Naura dan Panca (Harga Sebuah Kejujuran) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Senin, 11 November 2024

Naura dan Panca (Harga Sebuah Kejujuran)

Beratus tahun yang lalu di sebuah desa bernama Karang Gintung yang terlatak di pesisir pantai Utara, hiduplah keluarga Marta dan keluarga Sanjaya yang masing-masing memiliki anak berumur 10 tahun. Seperti sebagian besar penduduk di desa tersebut, dua keluarga tersebut mencari nafkah dengan menangkap ikan. Keluarga Marta mempunyai anak perempuan bernama Naura dan keluarga Sanjaya mempunyai anak laki-laki bernama Panca. Panca dan Naura adalah anak-anak yang rajin. Panca selalu membantu ayahnya memperbaiki jala yang rusak. Naura selalu membantu ibunya yang berjualan makanan di pinggir pantai.

Suatu hari seperti biasa Panca dan Naura menunggu kepulangan ayah mereka di pinggir dermaga. Satu persatu nelayan-nelayan yang pulang melaut merapat ke pantai dan disambut keluarga mereka. Pagi sudah beranjak siang namun belum terlihat tanda-tanda kepulangan ayah mereka.

“Pak, apakah bapak melihat ayah kami?” tanya Naura pada salah satu nelayan.

“Oh, kami memang melihat ayah kalian di tengah laut. Tapi sepertinya mereka menuju ke utara, katanya mau menangkap ikan tuna lebih banyak lagi,” jawab si nelayan.

Naura menatap langit di utara, tampak awan mendung menggulung, sepertinya akan turun hujan lebat dan badai besar. Naura sangat khawatir sampai lututnya tak mampu menyangga tubuhnya hingga ia jatuh terduduk.

“Oh ayah…,” isak Naura.

“Jangan khawatir Naura,” hibur Panca. “Mereka pasti baik-baik saja.”

“Tapi mendung begitu tebal,” tangis Naura. “Bagaimana kalau mereka terjebak badai? Kapalnya bisa terbalik dan tenggelam. Oh seandainya aku bisa menolong mereka.”

“Tentu saja kita bisa menolong ayah kita,” kata Panca, walau seumuran namun Panca pola berfikirnya lebih dewasa.

“Benarkah? Bagaimana caranya?” tanya Naura.

“Dengan berdoa,” jawab Panca dengan mantap.

Naura memandang Panca. “Apakah Tuhan akan mendengar doa kita?” tanyanya.

“Ya, aku yakin. Karena Tuhan yang mengendalikan alam. Kita harus berdoa semoga Tuhan mau menghentikan hujan dan membuat laut menjadi tenang,” kata Panca.

Mereka lalu berlutut dan berdoa dengan khusyuk. Ajaib tiba-tiba langit menjadi terang dan angin yang tadinya kencang tiba-tiba bertiup lembut. Tidak berapa lama dari tengah laut nampak sebuah perahu yang makin lama makin dekat.

“Semoga itu ayah kita,” seru Naura.
Ternyata itu memang perahu ayah mereka. Kedua anak itu berseru mengucap syukur, mereka pun segera berlari menyongsong ayah mereka. 

Wah, ternyata ayah mereka selain membawa tangkapan yang banyak, juga berhasil menangkap seekor ikan tuna yang sangaaaaat besar. Belum pernah ada nelayan lain yang pernah menangkap tuna sebesar itu. Pak Marta dan Pak Sanjaya bersyukur bisa pulang dengan selamat. Mereka tadinya berpikir akan terjebak badai, syukurlah tiba-tiba saja langit menjadi cerah seperti terkena sihir. Panca dan Naura saling berpandangan dan tersenyum.

Ayah mereka membawa hasil tangkapan mereka ke tempat pelelangan ikan. Pembeli berebut ingin membeli ikan tuna yang besar itu. Akhirnya seorang pemuda yang menawar dengan harga tinggi berhak atas ikan tersebut.

“Aku ingin membuat pesta disini,” kata si pemuda. “Bagaimana kalau aku undang kalian untuk makan ikan ini bersama-sama.”

Semua menyambut gembira ajakan si pemuda.
“Baiklah saya yang akan memasak ikannya,’ kata ibu Naura.

Panca dan Naura membawa ikan itu ke dapur untuk dibersihkan. Saat mengeluarkan isi perut ikan, tiba-tiba sebuah benda berkilauan terjatuh. Naura memungut benda tersebut. Ternyata sebuah cincin berlian.

“Waaaah, indah sekali cincin ini!” seru Naura. “Harganya pasti mahal sekali. Oh, aku ingin sekali memilikinya.”

“Jangan Naura,” cegah Panca. “Karena cincin itu berada di perut ikan tuna yang telah dibeli pemuda tadi, maka cincin itu adalah miliknya. Ayo kita serahkan kepadanya”

Panca dan Naura menyerahkan cincin itu kepada si pemuda. Pemuda itu kagum akan kejujuran kedua anak tersebut.

“Seandainya mereka tidak menyerahkan cincin itu padaku, akupun tidak akan tahu kalau ada cincin berlian di dalam perut ikan yang aku beli,” batin si pemuda. “Tapi mereka tetap menyerahkannya padaku. Benar-benar anak yang luar biasa.”

Pemuda itu tersenyum pada Panca dan Naura. Dia lalu membuka jubah yang menutup tubuhnya. Ternyata dibaliknya adalah baju kebesaran kerajaan. Semua orang terkejut, rupanya pemuda itu adalah pangeran yang sedang menyamar.

“Kalian anak yang jujur,” katanya. “Aku sangat menghargainya. Untuk itu mulai besok aku akan membawa Panca ke istana. Kau kuangkat sebagai adikku, kelak jika usiamu sudah cukup kau akan aku angkat menjadi pengawal pribadiku. Dan Naura, ibuku pasti akan sangat senang bertemu denganmu. Dia sangat ingin punya anak perempuan. Bagaimana kalau kau kuangkat juga sebagai adikku?”

Sejak saat itu Panca dan Naura menjadi anggota kehormatan kerajaan. Kedua orang tua mereka pun ikut diboyong ke kerajaan dan diberi rumah yang layak juga sebidang tanah. Keluarga Marta menjadi pedagang dan keluarga Sanjaya menjadi pembuat peralatan melaut. 

Berkat sebuah kejujuran, mereka bisa hidup mulia. Dan bisa membahagiakan kedua orang tua mereka.

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/jbrzFjZK2ZsLqiK8/ 

HASIL PENILAIAN

Program