Tsunami - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 20 April 2025

Tsunami

Selesai shalat Subuh, kubuka jendela. Semalam hujan. Aroma tanah, semerbak bunga tanjung dan melati di halaman rumah mampir di hidung. Hmm, wanginya. Di luar, masih gelap. Kulirik amak yang duduk di sajadah. Beliau larut dalam zikir dan doa-doa panjang.

Sudah dua tahun aku tidak pulang kampung. Terakhir pulang dengan suami dan anak-anak dalam rangka liburan Idul Fitri. Saat itu, amak terlihat sangat bahagia. Sayang kepulanganku saat ini sendirian dan tidak dalam suasana yang menyenangkan.

Keluarga inti kami berjumlah tiga orang, aku, abak, dan amak. Sekarang, hanya amak yang menunggui rumah. Abak sudah menutup mata. Untunglah ada Lenggo, anak sepupu jauhku yang menemani beliau.

Tek Na, Lenggo tidak kuat lagi tinggal di Padang. Lenggo takut Padang dihantam tsunami seperti di Jepang. Lenggo mau pulang ke Bukit Tinggi, balik ke rumah amak Lenggo,” suara Lenggo di ujung telepon mengagetkanku.

“Ada sehat-sehat saja, Mak?”

Amak sehat, Na….”

“Katanya, Lenggo mau balik ke Bukit Tinggi?”

Iyo, Na. Tidak bisa amak tahan lagi.”

“Karena si Lenggo mau pergi, biarlah Na pulang ke Padang manjemput Amak. Kita berkumpul di Jakarta, Mak,” aku memutuskan.

Amak tidak mau menetap di Jakarta!”

Aku meletakkan gagang telepon. Pikiranku berkecamuk. Ketika televisi menyiarkan bencana tsunami di Jepang, seorang pakar geologi mengungkapkan bahwa di bawah Pulau Siberut masih tersimpan energi yang kalau ‘meledak’ mampu menimbulkan gempa berkekuatan sekitar 9.0 Skala Richter dan ada kemungkinan diikuti tsunami. Ancaman itu menghantuiku dan juga warga Kota Padang dan sekitarnya. Tapi, tidak bagi amak-ku.

Teman-teman facebook-ku yang dari Kota Padang sering mengungkapkan keresahan tersebut di status mereka. Katanya, warga Kota Padang bagaikan orang yang telah diputuskan mendapatkan hukuman mati. Tapi, tidak tahu kapan eksekusinya.

“Badan bagai melayang. Tsunami terus membayang. Akankah kami menjadi generasi yang hilang?” tulis Gadis di akunnya. Gadis, sahabat karib Na sejak kanak-kanak. Sekarang, pertemanan mereka dilanjutkan melalui dunia maya. Na sangat merasakan ketakutan gadis. Berdiri bulu kuduk Na membaca tulisan Gadis.

Pagi ini, sesudah shalat dhuha, amak, Na, dan Lenggo duduk-duduk di teras rumah.

Amak tidak mungkin pindah ke Jakarta, Na,” amak membuka pembicaraan.

Na menatap amak lama. “Mengapa, Mak?” tanya Na dengan suara bergetar.

Amak terikat emosi dengan rumah kita, Nak, “ pelan amak berucap.

Na menatap wajah keriput amak. Kemudian, beralih ke punggung telapak tangan amak. Urat-urat besar menonjol di sana. Telapak tangan itulah yang merawat Na. Sangat besar pengorbanan amak untuk Na. Amak diminta berhenti jadi pegawai negeri oleh abak karena Na. Sejak lahir, Na mengidap penyakit jantung bawaan. Katup jantung Na bocor sehingga harus dioperasi. Na menjalani operasi jantung saat kelas lima SD. Menurut amak, setahun setelah menjalani operasi barulah Na tidak sakit-sakitan lagi. Sampai sekarang sakit jantung Na tidak pernah kumat. Entah dengan apa Na membalas jasa amak.

“Na akan berdosa dan menyesali diri seumur hidup jika amak digulung tsunami di sini,” ungkap Na dengan suara lirih.

“Itu takdir, Na. Belum tentu Kota Padang dihantam tsunami.”

“Tapi, kan begitu hasil penelitian para pakar dalam dan luar negeri, Mak.”

“Para pakar boleh meneliti dan memprediksi, tapi takdir tetap di tangan Tuhan, Nak.”

“Tapi, kita kan wajib berusaha, Mak. Lihat saja, Mak, usia orang di negara maju lebih lama daripada orang di negara berkembang. Hal itu karena masyarakat di negara maju lebih berusaha dan mampu meningkatkan kesehatan mereka. Bukankah Tuhan juga menyuruh kita berusaha?” Na mencoba mendebat amak.

Amak tahu, Na.”

