SMPN 3 Payakumbuh Berdoa untuk Hujan: Harapan untuk Alam dan Generasi Berakhlak - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 21 Juli 2025

SMPN 3 Payakumbuh Berdoa untuk Hujan: Harapan untuk Alam dan Generasi Berakhlak

PAYAKUMBUH – Di tengah kepungan kabut asap dan kemarau berkepanjangan, civitas akademika SMP Negeri 3 Payakumbuh menunjukkan kepedulian mendalam terhadap lingkungan dan sesama. Pada Senin (21/7/2025), siswa (824 orang) dan GTK (52 orang) melaksanakan Shalat Istisqa, sebuah ibadah memohon turunnya hujan, sebagai respons atas kondisi cuaca yang mengkhawatirkan. Ustad Hanan Putra, Lc, M.A. (sekretaris MUI Kota Payakumbuh) bertindak sebagai imam dan khatib, memimpin jalannya ibadah penuh harap ini.


Kepala SMP Negeri 3 Payakumbuh, M. Isral S.Pd. mengungkapkan kekhawatiran atas dampak kemarau dan kabut asap. "Sudah beberapa pekan hujan tidak turun. Hal itu disusul dengan kabut asap di Kota Payakumbuh yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, terutama saluran pernapasan," ujar Isral.

Dampak Kabut Asap Terhadap Tanaman dan Hewan

Kondisi ini bukan hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga memberikan tekanan berat pada ekosistem lokal. Tanaman-tanaman mulai layu, kehilangan vitalitas akibat kekurangan air dan paparan polusi. Daun-daun yang seharusnya hijau segar kini tampak kusam, bahkan mengering. Kekeringan juga menyebabkan hutan dan lahan menjadi sangat rentan terhadap kebakaran, yang semakin memperparah kabut asap dan mengancam keanekaragaman hayati.

Hewan-hewan pun turut merasakan dampaknya. Pasokan air berkurang drastis, memaksa mereka mencari sumber air di tempat-tempat yang lebih jauh atau bahkan beradaptasi dengan kondisi yang keras. Kabut asap juga mengganggu saluran pernapasan hewan, tak terkecuali bagi serangga penyerbuk yang vital bagi kelangsungan hidup tumbuhan. Ketersediaan makanan pun terancam, berdampak pada rantai makanan dan keseimbangan ekosistem. Doa untuk hujan ini adalah seruan bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk, bukan hanya manusia.


Isi Khutbah: 5 Hal Keji Penyebab Bencana

Dalam khutbahnya, Ustad Hanan Putra, Lc, M.A. menyampaikan pesan mendalam mengenai hubungan antara perbuatan manusia dengan turunnya musibah. Beliau menjelaskan lima hal keji yang jika dilakukan, akan mendatangkan lima bencana sebagai akibatnya:

  1. Tidak menepati janji kepada Allah dan Rasul-Nya: Akibatnya, perselisihan dan pertikaian akan marak di tengah masyarakat.

  2. Berhukum tidak dengan Kitabullah (Al-Qur'an): Bencana yang akan menimpa adalah kemiskinan yang merajalela.

  3. Menyebar luasnya kekejian (zina, maksiat) di tengah masyarakat: Musibah yang akan datang adalah wabah penyakit yang belum pernah ada sebelumnya.

  4. Mengurangi timbangan dan takaran (curang dalam berdagang): Akibatnya, masyarakat akan ditimpa paceklik dan kelaparan.

  5. Tidak menunaikan zakat: Bencana yang akan menimpa adalah kekeringan dan tidak turunnya hujan.

Ustadz Hanan menekankan bahwa kabut asap dan kekeringan yang melanda Payakumbuh saat ini bisa jadi merupakan teguran dari Allah SWT. Ia mengajak seluruh jamaah untuk introspeksi diri, bertaubat, dan kembali kepada ajaran agama agar musibah dapat diangkat dan keberkahan kembali tercurah.


