Mbalolo dan Kauke - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 08 Desember 2024

Mbalolo dan Kauke


Dahulu kala, ketika Lautan Pasifik masih belum dijamah oleh orang-orang asing, sebuah kelompok bernama orang-orang Viti meninggalkan tanah leluhur mereka di Afrika yang dilanda perang. Dengan semangat mencari kehidupan baru, mereka berlayar melintasi samudra luas menggunakan perahu besar bernama kaunitoni. Perjalanan panjang ini membawa mereka ke sebuah pulau indah yang mereka namakan Yasawa, sebuah tempat persinggahan. Namun, kisah ini bukan hanya tentang perjalanan mereka, melainkan tentang dua pemuda yang sombong dan ceroboh, Mbalolo dan Kauke, yang harus menanggung akibat dari perbuatan mereka.  

Ndengai, sang Pemimpin, memerintahkan tinggal di sana untuk beberapa lama. Ia menamakan pulau itu Yasawa, yang artinya tempat persinggahan. Berhari-hari Ndengai dan orang-orangnya menjelajahi daerah itu penuh kegembiraan. Mereka menamakan setiap benda dengan bahasa orang Viti. Mereka menamakan Kula untuk burung kesturi merah, Tho untuk burung camar laut, Mbulileka untuk kerang-kerang kecil yang cangkangnya mereka buat sebagai kalung, Drekedrekevuata untuk lalat, Mana untuk udang, dan banyak lagi.

Suatu hari, Ndengai naik ke puncak sebuah bukit. Dipandanginya Lautan Pasifik nan biru. Dan jauh di sebelah timur, ia melihat sebuah pulau. Ucapnya, “Pulau itu sangat besar. Pasti lebih baik dari Pulau Yasawa ini. Hmh, akan aku ceritakan hal ini pada orang-orangku.”
Maka Ndengai mengumpulkan semua orangnya. Diceritakannya tentang pulau besar itu.
“Luar biasa!” seru orang-orang Viti. “Mari kita ke sana!”

“Pulau itu berada jauh,” berkata Ndengai. “Kita perlu ikan banyak untuk makan, agar bila Thangi-levu, sang Badai, membawa kita jauh, kita tak kekurangan makanan. Tapi seseorang harus tinggal di sini menjaga perahu. Karena di dalam perahu terdapat kotak batu pusaka yang berisi sejarah bangsa kita, pakaian kebesaranku, dan biji-bijian yang kita bawa dari tanah leluhur.”

Di antara orang-orang Viti ada dua pemuda. Mereka Kauke dan Mbalolo. Kauke seorang yang suka membanggakan diri dan sombong. Sedang Mbalolo pembuat keributan dan lalai. Keduanya tak disukai. Tak ada yang mau menemani. Mbalolo dan Kauke selalu berdua saja ke mana pun pergi.

Ndengai menatap orang-orangnya. Ujarnya, “Mbalolo, kau kutugaskan menjaga kotak pusaka selama kami menangkap ikan. Jaga baik-baik.”

“Tuanku, mengapa aku yang harus melakukan?” bantah Mbalolo. “Aku ingin menangkap ikan juga. Bersama Kauke.”

“Diam!” hardik Ndengai. “Aku pemimpinmu! Aku menyuruhmu menjaga kotak! Kau harus melakukan! Kauke akan bersamamu! Jaga kotak itu baik-baik, dan jangan berani membukanya!”

“Aku?” seru Kauke. “Bukankah tak ada yang melebihi kemampuanku dalam menombak ikan?”

“Jangan sombong!” tukas Ndengai. “Kau dan Mbalolo kutugaskan menjaga kotak! Ingat, jangan membukanya! Kalian akan menyesal bila sampai melakukan itu!”

Ndengai dan orang-orang Viti yang lain mengambil tombak dan pergi ke sisi lain pulau itu. Sementara Kauke dan Mbalolo duduk di bawah sebuah pohon kelapa dekat perahu. Keduanya menggerutu tak habis-habis.
“Ini kesalahanmu, Mbalolo,” omel Kauke. “Kalau kau tak banyak bicara, aku pasti ikut mereka menangkap ikan.”

“Meninggalkanku sendirian?” balas Mbalolo. “Teganya kau!”

“Aku tidak bermaksud begitu,” ucap Kauke. “Kau tahu kan, aku tak pernah ke mana-mana tanpamu? Tapi tanpaku mereka tak akan memperoleh ikan banyak. Bukankah kemampuanku menombak ikan paling hebat?”

“Lupakanlah,” hibur Mbalolo. “Kini mereka tak terlihat lagi. Mari kita buka kotak itu. Aku belum pernah melihat isinya.”

“Jangan! Ndengai akan sangat marah!” memperingatkan Kauke. “Hanya dialah yang boleh membukanya!”

“Tak peduli!” cetus Mbalolo. “Kau kan sehebat pemimpin kita!”

“Ya, betul!” timpal Kauke senang. “Mari kita membukanya!”

Kauke dan Mbalolo lalu pergi ke perahu. Mereka membawa kotak ke geladak, lalu membukanya.
“Hei, ini biji-bijian itu!” seru Kauke. “Akan kuletakkan biji-bijian ini di lantai perahu. Kemudian kita keluarkan pakaian kebesaran itu untuk kita kenakan. Kita pasti pantas menjadi pemimpin.”

