Pencuri yang Didoakan - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Selasa, 03 Juni 2025

Pencuri yang Didoakan

Pencuri Yang Didoakan 

Di sebuah kota kecil yang padat tetapi bersahaja, hiduplah sepasang suami istri lanjut usia yang sehari-hari bekerja sebagai pengepul rongsokan. Namanya Mbah Sastro dan Mbah Iyem. Rumah mereka terletak di ujung gang sempit, berdinding papan dan beratapkan seng tua yang sudah berkarat. Meski sederhana, rumah itu selalu bersih dan terasa hangat.

Mbah Sastro dan Mbah Iyem sudah puluhan tahun hidup bersama. Tak dikaruniai anak, mereka menjalani hari-hari dengan saling melengkapi. Mbah Sastro rajin mengayuh gerobak rongsokan, sementara Mbah Iyem memilah-milah barang di rumah.

Di ruang tamu yang sempit, berdirilah sebuah televisi tua hitam putih. Meski layarnya sudah bergetar dan suaranya kadang serak, benda itu sangat berarti bagi mereka. Televisi itu adalah barang berharga satu-satunya yang mereka beli sejak mereka masih muda dan baru menikah. 

Di usia senja, setiap malam mereka duduk berdampingan di atas tikar rotan, menyaksikan berita atau wayang kulit dari layar kecil itu. Televisi itu bukan sekadar hiburan, tapi teman setia dan barang kenangan mereka.

“Wes, biarpun gambarnya kadang putus-putus, tapi suaranya masih enak. Lumayan, kita nggak kesepian,” kata Mbah Iyem sambil mengelus kepala suaminya.

Mbah Sastro mengangguk. “Yang penting, masih bisa ketawa bareng nonton lawak di TVRI.”

Suatu malam, setelah mereka tidur lelap karena kelelahan, suara pelan terdengar dari jendela belakang rumah. Seorang pemuda dengan jaket lusuh dan celana sobek mengendap masuk lewat celah yang rusak. Ia menatap televisi tua itu lama.

“Paling dijual laku lima puluh ribu,” bisiknya sambil menggigit bibir.

Tangannya gemetar saat mengangkat televisi itu dan membawanya pergi dengan hati berdebar. Dia adalah Darman, pemuda sebatang kara yang tidak memiliki pekerjaan dan hidup menggelandang. Suka judi dan mabuk.

Pagi harinya, Mbah Iyem berteriak panik. “Sastro! TV-nya hilang!”

Mbah Sastro bangun terburu-buru. Mereka memeriksa seisi rumah, tapi memang hanya satu benda itulah yang hilang—televisi hitam putih mereka.

Mbah Iyem terduduk. “TV itu... itu kan kenangan kita waktu pertama kali punya uang saat baru menikah. Kamu ingat, to? Waktu kamu jual sepeda butut, kita beli itu.”

“Iya, aku ingat. Tapi mungkin memang bukan rejeki kita lagi,” jawab Mbah Sastro pelan.

Di hari-hari berikutnya, mereka tetap menjalani hidup seperti biasa. Tak ada kemarahan dalam diri Mbah Sastro. Yang ada hanya rasa kasihan.

“Aku membayangkan, betapa berat hidup orang itu, sampai televisi tua milik orang sepuh seperti kita pun ia ambil,” gumamnya suatu malam sambil memandangi sudut kosong di ruang tamu.

“Semoga benda itu memberi manfaat untuknya, mungkin benar katamu. Benda itu memang bukan rezeki kita lagi,” kata Mbah Iyem tersenyum getir.

Sementara itu, si pencuri memang menjual televisi itu ke tukang loak. Ia hanya mendapat empat puluh ribu rupiah. Tapi bukan itu yang membuat hatinya gundah dan penasaran, melainkan wajah Mbah Iyem yang tadi pagi ia lihat mengais-ngais sisa rongsokan di pinggir jalan, seperti tak terjadi apa-apa.

“Dia bahkan nggak mencari siapa pencurinya, dan terlihat tidak merasa kehilangan” ucap Darman pada dirinya sendiri. “Mereka pasti punya yang lebih berharga, emas mungkin?”

Malam berikutnya, Darman mengintip dari jauh. Ia melihat Mbah Sastro duduk di teras rumah, membaca koran bekas dengan penerangan lampu minyak. Setelah adzan isya berkumandang, Mbah Sastro terlihat masuk ke dalam rumah gubuknya.

Tak tahan, Darman mendekat. Ia bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas dan menunggui sampai kedua orang itu tertidur. Tapi, ternyata Mbah Sastro dan istrinya bukannya tidur melainkan sedang menunaikan sholat isya. 

Darman tetap berlindung di tempatnya, ia mendengarkan percakapan yang mengalir dari dalam rumah. Rupanya Mbah Sastro dan istrinya sudah selesai menunaikan sholat.

“Kita nggak usah beli TV baru, ya. Mending uangnya buat beli obatmu yang buat asam urat itu,” kata Mbah Iyem.

“Iya, TV bisa dicari lagi. Tapi kesehatan menang lebih penting, Yem.”

“Andai saja televisi itu masih ada ya, kita mungkin tidak kesepian seperti ini.“ ucap Iyem.

“Sudahlah, Yem. Tidak usah diungkit lagi barang yang memang bukan rezeki kita, kita doakan saja semoga orang yang mengambil diberi keberkahan dan keselamatan. Itu jauh lebih baik.“ Sambung Mbah Sastro.

Malam itu Darman hanya bisa diam. Ia beranjak pergi dan menangis di jalan gang, di bawah pohon waru yang rimbun. 

