Gadis Pembuat Dodol - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 11 November 2024

Gadis Pembuat Dodol

 


Siang itu udara terasa panas sekali. Warga desa sepertinya lebih banyak yang berdiam diri di dalam rumah. Di ujung jalan dekat sungai, ada sebuah rumah yang sangat sederhana. Bahkan, tiangnya sudah miring dan hampir roboh. Di rumah kayu itulah, tinggal keluarga yang sangat miskin. Sang ayah bernama Pak Ranu. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya, Rama dan Salma.
Pak Ranu setiap harinya membuat sapu dari sabut kelapa untuk menghidupi keluarganya. Di lingkungan Pak Ranu memang kebanyakan berprofesi sebagai pembuat sapu dari sabut kelapa karena bahan-bahannya mudah didapat. Suatu hari, ia berkata pada istrinya,
“Bu, aku akan pergi ke kedai kopi. Siapa tahu aku bisa menjual lima atau enam sapu dan mendapat sedikit uang.”
"Pergilah, Pak. Jangan lupa jika sapu itu terjual, belilah makanan untuk anak-anak." Jawab Bu Ranu.
Pak Ranu lalu pergi ke kedai kopi dengan memanggul banyak sapu buatannya. Ia memesan secangkir kopi dan memikirkan keadaannya yang miskin. Pada saat itu, masuklah beberapa orang yang belum ia kenal. Orang-orang itu sepertinya dari luar daerah dan mampir untuk istirahat sambil minum kopi.
Pak Ranu yang duduk di pojokan mendengarkan obrolan mereka. Mereka rupanya para pedagang besar yang sedang mencari pengrajin sapu di desa itu. Salah seorang dari mereka bertanya pada pengunjung kedai kopi, apakah mereka tahu pembuat sapu di desa itu. Pak Ranu dengan penuh semangat memperkenalkan dirinya. Ia juga langsung memperlihatkan sapu buatannya. Mereka pun melihat-lihat sapu yang di bawa Pak Ranu dan tertarik, karena pembuatnya sangat rapi dan terlihat bagus.
Orang-orang itu lalu membeli semua sapu tersebut. Mereka bahkan memesan seribu sapu lagi. Pak Ranu segera pulang dengan gembira dan menceritakan itu semua pada keluarganya. Keesokan harinya, dengan dibantu anak-anaknya ia mulai membuat sapu yang dipesan.
Beberapa bulan kemudian, seribu sapu sudah selesai dibuat. Pak Ranu membawa seribu sapu itu ke pedagang yang memesannya. Pedagang itu membayarnya dengan harga mahal. Betapa gembiranya Pak Ranu. Pesanan demi pesanan rutin ia terima dari pedagang besar tersebut.
Kini, Pak Ranu sudah menjadi orang kaya. Ia mengajak keluarganya berjalan-jalan keluar daerah, ke tempat saudara Pak Ranu dengan naik kapal laut. Sayangnya, Salma si putri bungsu tidak kuat berlayar dengan kapal laut.
“Aku akan tinggal di rumah saja, Ayah, Ibu,” kata Salma. “Aku pasti mabuk laut dan tidak menikmati perjalanan. Ayah, Ibu, dan Kak Rama saja yang pergi.”
Bu Ranu khawatir meninggalkan Salma sendiri. Namun ia lalu teringat pada sahabat baiknya, Bu Berta.
“Ibu titipkan kau pada Bu Berta, ya. Bersikaplah yang baik di rumahnya,” pesan Bu Ranu pada putrinya.
Pak Ranu, Bu Ranu, dan Rama akhirnya berangkat dengan kapal laut. Sementara Salma tinggal di rumah Bu Berta yang dipercaya oleh Bu Ranu.
Akan tetapi, ternyata Bu Berta selama ini iri pada keberhasilan Pak Ranu dan istrinya. Setelah penjualan sapunya berhasil, Pak Ranu dan Bu Ranu menjadi jauh lebih kaya dari Bu Berta. Bahkan Bu Berta menganggap keluarga pak Ranu yang menyebabkan sapu buatannya tidak laku. Padahal, memang buatan Berta kualitasnya buruk dan bahan yang digunakan juga asal-asalan.
Kini, Bu Berta ingin membuat keluarga Pak Ranu mengalami kesialan.
Pada suatu hari, Bu Berta mengajak Salma ke tempat pemandian umum khusus wanita. Di desa itu, memang terdapat banyak tempat pemandian umum. Bu Berta memberikan beberapa keping uang emas pada wanita penjaga tempat mandi. Ia menyuruh wanita itu menenggelamkan Salma.
