Materi 9 Rukhsah: Kemudahan dari Allah SWT dalam Beribadah KepadaNya - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 18 Mei 2025

Materi 9 Rukhsah: Kemudahan dari Allah SWT dalam Beribadah KepadaNya

MATERI IX RUKHSAH : KEMUDAHAN DARI ALLAH SWT DALAM BERIBADAH KEPADANYA

Tujuan Pembelajaran

  • Melalui pembelajaran inquiry, peserta didik dapat menjelaskan makna rukhṣah dalam ibadah
  • Melalui pembelajaran market place, peserta didik dapat mengidentifikasi berbagai rukhṣah dalam salat, puasa, zakat, dan haji.
  • Melalui pembelajaran berbasis produk, peserta didik dapat membuat bagan atau tabel mengenai rukhṣah dalam salat, puasa zakat dan haji.

A.    Memahami makna Rukhsah

1.     Pengertian Rukhsah

Rukhsah secara bahasa memiliki arti keringanan atau kelonggaran. Secara istilah, rukhsah diartikan perubahan hukum dari hukum asalnya karena sebab tertentu dengan tujuan memberikan kemudahan dan keringanan.

2.     Hukum dan dalil Rukhsah

Hukum rukhsah adalah al-ibahah (dibolehkan) karena kebutuhan atau keterpaksaan. Hal ini berdasarkan QS Al-Baqarah/2: 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."( QS Al-Baqarah/2: 286)

 

Pada penggalan ayat di atas, Allah swt memberikan beban kepada manusia sesuai kesanggupannya. Dalam hal ini manusia tidak diberikan dengan yang berat dan sukar.  Islam mempunyai asas mudah, ringan dan tidak sempit. Agama menghendaki kemudahan bukan kesukaran.

 

3.     Alasan dibolehkan Rukhsah

a.     Tujuan rukhsah bukan untuk berlaku zalim, dosa, atau meringankan suatu hukum yang sudah ringan.

b.     Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) diberikan keringanan sesuai dengan jarak dan kondisi yang ditentukan.

c.     Rukhsah bagi orang jika tidak mampu menjalankannya seperti puasa di bukan Ramadhan dikarenakan musafir atau sakit.

d.     Rukhsah bertujuan pula untuk menghilangkan kesulitan dan menghendaki keringanan sampai menemukan kelapangan sesudahnya. Manusia dapat memilih antara melaksanakan azimah (ketentuan semula) atau rukhsah (keringanan).

 

4.     Macam-macam Rukhsah

a.     Rukhsah yang mengandung Istihsan (Kebaikan)

Memilih rukhsah lebih baik. Misalnya musafir tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.

 

b.     Rukhsah yang menggugurkan Hukum ‘Azimah

Hukum awalnya haram dapat menjadi halal karena rukhsah. Contohnya, memakan bangkai pada saat terdesak /kelaparan bagi orang miskin dapat dihalalkan.

 

B.    Rukhsah dalam Shalat

Terkait dengan shalat, terdapat beberapa aturan yang mempermudah pelaksanaan shalat.

Misalnya dalam  perjalanan, shalat dapat dilakukan dengan diringkas atau digabung pada satu waktu. Atau dengan istilah lain dapat melakukan shalat jamak atau qasar.

 

1.     Shalat jamak  artinya menggabungkan/mengumpulkan dua shalat fardhu dan dilaksanakan dalam satu waktu.

“Dari Anas ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan shalat zuhur sampai waktu asar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua shalat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir sebelum ia pergi, maka ia shalat zuhur (dahulu) kemudian naik kendaraan.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Nasa’i)

Shalat yang boleh dijamak

a.     Dzuhur dijamak dengan Ashar: artinya laksanakan shalat dzuhur 4 raka’at, setelah salam langsung berdiri untuk melaksanakan shalat asyar 4 raka’at. Pelaksanaannya boleh di waktu Dzuhur boleh juga diwaktu Asyar.

b.     Magrib dijamak dengan Isya’ : artinya laksanakan shalat maghrib 3 raka’at, setelah salam langsung berdiri untuk melaksanakan shalat isya’ 4 raka’at. Pelaksanaannya boleh di waktu magrib boleh juga di waktu Isya.

Sedangkan shalat subuh tidak boleh dijamak

 

2.     Shalat qasar artinya menjalankan shalat fardhu dengan cara meringkas. Maksudnya, shalat yang 4 rakaat seperti zuhur, asar dan isya' yang diringkas menjadi 2 rakaat, dikerjakan pada waktunya masing – masing. Sedangkan shalat maghrib dan subuh tidak bisa diringkas.

 


Hal ini sesuai dengan QS An-Nisa’/4:101 berikut:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS An-Nisa’/4:101).

 

3.     Shalat jamak qasar, artinya melaksanakan shalat fardhu dengan cara dijama (digabung) sekaligus diqasar (diringkas).

Contoh dalam praktiknya bila mengerjakan shalat zuhur dan asar, keduanya ingin di jamak takdim dan qasar, maka shalat zuhur dilakukan 2 rakaat, setelah salam, dilanjutkan shalat Asar 2 rakaat, sehingga totalnya hanya mengerjakan 4 rakaat dengan dua kali salam. 

 

C.    Rukhsah dalam Berpuasa

Allah swt memberikan kemudahan untuk meninggalkan puasa terutama pada orang-orang musafir, sakit, wanita yang haid atau nifas, wanita hamil atau menyusui, dan orang tua renta yang sudah tidak mampu lagi melaksanakan ibadah puasa.

