Tidak
seorang pun yang ingin jadi penduduk kelas bawah, termasuk Agus dan Surti. Alur
kehidupan yang dijalani keduanya memuarakan mereka sebagai pasangan suami istri
dengan seorang anak, berprofesi buruh pabrik sepatu, tinggal di kamar
ukuran tiga kali tiga meter, berpenghasilan hanya cukup untuk makan.
Surti
telah dua kali melahirkan. Kesehatan anak keduanya bermasalah. Sejak lahir,
setiap habis menangis tubuh mungilnya membiru. Surti membawa bayinya ke
Puskesmas. Dokter mengatakan kemungkinan besar si bungsu sakit jantung. Ia
dirujuk ke rumah sakit Cipto.
“Oalah
Nak, hidup kita susah begini, kok ngambil penyakit orang kaya,” Surti bergumam
sambil mencium pipi biru anaknya. Air matanya menetes saat menerima surat
rujukan dari dokter Puskesmas.
Sebagai
ibu, Surti ikhlas berhenti bekerja dan membawa anaknya berobat ke Cipto. Tapi,
mereka terbentur biaya. Meskipun kartu miskin bisa diurus tetap saja ada yang
harus dibayar. Dari rumahnya ke Cipto tiga kali naik angkutan umum. Pulang
pergi enam kali ongkos. Dari mana uangnya? Upah Agus hanya cukup untuk membayar
sewa kamar dan membeli beras. Ketika masih bekerja, upah Surti dipisahkan untuk
pembeli lauk-pauk dan biaya lainnya. Sekarang, telah berhari-hari ia
tidak masuk pabrik karena merawat anaknya. Artinya, pemasukan dari
Surti kosong. Tidak ada jalan keluar. Si Bungsu gagal berobat ke rumah
sakit besar.
Tidak
sanggup hidup berat di dunia, bayi merah Surti balik kepada Sang Khalik.
Pasangan itu tergoncang. Mereka merasa bersalah. Terutama Surti. Hatinya perih
dan pedih. Ia terluka.
Hidup
Surti dan Agus terus mengalir. Seiring dengan berjalannya waktu, luka jiwa
Surti berangsur sembuh. Meski, sakitnya masih terasa. Dalam keadaan batin belum
stabil tersebut, badai kembali menghantam mereka. Krismon melanda negeri
pertiwi, sehingga mempengaruhi kehidupan berbagai kalangan. Agus dan Surti
turut jadi korban. Pabrik tempat Surti dan Agus bekerja bankrut.
Setiap
hari, Agus, Surti, dan teman-temannya tetap datang ke pabrik. Mereka
bergerombol dan mengobrol. Tidak ada pekerjaan lagi. Ketika sebuah koran
memberitakan bahwa pemilik pabrik tempat mereka bekerja kabur ke luar negeri,
semua karyawan dan buruh tersentak. Mereka merasa kecolongan. Secara spontan
mereka berdemo di depan pabrik.
Namun,
beberapa hari berdemo, tidak seorang pun petinggi pabrik yang menghampiri para
karyawan. Mereka raib tak berbekas. Hanya wartawan yang memotret dan
mewawancarai pendemo. Karena itu, Agus dan teman-temannya memutuskan berdemo di
halaman kantor Depnaker. Mereka menuntut pemerintah memaksa pemilik pabrik
bertanggung jawab terhadap nasib karyawannya.
Surti
putus asa. Hari-harinya dan Agus habis untuk berdemo. TV 14 inci, satu-satunya
hiburan Si Sulung, telah terjual. Surti sangat ketakutan membayangkan ia dan
Agus tidak punya uang sama sekali. Ia tak mampu membeli nasi saat si Sulung
lapar. Si Sulung akan lapar berhari-hari dan meninggal, seperti Si Bungsu.
Tubuh Surti menggigil. Sebagai ibu, ia merasa tidak berguna lagi.
