Dahulu kala, di sebuah kerajaan megah, hiduplah Raja Gupala yang kaya raya dan berkuasa. Meski ia memiliki segalanya, sebuah ramalan dari seorang kakek bermata biru mengusik ketenangannya. Ramalan itu menyatakan bahwa takdir kerajaannya tidak akan diteruskan oleh darah dagingnya sendiri. Pria yang akan menggantikannya bahkan belum lahir. Raja Gupala marah dan berusaha melawan takdir tersebut, tetapi ia tidak menyadari bahwa langkah-langkahnya justru akan membawanya ke titik di mana ramalan itu menjadi kenyataan.
Raja Gupala adalah raja yang sangat kaya dan berkuasa. Suatu hari, seorang kakek bertubuh kecil datang ke istananya. Kakek ini memiliki mata biru jernih. Orang-orang mengatakan bahwa dia memiliki kekuatan untuk membaca kehidupan di masa depan.
Raja Gupala berkata kepadanya, "Ceritakan padaku, apa yang akan terjadi di masa depanku."
Kakek itu berkata, "Di saat kau meninggal kelak, tak ada seorang pun dari keluargamu sendiri yang akan menjadi raja di kerajaanmu ini. Pria yang akan menggantikanmu belum lahir."
Raja Gupala tidak senang mendengar berita ini. Ia mengusir si kakek bermata biru dan melarangnya datang ke istana lagi. Namun ucapan si kakek selalu terngiang di telinganya.
Suatu ketika, Raja Gupala menikah dengan seorang gadis cantik. Ia pun melupakan ramalan si kakek. Ia berharap suatu waktu kelak ia akan punya putra untuk menjadi putra mahkota menggantikannya.
Suatu hari, Raja Gupala pergi ke hutan dengan beberapa teman dan pelayannya untuk berburu. Raja Gupala mengendarai kuda yang paling cepat dibanding lainnya. Ia segera meninggalkan teman-temannya di belakang. Ketika malam tiba, Raja Gupala menemukan dirinya sendirian di hutan. Dia tersesat dan tak bisa menemukan jalan keluar dari hutan.
“Sekarang sangat gelap. Aku harus tidur di hutan ini. Besok, ketika matahari terbit, aku akan menemukan jalan keluar dari hutan,” gumamnya.
Raja Gupala mulai membuat hamparan rumput dan dedaunan, tetapi sebelum tidur, dia melihat ke suatu arah. Ia melihat ada sedikit cahaya, seperti cahaya lampu di jendela. Ia segera mengendarai kudanya dan pergi ke tempat itu.
Ia menemukan bahwa cahaya itu berasal dari sebuah gubuk reot. Raja Gupala berteriak minta dibukakan pintu. Seorang lelaki besar, dengan pakaian jelek, membuka pintu. "Kamu tidak bisa masuk ke sini," kata pria itu. "Istriku sakit parah. Aku takut dia akan meninggal malam ini. Lihatlah, ada pondok kosong di sana. Tidurlah di sana. Besok akan aku bawakan makan dan minum untukmu."
Pada malam itu, terdengar teriakan tangisan nyaring membangunkan Raja Gupala. Dia keluar dari pondok dan melihat, tetapi tidak bisa melihat apa-apa karena gelap sekali. Lalu dia kembali dan tidur lagi. Dalam tidurnya dia melihat kakek dengan mata biru jernih berdiri di depannya. Orang tua itu berkata kepada Raja Gupala,
"Ingat! Bayi lelaki malang yang lahir di malam ini, akan menjadi penggantimu!”
Raja Gupala terbangun ketika pagi datang. Dia pergi ke gubuk orang miskin itu. Di dalam pondok dia menemukan pria itu sedang menangisi istrinya yang telah meninggal. Di sisinya ada seorang bayi kecil yang lahir di malam hari itu. Bayi itu hidup.
Sementara Raja Gupala sedang melihat pemandangan yang menyedihkan ini, ia mendengar suara-suara di luar pondok. Dia pergi ke luar. Rupanya teman-teman dan pelayan Raja Gupala yang datang. Mereka senang karena Raja Gupala aman. Mereka masuk ke pondok itu. Raja Gupala berkata kepada mereka,
"Pria ini memberiku tempat tidur. Jadi kita harus membantunya. Istrinya telah meninggal. Kita harus memberinya emas dan membawa bayi kecil itu bersama kita. Biar pelayan istana yang akan mengurus bayi itu. Dia akan hidup bersama kita.”
Pria itu akhirnya tahu kalau lelaki yang menginap itu adalah Raja Gupala. "O Raja Gupala," katanya. "Lakukan sesuai keinginan Yang Mulia. Aku sendiri tidak bisa menjaga putraku, karena ibunya sudah meninggal."
