itu.
Malamnya, Raka duduk di bawah sinar bulan, memandangi keris usang peninggalan ayahnya.
“Ayah, mengapa aku dilahirkan hanya untuk dipandang rendah?” bisiknya pilu. Tapi sebuah api perlahan menyala di dadanya.
“Jika menjadi abdi membuatku terhina, maka aku akan menjadi seseorang yang kelak tidak akan dihina siapa pun. Aku akan menuntut ilmu, meski di luar tembok istana. Aku akan belajar, bekerja, dan suatu hari… aku akan duduk di atas kursi para penasihat itu.”
Itulah awal dari dendam positif yang ia tanam.
Hari demi hari, Raka bekerja lebih keras dari siapa pun. Pagi ia menyapu aula istana, siang mengantarkan surat, malamnya ia menyelinap ke perpustakaan tua di bawah pengawasan kakek pustakawan yang iba padanya. Ia membaca strategi perang, ilmu perbintangan, tata kerajaan, hingga bahasa asing.
Tak jarang para prajurit mencibirnya.
“Lihat abdi bodoh itu! Meniru para cendekiawan, seakan-akan ia bisa jadi bangsawan.”
Namun Raka hanya tersenyum dan terus belajar.
Tahun-tahun berlalu. Raja Daruttama yang bijak memperhatikan kegigihannya. Ia mengutus Raka ke Akademi Agung di Kerajaan Barat. Di sana, ia belajar ilmu logam dan geologi, membaca bumi dan segala kandungannya. Ketika ia kembali ke Daruttama, ia telah menjadi Mahapati Wiradipa, ahli tambang paling cemerlang yang pernah dimiliki kerajaan.
Sang Raja memanggilnya.
“Raka, engkau bukan lagi abdi. Engkau penafsir tanah, penentu emas, dan penunjuk jalan kekayaan negeri ini. Mulai hari ini, engkau menjadi Panglima Sumber Daya.”
Dari sanalah karir Raka meroket. Ia bukan hanya memimpin pertambangan, tapi juga mengatur kebijakan tambang antar-kerajaan. Kekayaan negeri Daruttama membubung, dan semua pemimpin negeri tetangga mengakui kehebatannya.
Suatu hari, saat duduk di singgasana rapat agung sebagai Wazir Utama, pintu aula terbuka. Masuklah seseorang dengan kepala tertunduk. Ia adalah Devraka, sang penasihat angkuh dulu, kini hanya menjadi pejabat rendahan setelah tersingkir karena sikap sombongnya.
Devraka berlutut.
“Paduka Wazir, hamba datang untuk memohon izin mengundurkan diri sementara. Namun sebelum itu… izinkan hamba memohon ampun atas kesombongan di masa lalu. Jika paduka berkenan menghukum, hamba ikhlas menerima.”
Raka menatapnya tenang, lalu tersenyum.
“Devraka... justru aku ingin berterima kasih padamu. Karena engkaulah, aku menemukan siapa diriku. Karena hinaanmu, aku terpantik untuk membakar jalan menuju tempat ini. Tanpa engkau, mungkin aku hanya akan tetap menjadi abdi penyeka lantai.”
Devraka tertegun. Air matanya jatuh. Ia tak menyangka orang yang dulu ia rendahkan, justru memberi maaf dan bahkan rasa terima kasih.
Tahun-tahun berlalu. Raka Wiradipa diangkat menjadi Adipati Agung Daruttama, setingkat Perdana Menteri. Di tangannya, Kerajaan Daruttama menjelma menjadi pusat kemakmuran gurun timur, dan ilmu yang dulu ia pelajari, menjadi pondasi kekayaan negeri itu.
Dendamnya telah lunas. Tapi bukan dengan kebencian. Melainkan dengan kemenangan.
Pesan Moral :
Penulis dan Pengarang Edi Warsono
Kontributor Eva Nurhayati Bundanya Khafa
Kita memang tak bisa memilih bagaimana orang memperlakukan kita. Tapi kita bisa memilih, bagaimana kita membalasnya. Dendam tak selalu tentang pembalasan. Terkadang, dendam terbaik… adalah membuktikan bahwa kita bisa lebih dari yang mereka kira.
#Cerita #Dongeng #Humor #DongengIndonesia #FairyTale #Fabel #Fabel #DongengAnak #Folklore #CerpenAnak #Cerpen