Diambilnya
pisau. Lama diperhatikannya sisi mata pisau yang tajam. Surti melihat Si Bungsu
di sana. Ia sehat dan montok. Di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap. Sambil
terbang kian ke mari, si Bungsu memanggil-manggil Surti. Ia mengajak Surti
bermain-main di taman bunga yang indah. Surti ingin bergabung dengan si Bungsu.
Gagang pisau dipegangnya erat. Ia siap melayang.
“Mama mau
potong apa?” tanya si Sulung polos. Surti terperanjat. Si Sulung menyadarkannya
kembali ke alam nyata. Buru-buru Surti meletakkan pisau. Dipeluknya si Sulung
dengan penuh haru. Si Sulung telah menyelamatkan jiwanya. Hampir saja ia
menjadi pengikut setan, setan jahat yang berwujud si Bungsu untuk menggodanya.
“Maafkan
Mama, Nak. Mama tak akan meninggalkanmu. Mama akan cari uang. Kamu tidak boleh
busung lapar,” Surti berjanji. “Tuhan, ampuni hamba,” mohonnya tulus. “Stop
berdemo. Uang kita hanya cukup untuk bertahan seminggu, Bang,” kata Surti pada
Agus.
“Tidak!
Abang dan teman-teman ingin kerja lagi atau dapat pesangon. Masa kerja kita
telah belasan tahun, jadi pantas dapat pesangon,” Agus bersikukuh. “Untuk makan
sehari-hari, Sur, ngutanglah dulu di warung. Kalau pesangon telah keluar, semua
kita bayar,” Agus tetap pada pendiriannya.
Semalaman
Surti tidak bisa tidur. Ia ingin berjualan. Tapi, tidak punya modal. Surti
memeras otaknya, agar dapat ide, bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang.
Tiba-tiba, Surti ingat Ipan, pengasong koran di pabrik. Sejumput harapan
singgah di kepala Surti. Surti pernah mengobrol panjang lebar dengan Ipan. Dari
Ipan, Surti tahu untuk berdagang koran tidak perlu modal. Yang penting mendapat
kepercayaan dari agen. Kalau sudah dipercaya, ambil koran pagi, langsung
dijual. Besok paginya, ke agen lagi mengambil koran yang terbit hari itu dan
membayar koran yang dibawa kemarin.
“Aku akan
dagang koran,” Surti memutuskan. Bibirnya tersenyum. Puas. Tapi sayang, sejak
pabrik tutup Surti tidak pernah lagi bertemu Ipan. Maka ia mencari sendiri
alamat agen koran. Dengan bertanya ke sana ke mari akhirnya ia berhasil
menemukan rumah sang agen. Syukurlah, si agen bersedia mengutangi Surti. Ia
menyarankan Surti berjualan di tempat yang ramai. Saat itu juga terbayang di
pikiran Surti perempatan jalan dekat pabriknya. Siang malam perempatan itu
selalu ramai.
Sore itu
Surti pulang dengan tubuh dekil dan keringat di jidat. Ternyata, berdagang
koran juga berat. Dini hari, ketika orang lain masih berselimut, ia harus
berangkat ke bursa koran, menembus dinginnya cuaca. Begitu mendapat koran,
langsung dibawanya ke tempat mangkal. Seharian menunggu pembeli, panas terik
membakar kulit, setiap detik menghirup debu jalanan. Namun, Surti puas. Hari
pertama ia jualan, korannya laris manis. Lima korannya bersisa, tapi bisa
dikembalikan ke agen. Surti tidak menanggung rugi.
Malamnya,
Surti mengibaskan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Agus. “Bang Gus, ini
untung Sur hari ini. Banyak ya, Bang,” wajahnya sumbringah. “Kalau kita punya
gerobak koran yang ada rak-raknya, kita bisa dagang majalah juga. Pasti labanya
lebih gede lagi. Sekarang Sur hanya bisa mengasong koran dan tabloid,” Surti
menerangkan. “Tapi, kalau dagang majalah, harus kita beli kontan. Agen tidak
kuat memodalinya.”
Agus
tidak bereaksi. Ia terlihat bengong. Jauh di lubuk hatinya, ia malu pada Surti.