Raja Gupala berkata kepada salah satu pelayannya bernama Rompal, "Rompal, berikan pria ini emas dan bawalah anak itu bersamamu."
Rompal memberi pria itu potongan emas. Kemudian dia menemukan sebuah kotak kecil dan menaruh rumput kering di dalamnya. Dia memasukkan anak itu ke dalam kotak dan menaruh rumput kering lagi di atasnya. Hanya itulah ini satu-satunya penutup yang menutupi tubuh anak itu. Mereka lalu pergi dari pondok itu.
Di tengah hutan, Raja Gupala memberi tahu Rompal apa yang telah dilihat dan didengarnya dalam tidurnya. Dia berkata, "Kakek bermata biru itu berkata bahwa anak ini akan menjadi penggantiku kelak. Aku tidak ingin dia menjadi penggantiku. Buanglah anak ini ke sungai!”
Rompal berkata, "Jika Tuhan menghendaki anak ini menjadi raja, dia akan diselamatkan walau kita mencoba membunuhnya."
“Jangan bodoh," kata Raja Gupala. “Buang kotak itu terbalik ke sungai. Lakukan apa yang kukatakan." Raja Gupala lalu pergi meninggalkannya.
Rompal melemparkan kotak itu ke sungai. Raja Gupala mendengar kotak itu jatuh ke air. Ia melihat ke belakang. Dia melihat kotak di atas air. Namun kotak itu tidak terbalik. Anak itu menangis. Air membawa kotak itu dengan cepat.
Ketika sang Raja tiba di istana, seorang pelayan menyambutnya gembira. Ia memberi tahu bahwa ratu telah melahirkan seorang anak perempuan saat Raja Gupala ada di hutan. Raja Gupala sangat senang dan tidak memikirkan bayi lelaki malang itu lagi.
Empat belas tahun berlalu.
Suatu pagi, Raja Gupala pergi sendirian ke hutan untuk berburu binatang. Di sana dia melihat seorang pria dan seorang anak memotong kayu. Anak laki-laki itu bermata biru. Pria itu bermata hitam pekat.
"Siapa anak laki-laki itu?" tanya Raja Gupala.
"O Raja Gupala, dia adalah putraku."
"Dia sama sekali tidak mirip denganmu," kata Raja Gupala. “Bawa istrimu ke sini. Aku ingin melihat apakah dia mirip dengannya."
"Saya akan membawa istri saya, O Raja Gupala. Kami menganggap anak ini putra kami sendiri. Namun, dia bukan benar-benar putra kami. Kami menemukannya empat belas tahun lalu. Kami menyelamatkan nyawanya.”
Raja Gupala melihat dengan hati-hati pada anak laki-laki itu. Hatinya mulai takut. Pria itu pergi. Ketika dia kembali, istrinya bersamanya, membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Pria itu berpaling kepada istrinya.
"Ceritakanlah kisahmu, istriku," katanya.
"Ceritaku sangat singkat. Suatu hari, empat belas tahun yang lalu, saya menaiki keledai saya di sepanjang tepi sungai. Saya mendengar tangisan. Itu seperti tangisan seorang bayi yang sangat kecil. Saya melihat ke bawah ke rumput panjang yang tumbuh di tepi sungai. Di sana, di rumput panjang, saya melihat sebuah kotak. Dan di dalam kotak itu ada seorang bayi yang menangis. Saya melepaskan keledai saya, mengambil kotak itu dan membawanya pulang. Kami sangat senang, karena kami tidak punya anak. Kami memberinya nama Rafa. Ini kotak tempat saya menemukannya. Kami mencintainya, dan dia mencintai kami."
Ketika Raja Gupala melihat kotak itu, dia tahu bahwa dia telah melihatnya sebelumnya. Itu adalah kotak yang dilemparkan Rompal ke sungai. Dan dia juga tahu bahwa anak itu adalah anak yang telah diramalkan menjadi raja menggantikannya.
Raja Gupala lalu pergi dengan ketakutan di dalam hatinya. Ketika dia sampai di rumah, dia memanggil Rompal, yang masih menjadi salah satu pelayannya. Dia berbicara diam-diam kepada Rompal dan mengirimnya dengan surat kepada orang miskin itu. Rompal menaiki kudanya dan pergi ke hutan. Di hutan Rompal menemukan seorang anak lelaki yang sedang memancing ikan di sungai.
Anak lelaki itu mendongak ketika dia mendengar Rompal datang. Rompal berkata pada dirinya sendiri, "Aku yakin ini adalah anak lelaki yang dilahirkan untuk menjadi raja." Lalu kepada bocah lelaki itu, dia berkata, "Di mana ayahmu?”
Rafa membawa Rompal menemui ayahnya. Ayah Rafa segera tahu kalau Rompal yang berpakaian indah adalah utusan raja.
