Waktu terus berlalu. Kelingking sudah dewasa. Ia pun berniat merantau, dan menyampaikan niat tersebut ke ayahnya. Meskipun berat hati, sang ayah mengizinkannya. Esoknya, dengan berbekal tujuh buah ketipat, berangkatlah Kelingking merantau. Salama dalam perjalanan, ia memakan buah dan daun-daunan yang ditemuinya sehingga bekal ketupatnya masih utuh. Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat. Kemudian ia tertidur dibawah pohon rindang. Salam tidurnya, ia mendengar suara yang mengatakan, jika ia ingin menikah dengan seorang putri, ia harus mengikatkan ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam sungai yang mengalir di hutan ini. Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Lalu mengambil ikannya. Saat terbangun, Kelingking pun melaksanakan semua perintah dalam mimpinya. Sampai akhirnya ia mendapatkan ikan yang kemudian ia bakar dan makan sendiri sehingga hanya kepala ikan yang tersisa. Setelah itu kelingking bingung karena tidak ada tanda-tanda kedatangan seorang putri. Akhirnya dengan kesal, ia menendang kepala ikan itu hingga melambung tinggi dan tidak memerdulikannya lagi. Ia pun melanjutkan pengembaraannya hingga sampai di sebuah kampung. Ternyata, di dikampung itu, seorang raja sedang mengadakan sayembara untuk memindahkan kepala ikan yang mengganggu pemendangan istana. Jika laki-laki akan dinikahkan dengan putrinya, dan jika perempuan akan diangkat sebagai anaknya.
Melihat kepala ikan itu, Kelingking merasa mengenalnya. Ia pun mendaftarkan diri. Tidak seorang pun yang mampu menggerakkannya hingga tibalah giliran kelingking. Semua orang mencemooh badannya yang kecil. Namun dengan mudah ia mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya dibelakang istana. Ia pun berhak menikah dengan putri raja. Selutuh istana dan penduduk negeri berbahagia atas pernikahan tersebut. Kelingking pun tidak lupa menjemput ayah dan kedua abangnya untuk tinggal bersama di istana.
Sumber : https://books.google.co.id/booksid=cPJqcwuSOUkC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=true
.jpeg)