Setiba di rumah, ayah mereka menyuruh untuk mecari itik dan tidak boleh kembali tanpa berhasil menemukannya. Berbulan-bulan mereka berjalan mecari itik hingga sampai di Kampung Serule. Mereka dibawa oleh orang kampung menghadap ke istana Raja Serule. Di luar dugaan, mereka malah diangkat anak oleh baginda raja.
Karena kesaktian kedua anak tersebut, rakyat Serule hidup makmur, aman, dan sentosa. Hal ini membuat Raja Linge iri dan gusar, sehingga mengancam akan membunuh kedua anak tersebut. Malang bagi Muria, ia berhasil dibunuh.
Suatu hari, para raja berkumpul di istana Sultan Aceh untuk mempersembahkan upeti kepadanya. Saat itu sangade ikut datang juga dan sambil menunggu ayah angkatnya, ia menggambar seekor gajah yang berwarna putih, Lukisan Sangade ini menarik perhatian Putri Sultan yang kemudian meminta dicarikan gajah seperti pada gambar. Saat itu juga Sultan memerintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut guna dipersembahkan kepada sultan.
Pagi harinya, Sangede dan Raja Serule pergi ke Samarkilang seperti perintah dalam mimpi Sangede. Benar juga, mereka menemukan gajah putih sedang berkubang di pinggir sungai. Sangede dan Raja Serule mengenakan tali di tubuh gajah dan saat akan menghelanya, gajah outih itu lari sekuat tenaga, Setelah berhasil mengejarnya mereka berinisiatif untuk bernyanyi-nyanyi sambil menari untuk menarik perhatian gajah putih. Diluar dugaan, gajah putih itu tertarik dan mau mengikuti gerakan-gerakan mereka. Mereka terus menari dambil berjalan agar gajah itu mau mengikuti langkah mereka, Gajah itu pun mengikuti Sangede dan Raja Serule yang terus menari hingga akhirnya mereka berhasil tiba di Istana. Tarian itu disebut tarian Guel hingga sekarang.
Sumber: https://books.google.co.id/books?id=cPJqcwuSOUkC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false