“Menurut amak, apa usaha kita agar terhindar dari tsunami?” tanya Na kemudian.

“Kita bisa menghindar dari tsunami, tapi tidak dari kematian,” ujar amak pelan dan dingin.

“Karena itu, kita wajib mempertebal iman, beribadah sebanyak-banyaknya, berdoa, berzikir, dan beristigfar agar saat dijemput Tuhan kita berada dalam keadaan bertakwa pada-Nya. Kalau sudah begitu, kita tak takut mati lagi,” tambah amak lagi.

“Na setuju dengan pendapat amak. Tapi, itu tentang kematian, dan Na ingin tahu juga pendapat amak mengenai tsunami yang akan menimpa Kota Padang.”

“Jangan menyikapinya dengan berlebihan, Na!”

“Na dengar simulasinya, nanti, jika terjadi tsunami, untuk menghindarinya, sesudah gempa semua warga harus berlari ke tempat yang lebih tinggi. Untuk orang seusia amak, Na rasa sia-sia. Makanya, amak ke Jakarta saja, sama Na,” bujuk Na lagi.

“Apa pun yang akan terjadi, amak tetap di sini, Kota Padang kampung amak. Di rumah ini amak dan Na lahir, di rumah ini juga abak Na meninggal,” jawab amak garing.

Na sudah tahu kini bahwa amak tidak dapat dibujuk lagi.

Ini malam terakhir Na tidur bersama amak. Kemarin dengan mobil travel, Na dan amak mengantarkan Lenggo balik ke ibunya di Bukit Tinggi.

Menjelang malam, pikiran dan mata Na tidak bisa juga diajak tidur. “Na, ‘lah malam hari, mari tidur,” ajak amak sambil menguap. Ia tahu Na resah dan susah tidur.

Amak akan baik-baik saja,” tambah amak lagi.

Fantasi Na berlari-lari kian kemari. Ia membayangkan, sesampai di Jakarta, tiba-tiba, Na menonton Kota Padang dihantam tsunami di televisi. Amak-nya hilang ditelan lautan. Na berusaha menghilangkan pikiran jeleknya.

Aku harus berpikiran positif, tekad Na. Ia coba mengosongkan pikirannya dari rasa kekhawatiran dan bersalah meninggalkan amak sendiri. Na mulai berzikir. Na terus berzikir sampai capek dan kantuknya datang. Na pun tertidur.

Tiba-tiba, tempat tidur Na bergoncang hebat. Na dan amak terlempar ke lantai. Spontan Na menarik tubuh amak ke bawah kolong tempat tidur. Selamat. Baru saja mereka berhasil pindah, “Brak!” Lemari pakaian di kamar amak menghantam lantai. Na dan amak   tengkurap di bawah kolong. Beberapa perabotan terlempar menimpa mereka. Tangan kanan Na berpegangan pada salah satu tiang ranjang yang juga terus bergoyang. Tangan kiri Na memeluk pinggang amak. “Pegang pinggang Na, Mak. Satu lagi tangan amak pegang tiang ranjang yang di sebelah sana!” Na memberi petunjuk. Listrik padam. Bumi terus bergoncang. Berulang-ulang, terdengar barang-barang terbanting. Sepertinya, loteng di kamar amak rubuh, terdengar berdebum, mungkin menimpa ranjang besi amak dan lemari. Beruntung Na dan amak terkurung di kolong ranjang sehingga tidak menimpa mereka.

Dalam kondisi seperti itu, yang dipikirkan Na hanyalah dirinya, amak, dan Allah. Bagaimana bisa selamat dari gempa dan tsunami yang akan menelan mereka? Rasa sakit terlempar dari tempat tidur dan keluarga di Jakarta tidak muncul di memorinya. Tidak satu pun yang bisa menolong, kecuali Tuhan. Sebuah keyakinan yang membantu mereka menjadi kuat. Memasrahkan diri pada-Nya dalam harapan dan doa.

Hanya beberapa menit gampo itu datang, sekarang bumi telah tenang. “Alhamdulillah,” ucap mak dan Na.

Mak, ayo cepat kita keluar rumah!” ajak Na.

“Na, di balik kasur di bawah bantal ada senter, ambillah!”

Ternyata, untuk keluar dari kolong ranjang saja susah. Di bagian depan ranjang telah ditutupi lemari yang roboh. Di bagian belakang dan sisi kanan berbatasan dengan dinding, sisi kiri, yang biasanya lowong telah terisi penuh, dengan perkakas-perkakas, juga di sekitar tubuh Na dan amak. Na hanya bisa menjulurkan tangannya ke bawah kasur untuk mengambil senter. Syukur, dapat. Na langsung menyenter kondisi kamar yang isinya telah lintang pungkang. Tempat keluar hanya dari sisi kiri. Di sana, bertumpuk barang-barang kecil yang bisa diinjak. Na dan amak saling membantu.