"Baca surat ini," kata Rompal. "Itu dari Raja Gupala."
Rafa membaca surat itu. Surat itu adalah permintaan Raja Gupala agar Rafa datang ke istana supaya Raja bisa mengirimnya ke sekolah khusus.
"Kita harus melakukan perintah Raja Gupala," kata pria itu sedih.
"Saya sangat senang di sini," kata Rafa. "Tidak seorang pun pernah memiliki ayah dan ibu yang baik seperti Ayah dan Ibu. Aku tidak ingin pergi."
Rompal berkata, "Kau harus ikut aku. Kalau tinggal di hutan ini, kau akan terus menjadi miskin. Apakah kau tidak ingin menjadi terpelajar dan menjadi pria hebat? Ikutlah denganku."
Ayah Rafa berkata, "Ya, kau harus pergi bersamanya. Ayah yakin kau tak akan lupa pada kami. Mungkin kau akan datang dan mengunjungi kami sekali-sekali, Nak!"
"Ya," kata istrinya, "Cobalah untuk mengunjungi kami ketika kau bisa.”
Rafa memeluk dan mencium kedua orang tuanya. Rompal lalu membantu Rafa naik ke kuda. Lalu mereka pergi. Rafa sangat sedih meninggalkan ayah dan ibunya.
Setelah beberapa lama berkuda, Rompal mengajak mereka istirahat di bawah pohon tertentu. Itulah perintah Raja Gupala.
Rafa berbaring di bawah pohon dan tertidur. Rompal tidur di bawah pohon lain. Saat itu, batang pohon tempat Rafa berbaring tumbang dan menimpa Rafa. Rompal sangat terkejut. Ia tak menyangka bahwa itu bagian dari rencana Raja Gupala.
Pada saat itu, terlihat beberapa orang datang menuju tempat tersebut. Ternyata ada rombongan dari kerajaan lain yang datang ke hutan itu. Rompal takut dituduh mencelakakan Rafa. Ia segera melompat ke atas kuda dan pergi meninggalkan Rafa. Ia mengira Rafa telah mati tertimpa pohon.
Enam tahun berlalu.
Raja Gupala berharap seorang putra akan lahir sebagai penerusnya. Namun, Ratu tidak melahirkan anak lagi. Putri Khafa, putri tunggalnya, tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati. Ketika Putri Khafa berusia delapan belas tahun, ibunya, sang Ratu, meninggal dunia. Raja Gupala sangat sedih, begitu juga Putri Khafa yang akhirnya jatuh sakit.
Raja Gupala berkata kepadanya, "Khafa, putriku, Ayah akan mengirimmu ke Istana Mawar. Udara segar di bukit itu akan membuatmu cepat pulih."
Putri Khafa setuju dan dibawa ke Istana Mawar bersama dayangnya yang setia, Mayang. Ia tinggal di sana menikmati taman mawar yang indah, meski hatinya khawatir jika ayahnya ingin menikahkannya dengan pemuda yang tak dikenalnya.
Sementara itu, Raja Gupala bepergian ke berbagai kerajaan mencari pangeran yang cocok untuk putrinya. Suatu hari, di sebuah kerajaan, Raja Gupala melihat seorang prajurit muda tampan yang sedang berlatih. Ia merasa mengenalnya.
"Siapa namamu?" tanya Raja Gupala.
“Namaku Rafa,” jawab pemuda itu. “Saya dibawa ke kerajaan ini enam tahun lalu setelah hampir mati tertimpa pohon. Saya tak ingat masa lalu saya, hanya nama saya."
Raja Gupala terkejut. Ia yakin Rafa adalah bayi yang ia coba singkirkan bertahun-tahun lalu. Ia meminta Raja kerajaan itu untuk mengizinkan Rafa kembali bersamanya, dan permintaan itu dikabulkan.
Suatu hari, Raja Gupala memanggil Rafa. "Pergilah ke Istana Mawar di puncak bukit dan bawalah surat ini. Berikan hanya kepada Kapten Prajurit istana itu!"
Maka Rafa menunggangi kudanya dan berangkat melintasi ladang, mendaki bukit menuju Istana Mawar. Ketika tiba di halaman istana, ia menemukan taman mawar yang indah dan luas. Di pintu masuk istana, berdiri seorang prajurit penjaga.
"Raja Gupala mengutusku untuk menyerahkan surat ini kepada Kapten Prajurit," kata Rafa.
“Kapten sedang makan sekarang. Tunggulah sebentar. Kau tampak lelah, istirahatlah di pendopo taman. Tinggalkan kudamu di sini. Aku akan memanggilmu jika Kapten telah selesai," jawab prajurit itu.
