Di sebuah kerajaan yang megah, hidup seorang putri bernama Kirania yang terkenal bukan karena kecantikannya, melainkan karena kemarahannya. Hari-harinya penuh dengan lengkingan suara, omelan, dan keluhan yang membuat seluruh istana gemetar. Pelayan yang salah membawa jus hingga tukang kebun yang lalai merawat tanaman, semua pasti mendapat dampratan.
Namun, siapa sangka, di balik sikapnya yang bengis dan wajahnya yang selalu cemberut, tersimpan sebuah kisah yang mengubah segalanya. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang tukang kebun sederhana membawa Putri Kirania pada perjalanan penuh pelajaran tentang kerja keras, keikhlasan, dan… cinta. Yuk kita ikuti saja kisah serunya dalam dongeng berikut ini, 
“Pelayaaaan! Apa ini? Aku kan, minta jus buah, kenapa rasanya pahit begini? Mau memberiku racun, ya?!” terdengar lengkingan suara Putri Kirania memenuhi penjuru istana.
Semua pelayan menunduk ketakutan. Hampir setiap hari Putri Kirania mengomel. Selalu saja ada alasan yang dicari-carinya untuk menumpahkan kekesalan. Dari gaun yang kusut, makan malam yang tidak enak, hingga kasur yang kurang empuk. Seluruh penghuni istana pernah terkena dampratannya. Dari pelayan, koki, penyulam, kusir kereta kuda, hingga Raja dan Ratu. Kadang Raja dan Ratu sedih memikirkan tingkah laku putrinya.
“Barangkali karena itulah tak ada seorang pangeran pun yang mau mendekatinya,” keluh Ratu suatu ketika.
Apabila Putri Kirania murka, wajahnya kelihatan bengis dan kejam. Kata-katanya pedas dan tajam. Matanya membeliak, dan bibirnya akan dimanyun-manyunkan. Biasanya dia akan berkacak pinggang atau menuding-nudingkan telunjuk hingga membuat semua orang takut. Sikap Puteri Kirania itu sering membuatnya diolok-olok para pelayan istana. Tentu saja mereka melakukannya secara diam-diam. Mereka sering menirukan gaya Putri Kirania ketika marah.
Suatu hari bunga lili putih kesayangan Putri Kirania layu. Putri Kirania menyalahkan Pak Bun, si tukang kebun. Dia menuduh Pak Bun lalai merawat tanamannya. Pak Bun yang sudah tua cuma pasrah menerima omelan itu. Pak Bun merasa bersalah hingga jatuh sakit. Keesokan harinya, Pak Bun minta izin untuk beristirahat di kampung halamannya. Raja mengizinkan, tetapi Putri Kirania justru bertambah jengkel.
“Huh, Ayah! Kenapa Pak Bun diberi izin berlibur? Dia itu cuma pura-pura sakit, supaya bisa lari dari kesalahannya!” sungut Putri Kirania.
Tak lama sejak kepergian Pak Bun, kepala pelayan istana mempekerjakan seorang tukang kebun sementara. Dia seorang anak muda dari desa bernama Nizan. Pakaiannya sederhana dan kulitnya gelap kecoklatan. Putri Kirania meremehkannya.
“Huh, kau lebih mirip kuli angkut daripada tukang kebun yang terampil!”
Kemudian Putri Kirania segera memerintahkannya untuk menata ulang kebun istana. Keesokan hari, betapa terkejutnya Putri Kirania saat mendapati kebun istana tertata apik dan rapi. Pohon-pohon dipangkas dengan beraneka bentuk hewan yang lucu. Ada bentuk kelinci, kuda, jerapah, rusa, daaan… ya ampuun! Putri Kirania mendelik kaget. Ada tanaman yang dibentuk mirip wajahnya yang sedang cemberut! Putri Kirania histeris. Dia segera mengambil alat pangkas dan menggunting tanaman itu. Auuww! Putri Kirania tersentak. Jarinya tertusuk duri tanaman itu. Putri Kirania bertambah jengkel. Matanya melotot kesal. O-ow! Putri Kirania merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Matanya tak bisa kembali seperti semula! Mata itu terus melotot dan tak bisa berkedip. Putri Kirania bertambah geram.
“Nizaaaan! Kurang ajar kau!” Putri Kirania bersungut-sungut. Bibirnya manyun. Ups! Tapi lagi-lagi ada yang aneh pada dirinya. Bibir Putri Kirania terus manyun dan tak bisa kembali normal! Sementara itu Nizan datang menghampiri Putri Kirania dengan wajah tenang.