Akan tetapi, Salma ternyata mendengar percakapan rahasia itu. Ia sangat terkejut karena Bu Berta yang dianggap baik, ternyata punya maksud jahat. Ia lalu mencari akal untuk lari dari Bu Berta. Salma lalu mendekati Bu Berta dan berkata,
“Bu Berta, kau sangat baik karena mengizinkan aku tinggal di rumahmu. Sekarang, mari aku basuh kaki dan kepalamu,” kata Salma.
Bu Berta tertarik juga mendapat pelayanan seperti itu. Maka, ia membiarkan Salma menyabuni rambutnya sehingga penuh busa sabun. Bahkan, matanya pun tertutup busa.
Salma lalu menyabuni kakinya. Namun, ia lalu mengikat tali baju mandi Bu Berta pada kursi yang sedang di duduki. Salma lalu diam-diam lari dari tempat pemandian umum itu. Ketika Bu Berta tahu, ia berusaha mengejar. Namun matanya pedih terkena busa sabun. Ia juga tertabrak kursi yang ikut di belakangnya saat ia berlari.
Salma lari kembali ke rumah orangtuanya. Sementara itu, Bu Berta membersihkan dirinya dan pulang ke rumahnya dengan kesal. Ia lalu merencanakan pembalasan. Bu Berta yang tahu alamat saudara pak Ranu di luar daerah kemudian menulis surat untuk Pak Ranu,
“Anak perempuanmu telah mencuri uangku dan lari dari rumahku.”
Pak Ranu menerima surat itu dan sangat terkejut. Ia juga marah dan malu pada kelakuan putrinya, Salma. Pak Ranu lalu menyuruh Rama untuk pulang lebih dulu. Pak Ranu menyuruh Rama membawa Salma ke pengadilan istana agar masalah dengan Bu Berta bisa selesai.
Rama segera pulang ke rumah mereka. Namun ia tidak tega membawa Salma ke pengadilan di istana. Ia malah membawa adiknya keluar dari desa itu. Rama memberi adiknya uang agar bisa membeli makanan di perjalanan. Ia juga memberinya seekor kuda yang kuat.
Salma akhirnya mulai mengembara. Ia melintasi gunung, lembah, dan tiba di sebuah mata air di bawah pohon. Saat sedang beristirahat di bawah pohon itu, ia melihat Pangeran Nizan. Ia adalah putra raja negeri itu. Sang pangeran sedang berburu dengan pengawalnya.
Karena takut, Salma memanjat pohon dan sembunyi di antara dedaunan pohon. Pangeran Nizan berkata pada pengawalnya,
“Aku akan istirahat di bawah pohon ini.”
Pada saat Pangeran Nizan duduk selonjoran, ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis di atas pohon. Gadis itu secantik matahari. Ia segera berseru
“Hei gadis cantik..., apakah kau manusia, atau jin, atau sejenis kunti?”
“Aku manusia biasa seperti dirimu,” jawab Salma.
Pangeran Nizan menyuruhnya turun. Mereka pun berkenalan. Pangeran Nizan iba pada Salma yang tak tahu harus pergi ke mana. Ia lalu mengajak Salma ke istananya.
Sejak itu, Salma itu tinggal di istana. Ia dan Pangeran Nizan menjadi semakin akrab. Salma menceritakan kisah sedihnya, bagaimana ia terpisah dengan kedua orang tua dan kakaknya. Pangeran Nizan semakin iba pada Salma dan berjanji akan menolongnya. Namun, rasa iba itu lama kelamaan berubah menjadi cinta, Salma dan Pangeran Nizan akhirnya menikah.
Pada suatu hari, Pangeran Nizan bertanya,
“Aku pernah berjanji akan menolongmu agar bertemu dengan kedua orang tua dan kakakmu. Apakah kau sudah siap untuk bertemu mereka sekarang?”
Salma menunduk ragu. Ia takut jika kedua orang tuanya masih marah padanya karena laporan palsu dari Bu Berta.
“Suamiku, aku punya ide agar tidak langsung bertemu dengan ayah ibuku. Tolong buatkan aku toko yang menjual dodol di desaku. Sambil berjualan, aku akan mencari cara untuk menjelaskan keadaanku pada ayah ibuku,” pinta Salma.
Pangeran Nizan setuju dengan ide istrinya. Ia lalu menyuruh pengawalnya membangun toko dodol di desa istrinya. Dodol adalah makanan khas yang sangat digemari di negeri itu.
