""JANGAN BUANG WAKTU DENGAN TERUS MENGELUH"" - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Kamis, 29 Mei 2025

""JANGAN BUANG WAKTU DENGAN TERUS MENGELUH""



Hujan turun sejak subuh. Di sebuah rumah kecil yang dindingnya mulai mengelupas, Wina duduk memandangi nasi dan tempe goreng yang masih mengepul di piring. Tangannya tak juga bergerak.

“Makan ya, Win… nanti dingin,” kata ibunya, Bu Sulastri, pelan. Wajahnya sudah keriput, tubuhnya membungkuk karena usia. Tapi tangan tuanya masih sibuk menjahit baju tetangga demi sesuap nasi.

“Ma… aku capek,” lirih Wina, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. “Hidup ini kayaknya nggak adil. Aku udah lamar kerja ke mana-mana, nggak ada yang panggil. Temen-temenku udah pada sukses… sementara aku?”

Bu Sulastri meletakkan kain yang sedang dijahit. Ia menatap anak semata wayangnya yang sejak lulus SMA belum juga mendapat pekerjaan.

“Wina… kamu tahu? Waktu kamu lahir, Bapak kamu baru saja meninggal. Ibu kerja nyuci baju orang sambil gendong kamu. Kadang nasi cuma bisa ibu makan sekali sehari. Tapi ibu nggak pernah mengeluh.”

Wina menggigit bibirnya. “Tapi itu Ibu. Aku nggak sekuat Ibu…”

“Ibu juga pernah lelah. Tapi Ibu sadar, setiap kali ibu mengeluh… waktu terus berjalan. Waktu itu nggak pernah berhenti hanya karena kita sedih.”

“Ibu nggak ngerti perasaanku…”

“Ibu ngerti, Nak.” Suara Bu Sulastri bergetar. “Ibu ngerti rasanya ngelamar kerja dan ditolak. Dulu, sebelum nikah sama bapakmu, ibu pernah kerja di toko. Setiap hari digaji kecil, tapi dipaksa kerja seperti budak. Ibu pernah pulang dengan kaki berdarah. Tapi Ibu terus jalan, karena tahu… kalau Ibu berhenti, siapa yang akan bantu keluarga?”

Wina menangis. “Aku… aku juga mau bangkit, Ma. Tapi rasanya susah.”

“Bangkit itu memang susah, Nak. Tapi mengeluh terus menerus jauh lebih menyakitkan, karena kamu nggak akan ke mana-mana. Kamu cuma diam di tempat, sementara dunia jalan terus.”

Hening.

Hanya suara hujan yang terdengar di sela-sela napas yang tertahan.

Kemudian Bu Sulastri mengelus rambut anaknya. “Jangan buang waktu untuk terus mengeluh, Wina. Gunakan waktumu untuk belajar, mencoba lagi, bantu orang. Siapa tahu dari situ, jalanmu terbuka.”

Hari itu, kata-kata sang ibu membekas dalam hati Wina. Ia berhenti mengurung diri. Mulai membantu ibunya menjahit, ikut kursus online gratis, dan membuka jasa pengetikan kecil-kecilan di rumah.

Tiga bulan kemudian, sebuah perusahaan kecil tertarik dengan semangat dan portofolionya yang sederhana. Wina diterima.

Malam itu, ia memeluk ibunya erat.

“Terima kasih, Ma… kalau saja waktu itu Mak nggak ngomong begitu, mungkin aku masih sibuk menyalahkan hidup.”

Bu Sulastri tersenyum, “Ibu cuma ingin kamu tahu, Nak… hidup bukan tentang menunggu hari cerah, tapi belajar menari di tengah hujan.”

Hari-hari Wina mulai berubah. Meski pekerjaannya belum seberapa, semangatnya tumbuh seperti benih yang akhirnya menemukan tanah subur.

Setiap pagi, ia bangun lebih awal. Menyiapkan sarapan untuk ibunya, lalu berangkat kerja dengan sepeda tua peninggalan almarhum ayahnya. Kadang rantainya lepas, kadang hujan membasahi seragam murahnya, tapi ia tidak lagi mengeluh.

Suatu malam, saat Wina baru pulang, Bu Sulastri tampak duduk di teras dengan wajah pucat.

“Ibu kenapa?” tanya Wina panik, meletakkan tas dan langsung mendekap ibunya.

“Pusing dikit… mungkin kecapekan aja,” jawab Bu Sulastri, berusaha tersenyum.

“Tadi Ibu makan apa?”
“Cuma teh hangat sama roti… nggak enak makan sendiri.”

Wina terdiam. Matanya mulai berkaca.

“Maaf, Ma… aku terlalu sibuk sampai lupa Ibu di rumah sendirian…”

“Jangan minta maaf, Win. Ibu justru bahagia lihat kamu semangat lagi. Ibu cuma… ya, kadang kangen ngobrol lama kayak dulu.”

Malam itu mereka makan bersama di teras, hanya dengan sayur bayam dan tempe, tapi rasanya lebih nikmat dari hidangan restoran manapun.

Beberapa bulan berlalu.

Pekerjaan Wina berkembang. Ia dipercaya mengelola media sosial kantor, lalu membuka jasa freelance desain di rumah. Sedikit demi sedikit, ia menabung.

Namun, suatu pagi, Wina menemukan ibunya pingsan di kamar. Panik, ia membawa Bu Sulastri ke rumah sakit. Dokter memanggilnya ke ruang konsultasi.

“Bu Sulastri mengalami komplikasi tekanan darah tinggi dan ada gejala stroke ringan. Untung cepat ditangani. Tapi sebaiknya dia tidak terlalu lelah dan rutin kontrol.”

Wina menggenggam tangan ibunya yang terbaring lemah. Air matanya menetes diam-diam.

Sepulang dari rumah sakit, Wina mengambil keputusan besar: berhenti kerja dari kantor, dan fokus di rumah sambil membangun usaha online-nya sendiri agar bisa merawat ibunya.

Teman-temannya sempat mencibir.

“Sayang banget, Win. Kamu baru mulai sukses loh!”

Tapi Wina hanya tersenyum. “Apa gunanya sukses kalau aku lupa sama yang selama ini jadi alas kakiku berdiri?”

Dua tahun kemudian…

Usaha Wina berkembang. Ia membuka layanan desain, cetak, dan jualan produk digital dari rumah. Namanya dikenal di kalangan UMKM lokal. Ia juga rutin memberi pelatihan gratis untuk ibu-ibu rumah tangga yang ingin belajar cari penghasilan dari rumah.

Dalam salah satu sesi pelatihan, seorang peserta bertanya padanya:

“Kak Wina, apa yang bikin kakak semangat terus, bahkan waktu dulu hidup susah?”

Wina tersenyum, menatap ibunya yang duduk di pojok ruangan, kini sudah lebih sehat dan ceria.

“Satu hal: karena aku pernah belajar dari seorang perempuan luar biasa… bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengeluh. Selama kita masih punya waktu, gunakan untuk bergerak, belajar, dan mencintai.”

Tepuk tangan mengisi ruangan.

Dan di sudut sana, Bu Sulastri menangis haru. Bukan karena sedih, tapi karena bangga. Anak yang dulu hampir menyerah, kini telah menjadi cahaya bagi banyak orang.


Sumber. https://www.facebook.com/share/p/1AW1xfK9vN/

Program