
Di sebuah pasar kecil yang dipenuhi hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, ada seorang tukang beras bernama Pak Barda. Dengan perut buncit dan tawa khasnya, ia selalu menjadi magnet bagi para pelanggan. Namun, di antara semua yang datang ke kios kecilnya, ada satu pelanggan istimewa—seorang gadis kecil bernama Anabela. Setiap kali Anabela muncul dengan wajah polos dan hidung mungilnya, Pak Barda selalu menyambutnya dengan gurauan dan segenggam kebaikan.
Siapa sangka, hubungan sederhana di pasar itu akan menjadi benih dari sebuah kisah luar biasa tentang harapan, keberanian, dan balas budi yang tak terlupakan. Yuk, kita ikuti kisahnya dalam dongeng berikut ini, semoga bermanfaat dan terhibur
Suatu ketika, di pasar kecil di sebuah desa, hiduplah seorang tukang beras. Orangnya gemuk pendek dan perutnya gendut. Namanya Pak Barda. Di sebelah kiosnya, ada perempuan tua yang menjual kue-kue.
Orang-orang suka berbelanja di tempat Pak Barda karena ia ramah, suka bergurau, dan murah hati. Setiap orang yang membeli beras selalu ditambahkannya sejumput.
Salah satu langganannya adalah Anabela, gadis kecil berusia 10 tahun. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam dan bibirnya mungil. Namun, hidungnya agak pesek.
Beberapa hari sekali Anabela selalu datang membeli beras. Karena orang tuanya kurang mampu, mereka harus beli beras eceran, tak bisa beli untuk persediaan selama satu bulan.
Setiap kali ia datang, Pak Barda memberinya tambahan segenggam beras, bahkan kadang-kadang dua genggam. Tak lupa ditariknya hidung Anabela dan berkata, “Biar hidungmu mancung. Kalau hidungmu mancung, kamu pantas jadi nyonya raja muda.”
Anabela marah dan menjerit, “Auww, awas, Pak Gendut. Kalau berani sekali lagi, aku akan menangis!”
Lalu, Pak Barda akan menarik hidungnya sekali lagi sambil berseru pada perempuan tua di sebelah kiosnya, “Lekas, Bi Mona. Beri dia kue putu. Biar aku yang bayar. Aku khawatir dia benar-benar menangis!”
Maka, Anabela pun mendapat kue putu yang empuk. la mengucapkan terima kasih, membawa berasnya, dan pulang ke rumah sementara Pak Barda dan Bi Mona tertawa terbahak-bahak.
Jika Anabela bosan dengan kue putu, Pak Barda yang baik hati mengizinkannya memilih kue apa saja di kios nenek penjual kue itu. Bahkan, kalau Anabela sedang ingat adik laki-lakinya, dia akan mengambil dua buah kue. Dan, Pak Barda sama sekali tak keberatan. Bahkan, tawanya bertambah keras. Ia maklum bahwa orang tua Anabela jarang membelikan kue dan ia ingin menyenangkan hati anak itu.
Tahun demi tahun berlalu. Ketika Ling Ling sudah berusia 15 tahun, ia tidak disuruh ke pasar lagi. Adik laki- lakinya yang menggantikan tugasnya. Anabela sibuk belajar memasak, menyulam, membaca kitab-kitab yang berguna. Pokoknya, mempersiapkan diri menjadi anak gadis yang pintar dan cekatan.
Akan tetapi, tukang beras di pasar itu tetap mengingatnya walaupun tak ada kesempatan menggoda Anabela lagi. la sering menanyakan kabar Anabela dan menitipkan salam untuknya lewat adik Anabela. Kadang-kadang, ia mengirimkan kue empat lima buah untuk Anabela.
Anehnya, semakin besar, hidung Anabela semakin mancung. Saat ia berusia 17 tahun, ia tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas, dan rajin.
Ketika tersiar kabar pangeran sedang mencari istri, Anabela pun diantar orangtuanya pergi ke kota raja. Di daerah Anabela menang sudah menjadi tradisi, jika ada keluarga istana sedang mencari istri para gadis dari seluruh pelosok Ranai mendaftar untuk di uji kecakapan. Mulai bertutur kata, memasak, merawat diri dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan rumah tangga. Ia menjalani berbagai ujian dan akhirnya Anabela terpilih menjadi istri sang pangeran.
Sebagai pangeran, ternyata tugas suaminya berpindah-pindah dan Anabela terus mendukung karir suaminya. Sampai akhirnya, saat Anabela berusia 28 tahun, suaminya diangkat menjadi raja muda di wilayah yang jauh dari desa kelahiran Anabela.
Suatu ketika, Anabela rindu akan desa kelahirannya. la ingin berkunjung. la teringat akan Pak Badra dan Bi Mona, tukang beras dan juga tukang kue yang baik itu. la ingin membalas budi yang diterimanya waktu masa kanak-kanaknya.
Sayangnya, waktu itu Bi Mona sudah meninggal. Tinggal Pak Barda yang masih setia berdagang beras di pasar. Berita kedatangan Nyonya Raja Muda cepat tersiar di desa Anabela. Mereka sangat bangga karena nyonya pembesar itu adalah warga desa mereka. Juga tersiar berita bahwa nyonya raja akan datang ke pasar dan mencari Pak Barda, tukang beras.
Sebetulnya pak Barda sangat senang karena Anabela kecil yang sering digodanya dulu sudah menjadi orang terkenal.
Akan tetapi, orang-orang di pasar bilang, “Ingat-ingatlah, kamu punya salah apa. Jangan-jangan dia datang untuk membalas dendam. Mungkin kamu akan ditangkap dan dibawa untuk dimasukkan penjara!”
Mendengar omongan mereka, Pak Barda menjadi gelisah. Ia takut omongan itu benar. Maka, saat rombongan Nyonya Raja Muda datang, Pak Barda pulang ke rumahnya.
Dengan gembira Anabela melihat-lihat pasar, menyapa orang-orang yang masih dikenalnya. Namun, ia kecewa ketika mendapati kios tukang beras ditutup.
“Mana Pak Barda? Lekas cari dia. Bawa dia menghadap. Aku tunggu dia di rumah orang tuaku!” perintah Anabela pada para pengawal.
Sementara itu, Pak Barda yang ada di rumah sangat takut ketika diberitahu bahwa para pengawal disuruh mencarinya. Ia berlari ke pantai, bermaksud melarikan diri. Namun, di ujung jalan, para pengawal menangkap dan membawanya menghadap Anabela.
Pak Barda berlutut, menyembah, dan berkata, “Ampun, Nyonya. Hamba minta ampun atas semua kesalahan hamba. Janganlah hamba yang tua ini dihukum. Kasihanilah hamba!”
Anabela tertawa geli dan berkata, “Pak Gendut, eh, Pak Barda. Bapak omong apa, sih? Bapak sama sekali tidak bersalah. Saya mencari Bapak karena mau membalas budi baik Bapak. Dulu, ketika saya kecil, Bapak selalu membelikan saya kue-kue karena orang tua saya tidak mampu membelinya. Bapak memberikan tambahan beras setiap kali saya berbelanja. Bahkan Bapak selalu berkata saya pantas jadi istri raja muda. Itu membuat saya berani mengikuti ujian menjadi istri pangeran dan yakin bahwa saya pantas menjadi istri raja muda. Dan, sekarang hal itu menjadi kenyataan.”
Pak Barda mendapat hadiah sekantung koin emas. la sangat gembira dan pulang dengan senyum mengembang di bibirnya.
Demikianlah, tukang beras yang murah hati mendapatkan imbalan atas kemurahan hatinya pada seorang gadis kecil.