“Ada apa, Tuan Putri?”
“Kau mau menghinaku, ya? Kau menyamakan wajahku dengan bentuk hewan-hewan itu!” Putri Kirania menuding-nudingkan telunjuknya. Eit, tapi kenapa jari telunjuknya terus mengacung, ya?
“Heh, kenapa sih dengan tubuhku? Kok, jadi begini?” Putri Kirania panik.
“Waah, celaka! Tuan Puteri kena duri Rosviller!” seru Nizan dengan wajah gusar.
“Duri Ros…apa?”
“Duri Rosviller! Duri beracun! Getah duri itu bisa membekukan darah. Jadi, kalau bibir kita tersenyum, maka bibir kita akan terus tersenyum sampai racun itu hilang. Tapi kalau bibir kita manyun, makaaa…”
“Hentikan! Beri aku penawarnya!”
“Tidak ada penawarnya, Tuan Putri! Ah, tapi Tuan Putri tak perlu khawatir, kok! Racun itu akan hilang dengan sendirinya selama beberapa minggu,”
“Beberapa minggu?! Lalu bagaimana denganku? Aku kan, tak mungkin terlihat dengan mata, bibir, dan telunjuk seperti ini!”
“Hmm… sebaiknya Tuan Putri jangan memperburuk bentuk wajah dan tubuh Tuan Putri. Makin jelek mimik muka Tuan Putri, makin jelek juga wajah yang terbentuk!”
Putri Kirania ingin marah, tapi segera ditahannya sebelum wajahnya berubah semakin parah. Putri Kirania segera berlari ke istana. Dia mengunci diri di kamar. Dipandanginya wajah anehnya di cermin. Matanya terlihat melotot, bibirnya manyun, dan telunjuknya terus mengacung. Ugh… Puteri Kirania membenamkan wajahnya di bantal sambil menangis meratapi nasibnya!
Dalam beberapa hari Putri Kirania mengurung diri di kamar. Dia sama sekali tak mau keluar. Bahkan makan pun harus diantar. Kalau merasa bosan, Putri Kirania pergi menyendiri di kebun. Seringkali Putri Kirania merasa kesal, tapi tak tahu harus berbuat apa untuk menumpahkan kekesalannya. Suatu hari Nizan memberinya saran.
“Tumpahkan saja kekesalan pada rumput-rumput di kebun! Tuan Puteri bisa mencabut rumput-rumput yang sudah tinggi!”
“Enak saja, memangnya aku tukang kebun?!”
“Eh, Tuan Puteri marah lagi, ya?” goda Nizan.
“Tentu saja aku marah, kauu…” Hup! Putri Kirania buru-buru menutup mulutnya sebelum bertambah manyun. Dengan perasaan geram dicabutinya rumput-rumput di kebun. Ugh! Ugh! Ugh! Rumput-rumput tercabut. Puteri Kirania masih merasa jengkel. Dia segera mengambil gunting dan memangkas tanaman. Fiuuuh… lega juga rasanya! Emosinya agak berkurang.
Sejak itu, setiap Puteri Kirania marah, Nizan memiliki jurus ampuh untuk meredam emosinya. Nizan selalu menggoda dengan kata, “Tuan Puteri marah, ya?”
Mendengar kata-kata itu, biasanya Putri Kirania langsung membungkam mulutnya dan menumpahkan kekesalan dengan mencabut rumput-rumput. Lama kelamaan Puteri Kirania terbiasa melampiaskan emosinya tanpa marah-marah. Caranya adalah dengan bekerja! Entah itu berkebun, atau membersihkan kamarnya.
Penghuni istana bingung dengan perubahan sikap Putri Kirania. Tetapi mereka bersyukur karena sekarang Putri Kirania jarang marah-marah. Puteri Kirania sendiri merasa senang. Bekerja ternyata mengasyikkan juga. Apalagi kalau sambil bersenandung. Puteri Kirania juga tak segan-segan membantu siapa saja.