Segera Kauke meletakkan biji-bijian di lantai. Kemudian dikeluarkannya pakaian kebesaran yang cuma diperuntukkan buat sang Pemimpin dan dikenakannya. Berlagak bagai sang Pemimpin, ia berjalan bolak-balik. Ndaku-Wangga, Dewa Laut yang tengah berbentuk seekor hiu putih raksasa, memperhatikan.
“Baru kali ini kulihat ada orang di pulau ini,” gumam Ndaku-Wangga. “Kedua orang kulit hitam itu tampak gembira. Apa yang ada di kotak besar itu?” 

Pelan-pelan didekatinya perahu, namun ia tak dapat melihat isi kotak. “Tuan-tuan,” ucapnya, berpura-pura takut. “Tuan-tuan yang mulia, siapakah Tuan-tuan ini? Dan apakah yang ada di kotak itu?”

Kauke yang mengenakan pakaian kebesaran semakin sombong. Dicarinya asal suara. Dan ketika dilihatnya cuma seekor hiu, ia berseru marah, “Pergi kau ikan jelek! Kau tak pantas bicara denganku, tahu!”

Ndaku-Wangga sangat marah. “Huh!” omelnya. “Kalau kau tidak memberi tahu isi kotak itu, akan kuusahakan sendiri!” Dikibaskannya ekornya yang besar. Kotak terkena hantam dan jatuh ke laut, terjepit di antara batu-batu karang yang paling dalam. Tak akan ada yang mampu mengambilnya.

“Kotak itu hilang!” teriak Kauke.
“Kita pasti dihukum!” seru Mbalolo. “Lihat, mereka datang!”

Ndengai sangat marah mendengar laporan hilangnya kotak pusaka. “Kalian telah memusnahkan sejarah orang-orang Viti. Semua biji-bijian yang akan kita tanam di tanah baru kelak pun lenyap! Huh!” ujarnya penuh kemarahan. “Akan kupinta Tautaumolau, Dewa Gunung Api, agar menghukum kalian!”

“Tuanku, biji-bijian itu selamat!” memberi tahu Kauke. “Aku meletakkannya di lantai perahu!”

“Mungkin kau tak akan dihukum seberat Mbalolo,” sahut Ndengai. Lalu dipanggilnya Tautaumolau. Dimohonnya apa yang harus dilakukan.

Tautaumolau mendengar. Dengan suara bergemuruh ia muncul. “Siapa yang memanggilku?” tanyanya. Suaranya berat dan menakutkan. Orang-orang Viti bersujud memberi hormat.

“Wahai, Tautaumolau, akulah yang memanggilmu,” berkata Ndengai. “Telah kuperintahkan Mbalolo menjaga kotak pusaka kami selama kami menangkap ikan. Dan kusuruh Kauke untuk menemaninya karena mereka selalu berdua ke mana pun mereka pergi. Tapi mereka telah menghilangkan kotak itu!”

“Mereka merusak kepercayaan yang diberikan,” ucap Tautaumolau. “Mereka tak bisa menjaga kotak itu dalam waktu yang tidak lama. Kini mereka kuhukum menjaga kotak itu selamanya!”

“Kotak itu berada di dasar laut!” tukas Mbalolo. “Bagaimana kami akan menjaganya?”

Tautaumolau tertawa keras hingga Pulau Yasawa bergetar. “Hohoho! Kalian akan menjaganya di dalam laut!” ujarnya. “Kau, Mbalolo, akan kujadikan cacing laut. Dan kau, Kauke, akan kujadikan kepiting!”

“Wahai, Tautaumolau, jika keduanya hidup di dalam laut, mereka masih bisa bersama. Dan mungkin akan melakukan kelalaian lagi,” tukas Ndengai. “Kauke seorang yang suka membanggakan diri dan sombong, tapi ia telah menyelamatkan biji-bijian yang kami bawa dari tanah asal kami.”

“Mereka tak akan bersama,” kata Tautaumolau. “Kauke akan berada di angkasa, sehingga seluruh dunia melihatnya. Dan aku mengizinkan Mbalolo naik ke permukaan laut sekali pada setiap bulan keduabelas untuk melihat sahabatnya itu!”

Tautaumolau melambaikan tangannya. Langit pun gelap. Ada cahaya kilat. Dan ketika kembali terang Tautaumolau, Mbalolo dan Kauke telah lenyap. Seekor cacing merayap menuju laut dan dengan kekuatan magis Tautaumolau, Mbalolo berubah menjadi cacing laut, sementara Kauke menjadi gugusan bintang berbentuk kepiting yang dikenal hingga kini. Setiap tahun, di bulan kedua belas, cacing-cacing laut muncul ke permukaan untuk melihat Kauke bersinar terang di angkasa.  

Orang-orang Viti bertambah banyak. Selain Pulau Yasawa, mereka juga menghuni pulau-pulau sekitarnya. Orang-orang kulit putih yang kemudian menemukan kepulauan itu menamakannya Kepulauan Fiji, yang mungkin berasal dari kata Viti.

Sumber :https://www.facebook.com/share/p/1CpHQ7iNUv/


Program