Dengan susah payah, mereka berhasil berdiri di atas tumpukan barang di samping tempat tidur. Na menyenter seluruh kamar. Loteng di atas tempat tidur ambruk dan tertahan di besi tempat tidur. Lemari, pintu kamar, dan jendela copot.

“Mak kita keluar melalui pintu jendela saja. Kita harus cepat sampai di luar, mencari tempat yang tinggi. Kita kembali ke kasur, dan melompat ke jendela. Untung pintu jendelanya juga copot.”

“Iya, Na,” jawab amak singkat.

Kembali mereka berjuang. Sesampai di atas kasur, belum lagi mencapai jendela, gempa kembali datang. Gempa kedua ini lebih hebat lagi. Spontan Na dan amak, tidur mengambil posisi tengkurap. “Pegangan pada besi tempat tidur, Mak,” pinta Na. Tempat tidur mereka bagaikan ayunan. “Allah, Allah, Allah, …,” sebut mereka berulang-ulang. Aduh! Bagaimana keluar kamar? Kita harus berada di luar agar terhindar tsunami, Na membatin. “Mak!, Mak, kuat, kan, Mak?” tanya Na. Loteng triplek yang lepas dan mengatapi tempat tidur terlempar ke samping. “Pegangan yang kuat, Mak,” kata Na mempererat rangkulannya pada Mak, sementara telapak tangannya erat memegang senter. Tangan Na yang satu lagi kuat mencengkeram besi tempat tidur. Dan, tiba-tiba Na dan amak menjerit serentak. Mereka tertimpa dinding tembok yang rubuh. Hanya sekali mereka meneriakkan, “Allahuakbar!” Selanjutnya, diam dalam pingsan. Ketika siuman, Na sudah terapung-apung di air. Dia berada di atas triplek.

Di mana amak? Na terpekik dalam hati. Ternyata, untuk menggerakkan lehernya pun Na tak sanggup. Na hanya mampu memainkan bola matanya. Dengan sudut mata, Na melihat ke samping kiri dan kanan. Na tidak melihat amak-nya. Gelap, malam begitu pekat. Langit tidak berbintang. Hanya suara alunan ombak yang menemani Na. Dicobanya mengeluarkan suara memanggil amak, tapi suara Na, tidak bisa keluar. Amak di mana?

Na kembali bertanya. Ia menangis dalam hati. Kesedihan Na begitu dalam. Na merasa amak tidak ada di sampingnya. Apa yang bisa Na lakukan? Fisik Na tanpa kekuatan. Otak Na pun melemah. Yang mampu diingatnya hanya amak. Setiap mengingat amak, jantung Na terasa sakit. Air mata meleleh di pipi. Akhirnya amak ditelan tsunami, juga, sesal Na, di sela-sela tangisan batinnya.

Menyebut kata tsunami pikiran Na jadi terbuka. Kata itu membuat ingatan Na, kembali terang. Sekarang Na berada di laut? Jadi korban tsunami?Amak hilang? Bukankah Na pulang ke Padang menjemput amak? Anak-anak tinggal di Jakarta. Otak Na merangkai semua kejadian. Pulihnya kesadaran Na justru menjadi bumerang. Rasa takut luar bisa menyerang Na. Ia sendirian di tengah lautan. Rasa takut Na bersatu dengan rasa kehilangan amak dan rasa terpisah dari suami serta anak-anak. Dada Na bagaikan mau pecah menanggungnya. Sakit sekali. Napas Na jadi tersengal sengal.

“Na! Na! Na! Bangun, Nak! Shalat Subuh!” amak menggoyang-goyangkan badan Na. Na sama sekali tidak bergeming. “Na, bangun, Na. Bukankah jam delapan pagi ke bandara?” amak kembali membangunkan Na. Amak heran, tidak biasanya Na susah bangun. Selama berada di kampung Na selalu bangun sebelum waktu Subuh.

Amak mengusap-usap muka Na agar terjaga. Tak ada reaksi. Lama amak meletakkan telapak tangannya di wajah Na. Amak bagaikan tersengat kalajengking ketika mengetahui bahwa tidak terasa hembusan napas Na, di telapak tangannya. Amak menutup kedua lubang hidung Na dengan jari telunjuknya agak lama. Na tidak gelagapan. Amak memeriksa nadi, Na. Tidak ada denyutan. Amak baru menyadari bahwa tubuh Na dingin sekali. Amak tersentak. Ternyata ‘tsunami’ kecil melandanya. Takdir menjemput anak tunggalnya dalam tidur. Hanya itu yang amak ketahui.

 


Hasil Penilaian Membaca Teks Tsunami


Program