Malam sudah larut, keheningan makin terasa di sebuah desa terpencil yang terletak di lereng gunung. Disana terhampar kisah pilu seorang janda paruh baya bernama Mbok Srini. Kehidupannya diselimuti kesunyian sejak ditinggal mati sang suami beberapa tahun silam. Tak hanya sendiri, Mbok Srini juga tak dikaruniai anak satu pun.
Kesepian menyelimuti hatinya, namun Mbok Srini tak menyerah pada takdir. Ia terus menaruh harapan, menanti keajaiban hadir dalam hidupnya. Setiap hari, siang dan malam, ia memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, memohon agar dianugerahi seorang anak yang dapat mengisi kekosongan di hatinya.
Hingga pada suatu malam, harapan itu datang lewat mimpinya. Dalam mimpinya, Mbok Srini didatangi sesosok wujud tinggi besar yang menyuruhnya pergi mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon beringin besar di hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini masih bingung, ia merasa tidak percaya dengan mimpinya semalam.
“Oh Tuhan.... Mungkinkah mimpi itu benar, apakah keajaiban itu akan benar-benar terjadi padaku?” Ia pun bertanya dalam hati dengan penuh keraguan.
Namun, Mbok Srini berusaha menghilangkan keraguan dari fikiranya. Dengan penuh harapan, ia pun bergegas pergi ke hutan yang ditunjuk oleh sosok dalam mimpinya itu. Setibanya di hutan, ia segera mencari pohon beringin yang berukuran paling besar.
Tak begitu lama, Mbok Srini pun menemukan pohon tersebut. Dengan penuh harap, ia bergegas menuju ke bawah pohon beringin besar yang ada di depannya. Lama Mbok Srini mencari bungkusan yang dimaksud namun tidak juga ia temukan. Ia pun merasa bahwa mimpinya hanyalah bunga tidur semata.
Dengan langkah gontai dan kecewa, Mbok Srini pun melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, kakinya menyandung sesuatu. Sebuah bungkusan hitam yang dikiranya berisi seorang bayi. Dengan hati-hati Mbok Srini membuka bungkusan itu. Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui isinya, bungkusan tersebut ternyata hanya berisi sebutir biji timun.
Hatinya pun kembali bertanya-tanya.
“Apa maksud makhluk itu memberiku sebutir biji timun ini?” gumam Mbok Srini dengan bingung.
Di tengah kebingungannya, tanpa disadari ada sesosok tinggi besar sudah berdiri di belakangnya dengan tawanya yang menggelegar.
“Huaaa… haa… haa…!” demikian suara tawa raksasa itu.
Mbok Srini pun kaget sambil membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia karena sosok itu adalah raksasa yang hadir dalam mimpinya beberapa waktu yang lalu. Ia pun menjadi sangat ketakutan.
“Ampuni hamba, Tuan Raksasa! Jangan sakiti aku! Aku masih ingin hidup,” Mbok Srini memohon dengan muka pucat dan badan gemetar.
“Kau tidak usah takut, hai orang tua! Aku tidak akan melukaimu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.
“Be… betul, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini tergagap.
“Kalau begitu, tanamlah biji timun yang kau pegang itu! Nanti kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Karena anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa itu.
Mbok Srini bingung harus menjawab apa. Tapi karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini pun menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu kelak.”
Setelah Mbok Srini menyetujui syarat tersebut, raksasa itu pun menghilang dari hadapan Mbok Srini. Dengan perasaan yang tidak menentu, Mbok Srini pun pergi meninggalkan hutan tersebut.
Sepulang dari hutan, Mbok Srini segera menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Sebulan kemudian, tanaman itu pun mulai berbuah. Namun anehnya, tanaman timun itu hanya berbuah satu biji.
Semakin hari buah timun menjadi semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda dan unik, timun tersebut berwarna kuning keemasan. Ketika buah timun sudah masak, Mbok Srini memetiknya. Timun itu terasa begitu berat, dengan susah Mbok Srini membopong timun itu ke gubuknya.
"Biji timun yang aku tanam sudah berbuah, bahkan aku sudah memetik buahnya, tapi kenapa sampai saat ini aku belum juga memiliki anak???" Gumam Mbok Srini, sambil membopong timun emas yang besar itu.
"Atau jangan-jangan, raksasa itu hanya membohongiku???" Pikir Mbok Srini. Ia mulai ragu dengan perkataan raksasa waktu itu.
Setelah berjalan beberapa lama, sampailah ia di gubuknya. Hari itu mbok Srini ingin sekali memasak timun itu untuk dijadikan kudapan kesukaannya.
Dengan hati senang ia mencucinya, kemudian ia belah Timun tersebut menjadi dua bagian. Alangkah terkejutnya Mbok Srini, ketika buah timun itu terbelah. Ia melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik dengan kulit yang putih bersih. Saat akan menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis dengan kerasnya. Mbok Srini seakan bermimpi, tangis bayi yang selama puluhan tahun ia idamkan, hari itu ia bisa mendengarnya dengan telinganya sendiri. Ia pun segera memberi nama bayi itu Timun Mas.
