INDAHNYA BERBAGI - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Sabtu, 12 April 2025

INDAHNYA BERBAGI

Memberi Tidak Akan Membuat Kita Kehilangan 

Di sebuah kerajaan nan makmur bernama Mandarakį¹£etra, hidup seorang saudagar agung bernama Dhanapati. Kekayaannya melimpah ruah, istananya menjulang megah, dan kandang-kandangnya dipenuhi ternak gemuk. Namun dari segala hartanya, yang paling ia cintai adalah tiga putranya: Yudhāra, Citraka, dan Vasudewa.  

Menjelang ajalnya, Dhanapati memanggil ketiga putranya. Dengan suara berat dan mata yang mulai redup, ia berkata,  
"Wahai putra-putraku, aku akan segera berpulang ke alam para leluhur. Terimalah kerbau-kerbau ini sebagai warisanku. Yudhāra, engkau sulungku, ambillah setengah bagian. Citraka, engkau anak tengah, terimalah seperempat bagian. Dan Vasudewa, si bungsu yang bijak, engkau mendapatkan seperlima bagian. Laksanakan dengan adil dan jangan saling berselisih."

Tak lama berselang, Dhanapati pun wafat. Ketiga putranya yang diliputi duka lantas berkumpul di halaman istana, tempat dua belas kerbau berwarna coklat tua, lima yang keperakan, dan dua yang belang berdiri tenang. Jumlah semuanya sembilan belas ekor.

Yudhāra memegang catatan warisan dan berkata,  
"Aku harus mendapat setengah bagian... sembilan belas dibagi dua... sembilan setengah? Tapi kerbau tak bisa dibelah!"

Citraka mengangguk, wajahnya muram,  
"Aku pun harus mendapat seperempat, yang berarti empat setengah. Itu pun tak bisa dilakukan."

Vasudewa menambahkan,  
"Dan aku mendapat seperlima, artinya tiga koma delapan. Tak masuk akal membagi kerbau seperti itu. Padahal kita ingin mendapatkan kerbau dalam keadaan hidup, kita perlu cara lain!"

Namun, alih-alih bekerja sama mencari solusi, mereka mulai saling menyalahkan. Suara mereka meninggi, debat pun tak terelakkan. Keributan itu terdengar sampai ke pinggiran desa, ke gubuk seorang pria tua miskin bernama Satyavān. Ia hanya memiliki satu ekor kerbau tua, namun hatinya penuh welas asih.

Satyavān datang dengan langkah tenang, membawa kerbaunya berjalan perlahan. Ia menemui ketiga putra Dhanapati dan berkata,  
"Anak-anakku, izinkan aku membantu. Tambahkan kerbauku kepada milik kalian, agar genap menjadi dua puluh. Lalu bagilah sesuai kehendak ayahmu."

Yudhāra memprotes,  
"Tapi... engkau hanya punya satu, apakah engkau tidak takut akan kehilangan kerbaumu?"

Satyavān tersenyum lembut,  
"Memberi tidak membuatku berkekurangan apa lagi kehilangan, selama yang kuberi membawa kebaikan."

Dengan hati yang tergetar, ketiga bersaudara menyetujui. Maka dimulailah pembagian:

Yudhāra menerima setengah dari 20, yaitu 10 ekor.  
Citraka menerima seperempat dari 20, yaitu 5 ekor.  
Vasudewa menerima seperlima dari 20, yaitu 4 ekor.

Jumlah seluruhnya 19 ekor, dan kerbau milik si pria tua miskin masih utuh. Mereka pun mengembalikan kerbau itu kepadanya sambil bersujud hormat.

"Engkau telah mengajarkan kami lebih dari sekadar hitungan, pak Tua. Engkau menunjukkan bahwa hati yang ikhlas membawa berkah yang tak terduga," kata Vasudewa haru.

Pria tua itu hanya menjawab singkat,  
"Kadang kala, dengan memberi, kita justru menerima lebih dari yang kita bayangkan. Dan dengan memberi, sejatinya kita tidak akan pernah kehilangan."

Sejak hari itu, kisah Satyavān si pria tua miskin dan dermawan tersebar di seluruh Mandarakṣetra. Dan sang raja pun mengangkatnya menjadi penasihat kerajaan dalam hal kebijakan dan kasih sayang.

Pesan Moral :
Penulis dan Pengarang Edi Warsono 
Kontributor Eveline Novita Eva Nurhayati Bundanya Khafa 

Memberi tidak akan membuatmu kekurangan dan kehilangan, jika engkau memberi dengan hati yang lapang dan ikhlas.

#Cerita #Dongeng #Humor #DongengIndonesia #FairyTale #Fabel #Fabel #DongengAnak #Folklore #CerpenAnak #Cerpen

Program