Menumbuhkan Karakter Beriman dan Bertaqwa: Refleksi Profil Lulusan

Pelaksanaan Shalat Istisqa ini mencerminkan komitmen SMPN 3 Payakumbuh dalam membentuk profil lulusan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui kegiatan ini, siswa diajarkan untuk memahami bahwa segala sesuatu berasal dari kehendak-Nya dan bahwa berdoa adalah bentuk ikhtiar spiritual dalam menghadapi cobaan. Kehadiran Ustad Hanan Putra sebagai imam dan khatib juga memperkuat nilai-nilai keagamaan yang ditanamkan.

"Kami berharap Allah SWT meridhoi dan segera mengabulkan harapan seluruh siswa dan guru, serta masyarakat Kota Payakumbuh," tambah Isral penuh harap. Doa ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga upaya menanamkan kesadaran akan pentingnya hubungan manusia dengan Sang Pencipta, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai amanah Ilahi.

Motivasi Belajar dari Imam Syafi'i: Perjalanan Ilmu di Usia Belia

Setelah khutbah yang menyentuh hati, Ustadz Hanan Putra juga tak lupa memberikan motivasi kepada seluruh siswa. Beliau menceritakan kisah inspiratif dari seorang ulama besar, Imam Syafi'i, tentang semangat beliau dalam menuntut ilmu.

Imam Syafi'i, yang bernama lengkap Muhammad bin Idris al-Syafi'i, lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriyah. Beliau sudah yatim sejak kecil dan dibesarkan oleh ibunya dalam keadaan serba kekurangan. Namun, keterbatasan itu tidak menghalangi semangat belajarnya. Pada usia 7 tahun, beliau telah hafal Al-Qur'an. Tidak berhenti di situ, pada usia 10 tahun, beliau sudah hafal kitab Al-Muwatta karya Imam Malik, sebuah kitab hadis dan fikih yang besar.

Untuk memperdalam ilmunya, di usia yang masih sangat muda, Imam Syafi'i rela merantau jauh dari kampung halaman, sebuah perjalanan yang pada masa itu penuh tantangan. Beliau belajar dari berbagai guru terkemuka di Mekah, Madinah, Irak, hingga Mesir. Dari perjalanannya ini, beliau menyerap berbagai pemikiran dan metode dari ulama-ulama besar di masanya. Pada usia 15 tahun, beliau sudah diizinkan untuk berfatwa, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan kedalaman ilmunya di usia yang sangat belia.

Ustadz Hanan mengingatkan para siswa bahwa kisah Imam Syafi'i adalah bukti nyata bahwa dengan ketekunan, keikhlasan, dan keberanian untuk berjuang, seseorang bisa mencapai puncak keilmuan, bahkan di usia muda. Beliau juga mengaitkan cerita ini dengan pesan Imam Syafi'i kepada gurunya, Imam Waki', tentang hafalannya yang melemah. Imam Waki' menasihatinya untuk meninggalkan maksiat, karena ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat. Cerita ini menjadi pengingat bagi para siswa bahwa integritas diri dan ketaatan kepada agama adalah kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu. Dengan menjaga diri dari perbuatan tercela, ilmu yang dipelajari akan lebih mudah melekat dan membawa keberkahan.

7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: Beribadah sebagai Fondasi

Kegiatan Shalat Istisqa ini juga menjadi implementasi nyata dari salah satu 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yakni beribadah. Inisiasi dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) yang kemudian disusul oleh guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah menengah pertama menunjukkan bagaimana pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam kurikulum. Ini adalah langkah konkret untuk mengajarkan siswa bahwa iman bukan hanya teori, tetapi juga praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menghadapi kesulitan.


Melalui Shalat Istisqa, SMP Negeri 3 Payakumbuh tidak hanya berharap turunnya hujan, tetapi juga menumbuhkan generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan senantiasa berserah diri kepada Tuhan, demi kebaikan bersama dan kelestarian alam.

#Sgabusi #CerdasBerkarakter

#Gerakan7KIAH #SMPN3Payakumbuh #


Program