Salma lalu menyamar menjadi lelaki pemilik toko dodol bernama Hamid. Dodol buatan Hamid alias Salma sangat lezat. Dalam waktu singkat, dodol buatannya menjadi terkenal di desa itu. Berita ini sampai ke telinga Pak Ranu, ayah Salma. Pak Ranu kini tidak menjual sapu lagi. Ia membuka kedai kopi yang menjual kopi dan makanan manis.
Suatu hari, Pak Ranu datang ke toko dodol Hamid. Tentu saja Hamid alias Salma mengenal ayahnya. Namun Pak Ranu tidak mengenal putrinya. Pak Ranu ternyata sangat menyukai dodol lezat buatan Salma.
“Aku akan mengadakan pesta syukuran di kedai kopiku. Maukah kau datang ke kedaiku? Saya juga mau pesan dodol untuk acara tersebut sebanyak 300 nampan besar” kata Pak Ranu pada Hamid.
"Dengan senang hati saya akan datang. Tapi bolehkah saya membawa seorang teman? Dan semoga Bu Berta yang terkenal baik hati itu juga diundang,” katanya.
"Tentu aja kau boleh membawa teman. Kami juga akan mengundang Bu Berta karena dia sahabat keluarga kami,” kata Pak Ranu.
Hari tasyakuran di kedai Pak Ranu akhirnya tiba juga. Hamid alias Salma sibuk di dapur menata dodol istimewa. Dodol yang sudah jadi itu lalu dibawa oleh berapa warga ke ruangan tempat para tamu berkumpul.
Di ruangan itu, Salma melihat Pangeran Nizan, suaminya. Ia menyamar memakai pakaian rakyat biasa. Salma juga melihat ibunya, ayahnya, dan Rama, kakaknya. Ia sangat rindu pada mereka, namun ia harus menahan diri karena mereka tidak mengenalnya. Terakhir, Salma juga melihat Bu Berta yang telah membuat hidupnya menjadi susah.
Ketika acara tasyakuran dan doa usai, Salma membagikan dodol pada mereka, Salma berkata, “Agar acara ini lebih menarik, sebelum pulang mari kita masing-masing bercerita pengalaman hidup kita.”
Semuanya setuju dan mulai bercerita pengalaman hidup masing-masing. Lalu tibalah giliran si pembuat dodol yang bercerita.
“Cerita saya ini sangat unik, berbeda dengan cerita yang tadi kita dengar dari hadirin disini. Selama aku bercerita, harap tidak ada yang keluar dari ruangan ini. Kalau ada yang ingin keluar, lebih baik keluar sekarang,” katanya.
Akan tetapi, semua ingin mendengar pengalaman hidupnya. Jadi tak ada yang ingin meninggalkan ruangan. Maka, Hamid alias Salma lalu menutup pintu kedai, dan mulai menceritakan pengalaman hidupnya.
Hamid bercerita tentang kunjungannya ke tempat pemandian umum. Ia bercerita tentang seorang yang ingin mencelakakannya di tempat itu.
“Maaf, aku merasa tidak sehat dan ingin keluar...” kata Bu Berta yang mulai merasa gelisah.
“Duduklah...” kata Hamid dengan nada mengejek. Ia meneruskan ceritanya, tentang ayah yang ingin menyerahkan anaknya pada pengadilan di istana, padahal sang ayah belum mendengar cerita dari anaknya. Ia lebih percaya pada orang lain yang belum tentu baik hatinya.
Salma juga bercerita tentang seorang kakak yang menolong adiknya, memberinya uang dan kuda. Ia juga bercerita tentang seorang bapak yang mengundangnya tanpa menyadari kalau dirinya adalah putri bapak itu sendiri.
Pada saat itu, Rama mulai menyadari kalau Hamid adalah Salma adiknya. Pak Ranu dan Bu Ranu pun akhirnya mengenal wajah Hamid, yang adalah Salma yang sedang menyamar.
“Salmaaaa...” seru mereka bersama-sama, lalu berdiri memeluk Salma.
Bu Berta sangat ketakutan dan berlari keluar dari kedai itu, namun Pangeran Nizan berteriak menyuruh pengawalnya menangkap wanita kejam itu. Bu Berta kemudian mengakui semua kebenaran yang dikatakan oleh Salma. Saat itu juga ia dibawa ke penjara istana.
Betapa bahagianya Salma, karena bisa berkumpul dengan ayah, ibu, dan kakaknya. Mereka menangis dan berpelukan penuh haru. Kini, dengan lega, Salma bisa kembali ke istana bersama suaminya, Pangeran Nizan. Dan setiap bulan mereka selalu berkunjung ke desa untuk menemua ayah, ibu dan kakaknya.
Penulis Edi Warsono

Program