Sebulan berlalu. Tanpa Putri Kirania sadari, wajahnya telah berubah seperti sedia kala. Matanya tak lagi melotot, dan bibirnya tak lagi bertambah manyun. Jari telunjuknya juga sudah tidak mengacung. Malah kini pipinya bersemu merah muda karena sering terkena hangat sinar matahari. Sayangnya, telapak tangan Puteri Kirania yang lembut dan halus jadi penuh luka karena tertusuk onak dan duri. Selain itu banyak kukunya yang patah. Ah, tapi Puteri Kirania tak peduli. Bekerja memang membuat tangan menjadi kasar. Tetapi Noelle pernah berkata, tangan yang paling indah adalah tangan yang digunakan untuk bekerja.
Setelah beristirahat sebulan lamanya, tiba-tiba Pak Bun datang dari desa. Tubuhnya tampak sehat dan wajahnya kelihatan cerah. Rupanya Pak Bun sudah sembuh dari sakit. Nizan pun berpamitan pergi.
“Tetaplah bekerja di sini, Nizan! Kau bisa membantu Pak Bun merawat kebun,” pinta Puteri Kirania.
“Maafkan saya, Tuan Puteri. Saya tidak bisa lagi bekerja di sini. Saya harus pulang ke kampung halaman. Sekarang musim menanam gandum. Saya akan membantu orang tua saya di desa mengolah ladang!”
Puteri Kirania mengizinkan Nizan pergi. Tetapi sebetulnya dalam hati dia sedih. Dia merasa kehilangan seorang teman. Apalagi Nizan telah membuat kebiasaan marahnya berkurang.
Puteri Kirania menyendiri di kebun, dari kejauhan dia menatap tanaman Rosviller. Tanaman berduri itu membuatnya teringat pada Nizan. Dulu, gara-gara tertusuk duri tanaman itu, bentuk wajah Puteri Kirania menjadi aneh.
Selain itu, Nizan pernah memangkas tanaman itu menyerupai wajah Puteri Kirania yang cemberut. Rupanya kini Nizan telah merubah bentuknya. Tanaman itu dipangkas menyerupai wajah Puteri Kirania yang sedang tersenyum.
Krssk, krssk! Terdengar suara langkah orang. Puteri Kirania menoleh. Rupanya Pak Bun! Pak Bun sedang merapikan pangkasan tanaman Rosviller.
“Pak Bun, awas!” seru Puteri Kirania. Dia khawatir Pak Bun tertusuk duri tanaman itu. Pak Bun terperanjat. Jarinya tertusuk duri Rosviller. Wah, celaka! Puteri Kirania segera berlari menghampiri Pak Bun. Jari Pak Bun terluka.
“Ah, tak apa, Tuan Puteri. Sebentar lagi pasti sembuh!”
“Tapi ini tanaman Rosviller, Pak! Tanaman duri beracun yang bisa membekukan aliran darah!”
Pak Bun tertegun. Belum pernah didengarnya nama tanaman itu. Lagipula tanaman yang ditunjuk Puteri Kirania adalah rumpun berduri biasa.
“Maaf Tuan Puteri, ini cuma rumpun berduri biasa. Kalau terkena durinya, paling-paling hanya terluka,” kata Pak Bun pelan.
Puteri Kirania tercekat. Tak ada perubahan apa pun pada wajah dan tubuh Pak Bun. Astaga! Jadi… Nizan membohonginya! Puteri Kirania menggeram marah, Pak Bun menunduk ketakutan. Dasar Nizan penipu! Gerutu Puteri Kirania dalam hati. Setelah tahu Nizan membohonginya, Puteri Kirania tak pernah memikirkan tukang kebun itu lagi. Dia merasa kesal pada Nizan. Karena itu Puteri Kirania semakin rajin bekerja untuk mengalihkan amarahnya.
Suatu hari, Raja dan Ratu mengajak Puteri Kirania pergi ke Negeri Entahapa. Mereka akan menghadiri pesta kerajaan negeri itu. Setelah sekian lama mengurung diri di istana, akhirnya Puteri Kirania bersedia keluar juga. Malam itu Puteri Kirania berdandan sangat cantik. Tetapi dia sadar, tangannya kasar dan penuh luka. Beberapa kukunya patah. Karena itu dia menyembunyikannya di balik sarung tangan.
Rombongan kerajaan berangkat dengan kereta kuda yang mewah. Mereka tiba di Negeri Entahapa pada saat pesta hampir dimulai. Para pangeran dan puteri dari beberapa kerajaan berkumpul di ruang dansa yang megah. Mereka tampak asyik bercengkrama. Tetapi anehnya, hampir seluruh puteri yang datang ke kerajaan itu membuka sarung tangannya. Seorang pelayan memberitahu.
