Di suatu sekolah di pinggiran kota, Sati adalah seorang gadis sederhana yang penuh tekad, meskipun hidupnya tidak mudah. Sati tinggal bersama ibunya, seorang penjahit yang penghasilannya pas-pasan. Namun, tekad dan semangat belajarnya selalu membawanya menjadi salah satu siswa yang berprestasi di kelasnya.
Ketika sekolah mengumumkan akan mengadakan darmawisata ke Lombok, Sati merasa hatinya melonjak bahagia. Ia selalu bermimpi mengunjungi pulau itu dengan keindahan alamnya yang memesona. Namun, saat melihat jumlah biaya yang harus dibayarkan, Sati sadar bahwa impian itu tampak mustahil. Meski sudah mendapatkan potongan harga dari sekolah, jumlah uang yang harus dibayarkan masih terlalu besar untuk keluarganya.
Suatu hari, saat kelas sepi, Sati tanpa sengaja melihat dompet Cika, teman sekelasnya, tergeletak di atas meja. Ia tahu itu salah, tetapi imajinasinya tentang perjalanan darmawisata membuat tangannya bergerak tanpa sadar. Ia mengambil uang dari dompet itu, yakin bahwa tak seorang pun akan tahu. Sati merasa bersalah, tetapi kebahagiaan karena akhirnya bisa ikut darmawisata lebih besar dibanding rasa takutnya.
Di Lombok, Sati dan teman-temannya menikmati perjalanan. Namun, kebahagiaan Sati tidak berlangsung lama. Di pagi pertama mereka di penginapan, Sati menemukan kendi maling—kendi khas Lombok yang unik—tergeletak di kursinya. Kendi maling ini bukan kendi biasa. Legenda mengatakan, kendi ini bisa mengungkap kebenaran dan menghukum mereka yang berbuat salah.
Sejak saat itu, kendi maling seakan mengikuti Sati. Bagaimana jika ia tidak pernah bisa meninggalkan Lombok karena kutukan kendi maling? Yuk ikuti cerita misteri berikut ini,
Sati membuka koper usangnya dan langsung tertegun. Sebuah kendi terselip di antara pakaiannya. Kendi itu adalah kendi maling.
Kendi maling, kamu tahu, kan? Itu kendi khas dari Lombok. Keunikannya, air dimasukkan dari dasar kendi, bukan dari atas seperti kendi biasa. Hebatnya lagi, air dalam kendi maling tidak akan tumpah meskipun dibalik. Konon, kendi maling ini juga dipercaya memiliki makna mistis: maling di Lombok takkan bisa keluar dari pulau itu, hanya berputar-putar di dalamnya.
Ketika Sati melihat kendi ini, hatinya langsung bergetar. Mengapa? Karena Sati telah mencuri.
Darmawisata sekolah membawa Sati dan teman-temannya ke Lombok. Namun, untuk bisa ikut, Sati telah mencuri uang milik Cika, teman sekelasnya.
Sati tahu bahwa ibunya takkan mampu membayar biaya darmawisata. Sebagai siswa kurang mampu, Sati sudah mendapatkan keringanan biaya. Namun, jumlah yang harus dibayarkan tetap terlalu besar bagi keluarganya.
Lalu, suatu hari, Sati melihat dompet Cika tergeletak di ruang kelas yang kosong. Dengan tangan gemetar, Sati mengambil lembaran-lembaran uang itu. Keesokan harinya, dompet Cika ditemukan di dekat gerbang sekolah, tetapi sudah kosong. Semua orang mengira uang itu diambil oleh pencuri luar.
Meski merasa bersalah, Sati awalnya lega karena tidak ada yang mencurigainya. Namun kini, kendi maling itu seperti menghantuinya. Saat sarapan, kendi itu muncul di kursinya. Ketika di bus, kendi itu ditemukan di kursinya. Di Pantai, kendi itu berada di samping ranselnya. Dan sekarang, kendi itu ada di kopernya yang terkunci rapat!
Sati mulai ketakutan. Pulau Lombok dikenal mistis. Bagaimana jika kendi maling ini benar-benar memiliki kekuatan gaib? Bagaimana jika kendi itu tahu tentang uang yang ia curi? Bagaimana jika ia tidak bisa keluar dari Lombok selamanya? Pikiran-pikiran ini membuatnya berkeringat dingin.
“Mengaku saja, Sat,” suara Lina, teman sekamarnya, membuat Sati terkejut.
“Apa maksudmu, Lin?” tanya Sati gugup.
Lina tersenyum tipis. “Maaf, Sat. Aku tidak bermaksud menakutimu. Tapi melihat reaksi kamu terhadap kendi maling, aku jadi yakin bahwa kamu yang mengambil uang Cika.”