“Ternyata mereka orang yang sangat baik, bahkan mereka mau mendoakan orang seperti saya yang hina“ Ucap Darman dalam hati.

Untuk pertama kalinya, ia ingin berhenti jadi pencuri. Tapi bagaimana? Ia tidak punya tempat tinggal, tidak punya keluarga, dan tak punya pekerjaan. Dari mana ia bisa bertahan hidup. Pikirnya.

Sejak hari itu, Darman tidak pernah terlihat lagi di daerah tersebut. Tidak ada yang tahu kemana ia pergi, bahkan penulis dongeng ini pun tidak tahu, apalagi pembaca.

Berbulan-bulan berlalu, 

Hingga pada suatu pagi, Darman datang ke rumah Mbah Sastro membawa dua kardus besar. Satu berisi sembako, satu lagi berisi buah-buahan dan aneka roti dari pasar subuh.

Ia mengetuk pintu sambil menunduk.

“Pak... Bu... Maaf... Saya yang dulu mencuri TV itu. Saat itu... saya lapar, saya bingung... Saya tidak punya siapa-siapa, Dan hari ini saya ingin menebus kesalahan saya” katanya terbata-bata.

Mbah Sastro terdiam. Ia menatap pemuda kurus di hadapannya yang wajahnya penuh rasa malu. Terlihat rasa penyesalan yang dalam di wajah Darman.

“Masuklah, Le. Duduk dulu. Kamu sudah sarapan?” tanya Mbah Iyem lembut.

Darman menunduk, air matanya mengalir.

“Saya... belum sarapan, Bu.”

Tanpa banyak bicara, Mbah Iyem menyiapkan sepiring nasi pecel dan segelas teh manis. Darman makan sambil menangis.

Mbah Sastro duduk di seberang meja, berkata pelan, “Kamu tahu, Le... TV itu sebenarnya tidak begitu penting. Yang penting, kamu bisa jujur seperti sekarang ini. Itu jauh lebih berharga.”

Darman mulai sering datang ke rumah Mbah Sastro. Ia membantu mengangkat karung rongsokan, membersihkan halaman, dan bahkan belajar memilah barang dari Mbah Iyem.

Warga sekitar yang awalnya curiga, perlahan menyambut Darman dengan lebih terbuka.

“Si Darman itu kerja keras, ya. Nggak nyangka dulunya pencuri,” bisik tetangga.

“Karena dapat tempat yang benar,” jawab yang lain.

Beberapa bulan berlalu. Darman sudah mulai berdagang sendiri—ia menjual kardus bekas dan botol plastik ke lapak besar. Penghasilannya cukup untuk menyewa kamar kecil di dekat pasar. Ia sering mengisahkan perjalanan hidupnya yang kelam di media sosial, hingga ia sempat diwawancarai oleh stasiun televisi swasta.

Suatu hari, ia datang ke rumah Mbah Sastro membawa hadiah kecil: televisi baru berwarna.

“Ini... buat Mbah dan Mbah Putri. Dari saya,” katanya sambil menunduk.

Mbah Iyem tertegun. Air matanya menggenang.

“Lho, ini... Le, kamu nggak perlu repot-repot...”

“Tapi saya ingin, Bu. Karena dulu saya ambil yang bukan hak saya, sekarang saya kembalikan yang lebih baik.”

Mbah Sastro hanya tersenyum. Ia tahu benih kebaikan yang ia tabur, kini sedang tumbuh dan berbuah.

Di malam itu, mereka kembali duduk bertiga menonton televisi. Tayangan berita menyiarkan kisah pemuda gelandangan yang berubah menjadi pengepul sukses berkat pertolongan pasangan lansia.

Darman tertawa kecil. “Itu saya, ya, Mbah? Hehe... ternyata baru tayang hari ini, waktu itu saya diwawancarai oleh seseorang tentang kisah hidup saya.”

“Betul. Tapi ada yang kurang pas itu omonganmu. Bukan karena kami. Karena kamu sendiri yang memilih berubah.” Ucap Mbah Sastro sambil terkekeh.

Mbah Iyem hanya mengangguk bangga dari kursi rotannya.

Suatu hari di pengajian warga, Darman berdiri di depan orang-orang dan bercerita tentang masa lalunya. Ia menyebut nama Mbah Sastro dan Mbah Iyem, dan berkata,

“Kalau tidak bertemu mereka, mungkin saya masih di jalanan. Kadang, setitik kebaikan dari orang lain, bisa jadi lentera buat kita.”

Pesan Moral 
Penulis Edi Warsono 
Kontributor Eva Nurhayati Bundanya Khafa 

Kebaikan sekecil apapun, seperti benih yang ditanam, bisa tumbuh menjadi pohon rindang yang menyejukkan banyak orang. Bahkan, kebaikan kita bisa mengubah hati yang keras menjadi lembut. Jangan pernah lelah menebar kebaikan, karena kebaikan akan selalu kembali, entah itu untuk diri sendiri atau generasi mendatang.

Bisa jadi, karena satu sikap sabar dan penuh welas asih, hidup seseorang bisa berubah selamanya. Dan di dunia yang semakin keras ini, satu tindakan kecil penuh cinta bisa menjadi permulaan yang besar bagi dunia yang lebih baik.

Bagikan dongeng ini di beranda Facebook sobat semua jika menyukai isinya, agar semakin banyak sahabat kita yang membaca dan termotivasi untuk selalu berbuat kebajikan di muka bumi ini.

#Cerita #Dongeng #Indonesia #FairyTale #Animasi #CeritaRakyat #Legenda #Folklore #DongengAnak #Dongenginspiratif #Parenting

Program