“Pangeran dari Entahapa mengadakan sayembara. Puteri dengan tangan terindah akan dipilih menjadi teman dansanya malam ini.”
Puteri Kirania mengernyitkan alis.
“Aih, sayembara macam apa itu? Tidak masuk akal! Dia pikirrr…” Puteri Kirania segera membungkam mulutnya. Dia sangat kesal. Tapi dia harus menahan diri. Puteri Kirania segera menarik napas panjang dan mengatur emosinya.
Tiba-tiba alunan musik berhenti. Pangeran dari Entahapa menuruni anak tangga. Dengan langkah tegap, Pangeran dari Entahapa menuju ruang dansa. Wajahnya tertutup topeng bulu.
Kemarahan Puteri Kirania segera sirna. Setelah melihat sosok sang pangeran yang gagah, Puteri Kirania berharap dalam hati. Semoga Pangeran dari Entahapa memilihnya. Tetapi… tangannya kasar dan penuh bekas luka!
Secara serempak, para puteri segera mengulurkan tangan mereka. Tangan-tangan yang terjulur sangat halus dan indah. Kuku bercat warna-warni menghiasi jari lentik mereka. Hanya Puteri Kirania yang menyembunyikan tangannya.
“Ulurkanlah tanganmu!” pinta sang pangeran lembut. Dengan berat hati, Puteri Kirania mengulurkan tangannya yang masih terbungkus sarung tangan.
“Bukalah sarung tanganmu! Kamu korengan ya?” ucap sang pangeran sambil menyentil tangan Puteri Kirania.
Puteri Kirania kesal sekali, namun ia pelan-pelan membuka sarung tangannya. Oooh… para puteri terperangah melihat tangan Puteri Kirania yang penuh bekas luka. Kukunya juga dipotong pendek dan sama sekali tidak dicat! Mereka menatap Puteri Kirania dengan pandangan kasihan.
Tiba-tiba Puteri Kirania yang memang garang, membalas tatapan mereka.
“Kalian heran melihat tanganku? Tangan ini kupakai bekerja hingga menjadi kasar dan penuh bekas luka. Kalian tahu, seperti inilah tangan para pelayan, koki, tukang kebun, dan kusir kalian! Juga tangan rakyat kalian yang bekerja di ladang dan di lautan! Oh ya, seorang temanku pernah berkata. Walau dia hanya seorang tukang kebun sederhana, tapi kurasa pemikirannya luar biasa. Menurutnya, tangan yang paling indah adalah tangan yang digunakan untuk bekerja!” geram Puteri Kirania memecahkan keheningan. Dengan kesal diangkat gaunnya dan berlalu dari hadapan para puteri dan sang pangeran. Tiba-tiba Pangeran dari Entahapa mencegat langkahnya.
“Tuan Puteri marah, ya?” goda sang pangeran.
Puteri Kirania tersentak kaget. Suara itu dikenalnya! Pangeran dari Entahapa membuka topeng bulunya sambil tersenyum. Astaga, Nizan, si tukang kebun!
Nizan mengulurkan tangannya sambil membungkuk.
“Maukah kau berdansa denganku?”
Puteri Kirania terhenyak. Nizan yang selama ini dikenalnya ternyata putera mahkota Kerajaan Entahapa! Sebelum Puteri Kirania menjawab, Nizan telah menariknya ke lantai dansa.
Nizan menceritakan segalanya. Dia menyamar jadi tukang kebun untuk mendekati Puteri Kirania. Mengenai tanaman Rosviller, hanya akal-akalannya saja. Dulu, wajah dan tubuh Puteri Kirania jadi aneh karena ramuan yang sengaja Nizan balurkan pada duri tanaman itu. Puteri Kirania jengkel mendengar cerita Nizan. Tapi Nizan langsung menggoda,
“Tuan Puteri marah, ya?”
Puteri Kirania cemberut. Tetapi sesaat kemudian dia tertawa memikirkan kebodohannya. Yah, itulah akibatnya kalau sering marah-marah!
Malam itu Pangeran Nizan melamarnya. Tak lama kemudian mereka menikah dan meneruskan hobi berkebun. Kini Puteri Nizan tak lagi dikenal sebagai puteri pemarah. Seluruh rakyat menghormatinya sebab Puteri Nizan selalu bekerja keras dan siap membantu siapa saja.
Penulis Edi Warsono
Editor Eva Nurhayati