Sati terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Pertama, Cika bilang bahwa hari itu dia masuk sekolah lewat gerbang belakang, bukan gerbang depan. Kok bisa dompetnya ditemukan di dekat gerbang depan?” kata Lina.
Sati semakin panik, apalagi ketika Lina melanjutkan, “Kedua, di dompet Cika ada noda tinta biru. Hari itu, pena birumu bocor, kan? Tanganmu pasti terkena tinta saat gugup mengambil uang itu.”
Sati semakin berkeringat dingin. Lina melanjutkan, “Dan terakhir, keesokan harinya kamu tiba-tiba bisa melunasi biaya darmawisata, padahal sebelumnya kamu bilang tidak punya uang. Tapi reaksi takutmu terhadap kendi maling ini yang membuatku yakin.”
Sati tertunduk. Lina menepuk bahunya. “Mengaku saja, Sat. Cika orang kaya. Dia mungkin marah, tapi aku yakin dia bisa memaafkanmu. Aku akan menemanimu minta maaf.”
Dengan berat hati, Sati mengangguk. Keduanya pun menuju kamar Cika.
Ketika Sati dan Lina tiba di kamar Cika, Sati merasa tubuhnya lemas. Tangannya berkeringat dingin, dan hatinya dipenuhi rasa bersalah. Lina menggenggam tangannya, memberikan dukungan.
“Kita masuk, ya?” Lina berkata pelan.
Sati mengangguk pelan, lalu mengetuk pintu.
“Masuk saja!” sahut Cika dari dalam kamar.
Ketika mereka masuk, Cika sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya. Ia mendongak, tampak sedikit terkejut melihat kedatangan Sati dan Lina.
“Ada apa?” tanya Cika sambil menaruh ponselnya.
Lina memberi isyarat pada Sati untuk berbicara. Dengan suara lirih dan gemetar, Sati memulai, “Cika… aku… aku mau minta maaf.”
Cika menatap Sati dengan bingung. “Minta maaf? Kenapa?”
Sati menunduk. “Aku yang mencuri uangmu waktu itu. Aku sangat ingin ikut darmawisata, tapi aku tidak punya cukup uang. Aku melihat dompetmu di kelas dan… aku tidak bisa menahan diri. Aku benar-benar menyesal.”
Ruangan itu sunyi sejenak. Cika memandang Sati dengan ekspresi tak percaya. Namun, alih-alih marah, wajah Cika perlahan melunak.
“Jadi, kamu yang ambil uang itu?” tanya Cika, memastikan.
Sati mengangguk pelan. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku tahu aku salah. Aku tidak punya alasan untuk membenarkan apa yang aku lakukan. Aku benar-benar menyesal, dan aku siap menerima apa pun yang kamu katakan.”
Cika terdiam sejenak. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Jujur, aku marah waktu tahu uangku hilang. Tapi sekarang aku tahu kenapa kamu melakukannya… aku mengerti.”
Sati mendongak, terkejut. “Kamu memaafkanku?”
Cika tersenyum kecil. “Iya, aku memaafkanmu. Uang itu memang penting, tapi persahabatan kita lebih penting. Aku juga senang kamu punya keberanian untuk mengaku. Itu pasti tidak mudah.”
Air mata Sati semakin deras, tapi kali ini karena lega. Lina yang berada di sampingnya tersenyum bangga.
“Terima kasih, Cika. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku benar-benar minta maaf,” kata Sati sambil menggenggam tangan Cika.
“Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Tapi janji, ya, jangan pernah ulangi lagi,” jawab Cika sambil menggenggam tangan Sati.
“Janji. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi,” ujar Sati mantap. Setelah semua selesai, Lina dan Sati pamit, mereka bergegas masuk ke kamar Sati.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat masuk kamar, kendi maling di dalam koper Sati perlahan bergulir keluar sendiri dan menghilang di bawah tempat tidur.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kendi itu bisa ada di dalam kopernya yang terkunci? Lina sendiri mengaku tidak memasukkannya ke sana. Apakah kendi maling itu benar-benar punya kekuatan gaib?
Yang pasti, malam itu Sati merasa beban besar yang menghimpitnya akhirnya terangkat. Sati merasa pelajaran berharga telah ia dapatkan: kejujuran dan keberanian untuk mengakui kesalahan adalah hal yang paling penting.
Sejak saat itu, hubungan Sati dan Cika justru menjadi lebih dekat. Mereka belajar saling memahami, dan perjalanan darmawisata mereka pun berlanjut dengan hati yang lebih ringan.