"Tenanglah anaku..!!! Jangan menangis terus sayang… sekarang kamu sudah bersama ibumu, Timun Mas!” hibur Mbok Srini sambil mengusap kepala bayi itu. Perempuan paruh baya itu tak dapat menyembuyikan kebahagiaannya. Hingga air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang keriput. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa dengan janjinya bahwa dia akan memberikan bayi itu kepada raksasa suatu saat kelak.
Hari demi hari hidup Mbok Srini penuh dengan kegembiraan, Ia merawat dan mendidik Timun Mas dengan rasa kasih sayang hingga tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan pintar. Mbok Srini sangat bangga, karena selain cantik, Timun Mas juga memiliki sifat rendah hati dan kecerdasan yang luar biasa. Oleh karena itu, ia sangat sayang kepadanya.
Tak terasa tahun demi tahun pun berganti, Timun Mas pun tumbuh menjadi gadis dewasa. Hingga pada suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa yang memberi pesan kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Hatinya pun menjadi sedih, karena ia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata adalah raksasa yang jahat, karena Timun Mas akan dijadikan mangsanya!
Melihat Mbok Srini sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati yang dirasakan oleh ibunya.
“Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih?” tanya Timun Mas.
Sebenarnya Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak ingin anaknya itu ikut bersedih. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun menceritakan asal-usul Timun Mas yang dirahasiakan selama ini.
“Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu,” kata Mbok Srini dengan wajah sedih.
“Rahasia apa, Bu?” tanya Timun Mas penasaran.
“Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Ibu yang lahir dari rahim Ibu.” Jawab Mbok Srini.
Belum selesai ibunya bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.
“Apa maksud, Ibu?” tanya Timun Mas.
Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut hingga mimpinya semalam bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya itu untuk dijadikan santapan.
Mendengar cerita itu, Timun Mas sangat kaget dan tidak percaya.
“Aku tidak mau ikut bersama raksasa itu. Aku sangat sayang kepada Ibu yang telah mendidik dan membesarkan Timun,” kata Timun Mas.
Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia mencari cara agar anaknya selamat agar tidak menjadi santapan raksasa itu. Sampai pada hari yang telah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah akal.
Ia menyuruh Timun Mas agar berpura-pura menderita sakit kulit. Ia memoleskan ramuan hutan ke seluruh tubuh Timun Mas agar tampak seperti luka penyakit kulit. Dengan begitu, raksasa tidak akan mau menyantapnya.
Saat matahari mulai terbenam, raksasa itu pun mendatangi gubuk Mbok Srini.
“Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang,” pinta raksasa itu.
“Maaf, Tuan Raksasa! Anak itu sedang sakit keras, tubuhnya dipenuhi luka bernanah. Jika kamu menyantapnya sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga Minggu lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu,” bujuk Mbok Srini yang mencoba mengulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timun Mas bisa selamat.
"Mana anak itu, perlihatkan padaku!!" Bentak raksasa itu. Mbok Srini lalu menggandeng tangan Timun Mas, diajaknya ia menemui sang raksasa. Melihat tubuh Timun Mas yang penuh dengan luka menjijikan, raksasa itu pun menyetujui usul mbok Srini.
“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anak itu kepadaku jika penyakitnya sudah sembuh !!!,” kata raksasa itu.
Setelah Mbok Srini berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini kembali bingung untuk mencari cara lain.
Setelah beberapa hari memikirkan siasat, akhirnya, ia menemukan cara untuk dapat menyelamatkan anaknya dari raksasa. Ia akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di lereng gunung.
“Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia dapat membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa itu,” ungkap Mbok Srini.
“Benar, Bu! Kita harus melawan raksasa itu. Aku tidak sudi menjadi santapannya,” jawab Timun Mas.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan kepada Tuan,” kata Mbok Srini.
“Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini?” tanya pertapa itu.
Mbok Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapi anaknya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu pun merasa prihatin dan bersedia membantu.
“Baiklah, tunggu di sini sebentar!” ujar pertapa itu seraya berjalan masuk ke dalam ruang rahasianya.
Tak berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.
“Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh sebarkan isi bungkusan ini!” jelas pertapa itu. Mbok Srini pun mengangguk paham.
Setelah mendapat penjelasan itu, Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Kini, hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa itu.
Dua Minggu kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.
“Hai, perempuan tua! Apakah kamu sudah berhasil menyembuhkan penyakit anak itu!!?, Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku!” ancam raksasa itu.
Mbok Srini tidak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar lalu berdiri di samping ibunya.
“Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang telah kusamapaikan kepadamu,” Mbok Srini membisiki Timun Mas.
“Baik, Bu!” jawab Timun Mas.
Melihat Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kejaran antara makhluk raksasa itu dengan Timun Mas.
Setelah berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat. Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa itu.
Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.
Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerimbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu pun mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.
Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah.
Timun Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah riwayatnya.
Dengan penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur hidup yang mendidih. Alhasil raksasa itu tercebur dan terhisap ke dalam lautan lumpur hidup dan hilang tanpa jejak. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan santapan raksasa itu.
Dengan sekuat tenaga, Timun Mas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia. Mereka menjalani kehidupan normal seperti warga desa pada umumnya. Menjadi petani yang bersahaja.
https://www.facebook.com/share/p/3mEEskMEiyhBk7U9/