Rafa menuju pendopo taman. Tempat itu sangat tenang dan indah, penuh dengan mawar berbagai warna. Ada kolam kecil di sana, dengan ikan-ikan merah berenang di dalamnya. Rafa berbaring di tepi kolam, terhibur melihat ikan yang berenang dengan damai. Lama-kelamaan, matanya terasa berat, dan akhirnya ia tertidur.
Tak lama kemudian, Putri Khafa dan dayangnya, Mayang, datang ke taman. Mereka berjalan di atas rumput yang hijau dan lembut. Ketika tiba di pendopo, mereka terkejut melihat seorang pemuda tampan tertidur di tepi kolam. Wajahnya tampak lelah namun damai.
Putri Khafa belum pernah melihat pemuda setampan itu.
“Putri, aku yakin ini adalah pangeran yang dikirim ayahmu untuk berjodoh denganmu. Lihatlah, ia tampak damai menikmati keindahan alam. Ia pasti pemuda baik hati,” kata Mayang.
Putri Khafa percaya pada ucapan Mayang, dayang yang sangat disayanginya.
Tiba-tiba, Mayang melihat sepucuk surat keluar dari saku Rafa. Ia mengambil dan membacanya. Isi surat itu sangat mengejutkan, sehingga ia meminta Putri Khafa untuk membaca juga.
"Kepada Kapten di Istana Mawar. Aku, Raja Gupala, memerintahkanmu untuk mengurung pembawa surat ini di penjara bawah tanah. Jangan biarkan ia keluar. Takdirnya tidak boleh terjadi!"
Putri Khafa gemetar membaca surat itu.
“Apa yang harus kita lakukan, Mayang?” tanyanya.
Mayang berpikir sejenak, mengingat ramalan lama yang pernah ia dengar dari Ratu sebelum Putri Khafa lahir. Ia sadar siapa pemuda yang tertidur di tepi kolam itu. Mayang segera mengambil kertas dan pena dari kamarnya dan menulis surat baru.
Berikut isi surat itu:
"Kepada Kapten saya di Istana Mawar. Saya membawa kabar baik. Segera nikahkan Putri Khafa dengan pemuda yang membawa surat ini. Jangan biarkan mereka menunggu. Ketika aku tiba nanti, aku ingin mereka sudah menikah. Ini adalah perintah rajamu."
Mayang kembali ke taman dan memasukkan surat itu ke saku Rafa. Kemudian ia dan Putri Khafa menunggu di sudut taman yang lain.
Tak lama kemudian, Kapten Prajurit mendatangi Rafa dan membaca surat itu. Kapten pun segera mengatur pernikahan antara Putri Khafa dan Rafa. Ketika Rafa bertemu Putri Khafa untuk pertama kalinya, ia terpesona oleh kecantikannya.
Keesokan harinya, pernikahan Putri Khafa dan Rafa dilangsungkan dengan meriah. Seluruh warga bukit diundang ke pesta itu.
Raja Gupala tiba di istana beberapa hari kemudian. Ia terkejut melihat perayaan besar di Istana Mawar. Ketika mengetahui bahwa Putri Khafa telah menikah dengan Rafa, ia terdiam. Namun saat melihat kebahagiaan putrinya dan kepribadian Rafa yang bijaksana, Raja Gupala akhirnya tersenyum.
“Pemuda ini memang terlahir sebagai raja,” katanya.
Raja Gupala mengumumkan kepada rakyatnya, "Ini pangeran baru kalian, calon raja yang akan memimpin kalian dengan bijaksana."
Semua rakyat bersorak gembira dan melanjutkan pesta. Putri Khafa dan Rafa pun hidup bahagia selamanya.
Raja Gupala menyadari bahwa segala usahanya untuk melawan takdir sia-sia belaka. Ia merasa bersalah atas tindakannya terhadap Rafa di masa lalu. Dalam hatinya, ia menyesali keserakahannya yang hampir menghancurkan kebahagiaan anaknya. Dengan perasaan lega, ia menerima Rafa sebagai bagian dari keluarganya.
Satu hal ia pelajari dari pengalaman hidupnya, bahwa ramalan kakek itu benar adanya, bahwa pengganti tahta kerajaan memang bukan dari keturunannya, tapi dari menantunya sendiri. Tuhan memang maha adil, seberapapun besar usaha orang untuk mematahkan takdir seseorang jika memang sudah digariskan untuk terjadi maka terjadilah.
Jadi, kita manusia hendaknya bisa belajar dari kisah ini. Jika membenci seseorang ya sewajarnya saja. Karena kita tidak tahu, jika suatu saat bisa saja orang yang ingin kita singkirkan, ingin kita jauhi dan sangat kita benci ternyata menjadi orang yang sangat kita cintai dan kita sayangi dan menjadi bagian dari kehidupan keluarga kita.
Pengarang dan Penulis Edi Warsono
Editor Eva Nurhayati