Firman Allah swt dalam QS Al-baqarah/2:184:



 “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.( QS Al-baqarah/2:184)

 

1.     Orang sakit,

Orang yang sedang sakit boleh meninggalkan puasa jika apabila ia berpuasa maka penyakitnya akan bertambah parah.Oleh karena itu ia diberikan keringanan dalam berpuasa. Baginya adalah mengganti puasa di hari lain apabila sudah sembuh. Apabila penyakitnya tidak ada harapan untuk sembuh, ia boleh mengganti dengan membayar fidyah.

 

2.     Orang yang sedang bepergian (musafir)

Orang yang sedang bepergian boleh melakukan shalat jamak atau qasar. Sedangkan untuk berpuasa, mereka boleh meninggalkannya. Tetapi mereka wajib mengganti puasanya di hari lain.

 

3.     Wanita haid atau nifas

Wanita haid atau nifas boleh meninggalkan puasa, tetapi menggantinya di hari lain.

 

4.     Wanita hamil atau menyusui

Kedua wanita ini wajib mengganti puasanya kalau ia khawatir puasa akan mudharat bagi dirinya dan anaknya. Jika wanita tersebut khawatir akan menimbulkan mudharat bagi anaknya, maka ia wajib membayar fidyah kepada fakir miskin dan mengganti puasanya di hari lain.

 

5.     Orang tua renta

Orang tua yang renta dan tidak mampu melaksanakan puasa boleh meninggalkan puasanya dan mengganti dengan membayar fidyah.

 

D.    Rukhsah dalam Membayar Zakat.

Zakat berfungsi membersihkan diri dan hartanya. Selain itu zakat mempunyai fungsi sosial yaitu membantu masyarakat yang kurang mampu (fakir dan miskin) juga kelompok lain sesuai dengan ketentuan islam.

Seperti halnya pada shalat dan puasa, pada zakat terdapat beberapa keringanan.

a.     Zakat fitrah biasanya dibayar dengan makanan pokok. 1 orang zakat fitrah dibayarkan 2,5 kg beras. Untuk meringankan zakat dapat dibayar dengan uang seharga makanan beras tersebut.

b.     Pembayaran zakat yang harus dibayarkan oleh pemilik zakat, boleh diwakilkan pada orang lain.

c.     Pembayaran zakat fitrah bertujuan untuk membahagiakan fakir miskin pada saat hari raya. Namun pembayarannya bisa dilakukan beberapa hari sebelum Idul Fitri.

 

E.    Rukhsah dalam Haji

Berikut keringanan pada ibadah haji dan umrah:

1.     Ibadah haji diperuntukkan bagi orang yang mampu. Mampu dalam ibadah haji berhubungan dengan biaya sendiri, keluarga yang ditinggal, dan kemampuan fisik atau kesehatan.

 


“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(QS Ali-imran/3:97)

 

2.     Ibadah haji wajib dilaksanakan satu kali seumur hidup

3.     Pelaksanaan haji boleh ditunda meskipun sudah mampu, misalnya pada situai darurat seperti wabah Covid 19.

4.     Cara melaksanakan ibadah haji boleh memilih Ifrad, Tamattu, dan Qiran

a.     Ifrad, yaitu haji dikerjakan terlebih dahulu, kemudian umrah

b.     Tamattu, yaitu umrah dikerjakan terlebih dahulu kemudian haji

c.     Qiran, yaitu haji dan umrah dilaksanakan secara bersamaan.

5.     Pelaksanaan ibadah haji boleh dikerjakan orang lain

Ibadah haji boleh diwakilkan meskipun orangnya masih hidup, karena sebab tertentu misalnya sudah tua atau dalam keadaan sakit. Hal ini disebut haji badal.

6.     Pembayaran dam boleh diganti dengan berpuasa

Orang yang melaksanakan haji tamattu atau qiran wajib membayar dam atau denda. Pembayaran dam dalam ibadah haji dengan menyembelih kambing, dapat diganti dengan berpuasa 3 hari di tanah suci dan 7 hari di tanah air.

7.     Tidak bermalam di Mina

Bermalam di Mina untuk melontar jumrah boleh tidak dikerjakan asalkan membayar dam.

Bahkan wukuf di Arafah tidak harus sejak pagi sampai malam. Orang yang sakit boleh berada di Arafah walau hanya sesaat.

8.     Ibadah lain yang berpahala setara dengan Ibadah haji

a.     Shalat berjama’ah, selain diberikan pahala 27 derajat juga diberikan pahala iabadah haji apabila dilakukan secara istiqamah

b.     Pergi ke masjid untuk belajar dan mengajar diberikan pahala ibadah haji.

 

F.    Hikmah Rukhsah

1.     Mempermudah pelaksanaan syariat Islam. Agama tidak menghendaki kesukaran.

2.     Pembuktian bahwa syari’at tidak kaku dan tidak pula ekstrem

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaaklah seseorang berlebih-lebihan (menyusahkan diri) dalam urusan agama melainkan agama akan mengalahkannya (HR Bukhari)

3.     Menguatkan istiqamah dalam ibadah dan cinta ajaran Islam

Sesungguhnya Allah swt menyukai keringanan yang diambil sebagaimana Dia membenci maksiat kepada-Nya (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

4.     Mendorong sikap saling disiplin dan saling menghargai

 

 

JURNAL REFLEKSI

Anak sholeh sholehah, setelah mempelajari materi ini, tolong jawab dengan jujur pertanyaan berikut!!!

  1. Adakah hal baru yang Ananda dapatkan setelah mempelajari materi rukhsah ini? 
  2. Apakah Ananda sudah memahami kemudahan yang diberikan Allah kepada kita dalam beribadah?
  3. Apakah teknik yang digunakan guru menarik bagi ananda? Jika tidak, apa metode yang menurut ananda menyenangkan untuk pembelajaran kita

Program