Untuk mengimbangi usaha Surti mencari uang, Agus berjanji dalam hatinya akan
menggantikan tugas harian Surti, memasak dan merapikan rumah, serta menjaga si
Sulung. Jika ia berdemo, si Sulung akan dibawanya.
Hampir
setengah tahun Agus dan teman-temannya menghabiskan waktu menuntut haknya. Atas
izin Tuhan, keluar juga pesangon yang didambakan Agus. Tapi jumlahnya sedikit.
Itu pun ditalangi pemerintah. Uangnya hanya cukup untuk membuat gerobak koran
dan modal membeli majalah. Agus kecewa. Ia berharap, uang pesangonnya jauh
lebih besar. Sebab yang di-PHK dua orang, yaitu dirinya dan Surti. Surti
menghiburnya. Dibujuknya Agus agar pasrah pada Tuhan. Ia juga mengajak Agus
berjualan koran.
Siang itu
Surti bersama Agus, dan si Sulung, menunggui gerobak koran. Mereka baru saja
memakan nasi bungkus yang dibeli di Warteg. Sejak berjualan majalah dan punya
gerobak, pembeli tambah banyak. Dagangan mereka terlihat semarak.
Tapi
tiba-tiba, ketika mereka melayani pembeli, tiga mobil loosback berhenti di
depan dagangan Surti. Puluhan petugas trantib melompat turun. Petugas menyuruh
Surti dan Agus keluar gerobak. Selanjutnya, mereka beramai-ramai mengangkat
gerobak Surti ke atas mobil. Koran, tabloid, dan majalah, ikut mereka bawa.
Sebagian bahkan berserakan, terinjak kaki petugas.
Agus dan
Surti terkesima. Ketika Surti melihat dagangannya terinjak-terinjak, hatinya mendidih.
Bagaikan singa betina terluka Surti mengamuk. Diberikannya si sulung kepada
Agus. Dengan membabi buta Surti menarik, menjambak, dan memukul seorang
petugas. Ia berteriak-teriak histeris. Agus dengan sebelah tangannya
menggendong Si Sulung berusaha merangkul Surti. Tapi, tenaga Surti telah
berlipat ganda. Ia berontak dari rangkulan Agus.
Seorang
petugas memegang kedua tangan Surti. Surti kesal, diludahinya petugas itu.
Tersinggung diludahi, tangan besar sang petugas menampar pipi Surti. Melihat
istrinya ditampar, Agus kehilangan kendali. Diambilnya sebuah batu di tanah dan
dipukulkannya ke kepala petugas. Kepala petugas itu bocor. Darah mengucur
deras.
Agus dan
Surti diringkus petugas yang lain. Sebelum dibawa ke kantor polisi, petugas
yang marah, karena temannya terluka, menghajar Agus. Tubuh Agus babak belur. Ia
pingsan. Surti mati rasa. Pikirannya kosong. Si sulung menghilang. Seorang
penculik anak, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Surti dan Agus tidak
bisa lagi memikirkan anak semata wayangnya itu.
Para
petugas trantib pulang ke rumah. Bercengkerama dengan anak istri mereka. Tugas
hari itu sudah dilaksanakan dengan baik. Jalan protokol telah bersih. Insentif
dijamin dapat. Di balik senyum puas petugas trantib dan atasannya itu,
terdengar tawa Surti bercampur tangisan pilu. Tangis yang mendayu, mengiringi
lagu kehidupannya. Menyapa Agus yang linglung di penjara.
Otak Agus
serasa mau pecah memikirkan keberadaan si Sulung. Mungkinkah Agus menyusul
Surti ke rumah sakit gila? Aparat tak lagi peduli. Yang penting jalan bersih.
Masyarakat nyaman. Tahun depan sang penguasa bakal terpilih lagi.
“Horas
Indonesiaku! Horas penguasa! Aku Surti pendukungmu! Aku adalah sampah yang
harus kau buang, Tra la la la la. Kau gus-sur, Tri li li li.” Surti terus bernyanyi
sepanjang waktu, diselingi seringai, tawa, tangisan, rintihan dan makian.
